Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Predator dalam Gelap
Area parkir belakang Galeri Seni Atrium Aksara adalah tempat yang nyaris terlupakan. Berbeda dengan area depan yang bersih, estetik, dan dipenuhi oleh tanaman hias serta mobil-mobil mewah para pengunjung kelas atas, bagian belakang ini dikelilingi oleh dinding beton tinggi yang mulai berlumut, beberapa tempat pembuangan sampah besar, dan deretan mesin kompresor pendingin ruangan yang mendengung konstan.
Gerimis tipis yang mengguyur Kawasan Kenari sejak pagi menyisakan genangan-genangan air di atas aspal yang retak. Udara di sini terasa lembap, dingin, dan berbau besi berkarat.
Nathan berdiri di bawah bayang-bayang kanopi beton yang menjorok. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya yang tajam setajam elang menatap lurus ke arah jalan masuk satu-satunya ke area parkir belakang ini. Jas hitamnya tetap rapi, tanpa ada lipatan yang salah, kontras dengan ekspresi wajahnya yang kini telah berubah sepenuhnya.
Tidak ada lagi tatapan patuh seorang pengawal sewaan. Yang tersisa hanyalah sepasang mata gelap yang kosong, mata seorang predator yang sedang menunggu mangsanya masuk ke dalam perangkap.
Dua menit.
Itu adalah waktu yang dibutuhkan oleh minibus hitam pengintai untuk menemukan jalan masuk ke area belakang ini setelah memutar-mutar di sekitar Kawasan Kenari. Benar saja, suara raungan mesin yang kasar perlahan mendekat. Cahaya lampu depan yang kuning memotong kegelapan gang, memantul di atas genangan air sebelum mobil itu akhirnya berhenti sekitar sepuluh meter di depan Nathan.
Mesin mobil tidak dimatikan. Lampu sorotnya tetap menyala terang, sengaja diarahkan tepat ke arah wajah Nathan untuk membutakan pandangannya.
Nathan bahkan tidak berkedip. Ia hanya menurunkan tangannya, membiarkan keduanya menggantung rileks di samping tubuh.
Pintu geser minibus terbuka dengan suara gemeretak yang kasar. Dua orang pria bertubuh kekar turun dari dalam kabin penumpang. Keduanya mengenakan jaket kulit hitam kumal dan celana jin longgar. Yang satu memiliki tato ular yang merambat hingga ke rahang kirinya, sementara yang lain, pria yang lebih pendek namun berbahu sangat lebar memegang sebuah pipa besi tebal di tangan kanannya. Dari pintu kemudi, sang sopir juga turun, memegang sebilah belati panjang yang mengilat di bawah cahaya lampu mobil.
"Ternyata bocah ini sengaja menunggu kita di sini," ucap pria bertato ular dengan tawa mengejek yang serak. Ia melangkah maju, memutar-mutar pergelangan tangannya. "Sangat percaya diri untuk seorang pengawal baru yang baru kemarin sore lolos seleksi."
Pria berbahu lebar di sebelahnya mengetukkan pipa besinya ke telapak tangan kirinya, menciptakan bunyi dentang logam yang berat. "Mungkin dia pikir mengalahkan anjing peliharaan sekelas Baskoro di atas ring kemarin membuatnya menjadi pahlawan. Dia tidak tahu bahwa jalanan memiliki aturan main yang berbeda."
Nathan tetap diam. Ia tidak membalas provokasi itu, juga tidak menunjukkan gestur bertahan. Ia hanya menganalisis postur tubuh, jarak langkah, dan pusat gravitasi ketiga pria di depannya.
Amatir, batin Nathan dingin. Pusat gravitasi terlalu condong ke depan. Genggaman senjata terlalu kaku. Tidak ada koordinasi taktis.
