Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Menelan Piton Es Primordial dan Kesembuhan Lin Tian
Suhu di dalam gua kristal itu turun hingga ke titik di mana udara itu sendiri seakan membeku menjadi bilah-bilah pisau transparan.
Piton Tanduk Es Primordial merayap keluar dari danau beku. Tubuh raksasanya yang berlapis sisik sebening kaca bergesekan dengan lantai es, menghasilkan suara derit yang memekakkan telinga. Ia adalah penguasa mutlak lembah ini, yang selama ratusan tahun menyerap aura sisa dari Hati Teratai Es Surgawi. Kehadiran manusia rendahan yang berani mengusik hartanya membuat monster itu murka.
SRAAAASH!
Tanpa peringatan, ekor raksasa ular piton itu menyapu ke depan layaknya cambuk baja sepanjang sepuluh meter, menghancurkan deretan stalagmit es dan mengarah langsung ke pinggang Lin Chen. Kecepatannya membelah udara hingga menciptakan suara ledakan sonik.
"Cepat!" batin Lin Chen.
Ia segera menyalurkan Qi Emas ke kedua kakinya, melompat setinggi belasan meter ke udara sesaat sebelum ekor raksasa itu menghancurkan altar tempatnya berdiri sesaat lalu.
Di udara, Lin Chen memutar tubuhnya dan menukik tajam. Tinju kanannya dibungkus oleh Qi emas murni yang meletup-letup bagai guntur.
Tapak Guntur Pecah: Hantaman Meteor!
BAMMMM!
Tinju Lin Chen mendarat telak tepat di atas kepala ular piton tersebut. Gelombang kejut meledak, menciptakan retakan seperti jaring laba-laba di lantai gua.
Namun, yang mengejutkan, pukulan bertenaga penuh yang sebelumnya mampu meremukkan ahli Pengumpulan Qi Bintang 2 itu, hanya meninggalkan bekas putih kecil di atas sisik kaca sang ular! Pertahanan fisik Binatang Iblis Tingkat 3 sungguh berada di dimensi yang berbeda.
HISSS!
Piton itu meraung marah. Kepalanya tersentak ke atas, menabrak tubuh Lin Chen dengan kekuatan yang setara dengan hantaman gunung batu.
Bruk!
Lin Chen terlempar mundur hingga punggungnya menghantam dinding gua kristal, memuntahkan seteguk darah. Organ dalamnya bergejolak hebat. Jika bukan karena fisik Mandi Darah Naganya yang menahan 90% benturan tersebut, tulang rusuknya pasti sudah hancur menjadi bubuk.
"Bocah bodoh! Kekuatan fisik monster itu berada di puncak Bintang 9. Jangan beradu fisik secara langsung!" omel Mo Xuan dari dalam lautan kesadaran. "Cari titik lemahnya! Tanduk di kepalanya adalah pusat inti energinya!"
Lin Chen mengusap darah di sudut bibirnya, seringai buas justru mengembang di wajahnya. Rasa sakit ini... sudah lama ia tidak merasakan pertarungan yang benar-benar memompa adrenalinnya.
"Pusat energinya, ya? Kalau begitu, aku akan mencabutnya dari akarnya!"
Piton Tanduk Es tidak memberi Lin Chen waktu untuk bernapas. Rahangnya terbuka lebar, melepaskan semburan badai salju bercampur pilar es tajam (Napas Beku Kematian) yang menyapu seluruh sisi dinding gua. Ke mana pun napas itu menyentuh, batu dan kristal seketika hancur membeku menjadi debu.
Alih-alih menghindar, Lin Chen memacu Seni Pemakan Surga Sembilan Naga hingga batas maksimal. Pusaran Qi emas murni meletus dari Dantiannya, membungkus seluruh tubuhnya bagaikan zirah naga yang menyala terang.
"Terobos!"
Lin Chen melesat maju bagai bintang jatuh berekor emas, menembus langsung ke pusat pilar napas beku tersebut. Suhu ekstrem Yin Qi berusaha membekukan darahnya, namun Yang Qi dari Meridian Naga membakarnya kembali. Es dan api emas bertabrakan di sekujur tubuhnya, menciptakan kabut uap yang tebal.
Melihat manusia itu tidak mati oleh napasnya, Piton Tanduk Es membelalakkan mata merahnya. Sebelum monster itu sempat menutup rahangnya, Lin Chen telah menerobos kabut uap, melompat tepat ke atas kepala raksasa ular tersebut.
