NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: RUNTUHNYA ISTANA PASIR

Pagi itu, matahari bersinar sangat terik, seolah ingin menelanjangi setiap sudut kemunafikan yang tersembunyi di balik pagar tinggi kediaman Baskara. Di dalam rumah, Maya sedang duduk di ruang makan dengan angkuh. Ia mengenakan gaun sutra berwarna keemasan, menyesap jus jeruk segar sambil memerintah Bi Sumi untuk membersihkan sudut ruangan yang sebenarnya sudah sangat bersih.

"Bi, pastikan kamar bayi di lantai atas sudah mulai dicat ulang minggu depan. Aku ingin warna biru langit yang paling mahal," perintah Maya tanpa menoleh.

Bi Sumi hanya mengangguk pelan, wajahnya tampak kuyu. Sejak kejadian Ibu Rahayu jatuh sakit, Bi Sumi hanya bicara seperlunya. Ia tahu badai besar akan datang, ia bisa merasakannya dari ketenangan Baskara yang tidak biasa sejak semalam.

Baskara sendiri sudah keluar rumah sejak jam tujuh pagi bersama Ibu Rahayu, katanya ingin membawa Ibu kontrol rutin ke rumah sakit. Maya sama sekali tidak curiga. Ia justru senang karena dengan begitu ia bisa bebas berkuasa di rumah itu sendirian.

Tepat pukul sembilan pagi, suara deru mobil yang banyak terdengar dari arah gerbang depan. Maya mengernyitkan dahi. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar. Matanya membelalak saat melihat dua mobil polisi, satu bus kecil berisi petugas eksekusi pengadilan, dan sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia kenal.

Mobil Larasati.

"Apa-apaan ini?" teriak Maya sambil berlari menuju pintu depan.

Begitu pintu terbuka, Larasati melangkah masuk dengan langkah yang begitu berwibawa. Ia tidak datang sendirian. Di sampingnya ada Aditama dan seorang petugas pengadilan yang membawa map merah besar berisi surat perintah penyitaan.

"Gendis! Mau apa lagi kamu ke sini? Ini rumahku! Pergi kalian semua!" jerit Maya, wajahnya yang tadi cantik seketika berubah menjadi garang dan penuh ketakutan.

Larasati berhenti tepat di depan Maya. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Maya dengan tatapan yang sangat datar, seolah melihat seekor serangga kecil yang mengganggu.

"Namaku Larasati Hardianto, Maya. Dan aku ke sini bukan untuk bertamu," ucap Larasati, suaranya terdengar sangat jernih dan tegas. "Aku ke sini untuk mengambil kembali rumah ayahku yang telah dicuri oleh keluargamu sepuluh tahun lalu."

Petugas pengadilan maju selangkah. "Nyonya Maya, berdasarkan putusan pengadilan nomor 402, aset rumah ini beserta isinya telah resmi beralih kepemilikannya kepada Hardianto Group sebagai bagian dari pengembalian kerugian negara dan aset perusahaan yang digelapkan. Kami memberikan waktu satu jam bagi Anda untuk mengemasi barang-barang pribadi Anda."

Maya tertawa histeris, tawa yang terdengar sangat gila. "Penyitaan? Kalian bercanda? Baskara! Di mana kamu, Mas? Lihat apa yang dilakukan wanita jalang ini pada rumah kita!"

"Baskara tidak akan datang untuk menolongmu, Maya," potong Larasati.

Tepat saat itu, sebuah taksi berhenti di depan gerbang. Baskara keluar dari sana. Namun, ia tidak berlari memeluk Maya. Ia justru berdiri di samping Larasati, menatap Maya dengan tatapan yang penuh dengan rasa jijik.

"Mas! Mas Baskara, tolong mereka! Mereka mau mengusirku! Aku sedang hamil anakmu, Mas!" Maya berlari memeluk kaki Baskara, air mata sandiwaranya mulai mengalir deras.

Baskara menarik kakinya dengan kasar hingga Maya tersungkur di lantai marmer yang dingin. "Berhenti menyebut anak itu anakku, Maya. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu tentang Rian. Aku sudah tahu tentang Hotel Kismet. Dan aku sudah tahu usia kandunganmu yang sebenarnya."

Dunia Maya seolah berhenti berputar. Ia menatap Baskara dengan mulut ternganga. "Mas... itu... itu fitnah! Gendis memfitnahku!"

Baskara melemparkan sebuah amplop berisi foto-foto dan hasil tes DNA pralahir yang berhasil didapatkan Aditama secara darurat. "Baca itu! Kamu pikir aku sebodoh itu? Kamu menggunakan janin pria lain untuk mengikatku? Kamu benar-benar wanita paling menjijikkan yang pernah aku kenal!"

Larasati memberikan isyarat kepada para petugas. "Mulai eksekusinya. Kosongkan semua ruangan."

Para petugas mulai bergerak. Mereka menempelkan stiker "Disita" di setiap furnitur mewah, di lukisan-lukisan mahal, bahkan di pintu kamar utama. Maya berteriak-teriak seperti orang gila, mencoba menghalangi petugas yang mengangkut barang-barangnya.

"Jangan sentuh itu! Itu tas brended-ku! Itu perhiasanku!" teriak Maya.

"Perhiasan itu dibeli dengan uang perusahaanku, Maya. Semuanya disita," ucap Larasati dingin. "Kamu hanya boleh membawa pakaian yang kamu kenakan dan satu tas kecil berisi kebutuhan pribadimu. Itu pun jika kamu masih punya harga diri untuk memakainya."

