Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJAMUAN DI ATAS LUKA
Matahari Desa Sukamaju yang biasanya terasa hangat, pagi ini menyengat kulit Alana dengan cara yang berbeda. Di meja makan panjang posko, suasana sarapan yang biasanya riuh dengan candaan Bram dan Dinda, mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan.
Maudy duduk di sebelah Raka, tangannya dengan posesif merapikan kerah kemeja Raka yang sedikit tertekuk. "Kamu harus makan banyak, Sayang. Di sini kelihatannya kamu makin kurus. Nanti apa kata Papa kalau kamu pulang pucat begini?"
Raka hanya bergumam pelan, matanya tertuju pada piring nasi gorengnya tanpa selera. Sesekali, secara tidak sengaja, netranya beradu dengan mata Alana yang sedang menuangkan teh di ujung meja. Alana segera membuang muka, memfokuskan perhatiannya pada remah-remah kerupuk di piringnya sendiri.
"Oh ya, Alana," panggil Maudy tiba-tiba. Suaranya yang melengking memecah keheningan. "Raka bilang kamu yang paling jago soal narasi dan sejarah desa ini ya? Hebat banget. Jarang lho ada cewek Sastra yang mau panas-panasan ke dusun terpencil."
Alana memaksakan sebuah senyum formal—senyum yang ia pelajari dari buku-buku teori akting yang pernah ia baca. "Itu sudah tanggung jawab tugas, Mbak Maudy."
"Panggil Maudy saja, kita kan seumuran," sahut Maudy dengan nada pelindung. "Raka memang sering cerita soal timnya, tapi dia lupa bilang kalau partner kerjanya secantik kamu."
Kalimat itu mengandung madu, tapi Alana merasakan sengat lebah di dalamnya. Ia melirik Raka. Pria itu tampak menegang, rahangnya mengeras. Raka ingin bicara, namun Maudy lebih cepat menyuapkan sesendok nasi ke arahnya, sebuah gestur "kepemilikan" yang telak di depan mata Alana.
Setelah sarapan, Alana tidak tahan lagi. Ia mengambil tas lapangan dan buku catatannya, lalu menyelinap keluar lewat pintu belakang sebelum Bram sempat membagikan tugas harian. Ia butuh oksigen yang tidak tercemar oleh aroma parfum mahal Maudy.
Ia berjalan cepat menyusuri pematang sawah, menuju gubuk tua tempat mereka berteduh kemarin. Tempat itu kini terasa seperti monumen kegagalan. Kemarin, gubuk itu adalah tempat suci di mana rahasia terungkap. Hari ini, gubuk itu hanyalah tumpukan kayu lapuk yang menjadi saksi betapa bodohnya seorang Alana Shafira.
"Alana! Tunggu!"
Langkah kaki yang berat mengejarnya. Alana mempercepat jalannya, namun tangan yang kuat menahan lengannya. Raka.
"Lepaskan, Raka. Nanti tunanganmu mencari," desis Alana tanpa menoleh.
"Dia sedang mandi, Lan. Tolong, dengerin aku sebentar saja," napas Raka tersenggal. "Kemarin... aku nggak sempat jelasin semuanya. Perjodohan itu bukan pilihanku. Aku sudah mencoba menolak berkali-kali, tapi ayahku punya masalah kesehatan dan perusahaan keluarga kami sedang di ujung tanduk. Maudy adalah satu-satunya jalan keluar menurut mereka."
Alana berbalik, matanya berkaca-kaca namun penuh kemarahan. "Dan kamu memilih menjadi pahlawan bagi perusahaanmu dengan mengorbankan perasaan orang lain? Termasuk perasaanku, Raka? Kamu egois!"
"Aku memang egois!" bentak Raka frustrasi. Ia meremas rambutnya sendiri. "Aku egois karena aku membiarkan diriku jatuh cinta padamu di meja nomor 15 saat aku tahu aku tidak punya masa depan untuk ditawarkan. Aku egois karena aku tetap mengejarmu ke gubuk itu padahal ada cincin yang menunggu di rumah. Tapi tolong, jangan anggap apa yang terjadi kemarin itu bohong. Itu satu-satunya hal nyata yang kupunya selama tiga tahun ini."
Batas yang Tak Terlampaui
Alana terdiam. Angin gunung berhembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang lepas. Di matanya, Raka bukan lagi arsitek yang hebat dan tak tersentuh. Raka hanyalah seorang pria yang terperangkap dalam sangkar emas, sama menderitanya dengan Alana.