Kedua tangan Lin Chen mencengkeram erat pangkal tanduk es kristal yang menancap di dahi sang ular.
ROAAARRR! Piton itu panik dan mengamuk, membenturkan kepalanya ke dinding gua, ke lantai, ke langit-langit, berusaha menjatuhkan parasit yang menempel di kepalanya. Lin Chen terombang-ambing, tubuhnya terhantam berkali-kali hingga berdarah, namun tangannya tak sedikit pun mengendur.
"Makan... Makanlah semuanya!" raung Lin Chen.
Seni Pemakan Surga Sembilan Naga: Telan Mutlak!
Seketika, pusaran lubang hitam bermanifestasi di kedua telapak tangan Lin Chen. Daya hisap yang begitu beringas dan tak masuk akal langsung menyerbu masuk ke dalam tanduk piton tersebut.
Tanduk itu adalah saluran menuju Inti Spiritual Tingkat 3 milik sang ular.
Energi es murni bercampur esensi kehidupan Binatang Iblis ditarik keluar secara paksa. Piton itu menjerit putus asa. Tubuh raksasanya bergetar hebat, meronta dengan kekuatan yang semakin lama semakin melemah. Sisik kacanya mulai kehilangan kilau, berubah menjadi kusam.
Energi besar itu mengalir masuk ke dalam tubuh Lin Chen bak banjir bandang. Meridian Naganya merespons dengan rakus, menelan setiap tetes esensi Tingkat 3 itu dan memurnikannya menjadi Qi emas.
Bum! Penghalang Bintang 3 pecah.
Ranah Pengumpulan Qi Bintang 4!
Proses penelanan terus berlangsung tanpa henti. Piton raksasa itu kini lumpuh sepenuhnya, tubuhnya menyusut dengan cepat.
Bum!
Ranah Pengumpulan Qi Bintang 5!
Hanya dalam waktu lima belas tarikan napas, monster mengerikan yang bisa membantai seluruh Kota Awan Merah itu telah berubah menjadi mumi ular kering yang tak bernyawa.
Lin Chen melepaskan cengkeramannya. Tubuh kering piton itu hancur menjadi debu es saat menghantam lantai. Di tangannya, kini hanya tersisa sebuah Inti Spiritual Tingkat 3 yang telah kehabisan energi. Ia menarik napas panjang, menghembuskan uap putih bercampur emas.
Kultivasinya telah stabil di Ranah Pengumpulan Qi Bintang 5 Tahap Puncak.
"Sungguh teknik yang sangat egois dan mengerikan," gumam Lin Chen, melirik tangannya sendiri.
"Di dunia kultivasi, kebaikan adalah dosa. Hanya yang terkuat yang berhak menentukan apa yang benar," sahut Mo Xuan. "Sekarang, ambil Hati Teratai Es itu. Waktunya menyembuhkan ayahmu."
Lin Chen berjalan menuju altar dan mengambil kelopak kristal dingin tersebut, lalu memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan. Ia segera bergegas keluar dari tambang dan melesat menembus malam kembali ke Kediaman Klan Lin.
Ruang Kamar Kepala Klan Lin.
Lin Tian sedang duduk bersila di atas ranjangnya, wajahnya terlihat pucat dan dipenuhi keringat dingin. Setiap malam bulan purnama, Racun Api Hitam di jantungnya selalu bergejolak, membakar meridian utamanya dan menyiksanya dalam rasa sakit yang tak terlukiskan.
Cklek.
Pintu kamar terbuka pelan. Lin Chen melangkah masuk.
"Chen-er? Apa yang kau lakukan larut malam begini? Pakaianmu... kau berdarah?" Lin Tian bertanya dengan nada khawatir, mengabaikan rasa sakitnya sendiri.
"Hanya luka kecil akibat perburuan malam, Ayah," Lin Chen tersenyum hangat. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. "Ayah, tolong lepaskan bajumu dan duduk membelakangiku. Malam ini, aku akan mencabut akar penyakit yang telah menyiksamu selama ini."
Lin Tian tertegun. "Mencabutnya? Chen-er, racun di dalam tubuhku ini sangat aneh. Banyak tabib terkenal yang mengatakan tidak ada obatnya..."
"Tabib-tabib itu hanya sekumpulan katak bodoh. Percayalah padaku," potong Lin Chen penuh keyakinan.
