Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Keluarga Benalu.
"Bu-bukan karena itu, Bibi..." gagap Melitha seraya memperbaiki posisi duduknya.
"Jika bukan, apa karena kalian sepupu?" berondong bu Harun lagi.
Kelopak mata Melitha mengerjap, merasa memang itu alasan utamanya.
"I-iya, Bi... " sahut Melitha akhirnya disambut helaan napas berat bibinya. Hubungan darah yang sangat dekat itu, memang tidak mudah diabaikan begitu saja.
"Mas Pandji... seperti mas Har dihatiku, Bibi. Rasanya.... Seperti menikah sama kakak sendiri... rasanya.... sangat canggung..." pelan Melitha, penuh kehati-hatian menyampaikan apa yang tersimpan dalam benaknya.
Sejak pernyataan Pandji yang mengejutkan malam itu, Melitha masih belum bisa mencerna semuanya dengan baik, otaknya buntu memikirkannya, sesuatu yang mustahil bisa menikah dengan sepupu sendiri menurutnya.
"Kalau itu... " Bu Harun menyentuh punggung tangan Melitha dan mengusapnya lembut. "Bibi bisa memahaminya... memang tidak mudah..."
Melitha sedikit menunduk, pandangannya tertumpu pada tangan bibinya, usapan itu terasa hangat hingga ke dasar hatinya.
"Berjalannya waktu, perutmu akan semakin membesar, Sayang... Dan saat bayi itu lahir, dia butuh identitas," lanjut bu Harun memberi pengertian.
"Bayi itu tidak hanya butuh seorang ibu, dia juga butuh figur seorang ayah. Kamu tidak mau kan anakmu dibuly teman-temannya kelak karena tidak punya ayah?"
Melitha menatap bibinya. Sejak mengetahui ada kehidupan baru dalam rahimnya, sebenarnya dirinya juga sudah berfikir sampai sejauh itu.
"Harry, dan kamu... Sudah Bibi anggap seperti anak sendiri," bu Harun kembali melanjutkan.
"Celo saja ayahnya, tidak Bibi ijinkan mengambil tanggung jawab ini, apa lagi pria lain yang belum tentu mau menerima anak itu," ucapnya, teringat pada perdebatannya dengan putra bungsunya yang menentang keras untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Kamu tidak punya pilihan lain, Melitha.... Selain menikah dengan Pandji," putus bu Harun setelah berucap panjang lebar.
"A-pa aku pantas jadi isteri mas Pandji, Bibi?" Melitha menatap lekat wajah bibinya, jauh di lubuk hatinya, rasa mindernya terlalu besar.
"Mbak Elok saja seorang dokter, sedang aku... SMA saja belum lulus," ucapan Soraya kembali terngiang-ngiang dalam fikirannya.
"Pandji tidak memikirkan itu, Sayang," bu Harun tersenyum, kembali mengusap lembut punggung tangan keponakannya itu, detik berikutnya menarik tangannya dari tangan Melitha untuk mengambil benda pipih yang tadi sempat terabaikan.
"ATM ini dari Pandji, dia benar-benar mau menikahimu," menyisipkan cepat benda pipih itu pada genggaman tangan Melitha, menutupnya erat saat keponakannya itu ingin menolaknya lagi.
...***...
"Pukul berapa ini!" gelegar suara Soraya, begitu Melitha dan Adri masuk ke dalam rumah.
Bersama kakak perempuannya, Soraya sengaja menunggu kepulangan Melitha.
"De-delapan malam, Mbak... Maaf..." sahut Melitha gugup, tangannya gemetar karena kaget juga takut, suara keras kakak iparnya hampir membuat jantungnya copot.
Adri yang ketakutan melihat kemarahan ibunya bersembunyi di belakang Melitha sambil memeluk es krim oleh-olehnya.
"Sini kamu, Adri!" Soraya menariknya kasar anaknya dari belakang Melitha, Adri menangis, berusaha melepaskan diri.
'A-ampun, Ma... Am-pun..." hibanya, kepalanya miring, menahan sakitnya jeweran tangan ibunya yang memutar.
