Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lukisan Hidup
Tepat pada pukul empat sore, suara khas mesin motor matic dapat didengar di depan rumah. Arlan, yang telah ada di rumah semenjak tiga puluh menit lalu, berdiri di belakang jendela ruang kerjanya yang terletak di lantai dua. Ia memerhatikan Ghea yang turun dari motor dengan celana kulot dan kaos simpel yang dimasukkan, terlihat segar dan menggemaskan dengan gaya rambut yang diikat kuda.
Tak lama kemudian, suara riuh terdengar di lantai bawah.
"Kak Gheaaaa!" jeritan ceria Mika menyambut kedatangan gadis itu.
Arlan memutuskan untuk turun. Ia melangkah perlahan, berusaha agar ekspresi wajahnya tetap serius dan profesional. Di ruang bermain, ia mendapati suasana yang jauh dari definisi "belajar" menurut pandangannya.
Ghea dan Mika sedang duduk bersila di atas karpet berbulu. Alih-alih buku matematika, di hadapan mereka terdapat banyak balok kayu dan... tumpukan cokelat kecil.
"Oke, Mika. Sekarang bayangkan, naga Papa memiliki sepuluh harta karun cokelat," suara Ghea penuh semangat. "Jika naga Papa memberikan tiga kepada Mika karena Mika adalah anak yang pintar, sisa harta naga Papa berapa?"
Mika tampak berpikir keras, menghitung cokelatnya satu per satu. "Tujuh!"
"Pintar!" Ghea mengacak rambut Mika, lalu secara tiba-tiba ia memajukan bibirnya, berpura-pura berbisik misterius. "Tapi jangan bilang Papa ya, nanti naganya marah cokelatnya kita hitung-hitung."
Arlan berdehem di ambang pintu, membuat mereka berdua menoleh. "Saya mendengar ada yang membahas harta karun saya di sini."
Ghea kaget, lalu menatap Arlan dengan mata besar. Ia menyadari bahwa pria itu sudah berganti pakaian dengan kaos polo yang pas, menonjolkan otot lengannya yang kuat.
"Eh, Pak Arlan! Sudah pulang?" Ghea menyapa, kemudian menyadari bahwa ia tertangkap sedang mengajari Mika dengan cara "korupsi" cokelat. Ia kembali memajukan bibirnya dengan manja, seakan-akan protes atas kehadiran Arlan yang mendadak. "Bapak jangan muncul tiba-tiba, bisa mengejutkan. Kami kan sedang konsentrasi belajar strategi ekonomi naga."
Arlan melangkah mendekat, aroma maskulinnya langsung menggantikan bau manis yang ada di ruangan. Ia berdiri sangat dekat di belakang Ghea, cukup dekat agar Ghea dapat merasakan panas dari tubuhnya.
"Strategi ekonomi naga? Sepertinya lebih mirip cara menghabiskan stok cokelat di rumah saya," ujar Arlan dengan suara rendah, terdengar menggoda di telinga Ghea.
Ghea mendongak, wajahnya hanya beberapa senti dari dada Arlan. "Tapi berhasil, kan? Lihat, Mika bisa belajar tentang pengurangan. Daripada menggunakan buku yang penuh angka membosankan."
Arlan menatap bibir Ghea yang masih sedikit mengerucut. Ada keinginan besar dalam dirinya untuk menyentuh bibir itu, tetapi ia menahannya dengan mengepalkan tangan di saku celananya.
"Lanjutkan," kata Arlan, suaranya sedikit serak. "Saya akan memperhatikan dari sini. Saya ingin tahu berapa banyak 'harta' saya yang akan habis sore ini."
Arlan duduk di sofa tunggal di sudut ruangan, menyilangkan kaki yang panjang. Alih-alih mengurus berkas di tangannya, matanya justru terus tertuju pada Ghea. Ia memperhatikan kaos Ghea yang sedikit terangkat saat ia membungkuk untuk mengambil balok, atau bagaimana leher jenjang gadis itu bergerak ketika ia tertawa.
