NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Sang Ratu Es

​Tiga minggu berlalu di dunia luar bagaikan kedipan mata, tetapi bagi Aura, waktu tersebut adalah garis pembatas antara masa lalunya yang rapuh dan masa depannya yang penuh darah.

Hari ini, kereta sihir berlambang Serigala Es Utara kembali membelah jalanan batu porselen Ibu Kota Eldoria. Kedatangan mereka tidak lagi sunyi seperti saat kepergian Aura sebulan yang lalu. Kali ini, Kaelen membawa serta satu peleton Ksatria Hitam berpakaian zirah lengkap, menciptakan barisan legiun yang memancarkan aura kematian di tengah kota yang damai.

​Masyarakat inu kota berdiri di tepi jalan, berbisik-bisik dengan wajah pucat saat melihat bendera hitam bersulam perak berkibar megah di atas kereta. Di samping bendera Utara, berkibar pula panji biru muda milik Klan Zephyra. Perpaduan dua lambang itu menjadi penegasan mutlak atas aliansi baru yang mengguncang tatanan politik kekaisaran.

​Di dalam kereta yang mewah, Aura menatap keluar jendela. Ibu kota masih sama seperti yang diingatnya—gemerlap, megah, namun dipenuhi oleh kepalsuan di setiap sudutnya. Di seberangnya, Kaelen duduk dengan santai, sebelah tangannya menopang dagu sementara matanya yang berwarna merah delima tidak pernah lepas dari wajah Aura.

​"Bagaimana rasanya kembali ke tempat di mana kau dibunuh, Aura?" tanya Kaelen, suaranya berat dan mengandung nada menguji.

​Aura memalingkan wajahnya dari jendela, menatap Kaelen dengan senyuman mawar es yang memikat. "Rasanya seperti seorang pemburu yang akhirnya kembali ke sarang mangsanya, Kaelen. Udara ibu kota yang hangat ini ... tiba-tiba terasa sangat muak di tenggorokanku. Aku merindukan dinginnya Utara."

​Kaelen terkekeh rendah, suara yang sanggup membuat musuh-musuhnya gemetar itu kini terdengar begitu renyah di telinga Aura. Pria itu mengulurkan tangannya, dengan lembut merapikan seuntai rambut perak Aura yang jatuh di pipinya.

"Setelah ujian sihir ini selesai, aku akan membawamu pulang ke Utara. Namun sebelum itu, tunjukkan padaku bagaimana cara seorang Ratu Es menghancurkan musuh-musuhnya."

​"Kau hanya perlu duduk di kursi penonton dan menikmati pertunjukannya, suamiku," balas Aura, memberikan penekanan manis pada kata 'suamiku' yang kini terasa jauh lebih alami di lidahnya.

​Kereta sihir berhenti tepat di depan gerbang megah Kediaman Klan Zephyra. Archmage Raymond Zephyra bersama para tetua klan telah berdiri menunggu di halaman depan. Wajah sang ayah tampak dipenuhi kecemasan yang mendalam.

Selama sebulan terakhir, tekanan politik dari Klan Elrod dan sekutunya membuat posisi Klan Zephyra di dewan kekaisaran terpojok. Raymond terus-menerus dirundung rasa bersalah karena membiarkan putri remajanya pergi ke Utara yang kejam demi melindungi klan.

​Namun, ketika pintu kereta terbuka dan Aura melangkah turun, seluruh kalimat khotbah dan kecemasan yang telah dipersiapkan Raymond mendadak lenyap di tenggorokannya.

​Aura berjalan dengan keanggunan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru malam dengan sulaman perak, kontras dengan kulitnya yang seputih salju dan rambut peraknya yang berkilau. Yang paling mengejutkan bukanlah penampilannya, melainkan tekanan magis yang memancar dari tubuh gadis berusia tujuh belas tahun itu. Setiap kali kaki Aura menyentuh tanah halaman, rumput-rumput hijau di sekitarnya langsung dilapisi oleh embun es tipis yang berkilauan.

​"Aura ... kau ...." Raymond terbata-bata, matanya membelalak merasakan kepadatan energi magis putrinya. Sebagai seorang Archmage tingkat enam elemen angin, ia bisa merasakan bahwa sihir di dalam tubuh Aura bukan lagi angin yang lembut, melainkan sesuatu yang jauh lebih kuno, padat, dan mematikan.

​"Aku pulang, Ayah." Aura membungkuk hormat dengan anggun.

​Kaelen melangkah turun di belakang Aura, memberikan anggukan formal kepada Raymond. "Archmage Raymond, aku mengembalikan putri Anda dalam keadaan sehat. Dan seperti yang Anda lihat, dia bukan lagi gadis kecil yang membutuhkan perlindungan."

​Raymond menelan ludah, menatap menantunya yang menakutkan, lalu kembali menatap putrinya dengan pandangan campur aduk antara tidak percaya dan haru.

