NovelToon NovelToon
Jodoh Si Tomboy

Jodoh Si Tomboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:65.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Eeeewy

Siapa sangka jika pria yang membuat gue naik pitam adalah lelaki yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami sejak dulu. No way. 😬 (Fiza)

Siapa sangka si tomboy yang gue jadikan rival dalam menebar pesona ke cewek - cewek klub adalah calon istri gue. 😑(Aksa)

Siapa sangka seseorang yang gue sangka babang hensem dan sempat gue taksir adalah calon kakak Ipar. kyaaaa 😱😱 (Yuna)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yuna : Hangout

"Lo ceria amat Yun?" Karin menegur gue yang pagi ini selalu menebar senyum.

"Bukannya Lo sedang patah hati jilid 2 ya sama gebetan baru, Lo?"

Sahabat - sahabat gue langsung tertawa ngakak. Iya sih mereka kan sudah mengetahui tragedi gue pingsan karena efek kaget. Ternyata abang hansem gebetan gue itu 100 persen perempuan.

"Udah move on nih ceritanya?"

"Hu'um." Gue mengangguk penuh semangat.

Sebenarnya bukan move on sih. Tapi CLBK. Gue sudah berniat untuk mengejar kembali cinta pertama gue. Siapa lagi kalau bukan Sean. Ternyata ungkapan 'first love never die' itu benar sekali ya, Sob!

Oh ya hari ini kan hari Sabtu. Seperti rencana gue and the gank, hari ini gue mau hunting kado untuk calon debay nya mas Reva ~ mentor matematika kami di bimbel Briliant.

Seperti biasa, Awan bertugas menjadi sopir sekaligus pengawal kita. Dia sih rela kami perbudak demi misi pdkt dengan Melati. Xixixixi... lumayan kita bisa mendapat tumpangan gratis.

Melati yang duduk di depan memberi tahu Awan kemana tujuan kita kali ini. Sedangkan gue, Karin, dan Sabil menjadi dayang - dayang cantik yang mengawal pasangan tidak peka itu dengan duduk di kursi belakang.

Kami tiba di sebuah ruko yang khusus menjual berbagai macam hasil kerajinan rajut. Nama tokonya 'Rajut~Q'.

Dengan berbondong - bondong kami masuk ke dalam toko dan terperangah penuh kekaguman saat melihat display yang terpajang disana. Mulai dari tas, pernak - pernik, syal, bolero rajut, sepatu rajut, sweater, juga berbagai pernak - pernik rajutan untuk bayi.

"Wah... keren!"

Karin terpesona melihat bolero rajut yang terpasang di sebuah manequin.

"Luducudu!" Sabil tertarik dengan boneka amigurumi yang dijadikan gantungan kunci.

Melati dan gue langsung menuju ke display kerajinan untuk anak.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"

Seorang pramuniaga menghampiri kami dan menyapa dengan ramah.

"Kami mau mencari kado, Mbak."

"Kadonya untuk siapa?"

"Buat adik bayi yang baru lahir, kira - kira cocoknya dibelikan kado apa ya?"

Mbak pramuniaga menunjuk kaus kaki rajut,  jaket, sepatu rajut, dan topi rajut.

Kami berempat menjadi bingung memilihnya. Karena semuanya sangat bagus.

"Kita kumpulkan iuran dulu, gih! Entar totalnya dapat berapa, trus kita belikan sesuai uang yang terkumpul!" Melati memberi usulan.

Dari kelima anggota gank gue, memang hanya Melati yang pikirannya rada normal. Tidak heran Awan naksir Melati dibandingkan naksir gue, Karin, atau Sabil.

"Emangnya berapa urunannya?"

"Seikhlasnya!" Melati kembali menengahi.

Gue mengeluarkan selembar uang bergambar Proklamator RI. Karena perusahaan bokap gue baru aja teken kontrak bernilai besar, jadi gue mendapat tambahan uang jajan dari kanjeng mami. Lumayan untuk berurunan membeli kado.

Ternyata uang yang terkumpul lumayan, Sob. Kita bisa membeli jaket, topi, plus sepatu imut untuk debay nya mas Reva.

Saat kami sedang berdebat memilih motif jaket dan bentuk topi serta sepatu, masuklah sepasang suami istri ke dalam toko.

"Minta dijemput jam berapa, sayang?"

