NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Aku nggak bisa bohongin diri sendiri. I want you and Hana. A both of you, "ucap Arnold pada sambungan telepon terakhir yang mereka lakukan sebelum pria itu ke Jogja.

Lana mendengus.

PLAK!

Devan menampar Lana keras.

"MEMALUKAN! SAMPΑΙ ΚΑΡΑΝ KAMU KALAH DARI HANA!? SAMPAI KAPAN!??? PAPA KECEWA SAMA KAMU, LAN!!"teriak Papa-nya hingga akhirnya untuk pertama kalinya Lana memutuskan untuk keluar rumah. Keluar dari goa penuh kesengsaraan yang selalu memenjaranya, mendoktrinnya bahwa standar hidupnya adalah Adrianne Hana. Sepupunya sendiri. Membuatnya berpikir jikalau ia berhasil melampaui Hana, maka itu adalah sebuah kesuksesan besar. Sejak ia dilahirkan, Hana adalah standar pencapaian yang harus dilewatinya. Dan sekarang, Lana lelah.

Airmata terjun deras dari kedua matanya. Lepas bagai air bah yang mendorong apa saja yang melewatinya. Lana terisak. Malu atas dirinya sendiri yang menyedihkan ini. Tidak ada hal di dunia ini Emosinya naik sampai ubun-ubun. Seluruh tubuhnya terasa panas.

"Kenapa harus selalu lo yang berbahagia sih, Han!!??? Lo lagi! Lo lagi! Selalu Adrianne Hana!! Anjing!! Bangsat!!" teriaknya.

Darimana kecemburuan dan rasa iri ini berasal.

Lana sudah tidak paham. Tapi hatinya selalu sakit karena Hana. Semua pencapaian Hana. Semua yang diinginkannya dan dimiliki oleh Hana.

"Gue bakal buat ini nggak mudah buat lo, Han!!

Nggak akan mudah!!" pekik Lana dengan mata mendelik penuh kesumat.

Napasnya naik turun saking emosinya. Ia teringat Cyila.

Iya,

Cyila, dokter gigi baru di RS mereka. Satu-satunya mantan pacar yang Reiga punya. Orang yang memiliki seluruh gelar apa-apa yang pertama di hidup Reiga. Bukankah kemarin, Cyila tengah mencari nomor handphone Reiga? Tristan dan Zidane menolak memberikannya. Tentu saja! Lana memang mendengar selentingan tidak mengenakkan soal berakhirnya hubungan Cyila dan Reiga. But who care with that!??

Lana sudah tidak peduli lagi. Yang dikepalanya sekarang adalah cara bagaimana Hana menderita yang pernah benar-benar untuknya. Bahkan, Arnold...

Cowok brengsek yang didekatinya untuk menyiksa Hana, malah sekarang balik menyiksanya. Lana mendongakkan kepala. Ia paling benci menangis. Paling benci terlihat lemah. Apalagi sampai harus dikasihani. Meski faktanya, di apartemen ini dia sendirian. Lengang. Dan kesepian.

TUNG!

Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam handphone-nya. Lana menghela napas kasar. Tangannya meraih handphone, khawatir pesan dari rumah sakit. Hidup personal-nya sudah hancur, setidaknya jangan sampai karirnya juga bernasib yang sama.

Sialnya!

Ini bukan pesan dari RS. Ini Nana. Membawa berita paling durjana yang diterima Lana. Sebuah foto cincin berlian berbentuk bunga matahari yang tengah dipakai seseorang. Yang entah bagaimana diyakini Lana adalah jari-jemari milik Hana.

Nana

Traktir kali, Han.

Cincinnya udah gede banget itu.

"Shit!!" umpat Lana.

Sama seperti dirinya. Sama besarnya. Tanpa harus repot ikut campur dan hanya menjadi penonton yang menikmatinya.

Ya.

Cyila adalah jawabannya.

Lana mencari kontak Cyila di grup RS. Secara pribadi mengirim kontak Reiga padanya.

TUNG!

Begitu cepat Cyila menjawabnya.

Cyila

Ini nomor dokter Alana kan?

Lana

Iya.

Cyila

Dokter kenal Reiga juga?

Lana

Kenal.

Saya dengar, dokter Cyila sedang cari nomornya. Kebetulan saya punya.

