"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.
Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Bibi akan kembali tinggal disini dan bekerja untuk non, atas perintah tuan muda Aksa."ucap bi Cece.
Namun Daisy langsung menolak, bukan karena dia tidak ingin bi Cece bekerja di rumah nya lagi, tapi dia tidak ingin hidupnya dikendalikan lagi oleh Aksa.
Daisy pun sudah tidak ingin lagi bertemu dengan pria itu, bukan karena dia membenci Aksa, tapi dia tidak ingin hidupnya terus dibanding-bandingkan dengan siapapun yang ada di sekitar Aksa.
Cukup lah dengan hidupnya yang sebatang kara saat ini Daisy pun ingin fokus dengan kuliahnya, tidak peduli menjadi dokter umum ataupun spesialis yang yang terpenting dia bisa menolong orang banyak.
"Maaf bi, bukan Daisy tidak ingin bibi temani disini, Jujur Daisy kesepian tinggal sendirian disini tapi Daisy juga tidak ingin terus bergantung pada orang lain."ucap Daisy dengan lembut.
"Tapi bibi rela tidak digaji non, yang terpenting non Daisy baik-baik saja."ucap bi Cece.
"Tidak bi, tolong fahami Daisy, Daisy tidak mungkin melakukan itu sebaiknya bibi ikut saja dengan tuan Kris yang mungkin bisa memberikan pekerjaan dengan gaji besar atau temui nyonya Sisilia saja. Bukankah kita pernah bicarakan itu."ucap Daisy.
"Nona tuan Aksa meminta saya untuk membawa bi Cece kemari untuk tinggal dengan anda, sementara untuk urusan gaji biar saya yang tangani."ucap pria tampan bernama Kris tersebut.
"Tidak tuan bilang padanya saya menolak dan katakan juga padanya tolong jangan temui saya lagi," ujar Daisy yang kini pamit pada keduanya setelah meraih kunci mobil dari tangan Kris.
Kunci mobil sang Mama yang baru Kris antar bersama bi Cece saat ini langsung Daisy masukkan kedalam garasi setelah memastikan semuanya baik-baik saja.
"Non bagaimana dengan bibi?"ujar wanita itu seakan dia tengah putus asa.
"Maaf bi, jika sekedar datang untuk bermain atau menginap Daisy bisa mengijinkan nya tapi untuk tinggal selamanya bahkan Daisy sendiri tidak tau sampai kapan akan tinggal di rumah yang penuh kenangan dengan mama ini."ujar Daisy yang kini kembali duduk di kursi teras depan dimana mereka bertiga berada.
"Non memangnya mau kemana?"tanya bi Cece.
"Daisy akan pindah kuliah bi, dan mungkin Daisy akan beli tempat tinggal baru dan menjual rumah ini."ujar Daisy yang sejak tadi terus memikirkan jalan keluar agar tidak lagi berhubungan dengan orang-orang yang kini hanya bisa memberikan luka.
Daisy tidak sadar bahwa saat ini Kris tengah merekam percakapan diantara mereka.
"Non apa nona kekurangan uang?"tanya bi Cece.
"Untuk saat ini belum bi, tapi mungkin satu tahun kemudian bahkan Daisy akan jadi gelandangan jika Daisy tidak segera bekerja, ditambah lagi rumah sebesar ini butuh perawatan yang mengeluarkan biaya banyak dan Daisy tidak mungkin punya uang sebanyak itu jika Daisy tetap disini."ujar Daisy.
"Non, almarhum nyonya memiliki toko bunga dan saat ini masih dikelola oleh asisten nya, nona tidak perlu mencari kerja ataupun meninggalkan rumah ini, nona bisa mengelola semua itu sambil melanjutkan kuliah."ucap bi Cece lagi-lagi mengingatkan tentang bisnis yang pernah dijalani oleh almarhum majikan nya itu.
"Daisy bahkan tidak tau apa toko itu masih beroperasi atau tidak karena akhir-akhir ini Daisy sibuk."ucap Daisy.
"Nona bisa buka kembali jika toko itu tutup."ucap bi Cece.
"Saya akan lihat nanti bi"ucap Daisy.
"Bi terimakasih untuk semuanya tapi maaf Daisy tidak bisa menerima bibi jika untuk urusan pekerjaan."ucap Daisy yang kini memeluk erat bi Cece yang juga balas memeluknya.
"Tuan Kris, anda sudah membawa bibi kemari maka anda harus bertanggung jawab untuk mengantar nya kembali."ucap Daisy yang kini hanya mendapatkan tatapan mata datar dari pria itu.
Akhirnya bi Cece pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya karena dia bisa mengerti kesulitan yang tengah dialami oleh mantan nona muda nya itu.
Daisy pun akhirnya memasuki rumah setelah selesai mengunci pintu pagar rumah nya itu, dia kembali kedalam rumah, hari ini bahkan dia tidak bisa menghubungi Fathan dan memberitahu nya bahwa dia tidak bisa datang untuk mengajar tari pada adik Fathan.
Daisy pun akhirnya hanya berbaring di atas ranjang dengan televisi yang menyala sementara dia tetap fokus pada buku yang ada di tangan nya.