Namun, Alana adalah mahasiswi Sastra. Ia tahu betul bahwa dalam sebuah tragedi, tidak semua protagonis mendapatkan akhir yang bahagia.
"Raka, kamu tahu apa yang paling menyakitkan?" suara Alana kini pelan, nyaris hilang tertelan angin. "Bukan fakta bahwa kamu punya tunangan. Tapi fakta bahwa kamu membiarkanku bermimpi di saat kamu sendiri tahu bahwa mimpi itu tidak akan pernah bangun."
Ia melepaskan cengkeraman tangan Raka dengan lembut.
"Kembalilah ke posko. Temani dia. Dia datang jauh-jauh untukmu. Jangan biarkan dia merasa asing di tempat yang sudah membuatku merasa seperti di rumah."
Alana berbalik dan melanjutkan perjalanannya sendirian, meninggalkan Raka yang terpaku di tengah pematang sawah yang luas. Punggung Raka tampak mengecil, seolah-olah beban tanggung jawab keluarga benar-benar sedang menghancurkan bahunya.
Konfrontasi Subtil
Malam harinya, Maudy mengajak seluruh kelompok untuk makan malam bersama di teras depan. Ia memesan kambing guling dari kota, sebuah kemewahan yang terasa aneh di desa itu.
"Raka selalu bilang dia suka ketenangan," ucap Maudy sambil menuangkan minuman. "Tapi aku bilang, Raka, kamu itu butuh keramaian. Kamu butuh seseorang yang bisa membawamu keluar dari duniamu yang membosankan. Makanya kita cocok, kan?"
Raka hanya tersenyum kaku.
Alana duduk di pojok, diam-diam memperhatikan bagaimana Maudy mengontrol setiap percakapan. Maudy tidak jahat; dia hanya seorang wanita yang mencintai dunianya dan pria yang dianggapnya miliknya. Dan itulah yang membuat Alana merasa semakin kalah. Ia tidak bisa membenci Maudy. Ia hanya bisa membenci keadaan.
Tiba-tiba, Maudy menatap Alana. "Alana, kenapa diam saja? Kamu sedang menulis puisi tentang kami ya? Katanya orang Sastra suka curhat di buku catatan."
Seluruh mata tertuju pada buku catatan kecil yang ada di pangkuan Alana.
"Hanya catatan sejarah desa, Maudy," jawab Alana tenang.
"Boleh aku lihat? Aku penasaran gimana gaya tulisan mahasiswi berprestasi," Maudy mengulurkan tangan, hendak mengambil buku itu.
Jantung Alana berhenti berdetak. Di dalam buku itu, ada draf Bab 6 yang baru saja ia tulis. Ada nama Raka. Ada rasa sakit. Ada gema di lorong senyap. Jika Maudy membacanya, tamatlah sudah segalanya.
"Maaf, Maudy. Ini... draf rahasia untuk skripsiku. Belum boleh dibaca siapapun," Alana menarik bukunya menjauh dengan gerakan cepat.
Keheningan yang canggung terjadi selama beberapa detik. Raka menatap Alana dengan tatapan memohon, sementara Maudy hanya tertawa kecil, meski matanya menampakkan kecurigaan yang mulai tumbuh.
"Oh, I see. Rahasia ya? Oke, aku hargai privasimu," Maudy kembali bergelayut di lengan Raka. "Raka juga punya banyak rahasia, tapi biasanya dia nggak bisa sembunyikan apa-apa dariku."
Halaman yang Robek
Malam itu, di kamar yang gelap, Alana tidak menulis satu kata pun. Ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya pada buku catatannya.
Ia merobek tiga halaman terakhir. Halaman tentang gubuk, tentang dapur, dan tentang pengakuan Raka.
Ia berjalan ke arah dapur tua yang masih menyisakan bara api dari sisa memasak sore tadi. Satu per satu, kertas-kertas berisi curahan hatinya itu ia lempar ke dalam bara. Ia melihat bagaimana aksara-aksara itu menghitam, menggulung, dan akhirnya menjadi abu.
> "The silence of adoring you was safe. But the noise of losing you is deafening."
> Ia berbisik pada api yang mulai padam. Besok adalah hari terakhir Maudy di desa ini, tapi Alana tahu, meskipun Maudy pergi, kenyataan itu tetap tinggal. Ia harus menyelesaikan KKN ini, bukan sebagai pengagum rahasia, melainkan sebagai seorang wanita yang sedang belajar mengikhlaskan apa yang bahkan belum pernah ia miliki sepenuhnya.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus