NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Suasana di dalam Elora Diamond & Jewel kini terasa seperti medan perang yang membeku. Udara dingin dari pendingin ruangan yang tadinya menyegarkan, kini seolah membawa aroma ketegangan yang menyesakkan dada.

Juan masih berdiri kokoh di tengah ruangan, tatapannya sedingin es, tak gentar sedikit pun meski dua petugas keamanan sudah berada di jarak jangkau untuk meringkusnya.

Heri, sang sahabat yang berdarah panas, tidak bisa lagi membendung amarahnya. "Hei, pikir pakai otak kalian sebelum bertindak!" teriaknya hingga urat-urat di lehernya menegang. "Sekali saja tangan kalian menyentuh kawan kami tanpa alasan yang sah, aku pastikan kalian akan menendang debu di jalanan karena dipecat hari ini juga!"

Gertakan Heri justru memicu ledakan tawa yang lebih hina dari sudut ruangan. Ferdiyan, dengan setelan jas abu-abunya yang mahal, tertawa hingga bahunya berguncang hebat.

Ia seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol dari seorang pelawak pasar.

"Dengar itu? Anak kampung ini mengancam keamananku!" cetus Ferdiyan sambil menyeka sudut matanya. "Hahaha... dasar gembel tak tahu diri. Mimpi kalian terlalu tinggi untuk ukuran orang yang makan saja mungkin masih menumpang!"

Laras, wanita yang dulu pernah mengisi hari-hari Juan, kini ikut terkikik genit sambil mengeratkan pelukannya di lengan Ferdiyan.

Matanya yang tajam memandang Juan dengan tatapan penuh cemooh. "Benar kata Ferdiyan, sayang. Mungkin mereka pikir ini toko emas di pasar desa yang bisa digertak dengan suara keras. Memalukan sekali punya mantan seperti kamu, Juan."

Juan hanya menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia meletakkan tangannya di bahu Heri, memberi isyarat agar sahabatnya itu tenang. "Sudah, Ri. Jangan biarkan gonggongan mereka merusak telingamu," ucap Juan dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Namun, ketenangan Juan justru dianggap sebagai kelemahan oleh Ferdiyan.

Pria itu melangkah maju, menepuk bahu salah satu petugas keamanan dengan gaya bos besar yang angkuh. "Ayo tunggu apa lagi? Apa perlu aku beri bonus besar dulu baru kalian mau bekerja? Usir sampah-sampah ini sekarang juga dari toko saya!"

Dua petugas itu, yang merasa mendapat dukungan penuh dari sang pemilik saham, mulai merangsek maju. Tangannya sudah terjulur hendak mencengkeram kerah baju Juan.

Keributan mulai pecah, beberapa kursi tamu digeser kasar oleh pengunjung yang menjauh karena takut terkena imbas fisik.

Tepat saat ketegangan memuncak, terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama tegas dari lantai atas. Suaranya menggema di tangga spiral yang megah, memaksa semua orang untuk menoleh.

Seorang wanita muncul dengan keanggunan yang menghanyutkan, Alisa, sang manajer toko.

Tubuhnya semampai dan sangat proporsional. Ia mengenakan blazer putih yang membalut kemeja tipis, menonjolkan siluet pinggangnya yang ramping serta dua bukit kembarnya yang besar dan kencang, yang seolah hendak mendobrak kancing bajunya setiap kali ia bernapas.

Wajahnya cantik dengan rahang yang tegas, memperlihatkan wibawa seorang wanita karir yang mapan. Rambut hitamnya diikat ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.

Begitu Alisa tiba di lantai bawah, tawa menghina yang tadi memenuhi ruangan seketika lenyap. Bahkan Ferdiyan yang tadi begitu arogan, kini mendadak merapikan jasnya, meski wajahnya masih menyimpan kesombongan.

"Ada apa ini?" tanya Alisa, suaranya parau namun penuh otoritas. "Kenapa ada keributan yang begitu memalukan di lantai bawah ini?"

Salah satu resepsionis buru-buru mendekat, wajahnya pucat pasi. "Maaf, Bu Alisa... ketiga orang ini datang dan mengaku ingin menjual berlian. Tapi, melihat penampilan mereka... kami khawatir mereka punya niat buruk dan... "

"Dan mereka jelas-jelas gembel yang tersesat, Bu Alisa," potong Ferdiyan cepat, mencoba mengambil kendali suasana. "Saya hanya mencoba membantu menjaga reputasi toko ini dengan mengusir mereka sebelum pelanggan VIP lainnya merasa tidak nyaman."