Lana menyunggingkan senyum angkuh.

Cyila

Iya. Terima kasih ya, Dok.

Lana

Panggil aja Lana :)

Cyila

Oh, ok, Lana.

Salam kenal ya.

Panggil aja Cyila.

Lana

Let's be friend.

Cyila

Setuju.

Lunch bareng. Besok?

Hari ini kebetulan aku nggak ada jadwal

praktek.

Lana

Boleh.

Lalu Lana melempar handphone-nya begitu saja ke samping kanannya. Mendongakkan kepala dengan senyum lebar. Tertawa keras.

"We'll see, Han. Gimana lo bisa menandingi dahsyatnya cinta pertama Reiga??? Wish you're lucky, My Dear," ejeknya.

"Cerah banget mukanya," usil Reiga melihat wajah Dimas yang cengar-cengir sejak pagi.

Senyum Dimas malah makin lebar.

"Selama beberapa hari ini saya tidur nyenyak banget, Pak. Terus Ibu saya juga... Masya Allah, selama tiga hari berturut-turut masak makanan kesukaan saya..." Dimas menghela napas lega dengan senyum senang. "... Pokoknya hidup saya indah banget selama tiga hari ini," ujar Dimas.

Reiga terkekeh meski tetap fokus tanda tangan dokumen yang diserahkan Dimas.

"Jadi selama ini, tersiksa ya kerja sama saya," Reiga kembali usil.

Dimas auto memasang ekspresi panik.

"Ya nggak gitu, Pak! Saya bahagia, senang, dan bangga bisa bekerja bersama Pak Reiga!" mantap Dimas mengucapnya.

Tawa Reiga berderai karenanya.

"Tapi ya kalau bisa, sering-sering libur kayak kemarin itu ya, Pak. Tiga bulan sekali deh, Pak," ujar Dimas.

Reiga hanya geleng-geleng kepala. Tanpa melepas senyumnya.

"Bu Hana suka sama cincin pilihan kamu. Secara pribadi, dia titip ucapan terima kasih," ucap Reiga kini menatap Dimas.

Mata aspri-nya itu malah berkaca. Seperti ada hal yang mengharukan baru didengarnya.

"Kenapa kamu, Dim?" heran Reiga.

Dimas dengan wajah terharunya berkata.

"Akhirnya Pak Reiga sold out," ucapnya.

Reiga bengong lalu tertawa.

"Doain ya," ucap Reiga.

Dimas mengangguk-angguk. "Saya selalu mendoakan kebahagiaan Pak Reiga, lahir batin, dunia akhirat," tandas Dimas penuh semangat.

TUNG!

Sebuah notifikasi pesan masuk. Nomor tak dikenal. Tapi Reiga tahu siapa pengirim pesan ini. Sungguh mudah baginya.

"Cyila," gumamnya.

"Cyila? Siapa, Pak?" tanya Dimas.

"Mantan saya, Dim," jawab Reiga santai.

"Hah!?" pekik Dimas kaget seakan Reiga pacarnya dan Cyila calon pelakor yang akan merebut Reiga.

Cyila

Hai, Rei.

Apa kabar?

"Mau ngapain si Cyila, Pak!?" Dimas bertanya dengan intonasi cukup tinggi. Mulai emosi.

"Tanyain kabar saya," jawab Reiga yang menimbang mau balas atau nggak.

"Terus mau Pak Reiga balas?" tanya Dimas senewen.

"Menurut kamu gimana? Bales nggak?"

Dimas makin senewen melihat tingkah cuek dan santai Reiga.

"Coba deh, Pak Reiga tanya sama Bu Hana! Boleh bales nggak tuh pesan dari mantan centil kurang kerjaan yang sok tanya kabar setelah sekian lama hilang!!!" dumel Dimas bagai emak-emak yang ditabrak motor lain padahal sudah jelas dia lupa menyalakan lampu sen saat berbelok.

Reiga menatap Dimas.

Lalu, tertawa. Dimas saja bisa sebegini lucunya hanya karena pertanyaan iseng Reiga. Gimana Hana ya? Jadi beneran mau tahu... Ide isengnya itu muncul seketika.

"Ini nggak lucu loh, Pak! Mantan kirim pesan tuh suatu yang urgent!!" sewot Dimas.

