Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kebocoran, Perban, dan Mata-Mata di Dalam
Pukul 04:00 Dini Hari: Pengobatan dan Analisis
Di penthouse Ares yang mewah, Rook dengan sigap membersihkan dan membalut luka gores di bahu Natalie. Ruangan itu sunyi kecuali suara gesekan perban dan nafas Natalie yang teratur. Ares berdiri di dekat video wall, memproyeksikan data dari hard drive yang baru saja dibawa Natalie.
"Lukanya tidak dalam," kata Rook dengan suara serak. "Tapi harus diganti perban besok. Kau kehilangan sedikit darah."
Natalie mengangguk, merasakan mata Ares terus-menerus mengawasinya.
"Kau berdarah untukku, Natalie," kata Ares tanpa menoleh. "Itu adalah pengorbanan yang kubayar. Apa yang kau rasakan saat kau melihat Sanjaya diikat di sana?"
"Rasa jijik, Tuan," jawab Natalie, jujur. "Bukan pada Sanjaya, tetapi pada cara mereka beroperasi. Mereka tidak profesional. Mereka membuat kekacauan, dan kekacauan itulah yang membuat saya bisa masuk."
Ares akhirnya berbalik, menyilangkan tangannya. "Sanjaya memberitahu mereka tentang 'Buku Merah'?"
"Dia tidak tahu, Tuan. Tapi dia menyebutkannya. Pria keamanan mereka bertanya tentang itu," kata Natalie. "Rupanya, mereka tahu ada informasi penting yang tidak dipegang Sanjaya. Mereka tahu dia memberikan data yang tidak lengkap."
Ares tersenyum tipis—senyum predator yang puas. "Bagus. Itu artinya aku sudah selangkah lebih maju. Mereka membayar harga mahal untuk informasi yang usang. Sekarang, kita harus menyelesaikan Sanjaya sebelum dia mengungkapkan di mana 'Buku Merah' itu."
"Apa itu 'Buku Merah', Tuan?" tanya Natalie, penasaran yang akhirnya mengalahkan rasa sakitnya.
Ares menatapnya, ada jeda panjang. "Buku Merah adalah jantung kerajaan. Daftar semua aset, orang, dan transaksi di luar hukum. Hanya satu salinan, terenkripsi. Hanya aku yang tahu tempatnya. Dan itu harus tetap begitu."
Ares kini melihat Natalie dengan cara yang baru. "Kau membuktikan loyalitasmu, Natalie. Tapi kita punya masalah baru. Masalah yang lebih dekat."
Peringatan dari Tunangan
Tepat ketika Ares hendak menjelaskan, telepon landline eksklusif di mejanya berdering—nomor yang sangat jarang digunakan. Ares mengangkatnya.
Suara Claudia langsung terdengar, keras dan penuh amarah, terdengar jelas dari ruangan itu.
"Ares, kau mengirim asistenmu yang kotor itu untuk mencuri pusaka dari kami?!" teriak Claudia.
Ares menyipitkan mata. "Claudia, jangan berteriak. Pusaka itu sudah aman di brankas Sastrawan, tempatnya seharusnya berada. Apa yang kau bicarakan?"
"Jangan bodoh, Ares! Malam ini, ada berita bocor ke media gossip online. Foto-foto Natalie! Foto dia di Eclipse sebagai pelayan koktail. Angle yang sangat buram tapi jelas itu dia! Dan ada teks yang mengiringinya: 'Asisten Favorit Konglomerat Ares, Dulunya Pelayan yang Dipecat Secara Tidak Hormat.'"
Natalie menegang, terkejut. Itu pasti Claudia. Dia melampiaskan kekesalan karena Natalie dipercaya mengurus Kalung Pusaka.
Ares tetap tenang. "Claudia, kalau kau sudah selesai dengan drama pagimu, mari kita bicara secara rasional. Natalie dipecat karena insiden Adrian. Dia tidak dipecat secara tidak hormat. Dan kenapa kau begitu peduli dengan media murahan?"
"Aku peduli karena itu merusak citraku! Aku, tunanganmu, terlihat konyol karena kau mempekerjakan sampah! Aku ingin dia pergi, Ares. Sekarang juga!"
