Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Hutan Kabut Awan (3) [REVISI]
Wang Yan mematung. Seluruh ototnya menegang, namun ia memaksa tubuhnya untuk tidak mengeluarkan getaran sekecil apa pun. Ia menahan napas sedalam mungkin, mencoba meniadakan keberadaannya di balik batang pohon besar yang lembap.
“Gila,” batin Wang Yan. Matanya tetap terkunci pada sosok yang baru saja keluar dari kabut.
Itu adalah Harimau Perak. Ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari banteng dewasa, dengan bulu metalik yang seolah menyerap cahaya redup di dalam hutan. Harimau itu melangkah tanpa suara, namun tekanan udara yang dibawanya membuat dada Wang Yan sesak.
Tidak perlu menggunakan Logika analitis untuk membedah tingkat ancaman di depannya. Tekanan dari Harimau Perak itu dapat dirasakan langsung oleh Wang Yan.
“Berdasarkan fluktuasi energinya, makhluk ini setidaknya berada di tingkatan Kebangkitan Naluri lapisan kedelapan,” Wang Yan menelan ludah secara perlahan. “Dalam sistem kultivasi kekuatan manusia, itu setara dengan Lautan Spiritual lapisan kesembilan. Itu bahkan lebih kuat dari Paman!”
Dahi Wang Yan sedikit berkerut di tengah ketegangannya. Sebuah anomali muncul dalam perjalanan latihan pertamanya di alam liar. Berdasarkan peta wilayah yang pernah ia pelajari, predator puncak sekelas Harimau Perak seharusnya mendiami zona kedalaman yang jauh lebih ekstrem, bukan berkeliaran di area pinggiran Hutan Kabut Awan yang relatif dangkal seperti ini.
“Kenapa makhluk ini ada di sini? Apa yang membuatnya keluar dari wilayah asalnya?” pikirnya singkat. Namun, ia segera menepis pertanyaan itu; mencari tahu alasan ekologi binatang ini adalah prioritas terakhir dibandingkan menyelamatkan nyawa.
Pikirannya berputar cepat mencari celah, namun kenyataan pahit segera menghantamnya. Ia baru berada di lapisan keempat. Jarak ‘lima lapisan’ bukan hanya sekadar angka; itu adalah jurang perbedaan volume energi dan kekuatan fisik yang mustahil ditembus hanya dengan modal nekat.
“Tidak mungkin,” gumamnya dalam hati. “Bahkan jika aku menggunakan Bara Pelebur Jiwa sampai tetes terakhir, aku tetap tidak akan bisa menembus kulit sekeras besi harimau itu. Kecepatan reaksinya pasti jauh melampaui koordinasi mataku saat ini.”
Wang Yan menyadari kelemahan fatalnya sekarang: ia tidak memiliki teknik bela diri atau langkah kaki yang mumpuni. Meskipun tadi ia bisa membantai empat puluh babi hitam dengan cukup cepat, itu karena babi-babi tersebut hanya mengandalkan tabrakan lurus yang lambat dan mudah diprediksi. Harimau Perak ini berada di tingkatan yang berbeda. Makhluk ini adalah predator puncak yang berevolusi untuk kecepatan dan presisi.
Tanpa teknik pergerakan khusus, Wang Yan hanyalah sasaran diam di mata harimau itu.
Harimau Perak itu berhenti tepat sepuluh meter di depan tumpukan bangkai babi-babi hitam. Makhluk itu mendengus, hidungnya kembang kempis menghirup aroma darah dan jejak energi asing yang ditinggalkan Wang Yan.
Wang Yan merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia tahu benar bahwa binatang di tingkat ini memiliki sensor penciuman yang jauh lebih tajam daripada mangsa tingkat rendah.
Grrr...
Tiba-tiba, pupil kuning harimau itu mengecil dan terkunci tepat ke arah dahan tempat Wang Yan berada, mengirimkan gelombang niat membunuh yang nyata seolah mengatakan bahwa persembunyiannya telah berakhir.
“Sial, dia benar-benar menemukanku,” batin Wang Yan.
Tangannya semakin erat mencengkeram gagang pedang, meskipun ia tahu pedang baja hitamnya mungkin akan patah dalam sekali hantam jika berbenturan dengan cakar harimau tersebut.
Di dalam Dantiannya, sisa kabut energi spiritual yang tinggal setengah itu bergejolak, siap diledakkan untuk satu upaya pelarian terakhir.
Satu lawan satu dalam kondisi energi spiritual menipis dan tanpa teknik bela diri tingkat tinggi adalah skenario bunuh diri. Wang Yan tidak punya pilihan selain bertaruh pada satu kesempatan untuk melarikan diri sebelum predator itu melompat.
Tepat saat Harimau Perak itu merendahkan tubuhnya—posisi siap menerkam—Wang Yan melepaskan seluruh sisa energinya ke kaki.
Duar!