Suara itu terdengar familiar di telinga kami, membuat kami berlima sontak menoleh ke arah pintu masuk.

"Mas Reva?" Teriak gue and the gank dengan kompak.

"Lho kalian kok disini?" Mas Reva dan istrinya yang hamil tua itu menghampiri kami.

Kami menyalami mas Reva dan istrinya yang nampak cantik dalam balutan baju ibu hamil. Benar - benar pasangan yang berbahagia. Gue jadi ikut senang deh melihatnya.

(Cerita tentang pasangan ini bisa dibaca di lapak yang berjudul Oh Nooooo...!)

"Kami mau membeli kado, Mas. Mas Reva sendiri kok ada disini? Mas Reva mau hunting perlengkapan untuk dedek bayi juga ya?"

Tanya Karin sok tahu.

"Mas Reva sih nganter istri kerja."

Mas Reva mengeluarkan senyum sejuta dollarnya yang membuat hati kami meleleh. Aih.... baper gue mas, sayangnya mas Reva sudah memiliki istri.

"Istrinya mas Reva kerja disini ya?"

Gue mulai kepo sambil menatap bumil yang berdiri di samping mas Reva sambil tersenyum - senyum.

"Istrinya mas Reva pemilik butik ini."

Mas Reva nyengir.

Gue and the gank saling pandang sambil melongo. Bisakah apa yang kami alami ini dikategorikan sebuah kelucuan? Atau justru sebuah kesialan?

Bayangkan saja! gue and the gank memberi kado untuk dedek bayinya mas Reva, tapi hadiahnya ternyata dibuat sendiri oleh sang istri?

Melati mundur kebelakang dan berlagak memainkan hapenya.

Dan tring.....

Bunyi pesan chat group terdengar dari ponsel gue, Karin, dan Sabil secara bersamaan.

Melati : ganti kado aja, sob?

Gue pura - pura kembali sibuk melihat - lihat display bolero.

Masa kita tidak jadi membeli. Kasihan istrinya mas Reva tuh! : gue

Melati : ya lo kan bisa membeli gantungan kunci atau syal gitu!

Benar juga sih, usulnya Mela. Akhirnya gue malah membeli gantungan kunci boneka  amigurumi yang lucu. Gue bahkan sengaja beli sepasang. Rencananya yang satunya mau gue kirim ke Sean. Cocok!

Wajah istrinya mas Reva tampak sumringah saat kami yang ternyata murid bimbelnya mas Reva, memborong hasil kerajinan di tokonya. Bahkan kami mendapat diskon pula.

"Nggak tas rajutnya sekalian? Untuk kado ibu kalian pas ultah!" Mas Reva berpromosi. Kami hanya meringis.

"Tas rajutnya mahal, Mas, biar mami sendiri aja yang beli," batin gue dalam hati.

Setelah membayar dan berpamitan dengan mas Reva dan mbak Asha alias nyonyanya mas Reva. Gue and the gank segera masuk ke dalam mobilnya Awan.

Sebelum Awan menyalakan mesin mobilnya, kami kembali berdiskusi akan membeli kado apa.

"Kita ngemall dulu yuk. Barangkali aja kita nendapat ide mau ngado apa!" Lagi - lagi Melati yang lebih solutif.

"Hayuk deh, kebetulan tadi kanjeng mami Roro Fitria Harsono nitip ke gue supaya sekalian mampir ke konter untuk membeli hape baru."

"Cie, yang mau ganti hape...!"

"Bukan untuk gue. Tapi untuk mbak Fiza."

Gue tersenyum. Gue sudah tidak sabar untuk  mengajak mbak Fiza selfi - selfi. Gue ingin buruan mengupload foto ke Ig demi memancing reaksinya Sean.

Jadilah seharian ini gue and the gank menjadi anak mall. Kami sibuk muter ke sana dan muter ke sini. Mencari ini mencari itu. Hingga akhirnya kami sampai di bioskop hanya untuk melihat poster yang terpampang di galery yang menunjukkan film apa yang tayang di bioskop minggu ini.

Tiba - tiba Melati menarik tubuh gue dan menjadikan tubuh gue untuk tempat bersembunyi.

"Lo ngapain. Seperti melihat setan aja?"

"Gue melihat calon kakak ipar gue."

Mela berbicara dengan nada berbisik.

