Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Lantai kamar Logan yang dingin terasa seirama dengan hatinya yang membeku. Ia terduduk di tepi ranjang, menggenggam ponselnya seolah benda itu adalah satu-satunya tali penyelamat yang tersisa di tengah badai.
Napasnya memburu, sesak oleh rahasia yang baru saja menghantamnya. Bagaimana mungkin ia menceritakan kenyataan pahit ini pada Vivian? Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa ibunya, yang selama ini tampak begitu memuja Vivian, kini menghina perbedaan usia mereka?
Ia tidak akan sanggup melihat binar di mata Vivian meredup. Ia tidak sanggup membayangkan luka yang akan tergores di hati wanita itu jika tahu keluarga Valerio menganggapnya "wanita dewasa yang licik".
Dengan tangan gemetar, Logan menekan tombol panggil. Ia harus mendengar suara Vivian. Sekarang juga.
"Halo? Logan? Kau baru saja sampai tapi sudah menelepon?" suara lembut Vivian menyapa di seberang sana, terdengar tenang dan menyejukkan.
"Sayang..." Logan memanggil dengan suara yang pecah. Ada nada frustrasi yang begitu kental hingga Vivian di ujung telepon terdiam sejenak. "Aku benar-benar menginginkanmu, Vivian. Aku... aku ingin kau di sini sekarang."
Vivian terkekeh pelan, meski ia mulai merasakan ada yang tidak beres. "Apa? Kau sudah merindukanku lagi? Kita baru saja bertemu di meja makan, Logan. Kau benar-benar tidak bisa jauh dariku sebentar saja, ya?"
"Kenapa kau menolak ku malam itu, Vivian?" suara Logan merendah, terdengar putus asa. "Seandainya kau mau berci*ta denganku... seandainya Logan junior benar-benar sudah ada di rahimmu sekarang, segalanya mungkin akan lebih mudah. Aku tidak akan merasa sefrustrasi ini."
Vivian tertegun. Keheningan menyelimuti sambungan telepon itu selama beberapa detik. "Logan... kenapa kau bicara seperti itu? Ada apa? Apa ini karena pertanyaan gila ayahku tadi? Dia hanya bercanda, Logan. Kau tidak perlu memikirkannya sampai seserius itu."
"Bukan itu, Vivian. Bukan Ayahmu," Logan memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan air mata yang mendesak. "Kumohon... katakan pada ayahmu, Vivian. Katakan kau hamil! Katakan padanya kau sedang mengandung anakku."
"Hey, ada apa denganmu sebenarnya?" nada bicara Vivian berubah serius. "Kenapa kau jadi aneh begini?"
Logan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum memberikan kabar pahit itu. "Aku... aku akan ke rumah Oma di London, Sayang."
Vivian terdiam. "London? Kapan?"
"Besok pagi."
"Besok?" suara Vivian terdengar tercekat. "Logan, ini mendadak sekali. Kenapa tiba-tiba?"
"Mommy... Mommy sangat merindukan Nenek. Dia ingin aku menemaninya di sana sebentar. Tapi aku akan segera kembali, Vivian. Aku akan kembali lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Kau... kau harus merindukanku, mengerti?" Logan mencoba menyelipkan nada posesifnya yang biasa, meski hatinya perih.
"Apa nenekmu sakit?" tanya Vivian lembut, mencoba mencari logika di balik keberangkatan mendadak ini.
"Tidak. Hanya rindu biasa. Baiklah, Sayang. Aku harus istirahat sekarang. Hati-hati di rumah. Aku akan sangat merindukanmu."
"Aku juga akan merindukanmu, Logan. Jaga dirimu di sana," jawab Vivian. "Sampai bertemu secepatnya."
"Aku mencintaimu, Vivian. Sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Tut.
Sambungan terputus. Logan melempar ponselnya ke atas ranjang dan mengerang frustrasi. Berbohong pada Vivian adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan, namun membiarkannya tahu bahwa ia diasingkan karena usianya adalah hal yang jauh lebih buruk.