"Masuklah ... masuklah terlebih dahulu. Kita harus mendiskusikan banyak hal mengenai Ujian sihir kekaisaran yang akan diadakan besok."

​Malam harinya, sebuah jamuan makan malam kecil diadakan di dalam kediaman Zephyra. Namun, kedamaian malam itu tidak berlangsung lama. Saat mereka baru saja menyelesaikan hidangan utama, seorang pelayan berlari masuk ke ruang makan dengan wajah panik.

​"L-Lapor, Archmage! Di luar ... ada tamu tak diundang dari Klan Elrod dan Klan Api Bara! Mereka memaksa masuk untuk memberikan 'hadiah penyambutan' kepada Nona Muda Aura!" Pelayan itu melapor dengan tubuh gemetar.

​Raymond menggebrak meja dengan marah. "Beraninya mereka bertindak lancang di kediamanku! Siapa yang datang?!"

​"Tuan Muda Gavin Elrod, bersama dengan Tuan Muda Ignis dari Klan Api Bara, Yang Mulia," jawab pelayan itu.

​Aura yang sedang menyesap teh sihirnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Sebaliknya, matanya berkilat dengan kegembiraan yang dingin. Ia meletakkan cawan tehnya perlahan, lalu menatap Kaelen yang duduk di sampingnya. Kaelen hanya membalas tatapan itu dengan senyuman tipis, seolah memberikan izin penuh kepada istrinya untuk bermain-main.

​"Ayah, biarkan mereka masuk," ucap Aura tenang, suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Bukankah sangat tidak sopan jika kita menolak hadiah dari mantan tunanganku?"

​Beberapa saat kemudian, langkah kaki yang berat dan arogan terdengar memasuki aula utama kediaman Zephyra. Gavin Elrod melangkah masuk dengan senyuman menawan yang biasa ia gunakan untuk menipu Aura di kehidupan lalu. Di sampingnya, berdiri seorang pemuda bertubuh kekar dengan rambut merah menyala—Ignis, penerus Klan Api Bara, klan remaja jenius yang terkenal dengan sihir apinya yang destruktif dan merupakan sekutu setia Gavin.

​"Aura! Lama tidak berjumpa." Gavin menyapa dengan nada suara yang sengaja dibuat ramah, seolah-olah pengkhianatan dan pembatalan pertunangan sebulan lalu tidak pernah terjadi. "Aku mendengar kabar bahwa kau telah kembali dari Utara yang dingin. Sebagai mantan tunangan yang masih peduli padamu, aku membawa Ignis ke sini untuk memastikan bahwa kau tidak kehilangan kemampuan sihirmu setelah tinggal di tempat pembuangan itu."

​Ignis melangkah maju dengan angkuh, melipat kedua tangannya di dada. Dari tubuhnya, memancar hawa panas yang menyengat, sengaja dilepaskan untuk memprovokasi suasana.

"Nona Aura, kudengar kau mengikat sumpah dengan Monster Utara karena ketakutan menghadapi ujian sihir besok? Sayang sekali, Klan Zephyra yang agung sekarang harus bergantung pada orang asing. Bagaimana kalau kita melakukan uji tanding kecil di sini? Aku ingin melihat sejauh mana sihir anginmu bisa bertahan melawan apiku."

​Provokasi itu begitu terang-terangan dan menghina. Raymond sudah bersiap untuk melepaskan sihir anginnya untuk mengusir kedua pemuda kurang ajar itu, namun Aura mengangkat sebelah tangannya, menghentikan ayahnya.

​Aura berdiri dari kursinya. Gaun biru malamnya berdesir pelan saat ia berjalan mendekati Gavin dan Ignis. Di belakangnya, Kaelen tetap duduk dengan tenang, menatap kedua pemuda itu seperti melihat seonggok daging yang siap dipotong.

​"Uji tanding?" Aura menatap Ignis dengan pandangan meremehkan. "Tuan Muda Ignis, apakah kau yakin apimu cukup kuat untuk menantangku? Di mataku, sihir api yang kau banggakan itu tidak lebih dari sekadar percikan korek api yang menyedihkan."

​Wajah Ignis mendadak memerah karena murka. Sebagai jenius muda Klan Api Bara, tidak ada yang berani menghinanya seperti ini.

"Gadis sombong! Rasakan ini!"

​Ignis menghentakkan kakinya ke lantai. Seketika, lingkaran sihir berwarna merah menyala terbentuk di bawah kakinya. Sebuah bola api raksasa yang berputar dengan kecepatan tinggi termaterialisasi di atas telapak tangannya, memancarkan gelombang panas yang mulai membakar karpet bulu di aula. Dengan raungan keras, Ignis melemparkan bola api itu lurus ke arah wajah Aura.

​"Aura, awas!" Raymond berteriak panik.

​Gavin menyeringai kejam di belakang Ignis, berharap melihat Aura menjerit ketakutan dan memohon ampun seperti yang biasa ia lakukan di masa lalu.

