NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Siang itu, Clay sudah berdiri cukup lama di depan kantor Peter. Ia memilih tempat yang tidak terlalu mencolok di sisi dinding dekat pintu keluar, dengan bayangan gedung yang sedikit menutupi tubuhnya dari terik matahari. Tangannya masuk ke saku, bahunya bersandar santai, tapi sorot matanya tidak santai sama sekali.

Clay menunggu. Bukan sekadar menunggu waktu berlalu. Tapi menunggu seseorang.

Beberapa orang keluar masuk gedung. Pegawai dengan langkah terburu, beberapa yang tertawa ringan, ada juga yang sibuk dengan ponsel di tangan. Tapi tidak satu pun dari mereka menarik perhatian Clay. Sampai akhirnya, sosok itu muncul.

Peter.

Clay langsung menangkapnya. Tubuhnya sedikit menjauh dari dinding. Tidak lagi bersandar. Fokusnya penuh. Sementara itu, Peter belum menyadari. Ia berjalan keluar seperti biasa, melewati pintu utama, matanya sempat menyapu sekitar tanpa benar-benar mencari siapa pun.

Dan di situlah, mata Peter berhenti. Sekejap. Langkahnya ikut terhenti, meski hanya sepersekian detik.

“Kamu?” suara Peter datar, tapi jelas menyimpan tanya. Clay datang tanpa pemberitahuan.

Clay mendorong tubuhnya menjauh dari dinding, berdiri tegak. “Kita perlu bicara.”

Tidak ada basa-basi. Tidak ada senyum santai seperti biasanya. Dan itu saja sudah cukup membuat Peter mengerti, ini bukan kunjungan biasa. Peter menatapnya beberapa detik.

“Kamu mau bicara apa?” tanya Peter akhirnya. Nada suaranya datar. Tenang. Tapi ada jarak di dalamnya.

Clay menatap Peter lurus. “Soal Nindi.”

Peter mengernyit sedikit, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Oke. Ikut aku.”

Tanpa banyak kata, Peter berbalik lebih dulu. Clay mengerti, lalu mengikuti di belakang. Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit. Hanya langkah kaki yang sejajar, tapi tidak benar-benar seirama. Sampai mereka sampai di sebuah café dan memilih duduk di sudut yang lebih tenang.

Peter menyandarkan punggungnya, satu tangan bertumpu santai di meja. Tatapannya tidak lepas dari Clay, seolah memberi ruang sekaligus tekanan.

“Silakan,” ucap peter akhirnya.

Clay tidak langsung membuka suara. Ia sempat menunduk sebentar. Jarinya menyentuh gelas di depannya, tapi tidak benar-benar menggenggamnya. Hanya mencari ritme.

Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin salah memilih kata. Lalu ia mengangkat wajahnya. Tatapannya kembali lurus.

“Waktu itu… kenapa kamu bilang aku dan Nindi tidak setara?”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

“Jadi itu yang mengganggumu.” Peter tersenyum tipis.

“Aku serius.”

“Aku juga serius waktu bilang itu.”

Clay mengatupkan rahangnya pelan. “Jadi… apa maksudmu?”

Peter menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya bersandar di kursi.

“Clay, kamu hidup seperti orang yang tidak peduli apa pun selain hari ini.” katanya tenang. “Sedangkan Nindi… dia memikirkan semuanya.”

Clay diam.

“Dia memikirkan keluarganya. Masa depannya. Orang-orang di sekitarnya.” Peter melanjutkan. “Dia terbiasa menahan diri demi orang lain.”

“Lalu?”

“Lalu kamu?” Peter terkekeh tipis. “Kamu bahkan tetap berdiri di tempatmu.”

Clay menatap Peter tajam, tapi tidak memotong.

Peter menghela napas pelan.

“Aku bukan bilang kamu buruk.”

“Namun?”

“Kalian melihat hidup dengan cara berbeda.”

Hening beberapa detik.

Clay menurunkan pandangannya sebentar sebelum kembali bicara. “Kalau aku serius?”

Peter menatapnya lebih lama kali ini. “Itu justru yang membuatku mengatakan kalian tidak setara.”

Clay mengernyit samar.

Peter menatap Clay.

“Karena untuk Nindi, perasaan bukan sesuatu untuk dimainkan.” suara Peter melembut sedikit. “Dan kamu… punya kebiasaan pergi saat kamu sudah mulai bosan.”

Kalimat itu mengenai sesuatu dalam diri Clay lebih tepat dari yang ingin ia akui.

Ia tertawa kecil hambar.

“Jadi sekarang aku lelaki brengsek?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi nyatanya itu yang ada di dalam pikiranmu.”

Peter menghembuskan napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Aku cuma tidak mau ada yang terluka, Clay.”

Hening beberapa detik.

Clay menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,

“Bagaimana kalau kali ini aku tidak pergi?”

Peter mengangkat pandangannya, menatap Clay lebih serius.

“Kamu yakin?”

“Kalau aku tidak yakin, aku tidak akan datang kesini dulu sebelum mendekati Nindi.”