Ghea mencoba berkonsentrasi pada Mika, tetapi ia merasa sangat terganggu oleh tatapan tajam Arlan yang seakan membakar punggungnya. Rasa yang muncul mirip seperti sedang diperhatikan oleh pemburu, tetapi anehnya, sensasi itu malah memberikan perasaan menyenangkan di perutnya.
Mika yang tidak peka terhadap ketegangan di sekitarnya, hanya tertawa ceria. "Papa! Kak Ghea bilang kalau Mika bisa menghitung sampai seratus, Papa harus bawa kita berenang!"
Arlan tidak mengalihkan pandangannya dari Ghea. "Jika Kak Ghea yang meminta, mungkin Papa akan memikirkan hal itu," balasnya dengan suara lembut, membuat wajah Ghea mendadak memerah seperti warna cat air yang mereka gunakan kemarin.
Ghea sempat terkejut dengan nada rendah Arlan yang terasa begitu menggoda. Namun, dia berusaha tidak membiarkan kecemasan menguasainya untuk waktu yang lama. Ia menoleh ke Arlan yang masih duduk santai di sofa dengan tatapan tajamnya, lalu dengan sengaja mengerucutkan bibirnya sambil memberi tantangan yang lucu.
"Wah, Pak Arlan sangat pintar memanfaatkan keadaan," sindir Ghea sambil mengeluarkan tawa kecil, matanya berkelap-kelip nakal. "Tadi kamu bicara tentang kontrak belajar, sekarang malah berujung pada rencana berenang. Apa ini cara Bapak untuk memamerkan otot di hadapan saya atau bagaimana?"
Mika yang tidak memahami arti ‘modus’ hanya ikut bersorak, "Iya! Papa pamer otot! Papa kan naga kuat!"
Arlan yang biasanya kaku, kali ini benar-benar tidak bisa menahan tawa pendeknya. Ia terkejut melihat mahasiswi di depannya ini berani membalas sindirannya. "Saya tidak membutuhkan ‘modus’ untuk menunjukkan sesuatu yang sudah jelas terlihat, Ghea," jawab Arlan dengan nada percaya diri yang menggoda, matanya mengamati sosok Ghea dari bawah ke atas.
Ghea menjulurkan lidahnya sedikit, lalu kembali fokus pada balok-balok di depannya. "Oke, oke! Saya menerima tantanganmu. Tapi ada syaratnya, Pak Naga!"
"Apa?" tanya Arlan, satu alisnya terangkat.
Ghea kembali menoleh, kali ini dengan ekspresi serius namun bibirnya tetap mengerucut manis. "Jika Mika mampu menghitung sampai seratus, Bapak tidak hanya harus mengajak berenang, tapi juga harus membiarkan saya mengecat wajahnya jadi naga asli dengan cat air. Agar lebih menarik!"
Arlan terdiam sesaat. Membayangkan dirinya—seorang CEO yang terhormat—dengan wajah penuh coretan cat air biru dan kuning di tepi kolam renang rasanya sangat gila. Namun, melihat api semangat di mata Mika dan cara Ghea menatapnya dengan senyuman kemenangan, pertahanan Arlan hancur total.
"Setuju," jawab Arlan singkat, suaranya terdengar menyerah tapi hangat. "Siapkan cat airmu, Ghea. Tapi jika Mika gagal, kamu harus mengganti waktu saya yang terbuang dengan sesuatu yang setara."
“Apa itu?” tantang Ghea, mengangkat dagunya dengan percaya diri.
Arlan memilih untuk tidak menjawab. Ia hanya menampilkan senyum yang misterius, membuat Ghea merasakan getaran di tubuhnya. Ruangan tersebut kini bukan hanya berisi pelajaran matematika, tetapi juga suasana menyenangkan antara pria yang mulai jatuh hati dan gadis ceria yang menjebaknya perlahan.
