Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertawa Sebagai Nana, Menangis Sebagai CEO
Ekantika menatap Dimas, tatapan matanya kosong. "Dia tahu, Dimas. Aku yakin dia tahu. Dia bilang parfumku familiar."
Dimas menganga. "Parfum itu kan pilihan saya, Bu! Yang paling beda dengan Nana! Astaga, ini tidak mungkin..."
"Tidak ada yang tidak mungkin lagi, Dimas. Semua ini terlalu rumit. Aku hampir muntah karena kebohongan ini," Ekantika memijat pelipisnya. Rasa pusing melanda. Kepala berdenyut-denyut. "Aku sudah bersikap sekejam mungkin padanya, tapi mata Riton... matanya menunjukkan kalau dia terluka."
"Ibu melakukan itu demi rahasia Ibu, Bu," Dimas mencoba menghibur, namun suaranya terdengar tidak yakin. "Kita harus terus berpura-pura sampai menemukan celah lain."
"Celah apalagi, Dimas? Aku sudah menyingkirkan Nana dari dirinya, menghancurkan perasaannya, semua demi apa? Demi mempertahankan kebohongan yang justru membuatnya semakin terluka?" Ekantika menyuarakan frustrasinya. Pikirannya kalut. Aku kehilangan dirinya. Aku kehilangan Nana. Aku kehilangan diriku sendiri.
"Bu, Ibu harus tenang," Dimas berkata, mendekat. "Kita akan cari cara. Mungkin Riton hanya... bingung."
"Bingung yang bisa berubah jadi benci. Dan kebencian Riton adalah hal terakhir yang aku inginkan," desis Ekantika. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota yang sibuk. Gedung-gedung tinggi, kendaraan yang lalu lalang, semua terasa asing. Di mana aku sekarang? Di mana Nana?
Beberapa jam berlalu. Ekantika mencoba fokus pada pekerjaannya, meninjau laporan, menandatangani dokumen. Tapi otaknya terus memutar ulang adegan pertemuan dengan Riton. Suaranya, tatapannya, bahkan aroma parfum yang ia kenakan. Setiap detail mengikis fokusnya, menggantikan angka-angka dan strategi dengan bayangan Riton yang terluka.
Ia bahkan tidak menyadari Vina, asistennya, masuk dan meletakkan beberapa dokumen di mejanya, tatapannya penuh selidik. Vina masih curiga, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang menahan senyum tipis. Riasanku memang terlalu tebal. Aku seperti badut.
Tiba-tiba, notifikasi email masuk ke laptop Ekantika. Ia melihatnya sekilas, sebuah alamat email anonim tanpa nama. Mungkin spam, pikirnya, tidak terlalu memedulikan. Namun, sebuah rasa tidak enak merayapi. Jarang sekali ia menerima email anonim.
Dengan jari gemetar, ia mengklik email itu. Subjeknya kosong. Isi emailnya hanya sebuah gambar.
Jantung Ekantika berhenti berdetak. Matanya membelalak. Itu adalah foto dirinya. Sebagai Nana. Di Kopi Senja. Tertawa lepas bersama Riton. Foto itu diambil dari sudut yang sangat dekat, menangkap setiap detail: senyumnya yang riang, pakaian thrift shop yang ia kenakan, bahkan anting mutiara mungil di telinganya.
Tidak mungkin.
Keringat dingin membasahi keningnya. Darah terasa mengalir dari wajahnya. Tenggorokannya tercekat. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, tangannya gemetar.
"Dimas! Ke ruanganku. Sekarang juga!" perintah Ekantika, suaranya nyaris berbisik, namun penuh ketegangan.
Dimas masuk, wajahnya masih menampilkan sisa-sisa kekhawatiran dari insiden Riton tadi pagi. "Ada apa lagi, Bu?"
Ekantika membalik layar laptopnya, menunjukkan foto itu pada Dimas.
Mata Dimas membelalak. "Astaga, Bu! Ini... ini foto Ibu saat kencan di Tebet! Siapa yang mengambil ini?"
"Itu yang ingin aku tahu, Dimas! Cepat! Lacak sumber email ini! Siapa pun yang mengirimnya, dia ada di antara kita! Dia tahu segalanya!" Ekantika menjerit tertahan, suaranya putus asa. Paranoia mencengkeramnya dengan kuat. Ruangan kantornya yang megah itu kini terasa seperti jebakan.
Dimas mengangguk cepat, tangannya sudah menari di atas keyboard laptopnya sendiri. Wajahnya tegang, serius. "Saya akan melacaknya, Bu. Berikan saya waktu."