Tanah di bawah kaki Wang Yan retak saat ia meluncur secepat mungkin ke arah rimbunan pohon yang paling rapat, berharap rintangan alam bisa menghambat kecepatan harimau perak tersebut.
Harimau Perak itu tidak langsung menerjang. Ia seolah menikmati ketakutan mangsanya. Dengan satu geraman rendah, predator itu melesat, membelah semak belukar seolah benda itu tidak ada. Suara gesekan tubuhnya dengan dedaunan terdengar seperti deru mesin yang mendekat.
Wang Yan memacu kakinya hingga batas maksimal. Ia melompat dari satu akar pohon ke akar lainnya, menggunakan momentum tubuhnya untuk berbelok tajam di antara celah pohon yang sempit. Namun, perbedaan level itu terlalu nyata. Setiap kali Wang Yan merasa telah menciptakan jarak, suara hantaman cakar harimau di tanah selalu terdengar tepat di belakang tumitnya.
Wusss!
Sebuah ayunan cakar meleset tipis dari punggung Wang Yan, merobek batang pohon di sampingnya hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kayu yang tajam menggores pipinya, namun Wang Yan tidak berani menoleh. Ia bisa merasakan hawa dingin dari energi binatang buas itu mulai menyelimuti punggungnya.
Pengejaran itu berlangsung selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Wang Yan terus bermanuver, melewati rawa kecil dan meloncati batang pohon tumbang, namun napasnya mulai tersengal. Dantiannya yang hampir kosong mulai terasa perih akibat dipaksa mengeluarkan sisa-sisa energi untuk mempercepat gerakannya.
Sesaat ketika Wang Yan harus melompati sebuah celah jurang kecil, Harimau Perak itu mengambil kesempatan. Saat Wang Yan masih berada di udara dan tidak memiliki pijakan untuk menghindar, makhluk itu melompat jauh lebih tinggi.
Cakar depannya yang sebesar kepala manusia menghantam dengan presisi mematikan.
Wang Yan tidak punya waktu. Di tengah udara, ia memutar tubuhnya secara paksa dan memposisikan pedang baja hitamnya secara horizontal di depan dada sebagai perisai terakhir.
PRANG!
Bunyi dentuman logam yang dihantam kekuatan murni itu memekakkan telinga.
Getaran hebat menjalar dari bilah pedang ke pergelangan tangannya, menciptakan sensasi panas yang menyakitkan seolah tulang-tulangnya akan retak dalam sekali tekan.
Wang Yan merasakan Pedang Baja Hitam miliknya melengkung ekstrem di bawah tekanan cakar raksasa itu sebelum akhirnya melepaskan energi pantulan yang melemparkannya ke belakang, meluncur di udara sejauh lima belas meter hingga punggungnya menghantam keras batang pohon ek tua.
“Uhuk!” Wang Yan jatuh tersungkur, memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Pedang baja hitamnya tidak bisa lagi digunakan dengan sempurna, tangannya gemetar hebat karena mati rasa.
Harimau Perak itu mendarat dengan anggun, hanya berjarak beberapa langkah darinya. Binatang buas itu merendahkan tubuhnya kembali, otot-otot di balik bulu peraknya menegang, siap untuk serangan penyelesaian ke arah leher Wang Yan yang kini terbuka.
Saat harimau itu meluncur maju dengan mulut terbuka lebar, sebuah kilatan merah melintas lebih cepat dari persepsi indra Wang Yan.
BLAARR!
Sebuah pedang lebar tiba-tiba tertancap di tanah, tepat di depan wajah Wang Yan, menahan cakar harimau yang sedang menerkam tersebut. Suhu di sekitar Wang Yan mendadak naik drastis, mengusir dinginnya kabut hutan dalam sekejap.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian hanfu berwarna merah berdiri dengan kokoh di sana. Tangannya memegang gagang pedang dengan sangat stabil, menahan beban penuh dari tekanan harimau seberat ratusan kilogram itu tanpa bergeming sedikit pun.
Wang Yan terbelalak. Yang ia lihat bukan sekadar pedang, melainkan bilah logam yang diselimuti oleh api merah yang berkobar hebat. Api itu adalah perwujudan dari qi elemen api yang asing di mata Wang Yan, itu mengalir deras hingga membuat udara di sekeliling mereka tampak terdistorsi oleh gelombang panas yang membara.
Harimau Perak itu meraung kesakitan saat cakarnya bersentuhan dengan lapisan api tersebut, ia terpaksa melompat mundur beberapa langkah untuk menghindari hawa panas yang membakar bulunya.
Pria paruh baya itu tidak menoleh sedikit pun ke arah Wang Yan. Matanya tetap tajam, terkunci pada sang predator puncak yang kini mulai menunjukkan kewaspadaan.
“Anak muda, mundur tiga puluh langkah ke belakang jika kau masih ingin bernapas,” ucap pria itu dengan suara berat yang penuh wibawa.
...