Alisa menoleh perlahan ke arah Ferdiyan. Tatapannya sedingin sembilu, membuat pria berjas itu sedikit tersentak. "Maaf, Pak Ferdiyan. Sejak kapan standar pelayanan di toko ini ditentukan oleh status sosial seseorang? Dan sejak kapan Anda memiliki wewenang untuk mengatur operasional harian saya?"

Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Ferdiyan. Ia terdiam dengan wajah memerah, tak menyangka akan ditegur sedemikian rupa di depan banyak orang.

Alisa kemudian beralih menatap Juan. Ia menilai pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Meski pakaian Juan sederhana dan tampak kusam, Alisa melihat sesuatu yang berbeda di mata pemuda itu, sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar berkuasa. "Sekarang, bicaralah. Apa tujuan Anda datang ke tempat ini?"

Juan maju selangkah, menatap langsung ke dalam manik mata Alisa yang tajam. "Nama saya Juan. Saya datang ke sini dengan niat baik untuk menjual batu berlian milik saya. Itu saja, tanpa perlu drama yang tidak perlu."

Tawa Ferdiyan kembali meledak, meski kali ini terdengar lebih dipaksakan. "Berlian katanya? Bu Alisa, jangan tertipu! Lihat saja tangannya, kasar dan kotor. Mana mungkin orang seperti dia memiliki berlian? Paling itu hanya batu kaca hasil curian atau bongkahan kristal imitasi murahan!"

Laras ikut menimpali, suaranya melengking penuh kebencian. "Benar, Bu. Saya tahu persis siapa Juan. Dia bahkan pernah kesulitan hanya untuk membayar biaya kuliahnya. Bagaimana mungkin pria seperti dia punya harta berharga?"

Beberapa pengunjung kembali berbisik-bisik, membenarkan ucapan Laras.

Namun Alisa tidak terpengaruh. Ia menatap Laras dengan pandangan datar yang mematikan. "Saya tidak menanyakan pendapat Anda, Nona. Di Elora Diamond, kami menilai barang, bukan menilai masa lalu orang."

Juan menyeringai tipis melihat Laras yang terbungkam. Ia menoleh ke arah Heri yang masih memeluk tas di dadanya. "Keluarkan barangnya, Ri. Biar mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri."

Heri menarik napas dalam, mencoba menstabilkan tangannya yang gemetar karena amarah. Perlahan, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam lusuh dari tasnya.

Di tengah kemewahan toko itu, kain hitam tersebut tampak sangat kontras dan memprihatinkan. Namun, ketika kain itu dibuka di atas meja kaca yang berkilau, seisi ruangan seolah kehilangan pasokan oksigen.

Sebuah batu berlian raksasa seukuran kepalan tangan bertengger angkuh di atas kain hitam itu.

Cahaya dari lampu kristal di langit-langit seolah tersedot masuk ke dalam inti batu tersebut, menciptakan pendaran cahaya kebiruan yang sangat jernih dan tajam.

"Astaga..." desis seorang pengunjung wanita di barisan belakang, matanya tak berkedip.

Ferdiyan melangkah maju dengan wajah kaku. "Palsu! Itu pasti palsu!" teriaknya, suaranya mulai serak karena panik. "Ini penipuan! Mana ada berlian sebesar itu dimiliki oleh orang desa sepertinya! Bu Alisa, jangan biarkan mereka membodohi kita!"

Laras pun tampak pucat. Ia menatap batu itu dengan rasa tidak percaya yang bercampur dengan ketamakan yang mulai merayap di hatinya.

Namun Alisa tidak menggubris ocehan mereka. Sebagai ahli perhiasan berpengalaman, jantungnya mulai berdetak kencang melihat kejernihan batu tersebut.

Ia mengenakan sarung tangan sutra putih dengan perlahan, seolah sedang melakukan ritual suci.

"Boleh saya memeriksanya?" tanya Alisa, nadanya kini berubah menjadi sangat sopan, hampir menyerupai bisikan.

Juan mengangguk santai. "Silakan, Bu Alisa. Lakukan apa pun yang perlu dilakukan."