"Jangan sakiti Adri, Mbak... kasihan... " Melitha melerai Soraya.
"Jangan ikut campur, kamu akan mendapat gilirannya!" sentak Soraya, matanya berkilat, bagai orang kesurupan.
"Masuk kamar! Renungkan kesalahanmu sana!" bentak Soraya lagi disertai dorongan kasar. Adri berlari sambil menangis menuju kamar.
Soraya kembali beralih pada Melitha yang masih berdiri di ambang pintu dapur, tak bergerak.
"Mentang-mentang tidak ada Mbak di rumah, seenaknya aja kamu pergi dan pulang malam! Mbak akan laporin ini ke mas Harry saat dia pulang nanti, biar tau kelakuan dari adik kesayangannya!"
"Pantasan aja kamu ha-mil!" Rita menimpali. Kakak perempuan Soraya itu turut mencela sambil berkacak pinggang dengan tatapan sinisnya pada Melitha yang masih diam membisu.
"Kerjanya cuma keluyuran, rumah nggak diberesin! Dasar, tidak tau diri! Cepat, beresin dapur yang kaya kapal pecah itu!" perintahnya.
"Mbak Rita, kamu yang harus beresin, bukan Melitha."
Rita langsung menoleh ke sumber suara. "Ha-Harry..." kagetnya, begitu melihat adik iparnya itu sudah berdiri di ambang pintu kamar tamu, tidak sendiri, ada bu Harun bersamanya.
"M-mas Har, ka-kamu akhirnya pulang, Mas," Soraya memaksakan senyumnya, gegas mendekati Harry yang tengah menggendong Naomi, menyembunyikan rasa kaget dan cemasnya saat melihat raut tak biasa suaminya.
"Kamu juga, Raya... Beresin dapur bersama mbak Rita," perintah Harry tegas.
"Ta-pi, Mas... Ini kan... memang tugasnya Melitha, dia saja yang keluyuran dan baru pulang sekarang, jadi dapur jadi kaya gini," adunya, berharap suaminya akan berpihak padanya seperti biasa.
Di belakang Soraya, Rita tersenyum dalam hati mendengarnya.
"Melitha tidak keluyuran, tapi ke dokter bersama Bibi, Adri terpaksa diajak karena kamu tidak ada di rumah saat Melitha dan Adri pulang sekolah."
"Hmph... Kamu ngadu! Sengaja biar Mbak sama Mas-mu bertengkar, hah!" ucap Soraya tanpa sadar pada Melitha.
"Kamu lihat kan, Harry? Isteri kamu yang tidak tahu diri ini berani-beraninya memarahi Melitha di depan kita," datar bu Harun dengan suara rendahnya.
"Wajarlah, Bibi... " Rita yang sempat diam kembali angkat bicara, mulutnya gatal bila tidak mengeluarkan apa yang terkandung dalam hatinya.
"Melitha itu numpang tinggal, numpang makan, numpang hidup! Harry itu memang kakaknya, tapi Harry sudah punya rumah tangganya sendiri, malah direcokin adiknya yang selalu jadi beban! Dan sekarang bikin malu, ha-mil tanpa suami!" lancarnya bagaikan jalan tol.
"Bagus, Rita! Kamu, saudara-saudaramu, dan kedua orang tuamu lah yang selama ini jadi beban dalam keluarga Harry dan Raya! Kalian keluarga benalu!" sarkas bu Harun, merasa begitu gemas.
"Mas, Bibi kamu... Mengapa kamu membiarkannya mengatai keluargaku, Mas?" Soraya seketika meradang mendengar ucapan bibi suaminya itu.
Bu Harun memutar bola matanya malas, jengah dengan drama tak berfaedah Soraya. Harry siap berucap, tapi kalah cepat dari bibinya.
"Harry, tolong kasih tahu isteri dan kakak ipar kamu ini, kalau kamu dan isteri kamu hanya numpang di rumah adikmu Melitha!"
Rita terperangah, setahunya rumah yang ditempati Soraya adalah milik Harry, warisan orang tuanya, itu pengakuan Soraya, sudah lama sekali.