"Saya tanya Bu Hana aja kali ya? Sesuai saran kamu, Dim," tukas Reiga dengan muka jahil.

Kedua mata Dimas membulat. Tak percaya dengan yang didengarnya. "Boleh nggak sih, gue jentulin kepalanya Pak Reiga sekarang??? Asli nyebelin banget! Atau nanti diam-diam, gue hapus aja tuh nomor si Cyila Cilun. Bener sih! Itu ide terjenius!! Pokoknya Pak Reiga, Bu Hana, harus end game!!!!! Mampus lu, Cyila Cilun!!?"

Reiga menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tawa miliknya nyaris meledak, atas pemikiran Dimas yang sungguh hilarius dan menghibur itu.

"Tanya nggak nih, Dim?" Reiga malah makin iseng.

"Tanya, Pak! Tanya!" sewot Dimas. "Paling nanti ditoyor sama Bu Hana!" ujar Dimas dalam hati.

Reiga kembali menahan tawa.

Dengan sintingnya, Reiga beneran menelepon Hana. Di loudspeaker pula. Benar-benar kurang kerjaan! Sungguh tindakan kurang faedah yang malah dianggapnya sebagai hiburan.

"Hai, Sweetheart," sapa Reiga.

"Hai, Sunshine. Tumben jam kerja telepon aku. Kenapa?"

"Mau minta izin," jawab Reiga.

"Izin apa?"

"Mantan aku, Cyila, chat tanya kabar, aku harus jawab apa ya??" Bibir Reiga tersenyum membaca reaksi Hana yang sudah sangat hilarius dimatanya. Persis seperti Dimas.

Hening.

Lalu pecahlah suara Hana.

"Reisharddddd!!!" pekik Hana sewot dengan napas turun naik.

"Mampus!!!" Dimas senang banget dengar lengkingan suara Hana. Lupa kalau Reiga adalah bos-nya, dia menyunggingkan senyum puas. Emang dasar fans kaliber berat Adrianne Hana! Abis ini, dipecat Reiga karena ada di pihak Hana pun sepertinya Dimas bodo amat!

"Ihhhhhhhh, nyebelin banget sihhhhh!! Telepon aku cuma mau ngebahas mantan!!! Sok-sok minta izin!!! Aku sunatinnnn ya kamu!! Awas aja kalau macam-macam!!!"

Suara Hana terdengar jauh begitu nyaring dan sewot.

Tak tahan Reiga untuk tertawa.

"Malah ketawa lagi!!!" judes Hana.

"Dimas ada di situ nggak???"

Hana mencari Dimas.

"Ada bu Hana! Saya di sini, Bu!!" pekik Dimas semangat.

NUT! NUT! NUT!

Sambungan telepon di putus Hana sepihak. Membuat sebuah tanda tanya di wajah Reiga dan Dimas. Saking clueless-nya dengan reaksi Hana mematikan sambungan telepon setelah mencari Dimas. Dering handphone Dimas sungguh mengagetkan mereka berdua.

Dimas meraih handphone-nya. Bu Hana. Iya! Hana beralih menelepon Dimas. Video call pula!

"Dim, mana Pak Reiga!?" galak Hana.

Dimas beralih ke samping Reiga.

"Hai, Sayang," sapa Reiga dengan ekspresi usil.

"Hai hoh hai hoh!!!" galak Hana.

Reiga malah tersenyum lebar.

"Hapus nggak tuh nomornya Cyila sekarang juga, Reishard!!!" seru Hana dengan instruksi jelas. "Dim, arahin kamera handphone kamu ke handphone Pak Reiga ya!! Saya mau pastiin dia hapus nomornya si Cyila!" Kali ini Dimas yang diberi perintah.

"Siap, Bu!"

Dimas dengan senang, sukarela, mengikuti instruksi Hana. "Sebenarnya kamu, aspri-nya siapa sih, Dim?"gelak Reiga dalam hatinya. Dua orang ini sungguh menghiburnya.

"Hapus, Reishard!!! Blok dulu sebelum kamu hapus!!!" seru Hana.

Reiga pun meng-blok nomor Cyilla, lalu menghapusnya kemudian.

Hana menyaksikannya dari dalam mobilnya. Di tengah break syuting, ngadem karena set begitu panas hari ini. Eh, Mas Ayang-nya malah menambah panas harinya. Malah hari ini ada adegan menangis sesunggukkan.