Alisa mengangkat batu itu, memutar-mutarnya di bawah cahaya lampu. Ia memperhatikan setiap sudut, mencari cacat atau gelembung udara yang biasa ada pada kaca imitasi.

Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain kemurnian yang sempurna.

"Tolong ambilkan detektor berlian presisi tinggi dan mikroskop termal sekarang juga!" perintah Alisa kepada asistennya.

Dalam hitungan detik, peralatan itu sudah tersedia di meja. Alisa menyalakan alat detektor. Suara tit kecil terdengar. Dengan jemari lentiknya, ia menempelkan ujung sensor alat itu ke permukaan batu.

Zeeeetttt!

Alat itu menjerit panjang. Barisan lampu indikatornya melesat naik hingga ke zona merah paling ujung. Baris konduktivitas termalnya menunjukkan angka yang hanya bisa dicapai oleh berlian murni dengan kualitas tertinggi.

Alisa melepaskan alat itu dengan tangan gemetar. Ia segera beralih ke mikroskop, mengamati serat-serat alami batu itu selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya bagi orang-orang di dalam toko.

Ketika Alisa akhirnya mengangkat kepalanya, wajahnya tampak sangat terkejut, bahkan ada semburat kekaguman yang terpancar dari matanya. Ia menatap Juan seolah pemuda itu adalah seorang pangeran yang sedang menyamar.

"Ini... ini tidak mungkin," gumam Alisa, suaranya kini terdengar sangat serak dan dalam. "Tuan Juan, batu ini adalah Blue Water Diamond dengan kualitas Internally Flawless. Ini adalah berlian alami dengan kejernihan tingkat dewa yang sangat langka ditemukan di dunia."

Ruangan kembali hening total. Ferdiyan nyaris terjungkal, kakinya terasa lemas seperti jelly. Laras menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya kini memancarkan rasa penyesalan yang sangat dalam.

"Berapa nilainya, Bu?" tanya Juan dengan nada datar, seolah hal itu tidak mengejutkannya.

Alisa menelan ludah, dadanya yang mempesona itu naik turun karena napasnya yang memburu. "Dengan ukuran sebesar ini dan kejernihan seperti ini... nilai taksirannya bisa mencapai miliaran rupiah. Dan jika dibawa ke balai lelang internasional, harganya bisa melambung lebih tinggi lagi."

BLARRR!

Pernyataan Alisa seperti bom yang menghancurkan seluruh harga diri Ferdiyan dan Laras. Ferdiyan yang tadi menghina Juan sebagai pengangguran, kini tampak seperti debu di bawah sepatu Juan.

Alisa berdiri tegak, memancarkan pesona manajer yang sangat berkuasa. Ia menoleh ke arah dua petugas keamanan yang tadi hendak mengusir Juan. "Kalian berdua! Seret Pak Ferdiyan dan wanita ini keluar dari toko sekarang juga! Mereka telah melakukan penghinaan berat terhadap tamu VIP kita. Saya tidak ingin melihat mereka berada di lingkungan ini lagi!"

"Tapi Bu! Saya punya saham di sini!" teriak Ferdiyan yang kini panik luar biasa.

"Saham Anda tidak ada artinya dibanding transaksi yang akan dilakukan Tuan Juan!" balas Alisa tajam. "Seret mereka keluar!"

Kedua petugas itu, yang kini sadar siapa yang lebih berkuasa, langsung meringkus Ferdiyan dan Laras tanpa ampun. Mereka diseret keluar lewat pintu kaca yang megah, disaksikan oleh semua orang yang kini menatap Juan dengan penuh rasa hormat dan puja-puji.

Alisa mendekat ke arah Juan. Aroma parfum melatinya yang mahal menyengat indra penciuman Juan, terasa sangat menggoda. Ia menatap Juan dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan seorang wanita yang mulai berhasrat pada pria yang memiliki kekuatan besar.

"Tuan Juan," bisik Alisa, suaranya kini terdengar sangat manis dan menggoda. "Mari kita lanjutkan pembicaraan ini di ruangan pribadi saya di atas. Di sana kita bisa bernegosiasi dengan lebih... 'leluasa' dan intim tanpa gangguan siapa pun."

Juan menyeringai. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya yang jauh lebih panas dan liar, baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!