"Kalian memiliki waktu sepuluh detik untuk menyebutkan siapa yang membayar kalian," suara Nathan terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan, namun anehnya suara itu mampu menembus dengungan bising mesin pendingin ruangan di sekitar mereka. "Setelah itu, kesempatan kalian untuk berbicara akan habis."
Ketiga pria itu saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya meledak dalam tawa meremehkan.
"Sepuluh detik? Hei, anak manis, apa kamu sedang mengigau?" pria bertato ular maju selangkah lagi, menunjuk wajah Nathan dengan jarinya. "Kami adalah Harimau Hitam. Kami tidak datang untuk berbicara. Kami datang untuk mematahkan kaki dan tanganmu, lalu membawa Nona Clara-mu itu kepada bos kami. Jadi, tutup mulutmu dan—"
Sepuluh detik sudah habis.
Sebelum pria bertato ular itu sempat menyelesaikan kalimatnya, Nathan sudah bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga tampak seperti bayangan hitam yang melintas di bawah pancaran cahaya lampu mobil.
BUM!
Nathan memangkas jarak sepuluh meter dalam sekejap mata. Tangan kanannya mencengkeram jari telunjuk pria bertato ular yang sedang menunjuknya, lalu dengan satu hentakan pergelangan tangan yang sangat presisi, ia memuntirnya ke arah berlawanan.
KRAKKK!
Bunyi patahan tulang yang mengerikan terdengar jelas, disusul oleh jeritan histeris dari mulut pria bertato ular itu. Namun, Nathan tidak memberinya waktu untuk jatuh. Dengan gerakan mengalir tanpa jeda, Nathan melayangkan serangan lutut kanan yang sangat keras tepat ke arah ulu hati pria itu.
DUAKK!
Udara langsung keluar paksa dari paru-paru si tato ular. Tubuhnya menekuk seperti udang, jeritannya tersedak di tenggorokan. Sebelum tubuh itu ambruk ke tanah, Nathan menangkap bagian belakang kepalanya dan menghantamkannya dengan keras ke arah pipa besi yang sedang diayunkan oleh pria kedua.
BENTURAN LOGAM DAN TENGKORAK!
Pria bertato ular itu langsung tidak sadarkan diri dengan hidung hancur, sementara pria kedua terkejut melihat temannya sendiri digunakan sebagai tameng hidup.
Dalam sepersekian detik kepanikan pria berbahu lebar itu, Nathan memutar tubuhnya, melepaskan tendangan tumit berputar tepat ke arah lutut kanan pria kedua.
KRAKKK!
Sendi lutut pria itu bergeser ke arah yang salah. Ia melolong kesakitan, kehilangan keseimbangan, dan langsung jatuh berlutut di atas aspal yang basah. Pipa besinya terlepas, berdenting keras di atas tanah.
Sang sopir yang berdiri di dekat pintu mobil membeku. Belati di tangannya bergetar hebat. Ia bahkan tidak sempat melihat bagaimana kedua temannya dilumpuhkan dalam waktu kurang dari empat detik. Pria di depannya ini bukanlah manusia, dia adalah monster, mesin pembunuh yang bergerak dengan efisiensi yang mengerikan.
"S-Setan..." gumam sang sopir, mencoba melangkah mundur untuk kembali ke dalam mobil dan kabur.
Namun, Nathan tidak membiarkannya. Ia memungut pipa besi yang terjatuh di atas aspal tanpa perlu membungkukkan tubuhnya, hanya dengan satu sentakan ujung sepatunya lalu melemparkannya dengan akurasi mematikan.
PANG!
Pipa besi itu melesat seperti peluru, menghantam pergelangan tangan kanan sang sopir hingga belatinya terlepas, lalu berlanjut menghantam tulang selangkangnya hingga retak. Sang sopir terjatuh ke tanah, memegangi bahunya dengan wajah pucat pasi menahan rasa sakit yang luar biasa.
Suasana parkiran kembali sepi, hanya menyisakan deru mesin mobil dan suara rintik gerimis yang membasahi aspal.
