Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Kartini sudah selesai memandikan pria tua lalu memindahkan ke kursi roda. Badanya yang gemuk tidak lantas membuat tubuhnya sulit untuk bergerak, bahkan mengangkat tubuh kakek ketika sedang lumpuh pun tanpa bantuan siapapun.
"Sebentar ya, Kek, saya ambil sarapan dulu," Begitulah Kartini memanggil sang majikan dengan sebutan Kakek karena permintaan beliu sendiri yang tidak mau jika Tini panggil Tuan.
Kakek hanya mengangguk, tidak lama kemudian Tini kembali membawa nampan yang berisi sarapan, lalu berjongkok di kursi roda hendak menyuapi.
"Biar Kakek belajar makan sendiri saja, Tini," Kakek ambil sendok dari tangan Kartini, walau gemetar ketika memasukkan ke dalam mulut, tapi akhirnya sepucuk sendok makanan ia kunyah. Inilah pertama kali Kakek makan sendiri setelah dirawat Kartini selama dua tahun.
Kakek tidak mau terlalu bergantung kepada Kartini yang sudah merawatnya dengan telaten dari lumpuh karena penyakit stroke. Hingga sedikit demi sedikit, ia mulai bisa berjalan walau masih harus menggunakan alat bantu, berkat wanita di depannya yang rajin melatih bergerak maupun berjalan.
Kendati mempunyai dua anak dari kedua Istrinya, dan tiga cucu, tapi tidak ada yang peduli. Kakek sering kali merasa bersalah kepada Kartini, maka ia berani membayar gaji yang lumayan besar.
"Wah, Kakek sudah hebat," Tini tersenyum, ia harus menyemangati kakek karena penyakit stroke memang harus dilatih. Kartini lalu ambil tisue hendak mengelap mulut kakek, tapi lagi-lagi si Kakek mengelap sendiri.
"Ini berkat kamu Tini," Kakek bersemangat untuk sembuh.
"Ya sudah... sekarang Kakek berjemur," Tini mendorong kursi roda kakek Chandresh lalu berjemur di halaman rumah mewah di bawah hangat nya mentari pagi. Dia berjongkok sambil memotong kuku kakek satu persatu hingga bagian yang keras yaitu jempol.
"Tini..." panggil kakek.
"Saya Kakek," Tini menghentikan tangannya sejenak mendongak menatap wajah kakek umur 80 tahun itu.
"Kamu sudah punya pacar?" Tanya kakek, kedua tangannya memegangi dua sisi kursi roda yang selama ini membantu Kartini bekerja, terdengar napas pelan Kakek Chandresh yang menanti jawaban Kartini.
"Ada Kek, tapi selama ini hanya berhubungan lewat pesan saja," Kartini tersipu malu ketika mengingat Teguh kekasihnya di kampung halaman.
"Sekarang kamu sudah waktunya menikah, Kartini," ujar Chandresh lembut namun tetap tegas, jiwa pemimpin perusahaan yang ia pegang puluhan tahun masih melekat walau tubuhnya tidak berdaya.
Kartini segera berdiri setelah menyelesaikan satu kuku. "Kami belum siap untuk menikah Kakek, karena Mas Teguh belum mempunyai pekerjaan yang tetap," Kartini beralih menyisir rambut putih Chandresh yang berantakan.
Semenjak kedua orang tuanya pergi, Kartini belum kepikiran untuk menikah karena masih menyekolahkan kedua adiknya yang masih SMA dan SMP. Itulah alasan Kartini rela menjalani cinta online dengan Teguh dan bekerja giat merawat Chandresh. Tentu saja Kartini senang karena selama ini dibayar lumayan hingga bisa mengirimkan uang untuk adiknya di desa.
"Bukan pacar kamu dari desa itu yang akan menjadi suami kamu, Tini," Chandresh, menatap mata Kartini penuh perhatian.
"Maksud Kakek," Kartini kaget, ia memang menyayangi kakek seperti orang tuanya sendiri tapi kakek tidak berhak mengatur hidupnya.
"Kakek sudah memikirkan masa depanmu. Arga, cucu saya yang akan menjadi suami kamu," jawab Chandresh tanpa kompromi, ia pikir Tini akan dengan senang hati menerimanya.
"Hihihi... Kakek bisa saja bercanda," Sekar tertawa cekikikan.
"Kakek serius Tini, saya sudah pikirkan sejak dua tahun yang lalu ketika kamu merawat saya yang hampir mati," Kakek memang saat itu tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, tapi pikirannya masih waras hingga tahu ketulusan hati Kartini.