"Benar-benar ya kamu, Rei!!!"gerutu Hana dalam hati.

Reiga yang mendengarnya tertawa tanpa suara. Membuat Dimas ikutan sewot dengan tingkah usil Reiga.

"Dim! Awasin bos kamu ya! Jangan sampai dia kecentilan sama siapapun! Apalagi sama mantan! Pokoknya kalau ada yang aneh-aneh langsung lapor saya ya, Dim!!" ujar Hana.

"Siap, Bu Hana!"

Dimas bagai prajurit garda depan dalam tim Hana yang tugasnya menghalau para penyusup yang mendekat pada kastil bernama Reiga Reishard.

Lalu, sambungan telepon itu terputus.

Tawa Reiga kembali berderai.

"Pak Reiga, kok malah ketawa sih, Pak?" heran Dimas sudah kembali ke depan meja Reiga.

"Karena saya dari tadi tuh bercanda, Dim," jawab Reiga.

Dimas melongo, dengan dua mata menyipit.

"Bercandanya bikin emosi jiwa nih, Pak Reiga," ucap Dimas dalam hati.

"Harus setia ya, Pak. Susah loh! Dapat kaliber pacar kayak Adrianne Hana!! Inget, Pak. Perjuangan Pak Reiga. Bolak-balik New York-Jakarta!!! Nggak main-main itu, Pak. Udah ngelamar Bu Hana juga kan, Pak. Iya sih, belum ketemu keluarga besar, tapi tetap aja, Pak, harus jaga iman! Mata dan pikiran!!" ceramah Dimas panjang.

Bawel sekali.

Yang diceramahin malah tertawa ngikik sampai bersandar di kursi sambil memegang perut.

"Astaga, Dimas. Saya bercanda doang. Sumpah," ujar Reiga meyakinkan Dimas.

Yang sebenarnya sih nggak perlu dapat penjelasan juga ya. Nggak penting-penting amat gitu. Dan salah sasaran pula.

Dimas sudah kadung emosi. Jadi, malas mendengar penjelasan Reiga.

"Pokoknya Pak Reiga dalam pengawasan saya!!!" seru Dimas.

Reiga mengangguk-angguk sambil tertawa.

"Saya pamit kembali ke meja saya ya, Pak," ucap Dimas setengah ketus, tanpa berbalik badan, dan terus melihat kearah Reiga dengan mata memicing sampai akhirnya keluar dari ruangan dan menutup pintu.

Reiga tak sanggup menahan tawanya yang kembali pecah. Komedi yang disajikan Dimas dan Hana sungguh menghibur jiwa raganya.

Handphone Reiga berdering kembali. Love of my life. Tentu saja Hana akan meneleponnya lagi.

"Iya, Sayangku," sapanya lembut.

"Nggak usah sayang, sayangku deh!!!! Dapat darimana nomornya Cyila!!!!??? Minta sama Tristan!? Atau Zidane!!!??? Ngaku deh, Rei!!!" omel Hana tanpa tendeng aling-aling.

Reiga terkekeh.

"Malah ketawa!!!! Kalau dekat aku toyor nih!!" galak Hana.

Senyum Reiga makin lebar.

"Cyila yang tahu-tahu kirim pesan. Bukan aku, Sayang. Aku aja nggak tahu dia dapat nomor aku darimana," jujur Reiga.

Hana mendengus sebal. Baiklah, ia akan percaya. "Aku memang nggak tahu. Aku jujur, Adrianne Hana," ledek Reiga setelah membaca pikiran Hana.

Oh, berarti ada dua saksi menjurus tersangka yang akan segera Hana interogasi sehabis menelepon Reiga.

"Awas aja ya, Rei! Kalau kamu sampai buka komunikasi sama Cyila di belakang aku! Aku sunatin kamu!!" sebal Hana.

Oh, sungguh bukan karena Hana itu posesif apalagi obsesi pada Reiga. Hana hanya belum pernah lihat siapa itu Cyila, yang kayak gimana Cyila, seperti apa sifat Cyila. Hana sungguh blank sama legenda cinta pertamanya Reiga ini. Bagai menghadapi musuh dengan tangan kosong. Hana jiper juga. Apalagi sosok cinta pertama yang digaungkan selama ini di masyarakat, yang katanya tidak akan pernah bisa dilupakan itu.