Nathan berjalan perlahan mendekati pria kedua yang masih terduduk memegangi lututnya yang hancur. Langkah kaki Nathan terdengar sangat teratur, tanpa terburu-buru. Setiap ketukan sepatunya di atas aspal basah terdengar seperti detak jam kematian di telinga pria itu.
Nathan berhenti tepat di depan pria berbahu lebar itu. Ia menatap ke bawah dengan pandangan mata yang sedingin es di puncak gunung terdalam.
"Siapa yang membayar kalian?" tanya Nathan lagi. Suaranya tidak meninggi, tetap datar dan tenang, namun membawa tekanan psikologis yang begitu berat hingga pria di depannya merasa kesulitan untuk sekadar bernapas.
"K-Kami... kami hanya menerima perintah dari Robert..." jawab pria itu dengan bibir gemetar, air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya. "Kami tidak tahu siapa bos besarnya! Kami bersumpah!"
Nathan tidak menunjukkan kepuasan atau kemarahan. Ia hanya mengangkat kaki kanannya, lalu menekannya dengan sangat perlahan di atas lutut pria itu yang sudah hancur.
"AARRGGHH!!! AMPUN! AMPUN!" lolong pria itu, tubuhnya kejang menahan rasa sakit yang luar biasa saat Nathan perlahan meningkatkan tekanan berat tubuhnya di atas lukanya.
"Robert siapa?" tanya Nathan dingin.
"Robert... Robert si Broker Jalanan di Sektor Timur! Dia yang memberikan kontraknya!" teriak pria itu dengan suara serak, mencoba melepaskan kakinya dari injakan Nathan namun tidak berdaya. "Dia bilang... dia bilang ada orang dalam dari perusahaan Nyonya Elena yang menginginkan putrinya diculik hari ini! Mereka ingin membuat Elena panik agar mau menandatangani dokumen pengalihan aset!"
Mata Nathan menyipit sekilas. Orang dalam Megantara.
"Siapa orang dalam itu?" tanya Nathan, tekanannya pada lutut pria itu semakin dalam hingga terdengar bunyi gesekan tulang yang mengerikan.
"S-Saya tidak tahu! Demi Tuhan, Robert tidak pernah memberi tahu kami nama klien besarnya! Kami hanya pion jalanan! Tolong... tolong ampuni saya..." pria itu menangis, memohon dengan sangat hina di bawah kaki Nathan.
Nathan menatap pria itu selama beberapa detik, menilai apakah dia berbohong atau tidak. Melalui denyut nadi yang terlihat di leher pria itu dan getaran suaranya, Nathan tahu pria ini mengatakan yang sebenarnya. Dia memang hanyalah pion kecil yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di atasnya.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Nathan lembut.
Pria itu mengembuskan napas lega, berpikir bahwa siksaannya telah berakhir. "K-Kalau begitu... Anda akan melepaskan kami?"
Nathan tidak menjawab. Ia hanya membungkuk sedikit, mencengkeram kerah jaket pria itu, lalu dengan satu gerakan sentakan yang sangat kuat dan presisi, ia memuntir leher pria itu hingga terdengar bunyi KRAK yang tajam.
Lolong ketakutan pria itu terhenti seketika. Matanya melotot kosong sebelum tubuhnya ambruk tak bernyawa di atas aspal yang dingin.
Nathan kemudian berjalan mendekati sang sopir yang masih terduduk lemas di dekat ban mobil, menyaksikan kematian temannya dengan ketakutan yang tiada tara. Wajah sang sopir sudah sepenuhnya kehilangan warna kulitnya. Ia mencoba merangkak mundur, namun punggungnya tertahan oleh bodi mobil.
"T-Tolong... jangan bunuh saya... saya punya keluarga..." bisik sang sopir dengan sisa-sisa suaranya.