Ekantika mondar-mandir di ruangannya, jemarinya meremas blus sutranya. Foto itu... begitu jelas. Begitu detail. Seperti diambil oleh seseorang yang sengaja menguntitnya. Siapa? Siapa yang membenciku sebegini rupa? Ia memejamkan mata, bayangan wajah Pak Doni dan Vina melintas. Mungkinkah mereka? Pak Doni selalu mencari celah untuk menjatuhkannya. Vina... Vina selalu memiliki tatapan iri yang sulit disembunyikan.
"Bagaimana, Dimas? Ada perkembangan?" Ekantika mendesak, setiap detik terasa seperti siksaan.
Dimas mengernyitkan keningnya, matanya terpaku pada deretan kode di layar. "Ini... agak sulit dilacak, Bu. Pengirimnya menggunakan server anonim. Tapi saya bisa mendapatkan IP address asal, dan... ini menarik, Bu."
"Apa?" Ekantika mendekat, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Jejaknya berasal dari jaringan internal perusahaan kita, Bu," Dimas berkata, tatapan matanya mengeras. "Dari komputer di Divisi Marketing."
Ekantika merasakan jantungnya berdetak kencang, kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena kemarahan. Di internal? Salah satu karyawanku sendiri? Pengkhianatan itu terasa pahit. "Divisi Marketing? Siapa saja yang ada di sana, Dimas? Siapa yang punya akses ke sana?"
"Banyak, Bu. Tapi yang punya motif untuk menjatuhkan Ibu... jelas, Pak Doni," Dimas menjawab. "Atau mungkin... Vina. Dia sering sekali bolak-balik ke divisi marketing, mengantar dokumen atau berkoordinasi."
"Vina," gumam Ekantika, nama itu terasa seperti racun di lidahnya. Ia teringat tatapan aneh Vina tadi pagi, kerutan di keningnya saat melihat riasan tebal Ekantika. Apakah dia yang selama ini menjadi mata-mata?
Paranoia mencengkeramnya. Ia merasa setiap mata di kantor kini menatapnya, menilai, menghakimi. Kursi CEO yang dulu terasa sebagai singgasana kekuasaan, kini terasa seperti kursi listrik.
"Dimas, pastikan ini akurat," Ekantika memerintahkan, suaranya kembali tajam, menyembunyikan getaran di hatinya. "Aku butuh bukti konkret. Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani bermain api denganku."
"Saya akan berusaha, Bu," Dimas mengangguk, jarinya kembali menari di keyboard. "Tapi siapa pun ini, dia berani sekali menargetkan Ibu langsung. Ini bukan hanya tentang gosip. Ini adalah ancaman serius."
Ekantika mengangguk, menatap kosong ke layar laptop yang masih menampilkan fotonya sebagai Nana. Foto itu... ia ingat betul, diambil saat ia tertawa lepas, berbicara tentang band-band pop-punk favoritnya. Sebuah tawa yang jujur, tawa yang langka di kehidupannya sebagai Ekantika Asna. Tawa yang kini digunakan untuk menghancurkannya.
Ini bukan lagi tentang Riton. Ini bukan lagi tentang Nana. Ini tentang diriku sendiri. Identitasku sebagai CEO, sebagai wanita yang berhak menentukan kehidupannya sendiri.
"Foto ini diambil dari sudut yang sangat dekat, Dimas," kata Ekantika, matanya menyipit, mengamati detail gambar itu. "Si pengirim... dia ada di kafe yang sama denganku. Dia melihatku."
Dimas mengangguk. "Itu artinya dia memang sengaja membuntuti Ibu, Bu. Atau... dia sudah ada di sana."
Tiba-tiba, notifikasi email lain muncul di layar. Kali ini, tidak ada foto. Hanya sebuah pesan teks singkat. Ekantika merasakan darahnya mengalir dingin. Ini dari pengirim yang sama.
Ia membuka email itu. Jemarinya gemetar hebat.
Isi pesannya hanya beberapa kata, tajam, menusuk, dan penuh ancaman.
"Berapa harga sebuah reputasi, Bu Janda?"
Ekantika membeku. Kata "Bu Janda" itu menghantamnya, menusuk ke inti ketakutannya. Kata yang selalu ia hindari, kata yang membuatnya menciptakan Nana. Kini, ia dihantam olehnya, di email pribadinya, sebagai ancaman.
Ia menatap kosong ke layar, lalu mendongak menatap Dimas, matanya dipenuhi ketakutan dan kemarahan yang membara.