Ares menarik napas dalam-dalam. "Claudia, aku tidak mengambil perintah dari tunanganku. Dia adalah aset profesional, dan dia baru saja menyelesaikan tugas yang sangat sensitif untukku malam ini. Tidurlah. Kita akan bicara tentang PR-mu besok."
Ares membanting teleponnya. Ia berbalik ke Natalie, ekspresinya keras.
"Kebocoran itu adalah pekerjaannya. Dia marah karena kau ada di sisiku," kata Ares. "Dia adalah masalah PR yang bisa kutangani. Tapi ada hal lain."
Ares kembali ke video wall, memproyeksikan beberapa file yang baru ia buka dari hard drive Sanjaya.
"Lihat ini," kata Ares, menunjuk pada email yang disorot. Itu adalah komunikasi antara Sanjaya dan pesaing Ares. Email itu berisi detail rahasia tentang pergerakan salah satu kapal kargo Ares.
"Email ini sangat spesifik. Informasi tentang kapal ini baru kuberikan kepada empat orang dalam lingkaranku: Aku, Rook, Ayahku, dan..." Ares terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan realisasi yang dingin.
"...Dan siapa lagi, Tuan?" tanya Natalie.
Ares menoleh, matanya gelap dan tajam. "Dan Claudia. Aku memberitahunya tiga hari lalu, di depan ayahnya, agar dia merasa penting. Dia ingin informasi internal. Aku memberinya informasi yang salah."
"Informasi yang salah?"
"Ya. Kapal ini, sesuai data yang kuberi tahu Claudia, seharusnya membawa muatan ilegal yang sangat berharga. Tapi, sebenarnya, kapal ini kosong. Aku menyebarkan informasi ini ke Claudia untuk menguji apakah informasi rahasia akan bocor setelah pertunangan," jelas Ares. "Dan ternyata bocor."
Natalie terkejut. "Anda sengaja menguji tunangan Anda sendiri, Tuan?"
"Dalam permainan kekuasaan, Natalie, kau harus menguji siapa pun yang kau biarkan masuk ke dalam lingkaranku," kata Ares tanpa emosi. "Claudia tidak peduli dengan uang kecil Sanjaya. Tapi dia melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan dari pesaingku, atau dia diperalat oleh Ayahnya untuk mendapatkan informasi itu dan memberikannya."
"Kita punya mata-mata di dalam, Natalie. Dan mata-mata itu adalah tunanganku sendiri, atau setidaknya dia adalah perantara yang tak sadar," kata Ares.
Ares berjalan ke liquor cabinet, menuangkan scotch murni ke cangkir yang tadi dipakai Natalie untuk kopi, dan meminumnya hingga tandas.
"Tugas pertamamu berhasil. Sekarang, tugas barumu adalah yang paling penting," kata Ares.
Ia menatap Natalie, ekspresi wajahnya berubah dari kekejaman menjadi rasa percaya yang dingin.
"Kau adalah bayanganku. Kau sudah melihat semua sisi diriku: bisnis legal, bisnis ilegal, dan pertunangan palsu ini. Sekarang, kau akan membantuku membersihkan pengkhianatan ini."
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?"
"Pertama, kita harus mengendalikan kerusakan PR yang dibuat Claudia. Kau akan menghilang dari pandangan publik. Kau akan bekerja dari tempat yang tidak diketahui. Kedua, dan ini yang terpenting: Kau akan menjadi mata-mataku di pesta pra-pernikahan. Kau harus mencari tahu apakah Claudia sendiri yang menjual informasi ini, atau apakah Ayahnya yang menggunakan dia sebagai kurir."
Ares mendikte alamat baru di pulau terpencil, tempat yang tidak akan pernah ditemukan Claudia.
"Kau akan mendapatkan semua yang kau butuhkan di sana. Rook akan mengurus semua yang perlu kau bawa. Amankan dirimu, Natalie. Karena mulai sekarang, kau bukan hanya asisten. Kau adalah senjata rahasia yang aku gunakan untuk melindungi kerajaanku dari pengkhianatan terbesarnya."
Natalie menatap hard drive di sofa, luka di bahunya, dan data pengkhianatan di layar. Ia sudah tidak lagi menjadi pelayan yang melarikan diri. Ia adalah proxy dalam perang kekuasaan yang kejam.