Seorang gadis yang memiliki kelainan jantung sejak lahir, harus bertahan hidup sendiri membesarkan kedua adiknya.
Kerja keras dan banting tulang sanggup dia lakukan demi masa depan adik adiknya. Bahkan masa depannya sendiri tak pernah dia pikirkan.
Hingga suatu ketika keadaan memaksanya untuk menggadaikan harga diri serta hidupnya.
Dan dengan terpaksa harus menikah dengan orang yang tak pernah mencintainya.
Nah, untuk mengetahui kisah selanjutnya? Simak saja di karyaku yang terbaru berjudul
" Harga Diri Yang Tergadaikan ".
Selamat membaca, jangan lupa subscribe, like, vote, dan semua dukungan. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewidewie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 14
William menatap Erick dengan lembut dan tatapan penuh penyesalan serta rasa bersalah. Terlebih lagi setelah mendengar semua ceritanya dari Reno tentang hubungannya dengan Nabila.
" Nak, maafkan papa. Kalau tahu begini akibatnya papa menyesal telah melakukan semua ini padamu. Sekarang semua hukumanmu telah berakhir Erick, mobil, blackcard, apartemen papa kembalikan kepadamu"
Erick terdiam tak bergeming, karena semua telah terlambat. Gadis yang sangat dicintainya telah menikah dengan kakaknya. Meskipun hanya menikah kontrak tapi secara hukum dan agama mereka sah.
William menepuk pundak Erick untuk memberinya kekuatan " Erick, ayo nak bangkitlah kembali. Bantu papa di perusahaan dan tunjukkan pada mereka semua bahwa kamu mampu, kamu kebanggaan papa".
Perlahan Erick melepaskan tangan papanya
" Maafkan Erick pa, Erick tidak bisa ".
Deg
Jantung William seakan berhenti berdetak mendengar kata penolakan dari puteranya.
" Kenapa Erick? Kamu adalah harapan papa yang papa persiapkan untuk meneruskan perusahaan papa di Eropa "
Erick tersenyum tipis dan menatap mas Yanto yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan kelas atas yang tidak bisa dia mengerti dan juga tak bisa dia bayangkan.
" Pa, apa yang Erick miliki saat ini bukanlah milik Erick, tapi milik papa dan mama. Erick tidak memiliki apa apa, karena itu Erick belajar dari Nabila yang tak pernah menyerah untuk berjuang. Bahkan dia rela kehilangan harga dirinya hanya demi bisa membayar sekolah kedua adiknya "
William terdiam sejenak kemudian mengangguk dan tersenyum tipis " Papa mengerti sekarang Erick. Papa yakin kamu akan sukses dengan kegigihan dan kerja keras. Ini ambillah Erick, blackcard kamu sudah papa tambahin uang senilai 2 miliar untuk kamu merintis usaha kamu sendiri " Ucap William sambil menyodorkan sebuah kartu hitam kepada Erick.
Mas Yanto yang melihatnya pun sempat terperangah dan lagi lagi tak bisa membayangkan uang sebanyak itu.
Erick meraih kartu tersebut sambil mengangguk " Baik pa Erick anggap ini adalah pinjaman setelah sukses pasti Erick akan mengembalikan kepada papa dan menjemput Nabila sebagai istri Erick bukan kakak ipar".
William tersenyum dan mengangguk sambil menepuk pundak putra bungsunya itu.
" Tapi pa, Erick titip Nabila ya jangan sampai kak Erland menyentuhnya"
William pun tersenyum kemudian pamit pulang dari kontrakan Erick yang kecil dan sempit.
Setelah pak William pulang, mas Yanto mendekati Erick dan rasanya tidak percaya teman baiknya ini adalah putra Frederick yang kaya raya.
" Erick, jadi beneran kamu putra pak William? Wah wah sungguh tidak kusangka " Ucap Mas Yanto masih dengan rasa kagumnya.
Erick menghela nafas dalam dalam " Mas, semua yang aku miliki bukan milikku mas, itu milik papaku jadi tidak ada yang perlu dibanggakan. Oya mas Yanto mau kan membantuku? Kita akan mendirikan perusahaan sendiri".
" Mau Mau mau, aku pasti akan membantumu tuan muda" Jawab Yanto antusias.
" Tapi tidak di sini mas, aku ingin mendirikan usahaku di luar kota, kita akan cari mana kota yang memiliki prospek bagus dan strategis untuk mengembangkan proyek kita" Ucap Erick.
Dan mereka pun mulai berdiskusi dengan serius.
❤
❤
❤
" Erland, istrimu itu benar anaknya orang terpandang, kok mama gak pernah lihat ya. Padahal setiap ada perjamuan makan kita selalu hadir seharusnya kita kenal dong" Tanya Rima di sela sela sarapan paginya.
Erland dan William saling melemparkan tatapan begitu juga dengan Nabila yang hanya bisa menunduk sambil mengunyah makanannya.
Memang Rima adalah putri dari milyader yang ada di kota ini. Hidupnya dari kecil bergelimang harta dan kemewahan. Tentu saja dia juga ingin memiliki menantu anak orang yang terpandang.
" Ehm tentu saja dong ma, mama saja yang tidak pernah melihatnya. Iya kan sayang? " Ucap Erland sambil menyenggol lengan Nabila yang membuat pemiliknya kelicutan serta gugup.
" I iya ma " Jawab Nabila terbata bata.