Sampai saat perutnya terasa sangat lapar karena sejak pagi tadi bahkan dia lupa untuk sarapan pagi. Daisy pun langsung bergegas menuju dapur dia pun memutuskan untuk makan mie instan saja.
Saat dia sedang memasak di dapur yang begitu sepi itu, tiba-tiba suara pintu dibuka dari luar, Daisy langsung mematikan api kompor dan bergegas menarik laci dimana seluruh benda tajam itu berada
Daisy berjalan lebih cepat dari biasanya menuju pintu utama, dia yang memegang memiliki ilmu beladiri pun sudah bersiap untuk menyerang jika yang masuk kedalam rumah adalah penjahat.
Daisy memegang pisau dapur itu ditangan nya yang dia sembunyikan dibalik punggung nya, sampai saat dia tiba di depan pintu dia langsung menghentikan langkahnya saat melihat senyum Tiana yang ternyata datang tanpa kabar.
"Oh, my God."ucap Tiana saat melihat Daisy memegang pisau dapur.
"Kenapa datang di jam seperti ini, apalagi kamu tidak beri aku kabar."ucap Daisy .
"Aku hanya khawatir padamu Dy, aku juga sedang tidak bisa tidur."ucap Tiana.
Tiana pun masuk kedalam bersama dengan Daisy mereka berdua berjalan menuju ruang makan setelah Tiana meletakkan tas miliknya di meja nakas.
"Kamu buat apa, kenapa tidak memesan makanan saja. Oh iya ini kenapa tidak kamu ambil ini dari papah mu Dy.
Daisy langsung menoleh kearah benda persegi panjang yang dibawanya terdapat kartu ATM baru.
"Kenapa dia selalu membuat ku kesal, tidak bisakah dia membiarkan ku hidup dengan tenang."ucap Daisy.
"Dy sekarang begini saja, kamu ambil semua pemberian nya dan manfaatin semuanya itu, toh tidak ada salahnya kamu menggunakan pemberian orang tua mu itu, lagipula kamu tidak minta semua itu."ucap Tiana yang kini membuat Daisy terdiam sejenak.
"Ah sampai lupa mie instan ku."ucap Daisy yang kini membuat Tiana menggeleng kemudian berkata.
"Jangan makan mie instan itu tidak baik, ini aku sudah bawakan makanan untuk mu Dy." ucap Tiana.
"Aku hanya ingin makan mie instan, aku belum kekurangan makanan Tia, aku sedang ingin makan ini."ucap Daisy yang kini memasukkan mie instan itu kedalam mangkuk.
"Dy kamu tidak terbiasa dengan itu jadi hentikan, lagipula sejak kapan ada mie instan di rumah ini?"ujar Tiana yang sambil memberikan satu kotak sushi yang terlihat begitu menggoda lidah.
Daisy pun hampir mengambil sushi tersebut tapi sedetik kemudian Daisy langsung menggeleng dan kembali melanjutkan masak dan makan mie instan nya.
Dia tau Tiana datang atas permintaan Aksa yang telah bersekongkol dengan sahabat nya itu."Dy apa yang kamu lakukan?"ujar Tiana.
"Tidak ada Tia, aku hanya mendadak bosan dengan sushi."balas Daisy yang kini memasukkan mie instan yang sudah terlanjur matang itu kedalam mangkuk dan bergegas membawa nya ke meja makan.
...*****...
Setelah hampir satu jam setelah makan mie instan tersebut, tiba-tiba Daisy yang sedang bersama Tiana di dalam kamar nya itu pun merasakan sakit yang teramat sangat di bagian lambung nya dan dia langsung berlari kedalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya termasuk yang baru saja ia makan hingga membuat Tiana panik.
Daisy pun sudah terlihat pucat dan lemas karena itu, Tiana pun langsung memaksa Daisy untuk ke rumah sakit karena dia sempat menolak, Daisy tidak ingin masuk rumah sakit karena tidak ingin membuat orang lain repot karena nya.
Gadis cantik itu ngotot ingin tetap dirumah dengan obat-obatan yang dia minum sebelum akhirnya Tiana memaksanya untuk ke rumah sakit.
Dan kini tepat pukul satu dini hari Daisy sudah menempati ruang rawat inap, dokter mengatakan bahwa Daisy memiliki mag akut dan itu baru diketahui oleh Tiana karena selama ini Daisy selalu terlihat baik-baik saja saat bertemu dengan nya, kecuali semenjak kepergian ibunya Daisy terlihat semakin kurus dengan wajah tirus, Tiana pikir mungkin karena duka yang dia alami tapi ternyata penyakit ini sudah lama dia derita hanya saja pola hidup sehat yang ia jalani selama ini sedikit meredakan penyakitnya itu, tapi belakangan mungkin hidupnya sudah tidak lagi seperti saat ada ibunya, dia terlalu sibuk dengan kegiatannya ditambah lagi beban pikiran yang semakin memperburuk kondisi nya.