Tahu kan, lagunya Raisa, yang judulnya kutukan (cinta pertama)?

Hana tidak mau Mas Ayang-nya jadi korban kutukan cinta pertama kayak gitu juga! Oh, tidak akan dibiarkannya! Akan dia jaga baik-baik Reiga Rahardian Reishard miliknya. Sampai titik darah penghabisan!!! Mau ada 10 atau 100 Cyila sekalipun!!! Reiga Reishard akan tetap disisinya.

"Kalau aku disunatin dua kali, kamu yang rugi loh, Sayang," goda Reiga.

"Idihhh! Sempat-sempatnya bercanda kayak gitu!!!! Nggak liat situasi kondisi!! Resek banget ya kamu, Rei!!!" omel Hana.

Reiga malah mengulum senyum. Sungguh gemas ia sama Hana. Kalau Hana didekatnya sekarang, sudah diciumnya bibir kesayangannya itu.

"Nggak usah senyam-senyum ya, Rei!!" pekik Hana.

Dahi Reiga mengerut.

"Tahu darimana, aku lagi senyum?"

"Ya tahu lah!! Aku kan kenal kamu!!!" tukas Hana galak.

Reiga malah ke-ge-er-an berkat mendengar jawaban Hana. Sesenang itu dikenali seseorang, disayangi seseorang. Terlebih ini Adrianne Hana orangnya. Wanita yang sangat dicintainya. "Yaelah, Rei. Lagi diomelin aja masih sempat-sempatnya lo ge-er! Cinta banget lu ya sama Hana, "ledeknya pada diri sendiri.

"Cinta banget ya sama aku? Sampai segitu takutnya," goda Reiga.

"Ledekkin aja terus!!!!" ketus Hana.

Reiga terkekeh.

"Awas aja ya, Rei! Kalau kamu deket-deketin Cyila tanpa sepengetahuan aku!!"

"Oh jadi kalau kamu tahu, artinya diperbolehkan, Han?"

"Reishard!!!!!" pekik Hana.

Tawa Reiga pecah.

*

Zidane dan Tristan yang kebetulan sedang makan siang bareng di cafetaria RS, mendapat telepon secara bersamaan. Mereka melongok layar handphone masing-masing.

"Hana?" kompak mereka sampai saling adu pandang heran.

Sebuah panggilan video call. Dengan muka polos, tanpa prasangka apapun, mereka berdua menerima panggilan tersebut.

"Siapa di antara lo berdua yang kasih nomor Reiga sama Cyila!!??? Ngaku deh!!" galak Hana.

Zidane dan Tristan melongo.

"Buset dah, Han! Kaget gue!!" tukas Tristan beneran kaget, karena suara Hana yang langsung menggelegar.

"Jadi, Hana udah tahu keberadaan Cyila? Dan si Cyila sudah menghubungi Reiga? Wah, gila sih lu, Cyil!" runtuk Zidane dalam hati.

"Gue sih nggak pernah kasih nomor Reiga ke Cyila ya, Han. Biasanya yang bengong nih yang diam-diam ngasih," giring Tristan sambil memasang wajah menyebalkan pada Zidane.

Zidane panik.

"Parah lu, Tan!!" pekik Zidane kearah Tristan.

Tristan ngakak melihat reaksi panik Zidane.

"Bukannya elu yang kemarin sok ngasih tempat duduk pas meeting?!" serang balik Zidane.

Pucat wajah Tristan.

"Anying!! Ngasih duduk!!! Bukan ngasih nomor telepon ya, Njing!!" serunya pada Zidane.

Hana mendengus sebal. "Kenapa jadi lu berdua yang berantem?? Jujur deh sama gue! Siapa!?" sebal Hana.

"Bukan gue!!" kompak Zidane dan Tristan sambil liat-liatan.

Hana terdiam. Dikepalanya sekarang, muncul sebuah wajah. Asam lambung Hana naik. Ah, siapa lagi pelakunya kalau bukan Alana Soediro. "Kenapa sih, Lan? Salah gue apa sih sama lo? Andai aja lo tahu apa yang diperbuat bokap lo ke bokap gue?? Apa lo masih setega ini sama gue?"bisik Hana dalam hati.

"Han?" panggil Zidane.