Kemarahan kembali membakar dadanya. Ia tidak bisa diam saja. Ia tidak bisa membiarkan orang tuanya mengatur hidupnya seolah ia masih bocah sepuluh tahun. Logan bangkit, melangkah keluar kamar dengan langkah lebar menuju kamar utama orang tuanya.
*Brak! Brak! Brak!*
Logan menggedor pintu kayu jati itu dengan keras. "Mom! Dad! Buka pintunya! Kita harus bicara!"
"Mom... Mommy... kumohon buka!"
Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan sentakan kasar. Alexander Valerio berdiri di sana dengan wajah yang sangat menyeramkan. Ia menatap putranya seolah Logan adalah musuh yang harus dihancurkan.
"Kau membuat istriku menangis dua kali hari ini, Logan," ucap Alexander dengan suara rendah yang mengancam. "Aku bersumpah, aku akan membunuhmu jika kau membuatnya menangis lagi karena wanita itu."
"Dad... seperti Daddy mencintai Mommy, aku juga sangat mencintai Vivian! Dia hamil, Dad! Kenapa kalian tidak mengerti sedikit pun?!" Logan berteriak, air mata kini benar-benar jatuh membasahi pipinya.
Alexander menatap putranya dengan tatapan dingin, lalu mendengus sinis. "Aku tidak mengerti?"
Alexander melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. "Bukan aku yang tidak mengerti, Logan. Tapi kau yang bodoh. Jika kau memang merasa sudah 'pria' dan bisa bercinta, kenapa kau begitu bodoh tidak memakai pengaman? Kau membawa masalah besar ke dalam keluarga ini!"
Logan tersentak. Ia terdiam, menyadari bahwa kebohongan tentang kehamilan Vivian kini menjadi bumerang yang menghantamnya balik dengan narasi yang berbeda di mata ayahnya. Di mata Alexander, Logan hanyalah remaja yang ceroboh, bukan pria yang bertanggung jawab.
"Dad, kumohon... panggil Mommy keluar. Aku ingin bicara padanya," pinta Logan memelas.
Tiba-tiba dari dalam kamar, suara Isabella berteriak dengan nada melengking yang dipenuhi isak tangis. "Putuskan Vivian, Logan! Mommy tidak mau bicara padamu sampai kau memutus hubungan dengan wanita itu! Pergi dari depan pintu Mommy!"
Alexander menatap Logan dengan sorot mata 'aku sudah memberitahumu'.
"Kau dengar itu? Pilihanmu sudah jelas. Putuskan kekasihmu, atau kau akan kehilangan segalanya, termasuk restu ibumu."
"Aku tidak bisa memutuskannya, Dad!"
"Maka bersiaplah untuk keberangkatanmu besok pagi. Kamarmu akan dijaga. Jangan coba-coba melarikan diri," ucap Alexander sebelum membanting pintu tepat di depan wajah Logan.
Logan berdiri terpaku di lorong yang sunyi itu. Ia merasa dunianya sedang runtuh perlahan-lahan. Ia mencintai Vivian melebihi apa pun, namun ia juga tahu bahwa Isabella adalah segalanya baginya. Bagaimana mungkin ia harus memilih antara jantung dan napasnya sendiri?
Di dalam kamar, Logan kembali merosot di balik pintu. Ia tidak akan menyerah. Jika London adalah tempat persembunyiannya, maka London juga akan menjadi tempat di mana ia menyusun rencana untuk kembali.
Ia tidak akan memutus hubungannya dengan Vivian. Tidak akan pernah. Meski seluruh dunia, termasuk orang tuanya sendiri, berdiri menentangnya. Karena bagi Logan, Vivian bukan sekadar wanita dewasa yang "matang"—ia adalah satu-satunya rumah yang ia inginkan setelah sekian lama tersesat.