Daisy bahkan sering lupa dengan jam makan, jika diawal dia terkena mag karena beban pikiran disaat ibunya tidak kunjung sembuh maka saat ini semakin bertambah dengan kehadiran pria yang sangat ia benci dalam hidupnya yaitu laki-laki yang telah mengkhianatinya dan ibunya, kemudian ada Aksa yang terus menerus mengejar cinta nya.
Mahasiswi cantik dari jurusan kedokteran itu pun harus menyambut pertambahan usia nya dengan masuk rumah sakit.
Daisy yang kini ditempatkan di bangsal umum yang terdapat banyak pasien dalam satu ruangan pun tatapan matanya syarat akan kepedihan dimana dia melihat semua pasien ditemani oleh keluarganya, sementara dia hanya ditemani Tiana dan itu pun hanya sampai satu jam karena seseorang menghubungi Tiana dan meminta nya untuk pulang.
Bahkan Daisy harus bolak-balik sendirian ke toilet umum yang ada di ruangan tersebut, sampai pagi hari tiba gadis itu tidak kunjung memejamkan mata.
Dia masih menitikkan air mata karena kenangan pahit di masa lalunya yang bahkan terjadi tepat di hari ini.
Air mata Daisy terus membasahi selimut tebal miliknya, namun tidak ada satupun orang yang tahu karena Daisy menutup wajahnya dengan selimut tersebut seolah dia sedang tertidur.
Sementara itu di tempat lain Aksa yang menerima pesan dari Tiana tentang keadaan Daisy saat ini hanya bisa meminta asisten pribadinya untuk melakukan yang terbaik untuk Daisy secara diam-diam karena dia tau Daisy tidak akan pernah mau menerima apapun darinya.
Sampai saat dokter datang untuk memeriksa kondisi Daisy, dokter mengatakan bahwa hari ini dia akan dipindahkan ke ruang VVIP yang semalam sempat terisi penuh dan sekarang ada satu ruangan yang kosong. Namun Daisy menolak dia langsung bilang bahwa dia akan pulang hari ini juga dan akan berobat jalan saja.
Awalnya dokter sempat menahan nya dengan kondisi Daisy yang cukup parah saat ini, tapi Daisy tetap kekeuh ingin pulang.
Daisy pun akhirnya pulang tanpa mengabari Tiana dengan menggunakan taksi yang dia pesan. Gadis cantik yang masih terlihat lemes itu pun hanya bisa bersandar di jok mobil taksi tersebut karena merasa puyeng.
Daisy yang tiba didepan gerbang rumah nya itu pun turun dengan perlahan dari dalam taksi dan berjalan sambil menyeret koper miliknya yang berisi perlengkapan nya termasuk selimut yang kini berada di atas koper berukuran kecil itu.
Dengan langkah pelan dia pun kembali menutup pintu pagar dan setelah memastikan bahwa pintu pagar samping terkunci dengan baik dia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah yang masih beberapa puluh langkah lagi.
"Mam Daisy pulang."lirih Daisy saat gadis itu memasuki rumah nya yang begitu sepi.
Dia pun bergegas menuju kamar nya untuk bersih-bersih dan setelah itu ia akan istirahat di kamar nya.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan nya saat ini, dia bahkan terlihat begitu pucat tapi dokter tetap menginjakkan Daisy pulang karena Daisy sendiri yang memaksa dan menandatangani surat keterangan pulang paksa dari rumah sakit.
Daisy tetap memaksakan diri untuk mandi dan berganti pakaian, setelah itu dia pun meminum susu untuk sarapan pagi nya dengan telur rebus yang sempat ia beli di perjalanan pulang dengan bantuan dari sopir taksi tersebut.
Meskipun mual dia harus tetap memakan sarapan pagi nya itu karena harus minum obat."Kamu kuat Daisy, berjuanglah karena kamu hanya sebatang kara tidak akan ada yang peduli padamu, dan kalaupun ada kamu hanya dimanfaatkan saja."lirih Daisy saat ini.
Daisy pun akhirnya selesai minum obat dan meletakkan gelas berisi susu yang tinggal setengah gelas itu, dia langsung berbaring di ranjang nya sambil memejamkan matanya.
Daisy tidak tau bahwa saat ini Aksa bahkan berada di dalam perjalanan menuju tanah air karena mendengar kabar dari Kris bahwa Daisy memaksakan diri untuk pulang disaat kondisinya masih tidak baik-baik saja.
Sampai saat malam hari tiba, Aksa yang tiba di tanah air pun langsung bergegas menuju rumah Daisy dengan barang-barang miliknya saat ini.
Jika Daisy tidak ingin tinggal di rumah sakit dan menolak perawatan dari dokter, maka dia sendiri lah yang akan merawat Daisy.
Tentu saja saat ini Aksa bisa masuk rumah tersebut karena Tiana memberitahu seluruh password pintu di rumah Daisy yang bahkan melewatkan makan siang dan malam juga obat karena dia tidak bisa bangkit dari ranjang kepalanya semakin terasa puyeng.
"Honey apa yang kamu lakukan heh, kenapa bisa seperti ini?"ujar Aksa yang kini berdiri di samping ranjang menatap kearah Daisy yang perlahan membuka mata nya.