Melihat tatapan mantap putranya, Lin Tian tidak lagi membantah. Ia melepaskan jubahnya dan duduk membelakangi Lin Chen. Di tengah punggungnya, tepat di area jantung, terdapat jejak urat-urat berwarna hitam pekat yang menjalar seperti jaring laba-laba.
Lin Chen mengeluarkan Hati Teratai Es Surgawi dari cincinnya. Suhu ruangan langsung anjlok. Tanpa ragu, Lin Chen menghancurkan kelopak kristal itu di telapak tangannya. Energi Yin murni tingkat Bumi langsung menyebar, namun Lin Chen mengurungnya dengan Qi Emas miliknya, lalu menempelkan telapak tangannya langsung ke punggung sang ayah.
"Tahan rasa sakitnya, Ayah. Ini akan terasa sedikit... ekstrem," bisik Lin Chen.
Seketika, energi es absolut dari Teratai Surgawi menyusup masuk ke meridian Lin Tian. Racun Api Hitam, yang merasakan ancaman langsung, bereaksi dengan mengamuk. Hawa panas dan dingin bertabrakan dahsyat di dalam dada Lin Tian.
Lin Tian menggeram tertahan, urat nadinya menonjol keras.
"Gunakan Seni Pemakan Surga sekarang! Tarik racun itu keluar bersama dengan esensi es-nya!" teriak Mo Xuan memberi panduan.
Mata Lin Chen memancarkan cahaya emas terang. Daya hisap yang kuat terbentuk di telapak tangannya.
"Keluar!"
Seperti paku karatan yang dicabut paksa menggunakan tang besi, jaringan racun hitam pekat itu perlahan-lahan ditarik keluar dari pori-pori kulit Lin Tian. Begitu racun itu menyentuh udara, energi es dari Teratai Surgawi langsung membekukannya menjadi butiran-butiran es hitam.
Sisa energi Yin murni dari Teratai tidak terbuang sia-sia. Energi itu mengalir menutupi meridian Lin Tian yang rusak, memperbaikinya, dan memperlebar salurannya.
Hanya dalam waktu setengah dupa, proses pemurnian selesai. Butiran es hitam pekat berserakan di atas ranjang.
Napas Lin Tian yang sebelumnya berat dan tersengal-sengal, kini menjadi sangat lancar dan bertenaga. Garis-garis penuaan di wajahnya memudar. Lebih dari itu, kultivasinya yang selama ini tertahan karena meridian yang tersumbat racun, kini melonjak drastis setelah sumbatannya hilang!
Dari Ranah Pengumpulan Qi Bintang 5... menembus Bintang 6... menembus Bintang 7... hingga akhirnya berhenti kokoh di Ranah Pengumpulan Qi Bintang 8!
Lin Tian membuka matanya, merasakan kekuatan yang sudah bertahun-tahun hilang dari tubuhnya telah kembali sepenuhnya, bahkan lebih kuat.
"Ini... Racunnya benar-benar hilang! Dan kultivasiku..." Lin Tian menatap tangannya dengan ketidakpercayaan yang membahagiakan, air mata menetes dari pelipisnya. Ia berbalik dan menatap putranya lekat-lekat. "Chen-er... Ayah tidak tahu harus berkata apa. Kau telah memberikan nyawa kedua untukku."
"Ayah tidak perlu berterima kasih. Kaulah yang melindungiku ketika seluruh dunia membuangku," Lin Chen tersenyum tipis. "Dengan kultivasi Bintang 8, tidak akan ada faksi tersisa di Kota Awan Merah yang berani mencari masalah dengan Klan Lin."
Lin Tian mengangguk, lalu menatap Lin Chen dengan ekspresi kompleks. Sebagai seorang ayah yang berpengalaman, ia sadar bahwa elang muda tidak akan selamanya tinggal di sarang.
"Kau berencana pergi dari kota ini, bukan?" tanya Lin Tian pelan.
Lin Chen berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah bulan yang bulat sempurna. Arah pandangannya tertuju ke ufuk barat laut, tempat barisan pegunungan yang menembus awan berada.
"Kota Awan Merah terlalu kecil, Ayah. Di luar sana ada lautan yang jauh lebih luas," Lin Chen mengepalkan tangannya perlahan. "Sekte Pedang Awan Surgawi telah menghina keluarga kita dan membatalkan pertunangan dengan cara yang tidak termaafkan. Sebulan telah berlalu... waktunya menagih hutang."
"Tetua Bai dan Liu Meng'er..." gumam Lin Chen, matanya memancarkan niat membunuh yang tak terbantahkan. "...siapkan leher kalian."