Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertandingan Sepak Bola
Melody mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Noah.
Melody: Kenapa sih cowok-cowok itu pada kekanak-kanakan dan nyebelin banget?
^^^Noah: Ya soalnya kita mikirnya pake otak yang gantung di paha, bukan di kepala.^^^
Melody: Udah aku duga, jawaban kamu bakal jujur dan apa adanya gini.
^^^Noah: Siapa sih brengseknya?^^^
Melody: Bukan siapa-siapa, ga penting.
^^^Noah: Kalau dia ngejar-ngejar kamu, berarti dia suka dan pengen perhatian kamu tuh.^^^
Melody: Enggak, orang ini beda.
^^^Noah: Mau aku hancurin aja mukanya?^^^
Melody mendengus kesal. Tawaran itu terdengar menggiurkan, tapi dia tak sanggup membayangkan Adden terluka.
Melody: Nggak usah. Semua itu ggak bakal ngubah apa-apa.
^^^Noah: Iya deh, kamu emang paling baik. Itu yang aku suka dari kamu, Melody. Tapi kalau dia berani macam-macam lagi, kabarin aku ya?^^^
Melody: Nggak.
^^^Noah: Loh kenapa? ;)^^^
Melody: Soalnya cowok terakhir yang berani nyakitin aku yang kamu gebugin, bahkan sampai saat ini belum bisa ngapa-ngapain.
^^^Noah: Itu memang pantas dia dapat karena berani-beraninya sentuh cewekku.^^^
Melody memejamkan mata, berusaha menyingkirkan bayangan itu saat menyimpan ponselnya. Dia berharap kenangan itu benar-benar mati dan terkubur selamanya.
"Eh, kamu mau nonton pertandingan sepak bola sepulang sekolah nggak?"
Giggi tiba-tiba muncul dari balik pintu loker. Gadis itu selalu terlihat ceria dan ramah. Melody melirik sekeliling, melihat pemandu sorak dan anggota marching band berjalan berkelompok. Beberapa pemain bola juga memakai jaket tim mereka. Baru terpikir olehnya, tadi pagi Messy juga memakai jaket yang sama.
"Belum tahu juga deh. Aku belum pernah nonton langsung sih. Kalau di TV sih pernah, ngerti dikit-dikit doang aturannya." Padahal dia penasaran ingin melihat Messy main. Melody mengangkat bahu santai. "Ya udah, boleh juga kali ya."
"Asik! Pasti seru banget. Nanti aku tungguin, kita pergi bareng."
"Oke."
...***...
Bel pulang berbunyi. Melody berjalan keluar dan melihat Giggi sudah menunggu di parkiran. Sebelumnya dia sudah kabari Messy kalau ikut Giggi, dan Messy cuma membalas emoji senyum. Sepertinya cowok itu senang dia mau datang.
Lampu mobil itu berkedip, menandakan pintunya sudah terbuka. Giggi mengendarai Mini Cooper merah yang lucu dan sangat cocok dengan kepribadiannya. Melody membuka pintu dan masuk.
"Mobilku memang nggak secanggih dan semewah mobil orang-orang di sini, tapi aku suka kok," kata Giggi seakan membela diri.
"Justru menurutku lucu dan cocok banget sama kamu. Orang lain mungkin beli mobil cuma karena gengsi," sahut Melody santai.
"Kecuali Messy sih. Dia nggak peduli sama sekali apa kata orang."
Melody setuju. Belakangan ini sikap Messy memang jauh lebih lembut padanya. Dia menoleh ke samping, menunggu Giggi fokus ke jalan lurus.
"Kamu suka sama dia kan?"
"Sama siapa?" tanya Giggi pura-pura tak tahu. Padahal sangat jelas kalau gadis itu naksir saudara tirinya.
"Sama Messy lah."
Pipi Giggi langsung memerah. Itu cukup bukti kalau tebakan Melody benar.
"Jangan bilang-bilang ya, please," mohonnya pelan.
"Tenang aja, nggak bakal aku kasih tahu. Tapi kalau kamu nggak mau dia tahu, jangan terlalu sering belain dia terus. Oh iya, kurangi juga sering natap dia tiap kali dia masuk ruangan."
"Ketahuan banget ya?"
Melody mengangguk mantap.
"Banget. Tapi karena kalian udah kenal lama sih, mungkin orang lain nggak terlalu curiga juga."
"Ya gimana lagi. Aku nggak mau dia tahu soalnya aku kan lebih muda, terus aku juga adiknya sahabat dia. Otomatis aku masuk daftar hitam dong. Sial banget kan?"
Melody terdiam. Dia jadi teringat Adden. Situasinya mirip, tapi perlakuan mereka sangat bertolak belakang. Lagipula, Messy baru jadi saudara tirinya sebulan terakhir.
"Kalau Adden sih kebalikannya," celetuk Giggi.
"Maksudnya?" Melody bingung maksud Giggi apa.
"Cara dia natap kamu tuh. Bukan cuma aku lho yang ngerasa. Dia sering banget perhatiin kamu dari jauh. Kakakku bilang, Adden marah banget waktu lihat kamu ngobrol sama Enno waktu makan siang. Terus akhir-akhir ini dia juga sering banget jalan sama Luccy padahal dulu nggak pernah. Aku sih yakin, Adden sebenernya suka sama kamu makanya dia pura-pura deket sama Luccy biar kamu marah."
"Lucu ya, soalnya omongannya kebalikannya banget. Dia anggap aku kayak sampah, bilang aku jijik, bau, segala macam."
Giggi tertawa terbahak-bahak.
"Ah elah, kamu kan wangi dan baik banget. Dia itu cuma lagi jadi cowok bodoh aja. Aku dengar sih emang dasarnya dia pemarah sejak Mamanya ninggalin dia waktu umur sebelas tahun. Kayaknya dia belum bisa nerima kenyataan itu sampai sekarang, makanya dia nggak mau punya pacar."
"Kasihan juga ya. Berarti sikap dia yang dingin itu karena trauma ya?"
Padahal Melody sudah tahu jawabannya. Adden takut ditinggalkan. Sama seperti cara orang lain meninggalkannya dulu.
Ya Tuhan, jadi itu alasannya dia marah-marah terus?
"Mungkin dia mikir, kalau nggak punya siapa-siapa, dia nggak perlu takut kecewa lagi ditinggal orang," potong Melody cepat.
Giggi mengangguk setuju.
"Iya, kayaknya begitu."
Gadis itu langsung ganti topik.
"Eh, mau ke rumahku dulu aja yuk? Aku pinjemin baju, terus kita dandan dikit. Aku baru beli catok dan hairdryer baru nih, pengen banget nyobain."
"Boleh juga tuh, seru kayaknya."
Dan anehnya, Melody benar-benar merasa bersemangat untuk itu.