"Keluargaku juga dulu memohon hal yang sama pada bosmu," jawab Nathan datar.
Sebelum sang sopir sempat berteriak, tangan kiri Nathan yang sangat kuat sudah mencengkeram tenggorokannya, menekan trakeanya hingga pecah dalam satu remasan kuat. Sang sopir tewas dalam keheningan, menyusul temannya yang lain.
Nathan berdiri tegak di tengah-tengah tiga jasad yang bergelimpangan di sekitar minibus hitam itu. Pakaiannya sama sekali tidak ternoda oleh setitik darah pun. Ia mengeluarkan selembar saputangan putih dari saku dalamnya, mengusap tangannya dengan sangat teliti, lalu membuang saputangan itu ke dalam tempat pembuangan sampah besar di dekatnya.
Ia mengambil ponselnya dan menekan satu tombol.
"Rendra," ucap Nathan begitu panggilan tersambung. "Kirim tim pembersih ke koordinat parkir belakang Galeri Atrium Aksara. Ada tiga sampah yang perlu dibuang, satu minibus hitam, dan bersihkan semua rekaman kamera pengawas di sekitar area gang belakang dalam radius satu kilometer."
"Dimengerti, Bos. Tim pembersih akan tiba dalam waktu tujuh menit," jawab Rendra dari seberang telepon tanpa banyak bertanya. "Apakah Anda mendapatkan informasi?"
"Seseorang dari dalam Megantara Group bekerja sama dengan Robert si Broker Timur untuk menculik Clara," jawab Nathan dingin. "Cari tahu siapa Robert ini, dan temukan siapa saja orang dalam Megantara yang melakukan kontak dengannya dalam dua minggu terakhir."
"Baik, Bos. Saya akan langsung meretas jaringan komunikasi Robert malam ini."
Nathan memutuskan sambungan telepon. Ia merapikan lipatan jas hitamnya, mengatur kembali napasnya hingga detak jantungnya kembali ke frekuensi normal seorang manusia biasa. Seluruh aura membunuh dan kekejaman yang baru saja memenuhi area parkir itu menguap tanpa bekas, digantikan kembali oleh dinding es seorang pengawal profesional yang patuh.
Ia berjalan keluar dari gang belakang yang gelap, kembali menuju lobi depan Galeri Seni Atrium Aksara yang terang benderang.
Tepat saat Nathan berdiri di dekat pintu kaca lobi depan, pintu itu terbuka. Clara Wijaya melangkah keluar bersama beberapa rekannya. Wajah gadis itu tampak lelah namun dihiasi oleh senyuman manis saat melihat Nathan yang sudah berdiri tegak menyambutnya di depan mobil sedan mewah hitam yang mengilat bersih.
"Nathan!" panggil Clara dengan nada riang, berjalan mendekatinya dengan langkah ringan. "Maaf ya membuatmu menunggu sangat lama. Apa kamu merasa bosan di luar?"
Nathan membungkuk hormat dengan sudut presisi yang biasa ia tunjukkan. "Sama sekali tidak, Nona Clara. Menjaga keamanan Anda adalah tugas saya."
Clara tersenyum tipis, matanya menatap wajah Nathan yang tampak sangat bersih dan tenang di bawah cahaya lampu lobi galeri. Gadis polos itu sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakang bangunan indah tempatnya melukis, tangan pria yang berdiri di depannya ini baru saja mencabut tiga nyawa manusia tanpa keraguan sedikit pun.
"Ayo kita pulang, Nathan. Aku lapar sekali," ujar Clara lembut seraya masuk ke dalam pintu mobil yang sudah dibukakan oleh Nathan dengan sangat sopan.
"Baik, Nona. Perjalanan pulang akan sangat aman," jawab Nathan dingin, menutup pintu mobil dengan sangat halus sebelum berjalan memutari kemudi, bersiap menembus kegelapan malam kota Megapura yang menyimpan sejuta rahasia berdarah.