Jawaban itu membuat Peter diam sebentar.

Bibirnya terangkat tipis, nyaris seperti senyum kecil yang sulit disembunyikan. Karena sejujurnya… ia bisa melihat sendiri kalau cara Clay berbicara kali ini memang berbeda.

Tidak asal tertarik.

Tidak main-main seperti biasanya.

“Anggap saja aku percaya kamu serius,” ucap Peter akhirnya. “Tapi bagaimana dengan Nindi?”

Clay mengernyit tipis.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak benar-benar yakin dia bisa menerimamu.”

“Asal aku berusaha, aku pasti bisa mendapatkannya.”

Peter tertawa kecil samar, bukan mengejek, tapi lebih seperti seseorang yang tahu kenyataan tidak sesederhana itu.

“Dan setelah itu?”

Clay terdiam.

“Kamu tahu sebentar lagi dia akan pulang ke negaranya.” lanjut Peter. “Dan bukan cuma pulang untuk liburan. Dia kemungkinan besar tidak akan kembali tinggal disini.”

“Aku tahu.” sahut Clay cepat. “Untuk masalah itu aku bisa cari cara.”

“Cara apa?” Peter menatapnya lurus. “Telpon tiap hari? Video call? Ketemu sesekali?”

Clay tidak langsung menjawab.

Karena memang… sejauh ini hanya itu yang terpikir olehnya.

Peter tersenyum tipis saat melihat ekspresi Clay mulai berubah.

“Kamu pikir itu cukup?”

Clay mulai meremas jemarinya pelan.

“Nindi bukan tipe orang yang menjalani hubungan tanpa arah.” suara Peter kini jauh lebih tenang. “Kamu tahu kenapa dia mau pulang?”

Clay mengangkat pandangannya.

Peter melanjutkan,

“Karena dia ingin menata hidupnya.”

Ruangan kembali sunyi.

“Dia ingin dekat dengan keluarganya. Menjalani hidup yang stabil. Menikah.” Peter menatap Clay lekat. “Dan jujur saja… aku bahkan tidak yakin pikiranmu sudah sampai sejauh itu.”

Rahang Clay mengeras samar.

Peter sedikit mencondongkan dirinya ke meja.

“Yakin saja tidak cukup, Clay.”

Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Clay diam mendengarkan.

“Kalau kamu benar-benar ingin bersama Nindi, kamu harus siap berjuang mati-matian.”

Clay tetap diam.

“Kalian bukan dipisahkan satu kota.” lanjut Peter. “Tapi negara. Beribu-ribu mil. Itu butuh waktu, tenaga, uang, dan kesabaran yang tidak sedikit.”

Tatapan Clay perlahan berubah lebih serius.

“Dan bukan cuma soal jarak.” Peter menatapnya tajam. “Kamu juga harus tahu hubungan ini mau kamu bawa kemana.”

Hening.

“Apa ini cuma sesuatu yang terasa menyenangkan sekarang?” tanya Peter pelan. “Atau kamu benar-benar siap menjadikannya pasangan hidupmu?”

Clay tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak datang kesana… pertanyaan itu benar-benar membuatnya berpikir.

Peter menatapnya beberapa detik sebelum kembali berkata,

“Dan bahkan kalau suatu hari nanti kamu bilang ingin menikahinya, perjuanganmu belum selesai.”

Clay mengangkat mata.

“Orang tuanya bukan orang yang mudah menerima orang asing begitu saja.” lanjut Peter. “Budaya kalian berbeda. Cara hidup kalian berbeda.”

Peter berhenti sejenak sebelum menambahkan kalimat terakhirnya dengan lebih pelan,

“Termasuk cara kalian memandang Tuhan.”

Clay terdiam cukup lama setelah ucapan Peter terakhir.

Ruangan mendadak sunyi.

Ia menundukkan kepala sebentar, lalu mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya berkata,

“Kalau memang itu yang dibutuhkan untuk bisa bersamanya… maka aku akan belajar.”

Peter mengernyit kecil.

Clay mengangkat pandangannya.

“Aku tidak bilang semuanya akan mudah.” lanjutnya tenang. “Aku juga tidak bilang aku sudah jadi orang sempurna.”

Hening sesaat.

“Tapi untuk pertama kalinya…” rahang Clay menegang samar. “Ada seseorang yang membuatku ingin berhenti hidup secara asal."

Peter tidak menyela.

Karena Clay jarang sekali bicara sejujur itu.

“Aku tidak tahu nanti hasilnya bagaimana.” lanjut Clay pelan. “Tapi kalau pada akhirnya aku memang harus berubah, bekerja lebih keras, belajar memahami dunianya… bahkan belajar tentang hal-hal yang selama ini tidak pernah kupikirkan—”

Tatapannya lurus pada Peter.

“—maka aku akan lakukan.”

Peter terdiam. Benar-benar diam kali ini. Bukan karena ia langsung setuju. Tapi karena akhirnya ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dari Clay:

kesungguhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!