Mika bersorak gembira, melompat di atas karpet setelah berhasil menyebutkan angka seratus dengan tepat. Kemenangan kecil ini berarti satu hal: Arlan Pramudya akan menjadi kanvas bagi Ghea.
Arlan mendesah menyerah, tetapi ada sinar di matanya yang tidak dapat ia tutupi saat ia duduk di kursi kayu yang rendah, sejajar dengan Ghea yang sudah menyiapkan palet cat airnya.
“Mika, tolong ambilkan handuk kecil yang ada di sana, ya?” pinta Ghea dengan lembut agar mereka berdua memiliki ruang. Ketika Mika menjauh, suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih tegang.
Ghea mendekat, berlutut di antara kaki Arlan yang terbuka lebar. Ia mengangkat kuas kecil dan sebuah wadah berisi air. Saat tangan Ghea terangkat untuk menyentuh rahang Arlan yang tegas, ia bisa merasakan tangannya sedikit bergetar.
“Jangan bergerak, Pak Naga,” bisik Ghea. Ia maju mendekat, fokus penuh saat mulai menggoreskan warna biru di pipi Arlan.
Arlan tetap diam. Ia justru memanfaatkan kesempatan itu untuk melihat wajah Ghea dari jarak sangat dekat—hanya beberapa senti. Ia dapat melihat setiap helai bulu mata Ghea, pori-pori halus di kulitnya, serta aroma vanila yang berpadu dengan bau cat basah.
Sensasi dingin dari kuas yang menyentuh kulitnya terasa sangat berbeda dengan panas yang perlahan menyebar di tubuh Arlan. Jari-jari Ghea menopang dagunya agar tidak bergerak, dan sentuhan tersebut membuatnya merasakan aliran listrik.
“Ternyata... kulit Bapak juga halus,” gumam Ghea tanpa sadar, saat matanya berpindah dari pipi ke bibir Arlan yang kokoh.
Ghea menelan ludah. Wajah di depannya begitu tampan, dengan rahang yang sempurna dan tatapan matanya yang tampak bisa membaca pikirannya. Tanpa disadari, gerakan kuas Ghea semakin lambat. Ia kini fokus pada detail di dekat sudut bibir Arlan.
Arlan merasakan hembusan napas hangat Ghea di wajahnya. Ia menggenggam pergelangan tangan Ghea yang memegang kuas, menghentikan gerakannya tepat di depan mulutnya.
“Ghea,” suara Arlan terdengar sangat pelan dan serak, bergetar di tenggorokannya. “Kamu melukis naga, atau mencoba menggoda saya?”
Ghea terkejut, jantungnya berdegup cepat hingga ia merasa Arlan bisa mendengar detak jantungnya. Ia maju lagi dengan bibirnya, kali ini bukan karena fokus, melainkan karena rasa gugup yang menggebu. “Bapak terlalu percaya diri. Saya hanya ingin membuat detail sisik di sini.”
Arlan tidak melepaskan tangan Ghea. Ia justru menariknya sedikit lebih dekat, membuat Ghea condong ke depan hingga dada mereka hampir bersentuhan. Tatapan Arlan jatuh pada bibir Ghea yang masih mengerucut manis.
“Selesaikan gambarmu,” bisik Arlan tepat di depan bibir Ghea, membiarkan ujung hidung mereka bertabrakan sedikit. “Sebelum saya berubah pikiran dan meminta ‘bayaran setimpal’ saya sekarang.”
Ghea terdiam, merasakan ketegangan yang kuat di antara mereka. Di bawah tatapan penuh hasrat Arlan, Ghea melanjutkan sapuannya dengan tangan yang semakin bergetar, menyadari bahwa naga yang ia lukis jauh lebih menggoda dan berbahaya dibanding yang ia bayangkan.