NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petunjuk

“Tuan, ini data dan rekaman orang-orang yang telah menyerang Xavero.”

Adit menyerahkan tablet beserta beberapa berkas kepada Nathan dengan sikap rapi dan penuh hormat.

Nathan menerimanya, lalu menatap layar itu dengan ekspresi datar. Rekaman tersebut diputar perlahan. Sorot matanya tajam memperhatikan setiap detail yang ada.

“Kamu sudah dapat siapa yang menyuruh mereka?”

Adit mengangguk. “Arga Wijaya, Tuan.”

“Arga Wijaya…” gumam Nathan pelan, seolah mengingat sesuatu. “Apa hubungan dia dengan Xavero?”

“Arga Wijaya adalah kekasih dari Liora Mahendra… mantan istri Xavero,” jelas Adit dengan hati-hati. “Ia adalah dalang di balik semua ini, termasuk dipecatnya Xavero dari pekerjaan sebelumnya.”

Nathan terdiam.

Tatapannya masih tertuju pada layar tablet di tangannya. Rekaman itu terus berputar—pukulan demi pukulan, jumlah yang tidak seimbang. Dan satu hal yang jelas, itu bukan kebetulan.

Itu terencana.

Perlahan, rahangnya mengeras.

“Jadi…” ucapnya rendah, “ini bukan sekadar masalah pribadi.”

Adit mengangguk.

“Sepertinya begitu, Tuan.”

Nathan menurunkan tablet itu ke atas meja dengan pelan.

“Apa dia tahu Liora pernah menikah dengan Xavero?”

“Sepertinya tidak, Tuan. Bima Mahendra mengunci data Liora… hanya koneksi Pramudya Corp yang dapat membukanya,” jawab Adit dengan tenang.

Nathan terdiam sejenak.

Tatapannya perlahan terangkat dari meja, kini beralih pada Adit. Sorot matanya berubah—lebih tajam, lebih dalam.

“Jadi…” ucapnya pelan, “dia bermain tanpa tahu seluruh permainan.”

Adit mengangguk.

“Sepertinya begitu, Tuan.”

Nathan menyandarkan tubuhnya, jari-jarinya mengetuk pelan di permukaan meja, seolah sedang menyusun sesuatu di dalam pikirannya.

“Menarik,” gumamnya.

Hening sejenak.

“Kalau dia tidak tahu…” lanjut Nathan, “berarti dia hanya pion.”

“Arga Wijaya…” gumamnya pelan.

Nama itu diucapkannya seolah sedang ditimbang.

“Berani juga dia... menyentuh orang kita.”

Kalimat itu sederhana, namun maknanya jelas.

Xavero, sudah dianggap bagian dari mereka.

Nathan menoleh sedikit ke arah Adit.

“Sejauh mana pengaruhnya?”

Adit langsung menjawab.

“Cukup besar, Tuan. Dia punya koneksi di beberapa sektor, tapi… belum sampai level yang mengancam Pramudya Corp.”

Nathan mengangguk pelan.

“Belum,” ulangnya.

Ia kembali mengambil tablet itu, memutar ulang bagian saat Xavero masih berusaha berdiri meski sudah hampir tumbang.

Sorot matanya berubah sedikit.

Bukan marah, lebih seperti, mengakui sesuatu.

“Dia tidak jatuh,” gumamnya.

Adit melirik sekilas.

Nathan menatap layar itu beberapa detik lebih lama, lalu mematikannya.

“Orang seperti itu…” lanjutnya pelan, “kalau ditekan, bukannya hancur—malah semakin keras.”

Hening.

Nathan berdiri.

Aura di sekitarnya berubah.

Lebih dingin, lebih berbahaya.

“Siapkan sesuatu untuk Arga,” ucapnya tenang.

Adit langsung mengangguk.

“Dalam bentuk apa, Tuan?”

Nathan tersenyum tipis, namun tidak ada kehangatan di sana.

“Hanya pengingat.”

Ia melangkah melewati Adit.

“Kalau dia masih belum paham…”

Langkahnya terhenti sejenak.

“Baru kita beri pelajaran yang sebenarnya.”

Adit menunduk.

“Baik, Tuan.”

°°

“Tuan.”

Seorang pria dengan tato naga di lengannya menghentikan langkahnya, lalu menoleh perlahan.

“Ada apa, Rik?” tanyanya dengan nada dingin, sorot matanya tajam.

Erik terdiam sesaat, seolah memastikan ucapannya sebelum akhirnya berbicara dengan pelan. “Tuan… saya tadi menolong seseorang yang dikeroyok.”

Pria itu tetap tenang, ekspresinya tidak berubah sedikit pun.

“Terus apa masalahnya? Itu memang tugas kita untuk saling menolong,” ucapnya dingin.

Erik menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius.

“Tapi, Tuan… dia sangat mirip dengan Anda saat Anda masih berusia dua puluh tahunan.”

Langkah pria itu terhenti—benar-benar berhenti. Beberapa detik, tidak ada suara.

Hanya angin malam yang berhembus pelan di sekitar mereka.

