Semenjak ibunya meninggal, Sasa memilih untuk pergi mencari kakak perempuannya ke kota. Namun sayang, ia terpaksa bekerja di club malam. Itu semua ia lakukan demi bisa bertemu kakaknya.
hingga pada suatu malam, ia bertemu dengan seorang laki-laki dingin dan menakutkan. Yang memaksanya menjadi istri, untuk memenuhi permintaan orang tua laki-laki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afri Deliana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
She is Rose
Sesampainya Sasa di apartemen, ia tak melihat ada tanda-tanda kehidupan.
"Mungkin iblis itu belum pulang."
Sasa berjalan gontai ke arah kamar. Badannya terasa sangat lelah dan lengket. Selesai berendam dan membersihkan diri, suara notifikasi di layar hpnya membuat Sasa bergegas mengambil benda pipih itu di atas meja di sisi kasur.
08*******
"Di kulkas sudah ada bahan makanan, masak itu untuk makan malam mu, aku tidak pulang malam ini"
Dari kalimat teks pesan tersebut sudah jelas siapa pengirimnya. Apa peduli Sasa laki-laki itu akan pulang atau tidak, baginya lebih baik tidak pernah bertemu dengan William.
Sasa berjalan menuju dapur. membuka lemari es dan mulai memilih bahan masakan. Ia mulai berkutat dengan semua barang-barang di dapur minimalis itu. Memotong satu persatu bahan makanan. Kalau kalian bisa mencium baunya, pasti kalian akan langsung merasa lapar. Bau masakan Sasa begitu harum memenuhi semua ruangan apartemen milik William ini.
"Akhirnya beres".
Ucap Sasa saat selesai menyajikan masakannya di atas piring.
Sedangkan William sedang berada di rumah sakit. Ada kabar yang mengatakan jika mamanya mengalami perubahan tekanan darah. Iya sangat khawatir saat mendengar berita itu.
"Joy, kamu pulang saja. malam ini aku tidak akan pulang, aku akan menginap di rumah sakit! ”
Joy yang mendengar hal itu langsung mengangguk paham. Sebagai seorang anak buah sekaligus seorang sahabat, Joy pasti mengerti bagaimana kondisi William sekarang ini.
Malam terasa begitu dingin. Hujan di luar baru saja berhenti. Membuat kota mengalami penurunan suhu udara. Sasa duduk di meja makan dengan perasaan kesepian. Di ruangan besar ini hanya ada dirinya sendiri.
"Mbak, aku kangen banget sama mbak Dewi. Aku ga sabar pengen ketemu sama mbak!"
Sasa terlihat tidak bernafsu menyantap makanan di depannya itu. Setiap memikirkan Dewi, ia terus saja merasa sedih karena menyimpan begitu besar rasa rindunya kepada Dewi.
Selesai menghabiskan makanannya, Sasa melirik jam dinding yang sudah berada tepat di angka 9 malam.
"Apa dia benar-benar tidak pulang?"
Suara Sasa pelan. Pria itu tidak memberikan kabar apapun.
"Ah, untuk apa aku memikirkan iblis itu, lebih baik dia tidak pulang saja!".
Sasa berusaha menepis pikirannya tentang William. Lagian akan jauh lebih baik jika William tidak pulang ke rumah. Sasa bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus melihat dan merasakan perilaku arogan suaminya itu.
(Bagian 2 Bab 13)
Di belahan bumi lainnya, seorang wanita terlihat begitu anggun dengan gaun merah yang terlihat sempurna melekat di tubuhnya. Di tangannya ia memegang gelas berisi anggur merah yang beberapa kali ia teguk dengan penuh ke anggunan, kayaknya wanita sosialita kelas dunia.
"How are you Rose?" Tanya seorang pria yang memeluknya dengan mesra dari arah belakang.
"As you can see, i'm good!" Balasnya Sambil membalas ciuman dari pria itu.
"Apa kamu benar-benar akan kembali ke negara D?" Tanya pria itu kembali sambil melepas pelukannya, dan kemudian berdiri di samping Rose.
"Iyaa, of course." Rose meneguk kembali anggur merah di gelasnya.
"Apa, kau ingin membalas Rendi?"
"Tentu, dan yang terpenting, aku akan kembali untuk bertemu dengan orang yang sangat mencintaiku!" Rose menarik senyum devil di wajahnya. Seakan-akan ia punya rencana yang sangat mematikan.
"Who is he? Who loves you more, dear?". Tanya pria itu sambil mencubit dagu Rose.
"Kamu pasti sudah tahu, jangan berpura pura tak tahu, Alex!" Rose berjalan meninggalkan Alex . Ia berjalan memasuki kamar hotel yang begitu mewah.
Rose menekan satu kontak di hpnya. Lalu panggilan tersambung.
"Excuse me, please order me a flight ticket to country D! There's no need to rush, I need a flight for another month. And I want, no one will know if I return to that country."
"........"
"Thanks you"
Rose menutup panggilan itu*.
"William, Aku si anak kampung, akan datang untuk menemui mu!". Gumam Rose kemudian diikuti tawa yang terdengar sangat puas.
Dengan berat hati aku akan Hiatus menulis di sini, ada beberapa hal yang aku rasa kurang untuk penulis seperti aku. Mohon pengertiannya semua, salam hangat dari aku sebagai author