Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bba 18:Meningkatkan Kekuatan Serangan Dan Pertahanan
Setelah menguasai kontrol dasar energi dan ketenangan hati, latihan Kaelen beralih ke hal yang lebih praktis dan mendesak: meningkatkan kekuatan serangan dan pertahanannya. Eldric menjelaskan dengan tegas bahwa dalam pertarungan melawan musuh yang kuat seperti Malakar—sosok yang telah menebar teror selama ribuan tahun—kekuatan serangan yang besar dan pertahanan yang kokoh adalah hal yang mutlak diperlukan. Tanpa keduanya, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan, apalagi untuk menang.
Eldric pun menciptakan target-target latihan khusus yang terbuat dari batu keras dan besi tebal untuk Kaelen. Target-target itu diletakkan di area terbuka dekat gua, tersebar dalam berbagai jarak dan posisi. Dia meminta Kaelen untuk menghancurkan target-target itu dengan serangan esnya, namun dengan syarat yang ketat: serangan itu harus tepat sasaran dan efisien, tidak boleh membuang-buang energi yang berharga.
"Aku tidak ingin kamu hanya mengayunkan tanganmu dan mengeluarkan kekuatan sekuat tenaga tanpa berpikir," kata Eldric suatu hari saat dia sedang berdiri di samping Kaelen, menatap target-target batu dan besi di depan mereka. "Aku ingin kamu berpikir sebelum menyerang. Amati targetmu, cari titik lemahnya, dan arahkan kekuatanmu ke sana. Dengan cara itu, kamu bisa mengalahkan musuh dengan lebih sedikit energi dan lebih cepat. Ingatlah, Kaelen, dalam pertarungan yang sesungguhnya, energi adalah nyawamu. Jika kamu membuangnya sia-sia, kamu akan menjadi lemah dan rentan di saat-saat yang paling penting."
Kaelen mengikuti nasihat Eldric dengan sungguh-sungguh. Dia mulai belajar untuk mengamati setiap target dengan teliti, mencari retakan kecil, sambungan yang lemah, atau bagian yang lebih tipis dibandingkan bagian lainnya. Dia belajar untuk memikirkan strategi sebelum bergerak, menentukan cara terbaik untuk menyerang agar bisa mencapai hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal.
Awalnya, dia masih sering membuang-buang energi untuk serangan yang tidak perlu. Kadang-kadang, dia akan menyerang bagian yang keras dari target dengan kekuatan penuh, hanya untuk menemukan bahwa serangan itu tidak memberikan banyak kerusakan dan hanya menghabiskan banyak energinya. Kadang-kadang, dia juga akan melewatkan titik lemah yang jelas terlihat karena dia terlalu terburu-buru untuk menyerang. Namun, seiring berjalannya waktu, dia menjadi semakin terampil dan efisien. Dia mulai bisa menemukan titik lemah dengan cepat dan akurat, dan dia mulai bisa mengarahkan serangannya dengan presisi yang luar biasa.
Suatu hari, saat dia sedang berlatih menghancurkan target-target besi, dia menemukan bahwa salah satu target itu memiliki sambungan yang lemah di bagian tengahnya. Dia memusatkan pikirannya, mengumpulkan energinya, dan kemudian melepaskan serangan es yang tajam dan kuat tepat ke sambungan itu. Dengan suara "krak" yang nyaring, target besi itu terbelah menjadi dua bagian dengan mudah. Kaelen tersenyum bangga melihatnya. Dia tahu bahwa dia telah membuat kemajuan yang besar.
Selain serangan, Eldric juga mengajari Kaelen cara untuk menciptakan pertahanan yang lebih kuat dan lebih fleksibel. Dia mengajari Kaelen cara untuk menciptakan perisai es yang tidak hanya bisa menahan serangan musuh, tapi juga bisa memantulkan serangan itu kembali ke arah musuh. Dia juga mengajari Kaelen cara untuk menciptakan tembok-tembok es yang bisa berubah bentuk dan ukuran sesuai dengan kebutuhan, sehingga bisa melindungi dirinya dan orang-orang di sekitarnya dari serangan yang datang dari segala arah.
"Pertahanan bukan hanya tentang menahan serangan," jelaskan Eldric saat dia sedang mengajari Kaelen cara menciptakan perisai es yang bisa memantulkan serangan. "Pertahanan juga bisa menjadi senjata jika kamu tahu cara menggunakannya dengan benar. Jika kamu bisa memantulkan serangan musuh kembali ke arahnya, kamu bisa membuat musuh itu terkena serangannya sendiri, dan itu bisa memberikan keuntungan yang besar bagimu dalam pertarungan."