"Dan tolong ingatkan kakak iparmu juga supaya tidak lupa, kalau biaya operasi sesar anak keduanya hasil penjualan lahan kebunmu, sisanya masih digunakan untuk biaya perobatan ayah mertuamu yang keluar-masuk rumah sakit!"
Wajah Rita memerah, walau itu benar adanya, tapi tidak terima atas ucapan blak-blakan bibi dari adik iparnya itu.
"Siapa bilang di jual, hanya digadai kok, Bibi," sangkalnya malu.
"Aku mencicilnya setiap bulan lewat Soraya, benar kan, Raya?" minta dukungan adiknya, tapi Soraya hanya membisu, tidak mampu berucap melihat tawa sinis penuh ejekan bibi suaminya itu.
"Ayo, jawab Raya, bantu Kakakmu. Awas kalau berani bohong di hadapan Bibi!" ancam bu Harun garang. Ia sudah bertekad menelanjangi habis-habisan keluarga dari isteri keponakannya itu, sudah muak dengan sifat benalu mereka yang hobinya merongrong.
"Mbak Rita, lahan kebun mas Harry... Bibi Harun yang membelinya..." ucap Soraya tak terduga.
Jedar!
"A-apa?" Rita hampir pingsan mendengarnya, rasanya ingin menghilang dari sana saat itu juga, sayangnya ia tak punya kemampuan teleportasi.
"Harry, Bibi minta kamu urus isteri dan kakak iparmu ini, supaya mereka membereskan semua kekacauan yang mereka buat sendiri siang tadi di rumah milik Melitha ini." tekan bu Harun memberi ketegasan di akhir kalimatnya.
"Dan bila isterimu masih mau tinggal gratis di rumah ini, jangan coba-coba berani menindas Melitha lagi, karena adikmu sekarang adalah calon menantu Bibi!"
Bukan hanya Soraya dan Rita, Harry pun cukup kaget mendengarnya.
Terakhir ia mengobrol dengan Melitha di kamarnya, adiknya itu menyatakan penolakannya secara tidak langsung, selain alasan saudara sepupu, adiknya juga minder karena mantan tunangan Pandji adalah seorang dokter.
"Melitha sayang, malam ini... menginap di rumah Bibi saja," bu Harun memanggil lembut keponakannya, berbeda jauh cara dirinya memperlakukan Soraya dan Rita.
"Mau ikut, bibi Meli!" Adri berlari kencang dari depan kamarnya.
"No-mi guga! Mau tama Bibi!" gadis batita itu melorot turun dari gendongan ayahnya.
"Adri! Naomi! Masuk kamar!" perintah Soraya garang, tapi dua bocah itu malah semakin erat memeluk tubuh Melitha.
"Mau Bibi... Kami mau Bibi," ucap keduanya.
"Lihat Harry, kedua anakmu saja lebih memilih Bibinya," sindir bu Harun sedih, Soraya mengepalkan tangan di sisi tubuhnya mendengar ucapan bibi suaminya.
"Adri, Naomi..." Melitha mensejajarkan tubuhnya dengan kedua bocah itu. "Besok Bibi kembali, kalian temani Papa sama Mama, ya Sayang...."
"Nggak mau! Mau Bibi! Mau Bibi!" kompak keduanya, sama sekali tak mau dibujuk.
"Kalian nggak dengar! Bibi kalian nggak mau urus kalian!" bentak Soraya, menarik kasar tangan kedua anaknya yang semakin menempel pada Melitha.
"Lepasin Raya, kamu menyakiti mereka!" tegur Harry, tak tega melihat kedua buah hatinya mendapat perlakuan kasar dari isterinya.
"Bolehkah Adri dan Naomi ikut bersama Melitha, Bibi?" Harry menatap pada bibinya.
"Boleh saja, asal jangan isterimu membuat cerita baru bila kami menculik dua anaknya," sarkas bu Harun lagi.
"Horeeeee!"
"Hoyeeeee!"
Teriak Adri dan Naomi kegirangan mendengar neneknya memperbolehkan mereka ikut.
Bersambung✍️