Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Mencekam
Dua orang satpam di ujung lorong tersentak. "Pasien kabur! Cegat di blok B!" teriak salah satunya melalui handy-talky.
Sheila berlari secepat kilat, kakinya yang telanjang menghantam lantai porselen yang dingin. Ia melihat jalan buntu di depan, namun ada sebuah jendela besar yang terbuka di lantai dua itu untuk sirkulasi udara. Tanpa keraguan, tanpa rasa takut akan ketinggian, Sheila melompat ke ambang jendela.
"Sheila, jangan! Berhenti!" teriak satpam yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
Sheila menoleh, wajahnya diterangi lampu taman dari luar. Air mata kegilaan mengalir di pipinya, namun bibirnya menyeringai lebar. Ingusnya mengalir lagi, namun ia justru menjilat bibirnya dengan tatapan liar. "Kalian tidak akan bisa mengurung api! Hahahaha!"
Dengan tawa histeris yang memekakkan telinga, Sheila melompat keluar. Tubuhnya menghantam rimbunnya semak-semak besar di bawah, lalu dengan lincah ia berguling dan terus berlari menembus pagar pembatas yang sedang diperbaiki. Para satpam yang mencapai jendela hanya bisa melihat bayangan putih menghilang di kegelapan malam Jakarta.
****
Di sisi lain kota, Livia Winarti Samego berdiri di balkon apartemen barunya yang terletak di lantai 20. Pemandangan lampu kota Jakarta yang gemerlap biasanya memberinya ketenangan, namun malam ini, ada sesuatu yang terasa salah. Udara malam yang masuk terasa terlalu dingin, seolah-olah membawa pesan buruk dari kejauhan.
Livia memegang secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Tangannya sedikit gemetar. Pikirannya melayang pada persidangan cerai pekan depan. Secara hukum, ia sudah hampir bebas dari Attar, namun batinnya merasa bahwa rantai yang mengikatnya pada kegilaan Sheila belum benar-benar putus.
Deg.
Jantung Livia berdegup kencang secara tiba-tiba. Perasaan tak enak hati menghujam dadanya. Ia segera menutup pintu balkon dan menguncinya rapat-rapat. Ia juga memeriksa kembali kunci pintu depan dan mengaktifkan alarm apartemennya.
"Kenapa perasaanku seperti ini?" bisiknya pada diri sendiri. Livia meraih ponselnya, hendak menghubungi Ayub, namun ia urungkan. Ia tidak ingin terlihat lemah atau terlalu bergantung pada pemuda itu, meski ia tahu Ayub pasti akan langsung datang jika ia memanggil.
Livia duduk di sofa, memeluk bantal erat-rabat. Bayangan wajah Sheila yang tertawa saat mencekik Ayub di gudang tua itu kembali muncul dalam ingatannya. Ia merasa, di luar sana, di bawah langit hitam yang sama, ada sepasang mata yang sedang mencarinya.
****
Sekitar tiga blok dari apartemen Livia, di sebuah taman kota yang gelap dan sepi, sesosok wanita dengan baju pasien putih yang kotor dan robek-robek sedang bersembunyi di balik pohon beringin besar. Sheila Nandhita mengatur napasnya yang menderu.
Lututnya berdarah akibat lompatan tadi, namun ia tidak merasakannya. Rasa sakit fisiknya kalah jauh oleh api dendam yang membakar otaknya. Sheila menatap ke arah deretan gedung apartemen mewah di depannya. Ia tahu Livia ada di salah satu gedung itu. Ia telah menghafal alamat barunya dari dokumen yang sempat ia curi saat masih bebas dulu.
"Hah... hah... Livia..." Sheila berbisik, suaranya parau dan bergetar oleh kegilaan.
Ia mulai tertawa lagi, sebuah tawa rendah yang tertahan di tenggorokan agar tidak menarik perhatian orang lewat. Tawanya terdengar seperti gesekan pisau pada logam. "Kamu pikir apartemen tinggi itu bisa melindungimu? Kamu pikir hakim bisa memisahkan kita? Tidak, Livia. Kita adalah satu paket. Kamu, aku, dan Attar... kita harus berakhir bersama di dalam tanah."