Maya terduduk di tengah ruang tamu yang kini mulai kosong. Ia melihat satu per satu kemewahan yang ia banggakan selama ini diangkut keluar. Mahkota plastiknya runtuh. Istana pasir yang ia bangun di atas penderitaan orang lain kini tersapu ombak kebenaran.

Ia menoleh ke arah Larasati yang sedang berdiri tenang sambil melihat foto ayahnya yang kini ia pasang kembali di dinding ruang tamu—foto yang dulu disembunyikan oleh keluarga Maya.

"Kamu puas, Larasati? Kamu puas menghancurkanku seperti ini?" tanya Maya dengan suara yang parau, penuh dengan kebencian yang mendalam.

Larasati berjalan mendekati Maya, ia berlutut agar mata mereka sejajar. "Puas? Tidak, Maya. Kata 'puas' tidak cukup untuk mengganti sepuluh tahun penderitaanku. Aku tidak menghancurkanmu. Kamu menghancurkan dirimu sendiri dengan ketamakanmu. Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya ada pada tempatnya."

"Dan soal anak itu..." Larasati menatap perut Maya. "Aku kasihan padanya. Dia harus memiliki ibu yang menjadikannya sebagai barang dagangan demi sebuah status sosial. Pergilah pada Rian, ayah asli dari anak itu. Oh, aku lupa... Rian sudah kabur ke luar negeri setelah aku melaporkan hutang-hutangnya pada penagih hutang yang legal."

Maya menjerit, sebuah jeritan panjang yang memilukan. Ia merasa benar-benar sendirian sekarang. Ayahnya di penjara, suaminya menceraikannya, kekasih gelapnya melarikan diri, dan hartanya disita.

Baskara mendekati Larasati. "Laras... Ibu sudah aku pindahkan ke apartemen kecil milikku sendiri. Aku akan memulai semuanya dari nol. Aku menyerahkan rumah ini sepenuhnya kepadamu. Ini memang milik ayahmu."

Larasati menatap Baskara. Ada sedikit rasa haru melihat pria itu akhirnya melepaskan egonya. "Terima kasih, Baskara. Kamu melakukan hal yang benar."

"Bolehkah aku bicara dengannya sebentar?" tanya Baskara menunjuk Maya.

Larasati mengangguk dan memberi ruang. Baskara berdiri di depan Maya yang masih terisak di lantai. "Maya, surat cerai sudah ditandatangani oleh pengacaraku. Kita bukan lagi suami istri. Aku akan memberikan tunjangan minimal untuk biaya persalinanmu, bukan karena aku masih peduli padamu, tapi karena aku masih memiliki nurani terhadap nyawa yang ada di dalam perutmu itu. Selebihnya... kamu bukan lagi urusanku."

Baskara berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan masa lalunya yang kelam di sana.

Kini, tinggal Larasati dan Maya di ruangan itu. Petugas sudah selesai mengosongkan rumah. Bi Sumi berdiri di pojok ruangan dengan tas pakaiannya, ia tersenyum pada Larasati.

"Non Gendis... eh, Non Laras... bolehkah saya tetap bekerja di sini?" tanya Bi Sumi malu-malu.

Larasati tersenyum tulus, senyum pertama yang benar-benar berasal dari hatinya sejak sepuluh tahun lalu. "Tentu saja, Bi. Rumah ini tidak akan terasa seperti rumah tanpa Bibi. Mari kita bangun kembali suasana hangat di sini."

Larasati kemudian menatap Maya yang masih enggan beranjak. "Satu jam sudah lewat, Maya. Keluar dari rumahku sekarang juga. Atau aku akan meminta polisi menyeretmu karena memasuki properti orang lain tanpa izin."

Maya berdiri dengan kaki yang gemetar. Ia mengambil tas tangannya, menatap sekeliling rumah yang dulu ia banggakan sebagai simbol kekuasaannya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah gontai. Saat melewati ambang pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh pada Larasati.

"Ini belum berakhir, Larasati. Selama aku masih bernapas, aku akan membencimu," desis Maya.

"Kebencianmu hanya akan menjadi racun bagi dirimu sendiri, Maya. Selamat menjalani hidup barumu sebagai orang biasa," balas Larasati tenang.

Pintu besar itu ditutup. Brak. Suara dentumannya terdengar seperti penutup sebuah bab panjang yang penuh dengan air mata.

Larasati berdiri di tengah ruang tamu yang luas. Ia memejamkan matanya, menghirup udara di dalam rumah itu. Aroma pengkhianatan sudah hilang, berganti dengan aroma kebebasan. Ia berjalan menuju foto ayahnya, menyentuh bingkainya dengan lembut.

"Ayah... kita sudah pulang," bisik Larasati.

Air mata jatuh di pipinya, namun kali ini bukan air mata penderitaan. Ini adalah air mata kemenangan. Siasat manis istri kedua telah mencapai puncaknya. Ia tidak hanya mendapatkan hartanya kembali, tapi ia mendapatkan kembali jati dirinya yang sempat hilang dalam dendam.

Malam itu, Larasati tidur di kamar ayahnya. Ia tidak merasa kesepian. Ia merasa damai. Esok pagi, ia akan memulai pekerjaannya sebagai pemimpin Hardianto Group yang baru. Ia akan membuktikan bahwa seorang wanita yang pernah hancur bisa bangkit menjadi lebih kuat dari siapapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!