Kaelen berlatih dengan tekun untuk menguasai teknik-teknik pertahanan ini. Dia mencoba menciptakan perisai es dengan berbagai bentuk dan ukuran, mencoba membuatnya semakin kuat dan semakin fleksibel. Dia juga mencoba menciptakan tembok-tembok es yang bisa berubah bentuk dengan cepat, sehingga bisa melindunginya dari serangan yang datang dari arah yang tidak terduga. Awalnya, perisai es yang dia ciptakan sering kali pecah atau retak saat terkena serangan, dan tembok-tembok esnya sering kali tidak bisa berubah bentuk dengan cepat dan lancar. Namun, seiring berjalannya waktu, dia menjadi semakin terampil dan semakin mahir. Dia mulai bisa menciptakan perisai es yang sangat kuat dan sangat fleksibel, dan dia mulai bisa menciptakan tembok-tembok es yang bisa berubah bentuk dengan cepat dan mudah sesuai dengan kebutuhannya.
Sementara itu, di dalam gua, Lira juga membuat kemajuan yang besar dalam latihannya. Dia berhasil memanggil cahaya emas itu dengan lebih mudah dan lebih stabil daripada sebelumnya. Dia tidak lagi perlu menunggu sampai dia berada dalam bahaya atau dalam keadaan emosional yang kuat untuk bisa memanggil cahaya itu. Sekarang, dia bisa memanggil cahaya itu kapan saja dia mau, dengan hanya memusatkan pikirannya dan merasakan koneksinya dengan energi cahaya di dalam dirinya.
Dia bahkan bisa menciptakan perisai cahaya emas yang kecil untuk melindungi dirinya dari serangan, dan dia bisa melemparkan bola-bola cahaya emas yang kecil dan cepat ke target-target yang dia tentukan. Dia merasa semakin kuat dan semakin siap untuk bertarung lagi. Dia tahu bahwa dia masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari dan dikuasai, tapi dia juga tahu bahwa dia telah membuat kemajuan yang besar, dan itu memberinya keyakinan dan semangat yang besar.
Suatu hari, setelah beberapa minggu berlatih dengan tekun, Eldric memutuskan untuk menguji kemampuan Kaelen dan Lira dengan membuat mereka bertarung melawan dirinya—tentu saja dengan kekuatan yang dia kurangi agar tidak melukai mereka. Dia ingin melihat seberapa jauh kemajuan yang mereka capai, dan dia ingin memberi mereka pengalaman bertarung yang nyata melawan musuh yang kuat.
Pertarungan itu berlangsung sengit dan seru. Kaelen dan Lira bekerja sama dengan baik, saling mendukung dan saling melindungi satu sama lain. Kaelen menggunakan serangan esnya yang tajam dan kuat untuk menyerang Eldric, dan dia menggunakan perisai es dan tembok-tembok esnya untuk melindungi dirinya dan Lira dari serangan Eldric. Lira, di sisi lain, menggunakan bola-bola cahaya emasnya untuk menyerang Eldric, dan dia menggunakan perisai cahaya emasnya untuk melindungi dirinya dan Kaelen. Dia juga menggunakan kekuatan cahayanya untuk menyembuhkan luka-luka kecil yang mereka dapatkan selama pertarungan.
Meskipun Kaelen dan Lira kalah dalam pertarungan itu—karena Eldric masih jauh lebih kuat daripada mereka, bahkan dengan kekuatan yang dia kurangi—mereka bisa bertahan cukup lama dan memberikan perlawanan yang cukup kuat kepada Eldric. Mereka bisa menghindari banyak serangan Eldric, dan mereka bisa memberikan beberapa serangan yang cukup kuat dan tepat sasaran kepada Eldric.
Setelah pertarungan itu berakhir, Eldric tersenyum bangga melihat mereka. Matanya berbinar-binar dengan air mata keharuan dan kebanggaan. "Kalian berdua semakin kuat," kata Eldric dengan suara yang penuh dengan emosi. "Kalian sudah jauh lebih kuat daripada saat pertama kali aku bertemu dengan kalian. Kalian telah belajar banyak hal, dan kalian telah menguasai banyak teknik yang penting. Teruslah berlatih, dan suatu hari nanti, kalian akan menjadi penyihir yang sangat kuat, bahkan mungkin yang terkuat yang pernah ada di dunia ini."
Kaelen dan Lira tersenyum bahagia mendengar pujian itu.