Kartini tidak lagi menjawab, tapi bukan berarti menerima tawaran Chandresh. Membayangkan menikah dengan pria yang angkuh itu tidak ada dalam bayangan Kartini kecuali Teguh yang jauh di sana. Walau Teguh bukan orang kaya tapi soal kesetiaan dan kasih sayang tidak lagi Kartini ragukan.
"Sekarang Matahari sudah mulai tinggi, sebaiknya Kakek masuk ke kamar," Tini mengalihkan. Dia dorong Chandresh ke kamar kemudian pamit ke dapur hendak menyiapkan makan siang untuk Kakek.
Sementara Chandresh ambil handphone di atas meja lalu telepon cucunya.
"Ada apa Kek?" Tanya pria lokasi di perusahaan Chandresh Grup.
"Hemmm... bagus! Di telepon Kakeknya malah tanya ada apa?!" Tandas Chandresh, merasa cucunya itu tidak sopan. Semakin hari cucu kesayangan itu makin tidak ada waktu untuknya.
"Baik Kakek, aku segera ke rumah Kakek."
Siang harinya, Arga datang ke rumah kakeknya. Pria muda tampan dengan jas hitam itu tampaknya baru saja dari kantor. Dia lewat begitu saja ketika Kartini tengah menata masakan di meja makan.
"Dih, aku mau dijodohkan dengan pria macam itu? Oh tidak! Baru juga mimpin perusahaan milik Kakeknya saja sombong begitu! Apa lagi milik sendiri," gumam Kartini menatap Arga yang masuk ke kamar kakeknya.
"Kakek, apa yang Kakek rasakan?" Arga memijat tangan kakeknya dengan wajah cemas.
Arga Dhirendra Chandresh adalah nama pria itu, dia adalah Ceo di perusahaan Chandresh Grup, tentu saja kakek Chandresh pemilik perusahaan tersebut.
"Kakek baik-baik saja Arga, tentu semua ini berkat Kartini," puji Kakek di depan Arga hampir setiap kali cucunya itu datang ke rumahnya. Namun, Arga cukup mendengarkan saja tidak menjawab kata-kata Kakek. Tangannya terus memijat tangan dan kaki keriput yang masih duduk di kursi roda.
Hingga beberapa menit kemudian Kartini masuk memberi tahu bahwa makan siang sudah siap.
"Kamu sudah makan siang, Ar?" Tanya Chandresh, inilah kesempatan untuk membahas soal perjodohan.
"Belum, Kek."
"Temani Kakek makan," tegas kakek.
Kartini mendekati kursi hendak mendorong kakek tetapi Arga lebih dulu memegang gagang roda hingga tangan Tini menyentuh punggung tangan Arga. Sedetik kemudian mata mereka saling pandang dan membuangnya bersamaan.
Arga menjadi pemenang lalu mendorong roda kakek hingga tiba di pinggir meja makan. Dengan cepat Tini membantu kakek berdiri dan pindah ke kursi.
Tanpa menghiraukan pria angkuh itu Kartini mengisi piring kakek lengkap dengan nasi dan lauk, masih ingat pagi tadi ketika kakek sarapan sendiri, Tini tidak lagi berniat untuk menyuapi.
"Kamu kenapa bodoh sekali, mana mungkin Kakek bisa makan sendiri!" Tandas Arga menatap Kartini tajam. Namun, kakek menggerakkan tangannya agar Arga diam.
"Kakek memang bisa makan sendiri. Tini, kamu duduk, kita makan bersama," titah Chandresh menunjuk kursi kosong di hadapannya.
"Saya makan di dapur bersama Mbok saja, Kek," Kartini malas berhadapan dengan bos sombong itu, tapi Chandresh memaksa.
Mereka pun akhirnya makan dalam diam, Arga sesekali melirik kakeknya yang sudah jauh mengalami kemajuan tanpa ia tahu. Makan sendiri dan bicara pun tidak lagi cadel seperti beberapa waktu yang lalu.
Makan pun selesai, Tini membereskan piring kotor ke belakang, hanya tinggal kakek dan Arga di tempat itu.
"Arga, kamu tidak boleh semena-mena pada Kartini. Jika bukan gadis itu yang merawat, mana ada anak cucu Kakek yang perhatian!" Chandresh kesal mengingat semua itu.
"Maafkan Arga Kakek, jika aku tidak merawat Kakek bukan berarti tidak peduli. Nah, sebagai ucapan permintaan maaf apa yang harus aku lakukan untuk Kakek?" Arga merasa bersalah, karena kesibukan di kantor, ia tidak sempat mengunjungi kakeknya.
"Benar, kamu akan menuruti permintaan Kakek?" Chandresh melepas kaca matanya meletakkan di atas meja, lalu menatap cucunya lekat.
"Tentu saja Kakek."
"Menikahlah dengan Kartini!" Tegas Chandresh.
"Apa?!"
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