​Namun, Aura bahkan tidak berkedip. Ia tidak mundur selangkah pun. Ketika bola api raksasa itu berada tepat setengah meter di depan wajahnya, Aura hanya mengangkat satu jari telunjuknya yang halus.

​Krek ... krek ... boom!

​Sebuah ledakan energi dingin yang luar biasa masif meledak dari ujung jari Aura. Bukan sihir angin, melainkan aliran es murni sewarna biru safir yang pekat. Dalam hitungan seperseribu detik, bola api raksasa milik Ignis tidak meledak, melainkan membeku sepenuhnya menjadi bongkahan es padat berbentuk bola, menghentikan semua kobaran api di dalamnya secara instan.

​Prang!

​Aura menjentikkan jarinya, dan bola api yang telah membeku itu hancur menjadi serpihan kristal es yang tak berharga di lantai.

​"Bagaimana mungkin?!" Ignis berteriak syok, matanya terbelalak menatap tangannya yang kini gemetar. Rasa dingin yang ekstrem mulai merayap naik dari lantai, membekukan sepatunya dan mengunci kedua kakinya di atas lantai batu kediaman Zephyra. Ignis mencoba merapalkan sihir apinya untuk mencairkan es tersebut, namun ia mendapati bahwa inti sihir apinya seolah-olah membeku dan menolak untuk merespons.

​Gavin yang menyaksikan hal itu langsung kehilangan senyum di wajahnya. Wajah tampannya sontak memucat pasi.

"Sihir es ... kau bukan menggunakan sihir angin! Dari mana kau mendapatkan kekuatan ini, Aura?!"

​Aura melangkah maju, mendekati Gavin yang kini melangkah mundur ketakutan. Aura dingin yang dipancarkan dari tubuh Aura begitu pekat hingga membuat napas Gavin dan Ignis mengembun di udara. Suhu di dalam aula megah itu anjlok drastis hingga mencapai titik beku dalam sekejap.

​"Gavin," Aura berbisik, suaranya terdengar seperti melodi kematian yang indah di telinga mantan tunangannya. "Kau mendatangi kediamanku, membawa anjing penurutmu ini untuk mengintimidasi keluargaku ... apakah kau benar-benar mengira aku masih Aura yang sama dengan gadis bodoh yang kau tipu sebulan lalu?"

​Aura mengulurkan tangannya, dengan lembut menyentuh pundak Ignis. Detik berikutnya, lapisan es tebal dengan cepat merayap naik membungkus seluruh tubuh Ignis, mengubah jenius klan Api Bara itu menjadi patung es hidup dalam waktu kurang dari tiga detik. Hanya wajah Ignis yang menyembul bebas, menampilkan ekspresi ketakutan yang luar biasa murni.

​"A-Aura ... hentikan! Ini adalah pelanggaran hukum kekaisaran! Kau tidak bisa menyerang penerus klan besar di luar arena!" Gavin terbata-bata, tangannya tanpa sadar meraba gagang pedangnya, namun tubuhnya terlalu kaku karena ketakutan untuk menarik senjata tersebut.

​Aura menarik kembali tangannya, menatap Gavin dengan tatapan dingin yang sarat akan kebencian mendalam yang ditekan dengan rapi.

"Hukum? Gavin, besok di arena Ujian Sihir Kekaisaran, tidak akan ada hukum yang bisa melindungimu. Katakan pada sekutu-sekutumu dari empat klan besar ... bersiaplah untuk menyambut badai. Karena apa yang kalian tabur di masa lalu, akan kalian tuai dalam bentuk kematian es besok pagi."

​Aura melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh. Sebuah gelombang angin es yang kuat menghantam tubuh Gavin dan patung es Ignis, melemparkan mereka berdua keluar dari pintu gerbang kediaman Zephyra dengan kasar, terhempas di atas jalanan batu di luar.

​Brak!

​Pintu gerbang besar kediaman Zephyra menutup kembali dengan sendirinya, dilapisi oleh segel es hitam yang tidak akan bisa ditembus oleh penyihir tingkat rendah.

​Di dalam aula, Raymond Zephyra berdiri terpaku, menatap putrinya dengan rasa kagum dan ngeri yang luar biasa. Ia akhirnya menyadari bahwa putrinya tidak sedang mencari perlindungan di Utara; Aura pergi ke sana untuk menjadi sebuah badai yang siap meruntuhkan seluruh kekaisaran.

​Kaelen berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Aura, lalu melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang istri dengan posesif.

"Pemanasan yang sangat indah, ratu utaraku," bisik Kaelen. "Kurasa Gavin Elrod tidak akan bisa tidur dengan tenang malam ini."

​Aura menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Kaelen, matanya menatap ke arah pintu gerbang dengan kilat kepuasan yang kejam.

"Ini baru permulaan, Kaelen. Besok, di hadapan Kaisar dan seluruh bangsawan Eldoria, aku akan menguliti harga diri Gavin Elrod selembar demi selembar di atas arena darah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!