Sheila meraba saku baju pasiennya. Ia menemukan sebuah pecahan kaca tajam yang sempat ia ambil dari nampan Suster Ayu tadi. Ia menatap pantulan matanya yang liar di pecahan kaca itu.
"Ayub... si pahlawan kecil itu tidak akan ada di sini selamanya," gumam Sheila sambil menjilat darah yang mengalir dari tangannya sendiri. "Aku akan menunggumu, Livia. Aku akan menunggumu di kegelapan. Dan saat saatnya tiba, tawaku akan menjadi hal terakhir yang kamu dengar."
Sheila menyandarkan kepalanya ke batang pohon, matanya tetap terjaga, menatap tajam ke arah apartemen Livia. Ia siap menunggu sepanjang malam, atau sepanjang hidupnya, hanya untuk melihat kehancuran total dari wanita yang ia anggap telah merebut segalanya darinya.
****
Malam di Jakarta seolah menyimpan rahasia kelam di balik rintik hujan yang mulai membasahi aspal. Attar Pangestu duduk di ruang kerjanya yang kini terasa sangat luas dan sunyi. Ponsel di tangannya bergetar hebat. Sebuah panggilan dari nomor rumah sakit jiwa Grogol membuatnya terhenyak.
"Halo? Apa?! Bagaimana bisa dia kabur?!" suara Attar meninggi, penuh dengan kepanikan yang murni.
Kabar itu seperti sambaran petir. Sheila, wanita yang telah menghancurkan hidupnya dan merenggut nyawa ibunya, kini berkeliaran bebas di luar sana dengan kewarasan yang sudah hilang. Pikiran Attar langsung tertuju pada satu nama: Livia.
Attar segera mencari kontak Livia. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol panggil. Tut... tut... tut... Panggilan itu dialihkan. Attar mencoba lagi, lima kali, sepuluh kali, namun Livia tetap enggan menjawab. Bagi Livia, nomor Attar adalah racun yang harus dihindari.
"Livia, tolong... angkat!" raung Attar frustrasi. Ia meraih kunci mobilnya, nekat hendak menuju apartemen Livia meski ia tahu kehadirannya mungkin tidak akan disambut baik.
****
Di lantai 20 apartemennya, Livia sedang duduk di atas sofa dengan perasaan yang semakin tidak keruan. Ia menatap layar ponselnya yang terus menampilkan nama Attar. Ia merasa muak, namun jauh di lubuk hatinya, ada firasat yang mengatakan bahwa panggilan itu membawa kabar buruk.
Livia memeluk lututnya. Ruang tamunya yang modern dan elegan tiba-tiba terasa begitu asing. Bayangan-bayangan dari lampu kota yang menembus jendela kaca seolah membentuk siluet seorang wanita yang sedang tertawa. Di setiap sudut matanya, ia seolah melihat sosok Sheila yang mengenakan baju putih kusam sedang memperhatikannya.
"Ayub... aku butuh kamu," bisik Livia parau.
Ia segera mencari nama Ayub dan menekan tombol hijau. Baru saja nada sambung pertama terdengar, sesuatu yang mengerikan terjadi.
DEZIG!
Suara ledakan kecil terdengar dari arah panel listrik, dan seketika itu juga, seluruh apartemen menjadi gelap gulita. Tidak ada lampu darurat yang menyala. Kegelapan itu begitu pekat, seolah menyedot oksigen dari ruangan. Livia tersentak, ponselnya hampir saja terlepas dari genggamannya.
"Halo? Mbak Livia? Mbak kenapa?" suara Ayub terdengar dari seberang telepon, namun suaranya timbul tenggelam karena sinyal yang mendadak memburuk di dalam kegelapan.
"Ayub! Listrik mati, aku... aku takut. Tolong ke sini sekarang!" jerit Livia panik. Namun, sambungan telepon itu tiba-tiba terputus. Sinyal ponselnya benar-benar hilang.
Livia meraba-raba meja untuk mencari senter atau lilin, namun napasnya tersengal. Ia mencoba menenangkan diri dan meraih telepon interkom untuk menghubungi satpam di lobi bawah.
Tuuuut... Tuuuut...
Interkom itu mati. Seluruh sistem kelistrikan di unitnya seolah sengaja diputus.