"Berarti ada kakak Lo, dong?"

"Nah itu, calon kakak ipar gue kok malah jalan sama mbak Nadia sahabatnya mbak gue?"

"Hahh...?" Gue ikut - ikutan kepo. Gue ikuti arah pandangan Melati.

Gue ikuti Melati yang mengekor si calon kakak ipar yang sedang digelayuti perempuan cantik yang kata Mela adalah sahabat kakak perempuannya. Kami sampai melupakan Awan, Karin, dan Sabil. Saat ini kami sedang jadi spy you know!

(Bagian ini berkaitan dengan cerita Om Ganteng dan Keponakannya di chapter 4)

Ternyata demam pelakor sudah sampai ke kota gue. Tapi Mela tadi bilang, mas Ary itu calon kakak ipar.  Jadi mbak Nadia belum bisa disebut pelakor. Pecasuor. Perebut calon suami orang. Hehehehe.... by de way, busway, be es de, ada yang pernah mengatakan, sebelum janur kuning melengkung, menikung teman diperbolehkan.

Gue melihat mata Melati berkaca - kaca. Gue mencoba menenangkan Melati.

"Coba nanti Lo konfirmasi ke mbak Lia!'

Melati diam termangu dengan tatapan yang tidak bisa gue artikan.

Kebingungan kami terganggu oleh dering ponsel milik gue dan Mela yang berbunyi hampir bersamaan.

Gue melihat ada nama Sabil tertera disana.

"Lodo didi madanada?"

"Gue lagi di kamar kecil. Kebelet pipis. Bentar lagi balik. Tungguin ya, Bil!"

Kejadian memergoki tunangan kakaknya Melati yang sedang bergandengan mesra dengan sahabat kakaknya, membuat keasyikan weekend kami sedikit terganggu.

Melati memutuskan untuk pulang lebih dulu. Awan yang dasarnya sedang pdkt akhirnya juga memilih untuk mengantar Melati pulang. Karin dan Sabil juga ikut - ikutan pulang.

"Lo nebeng gue sekalian nggak, Yun?"

Awan menawari gue. Ternyata sebagai seorang sopir, dia sangat bertanggung jawab sekali pada dayang - dayangnya.

"Nggak usah, nanti gue naik taksi aja. Soalnya gue masih harus membeli ponsel."

Gue pun berpisah dengan sahabat - sahabat gue. Gue sih tidak masalah ditinggal. Yang ada di benak gue sekarang adalah, gue harus segera membeli hape untuk mbak Fiza. Gue sudah bisa membayangkan senyum hansemnya saat menerima hape dari kanjeng mami Roro Fitria Harsono.

"Semoga mbak Fiza senang. Sean tunggu gue yaw!"

Tbc

1
💟노르 아스마💟
cerita ini unik...
bayikk pikir ini crta tntang anak betawi ...ehh ternyata ada campuran jawax ...keren
💟노르 아스마💟
Makkkk...bayikk datang nih😂
Siti Julaeha Julai
kayanya ceritanya bagus nih
᪙ͤæ⃝᷍𝖒ᵗᵃʳⁱ♡⃝𝕬𝖋🦄❁︎⃞⃟ʂᶬ⃝𝔣🌺
Awas kesambet jadi cintrong🤭🤭
re
lucu
Hamzasa
bucin abis....
Hamzasa
kocak juga nih...suka ceritanya...
Frida Aulia Zuhdi
oh ini Fiza yang ditaksir mas Lanang yaa... ternyata nemu ceritanya dimari 🤗
Dhina ♑
belum lanjjut akuuhhh
Ema Wizydwi
😆😆😆😆
Dhina ♑
keren, Sastra Bahasa Jawa, woww, hebat 👏👏👏
Almira Mira
next dong epilog nya
Dhina ♑
START
Indaind
bagus, baca sambil mesem2
klamaan tinggal di kalimantan kangen jg potongan2 bahasa kramanya
Dessy Rahayu
sesak 😢😢😢
Dessy Rahayu
cerita yg bener2 beda 👍👍👍
Dessy Rahayu
😥😥😥😥😥
Dessy Rahayu
hancur si Yuna🤣🤣🤣🤣🤣
Dessy Rahayu
bagus ceritanya...bahasanya asyik
Kusnul mar'ah
hahaha lucu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!