Rima tersenyum tipis kemudian melanjutkan menyantap sarapan paginya " Nah gitu dong daripada kamu sama anaknya si Susi wanita jalang itu mending kan sama Nabila iya kan Bil. O iya Bil mama sudah menyiapkan tiket ke Eropa untuk mu dan Erland berbulan madu ".
Uhukkk
Mendengar ucapan mamanya Erland tersedak.
" Pak Erland, eh maksudku mas Erland kamu kenapa? Nih minum " Nabila memeberikan segelas air mineral kepada Erland.
" Aduh sialan, kenapa pake acara bulan madu sih ah, mana Revi sedang berada di Jepang lagi. Gak mungkinkan aku sama Nabila " Gumamnya sendiri sambil mengatur nafasnya perlahan agar batuknya mereda.
Setelah selesai dengan kegiatan dan drama pagi di meja makan, mereka pun bergegas pada rutinitasnya masing masing.
Erland bersiap berangkat ke kantor bersama dengan Nabila yang tetap mau bekerja di sana.
Di dalam mobil mereka hanya diam dan enggan untuk saling menyapa.
Cekikkk
Tiba tiba Erland menghentikan laju mobilnya di depan sebuah cafe.
" Pak Erland, untuk apa berhenti di sini? "
" Turunlah dan masuk ke dalam nanti kamu akan tahu sendiri " Jawab Erland dingin.
Nabila pun segera turun dari mobilnya namun Erland kembali memanggilnya.
" O iya Bil, aku sudah transfer ke rekening kamu 5 M jadi sebanding dengan kesepakatan kita. Kamu harus ingat itu dan tahu batasan masing masing " Ucap Erland.
Nabila terdiam dan mengangguk perlahan, serasa ada hantaman balok yang mengenai dadanya, sakit rasanya mendengar ucapan menyakitkan dari seorang laki laki yang kini berstatus suaminya meskipun hanya di atas kertas.
Harga dirinya telah jatuh bersamaan dengan tanda tangan kesepakatan kontrak dengan bosnya tersebut. Demi ambisi semata harga diri yang dia junjung tinggi selama ini hancur seketika.
" Nabila! " Panggil seseorang dari dalam cafe yang membuyarkan semua lamunannya.
" Erick "
Erick mendekati Nabila dan memintanya untuk duduk dan berbicara empat mata.
" Ada apa Erick? Bukankah aku sudah bilang kepadamu sebaiknya kita jaga jarak saja, gak enak kalau ada yang lihat apalagi keluarga pak Erland "
Erick menggenggam tangan Nabila yang membuat pemiliknya bergetar dan jantungnya berdetak hebat.
Deg
Deg
Deg
Nabila meringis kesakitan sambil menunduk dengan tangan masih di dalam genggaman Erick.
Erick terus menatap Nabila yang semakin pucat kemudian memegangi pipinya dan mendongakkannya hingga posisinya sejajar dengan wajahnya " Bil, kamu baik baik saja? Tenangkan dirimu Nabila tarik nafas perlahan".
Nabila memejamkan matanya dan mengangguk kemudian mengikuti instruksi Erick namun masih terasa sakit dan nyeri di jantungnya" Dadaku sakit Erick, ach".
Erick semakin merasa takut kemudian mengusap wajah Nabila yang mulai berkeringat dingin " Sayang kuatkan dirimu " .
Cup
Erick tak bisa lagi menahan untuk tidak memberikan pertolongan darurat. Dia membuka mulut Nabila dan menyalurkan nafas buatan serta oksigen kepadanya. Bukan hanya itu Erick juga menikmati ciuman tersebut dengan mengabsen satu persatu isi dalam rongga mulut Nabila.
Tidak dipungkiri Nabila yang awalnya menolak untuk memberikan balasan karena niat awal Erick adalah untuk menyalurkan oksigen kepadanya pada akhirnya ikut terbawa suasana dan memberikan balasan lembut kepada Erick.
Ciuman mereka semakin dalam dan tidak memperdulikan lagi dengan orang orang yang melihatnya. Ada yang menggunjing, dan ada yang baper, namun keduanya tetap berpagutan tanpa memperdulikan mereka.
Di sela sela pagutannya Erick dan Nabila sama sama mengambil nafas kemudian lanjut lagi dengan pagutannya dan saling bertukar saliva.
Mereka berciuman cukup lama hingga bibir keduanya sedikit lebam.
" Nabila, aku akan pergi. Jaga dirimu baik baik untukku " Bisikan Erick sambil menempelkan keningnya dengan kening Nabila yang masih mengatur nafasnya.
" Kamu mau ke mana Erick? "
" Aku akan ke luar kota untuk mendirikan perusahaan ku sendiri. Berikan aku waktu untuk sukses di atas kakiku sendiri Bil dan aku akan menjemputmu sebagai pengantinku"
Nabila menarik wajahnya dan menatap wajah Erick yang sedikit memerah karena menahan gejolak birahinya " Kamu akan pergi Erick, meninggalkanku? Setelah aku memutuskan untuk menyerah dan mencintaimu? ".
Erick mengusap bibir Nabila yang masih basah dengan salivanya " Aku akan pergi untuk masa depan kita Bil, aku tidak mungkin menggantung pada papa dan mama. Aku malu Bil, sungguh aku sudah banyak menyusahkan mereka dan sekarang aku ingin membuatnya bangga. Jaga dirimu baik baik ".
Nabila menunduk dan menggenggam tangan Erick sambil menangis sesenggukan.