Lamunan Hana langsung buyar.

"Dia bengong. Kesambet lu," lanjut Zidane.

"Garing, Dane!" tukas Hana membuat Zidane manyun. "Yaelah, Han. Jahat amat mulut lu," gerutu Zidane.

Tristan terkekeh. Hana nyengir. Emosinya sudah hilang entah kemana.

"Paling Lana yang kasih," celetuk Tristan melihat muka Hana yang memasang wajah heran binti muak.

"Kayaknya sih iya," sahut Hana malas.

Tristan dan Zidane jadi nggak enak. Namun si induk semang memang paling nggak bisa ketinggalan berita, usil juga pula orangnya.

"Ada apaan sih, Han? Lana kayaknya benci banget sama lo," ujar Tristan.

Zidane berdecak sambil geleng-geleng kepala. Menatap takjub kearah sahabatnya itu.

"Nggak sopan lu, tanya hal pribadi gitu ke Hana!" ujar Zidane.

"Hana tuh udah bukan orang lain, Dane. Dia bagian dari kita," ujar Tristan.

Hana menghela napas.

"Gue juga nggak paham kenapa Lana benci sama gue. I'm always kind to her! Sumpah deh! Coba lu analisis deh, Tan. Lo kan paling jago tuh ngorek-ngorek orang," ujar Hana yang malah minta tolong.

Tristan nyengir. Merasa terpanggil dan dapat job dadakan. Zidane mendesis melihat muka Tristan yang minta ditabok itu.

"Yaelah, Han. Spatch kw malah lu kasih job.

Girang banget itu doi," sinis Zidane.

Hana terkekeh.

"Jangan iri sama kesenangan orang, Dane. Jauh jodoh," timpal Tristan.

"Anjrit! Gue didoain jauh jodoh!" seru Zidane dengan mata nyaris mencuat keluar.

Hana dan Tristan tertawa bersama.

"Sorry ya, Tan, Dane, gue udah marah-marah nggak jelas. Abis teman kalian nyebelin banget. Masa dia telepon gue cuma buat tanya 'Cyila kirim pesan sama aku nih. Aku boleh jawab atau gimana?' kan kampret banget yak!" sebal Hana dengan ekspresif.

Zidane dan Tristan terbahak karena tawa.

"Sial, malah ketawa!!" sebal Hana seraya bersidekap.

Tawa itu memudar kemudian. Berganti tatapan serius dari Tristan dan Zidane.

"Itu tandanya Reiga sayang banget sama lo, Han. Bukan perkara izin ya, tapi seringnya dia gangguin lu. Astaga! Kita semua bisa liat betapa dia udah setengah gila karena lo," ucap Tristan mengeluarkan pendapatnya selama ini.

Hana terdiam mendengarnya.

"Nggak usah pusingin Cyila. Dia mah nggak ada apa-apanya dibanding elu, Han. Jauhhh. Dan lu tenang aja, kita semua jaminannya, Reiga itu anaknya setia, beneran setia! Bukan setiap tikungan ada kayak si Brandon ya, Han," ujar Zidane menambahi Tristan yang kini malah mengikik karena mendengar cara Zidane menggambarkan kesetiaan Reiga.

Hana tersenyum.

"Dan kita nggak masalah sih, lu marah kayak tadi, jebret sama kita. Langsung ngomong apa adanya..." Tristan beralih menatap Zidane. udah muak juga sama yang baik di depan, tapi kampret di belakang," ujar Tristan. Kita

Zidane mengangguk-angguk.

"Siapa?"

"Ada deh," jawab Tristan yang tumben-tumbenan mode lambe turah-nya non aktif.

"Inisialnya Cyila," celetuk Zidane cuek.

Mereka bengong lalu tertawa bersama.

"Bego lu, Dane! Itu sih namanya bukan inisial, cumi... cumi," ujar Tristan sambil geleng-geleng kepala.

Hana memindai raut wajah dua sahabat Reiga itu seksama.

"Sebenarnya apa sih yang dilakukan Cyila ke Reiga? Sampai kayaknya kalian semua nggak suka banget sama dia," Si manusia kenapa bernama Hana mulai bangkit dari persemayamannya.

"Lo pernah nonton Euphoria di HBO?" tanya Tristan.

Hana mengangguk.