Perlahan, pria bertato naga itu menoleh sepenuhnya ke arah Erik. Sorot matanya yang semula dingin, kini berubah lebih tajam.

“Apa maksudmu?” tanyanya rendah.

Erik menelan ludah pelan. Jarang sekali ia melihat reaksi seperti itu dari tuannya.

“Saya tidak berani memastikan, Tuan,” ucapnya hati-hati. “Tapi… wajahnya, sorot matanya… cara dia melawan—”

Ia menjeda sejenak.

“Sangat mirip dengan Anda.”

Pria itu menatap Erik beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca apakah bawahannya itu sedang bercanda atau tidak.

Namun Erik tetap berdiri tegap.

Serius.

Tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.

Pria itu mengalihkan pandangannya ke depan.

Rahangnya mengeras.

“Di mana dia sekarang?” tanyanya akhirnya.

“Rumah sakit daerah timur, Tuan.”

Sekali lagi, hening.

Namun kali ini, lebih berat, lebih dalam.

Tatapan pria itu perlahan berubah, bukan lagi sekadar dingin, tapi seperti sedang mengingat sesuatu dari masa lalu.

“Namanya?” tanyanya.

Erik menggeleng pelan.

“Saya belum sempat menanyakan, Tuan.”

Pria itu menghela napas panjang.

“Cari tahu.”

Nada suaranya datar, namun tegas.

Erik langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”

Pria itu melangkah kembali.

Namun kali ini, langkahnya tidak setenang sebelumnya.

Di dalam pikirannya, hanya satu hal yang terus terulang.

Mirip…?

Pria bertato naga itu berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi, lalu melangkah pergi meninggalkan Erik. Langkahnya tenang, namun aura dingin masih terasa jelas.

Erik hanya menatap punggung pria itu sejenak, sebelum akhirnya ikut berbalik. Ia segera menjalankan tugasnya, kembali pada tanggung jawab yang menantinya.

°°

Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim, suasana terasa sunyi dan sedikit menekan.

Nico duduk seorang diri, tubuhnya bersandar tenang di kursi, sementara tatapannya terpaku pada sebuah foto di tangannya.

Krek!

Pintu terbuka perlahan, membiarkan sedikit cahaya masuk ke dalam ruangan yang temaram.

Namun Nico tidak menoleh.

Tatapannya tetap terpaku pada foto di tangannya, sebuah foto lama yang sudah sedikit memudar di sudut-sudutnya.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Tenang, teratur.

Seolah tidak ingin mengganggu, namun juga tidak ragu untuk hadir.

“Xander,” ucap Nico pelan, tanpa mengalihkan pandangan.

Xander duduk di sofa, tubuhnya sedikit condong ke depan. Tatapannya terarah tajam pada sahabatnya, penuh rasa ingin tahu.

“Katakan, ada apa, Nic?”

Nico perlahan mengangkat wajahnya, menatap Xander dalam. Sorot matanya tenang, namun menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.

“Lo masih percaya takdir?”

Xander mengerutkan kening, jelas bingung dengan pertanyaan itu.

“Tanpa kita sadari… yang kita cari sudah semakin dekat,” sambung Nico pelan.

“Jangan bertele-tele, Nic. Jelasin maksud lo." ucap Xander dengan raut wajah datar, sedikit tak sabar.

Nico terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu dalam pikirannya. Lalu, tanpa banyak kata, ia mengulurkan foto yang sejak tadi ia pegang.

Xander langsung menerimanya, lalu memperhatikan foto tersebut dengan seksama.

Deg!

Untuk sesaat, napas Xander terasa tertahan.

Matanya menelusuri setiap detail dalam foto itu, wajah pria muda dengan sorot tajam, senyum tipis yang penuh arti, dan aura yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Perlahan, alisnya mengerut.

Tatapannya berubah.

“Ini…” gumamnya pelan.

Ia mengangkat pandangannya ke arah Nico.

“Dari mana lo dapet foto ini?”

Nico menyandarkan tubuhnya, sorot matanya dalam.

“Dia jadi asisten Naura sekarang.”

Nico menatap sahabatnya dalam-dalam, sorot matanya serius dan penuh makna. “Gue tidak ingin berspekulasi… kita buktikan dengan tes DNA.”

Xander mengangguk pelan. Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh begitu saja, menandakan gejolak emosi yang selama ini ia tahan.

Nico bangkit dari duduknya, lalu mendekat dan merangkul Xander dengan erat, seolah mencoba menenangkan sekaligus menguatkannya.

Xander tidak menahan, air matanya jatuh begitu saja, tanpa suara.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ekspresi itu kembali terlihat di wajahnya.

Rapuh.

Nico tetap diam, tangannya menepuk pelan bahu sahabatnya. Tidak banyak kata yang keluar, tapi kehadirannya cukup.

“Kalau ini benar…” suara Xander serak, nyaris tak terdengar, “berarti dia… selama ini—”

Kalimatnya terhenti.

Tidak sanggup dilanjutkan.

Nico mengencangkan sedikit rangkulannya.

“Makanya,” ucapnya rendah, “gue gak mau salah langkah.”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!