"Ada tokoh namanya Cassie Howard. Dulu Reiga adalah versi cowoknya Cassie Howard," ujar Tristan.

Hana terkesiap.

Reiga? Versi cowok Cassie Howard?? Ihh yang benar saja!

Tokoh Cassie di Euphoria itu parah! Mau aja disuruh ini itu sama cowok yang disukainya. Bahkan, sampai melakukan kegiatan seksual menyimpang yang membahayakan diri sendiri.

"Ya enggak separah Cassie ya, Han. Reiga masih punya iman dan nggak segila itu juga. Kita jamin, dia masih perjaka ting-ting! Beda sama Brandon," ujar Tristan.

Zidane tergelak.

"Tai lah! Lagi serius sempat-sempatnya ngelawak," tukas Zidane.

Namun reaksi Hana berbeda. Dalam diamnya, Hana mengumpulkan semua kepingan analogi yang ada. Dari pengakuan langsung Reiga, juga ceritanya Tristan.

Ah, pantas saja Reiga bilang dia pernah dimanfaatkan. Pantas juga pria itu selalu memuji tindakan sederhana Hana sebagai sesuatu yang luar biasa. Pria itu terlalu banyak menanggung luka. Dan hebatnya, dengan luka sebanyak itu, Reiga masih bisa tertawa dan beraura positif untuk sekelilingnya.

"Bahkan nih, Han. Karena cinta goblok yang Reiga bela mati-matian buat Cyila, untuk pertama kalinya dia berantem sama Zidane..." Tristan mengucapnya dramatis.

Zidane mengangguk, tersenyum getir.

Hana terhenyak. Kaget. Amat sangat kaget.

Reiga bertengkar dengan Zidane??? Oh, inikah alasan mengapa Om Rahardian menanyakan pendapatnya mengenai enam ibu peri-nya Reiga ini. Karena di masa lalu, seseorang bernama Cyila yang bergelar pacar Reiga, tak akur dengan sahabat rasa keluarganya Reiga ini.

"Bukan cuma toyor-toyoran lagi, Han. Tapi tuh dua orang monyet, nyaris masuk IGD, kalau nggak dipisahin Rama sama Syein. Lu kebayang dong betapa chaos-nya apa yang diperbuat Cyila ke Reiga," lanjut Tristan dengan tatapan mata serius.

"Syukurnya, begitu awal masuk kuliah si Cyila hilang gitu aja. Nggak ada kabar. Ya sebenarnya kita tahu sih dia di mana. Tapi biarlah, Reiga juga udah lepas dari pengaruh sutet-nya si Nyi pelet kan. Jadi yaudah, nggak pernah dibahas lagi."

"Santet, Tan. Bukan sutet! Lu kira Cyila listrik tegangan tinggi," ledek Zidane.

"Yaelah! Ribet lu! Ini akibat gue sering ditoyor sama Rama nih, sensor otak gue jadi eror," sahut Tristan menyebut nama Rama.

Hana terdiam akan penjelasan panjang Tristan. Ternyata memutuskan mencintai Reiga Reishard tak sesederhana yang dia kira. Tapi konyolnya, sampai detik barusan, Hana tidak menyesali apapun. Sepertinya cinta sudah mencuci otaknya dan dia sendirilah yang secara sukarela minta pencucian otak itu.

"Kalau gue?"

"Ha?" gumam Tristan.

"Kalau gue gimana? Di mata kalian gue ini gimana?" Hana ingin tahu. Baginya, enam pria ini, Zidane, Niyo, Rama, Brandon, Tristan, dan Syein adalah lebih dari sekedar teman untuk Mas Ayang-nya. Mereka adalah saudara sekandung yang tak dimiliki Reiga. Jadi, pendapat mereka atas kehadiran Hana dalam hidup Reiga, sungguh penting adanya bagi Hana.

Hana percaya sesuatu, dan kini tengah meyakininya, bahwa Reiga harus terus dan selalu dikelilingi cinta yang besar, tulus, dan melimpah. Maka, kesembuhan itu akan terjadi sendiri tanpa pemaksaan. Bahkan tanpa disadari Reiga Reishard. Kesembuhan itu sudah pasti adanya. Hana yakin. Amat sangat yakin.

Tristan dan Zidane tersenyum.

Bukan lagi senyum cengengesan. Senyum keteduhan yang biasanya hanya mereka pertontonkan di depan pasien dan keluarga pasien yang mereka tangani.

"Elu sih beda, Han. Nggak ada lawan! Nggak ada obeng. Kita senang, kali ini si monyet jatuh cinta sama cewek yang benar. Yang nggak akan buat dia harus memilih di antara sahabat atau cinta. Lo bahkan bisa buat Reiga iyain mau lu pergi dinner sama nyokapnya. Wah, itu pencapaian luar biasa sih!! Salut kita semua sama lu!!" ujar Tristan dengan ekspresi kagum.

Hana mencuri pandang kearah Zidane yang tersenyum haru. Meski begitu samar.

"Jujur sih, Han. Kita udah ratusan kali mencoba deketin Reiga sama Tante Sheila lagi, dan gobloknya kita nggak pernah berhasil. Tapi, elu?! Lu bahkan berhasil dalam satu kali percobaan. Bisa lu bayangin sendiri kan, cinta segede apa yang Reiga punya buat lo!? Dan dulu si nyai pelet Cyila memanfaatkan besar dan butanya cinta Reiga itu untuk kepentingan pribadinya. Tapi, gue yakin, Han, kita semua yakin, kalau lo nggak akan melakukan kebrengsekkan yang sama kayak yang si Cyila lakuin. We can see it from your eyes. Lo sesayang itu sama Reiga. Jadi jangan pernah berhenti berjuang ya, Han. Jangan pernah menyerah dan tinggalin monyet kesayangan kita yang satu itu."

Hana kehilangan kata-kata.

"Lo inget ini ya, Han! Ingatlah kalau akan selalu ada enam ibu peri yang bantuin lo, 7 hari 24 jam, tanpa syarat dan ketentuan khusus, untuk memenangkan perang njelimet dan nggak mudah yang tengah lo perjuangkan ini," tutup Tristan atas oversharing-nya.

Hana terenyuh mendengar kepercayaan yang sebesar itu padanya.

"Kita yakin, lo pasti keluar sebagai juaranya! Pasti!" tambah Zidane dengan muka yakin.

"Setuju sama Zidane!" sahut Tristan.

Hana tersenyum penuh haru. Sembari berpikir, ah, kekalahannya nanti benar-benar akan jadi kesedihan majemuk. Dan entah mengapa itu semakin membuat Hana tidak mau kalah.

"Soal Cyila, biar kita aja yang urus, Han. Lu tinggal tunggu beres aja," ucap Tristan.

"Nggak usah, Tan!" tukas Hana.

Tristan dan Zidane memasang wajah bertanya.

Bibir Hana tersenyum lebar.

"Biar gue urus sendiri yang namanya Cyila," ucap Hana dengan senyum penuh keyakinan.

"Gue suka semangat lu, Tan!!"

"Nah! Mamam tuh si Cyila! Akhirnya ketemu lawannya kan dia," sewot Zidane.

Tristan dan Hana cuma bisa ketawa melihat muka komedi geregetan Zidane.

Cyila berdecak. Kesal. Tadi, ia sangat yakin Reiga telah membaca pesannya. Belum sempat berbalas, kini nomor Reiga sudah tak bisa lagi ditemukannya. Ah, jelas-jelas dia sudah diblokir oleh Reiga.

"Nggak mungkin!!" tandas Cyila.

Ia mengatur napas.

"Tenang, Cyil. Just keep chillin'!" ucapnya menenangkan diri sendiri.

"Pasti si Adrianne Hana itu yang menyabotase pesan lo dan memblokir nomor lo!" yakin Cyila.

"Iya! Pasti begitu!" tambahnya.

Dia hanya berkaca dari pengalamannya. Dulu Cyila memang suka seenaknya mengakses handphone Reiga. Membuatnya sulit dihubungi genk-nya.

Pasti Hana juga begitu kan???

Ya!

Pasti begitu.

Manusia cenderung tamak dan lupa menghargai orang lain, kalau sudah berurusan dengan harta dan kuasa.

Adrianne Hana sudah pasti begitu juga. Persis sama seperti dirinya.

"Mungkin lo bisa blok gue, Han. Tapi gue bisa datang dari mana aja. Kita lihat siapa yang akan pergi," gumam Cyila sambil menyunggingkan senyum angkuh.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!