Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Rintik air hujan, perlahan jatuh membasahi bumi. Hari makin gelap saat malam datang menyelimuti langit. Angin yang bertiup kencang, diiringi tetes-tetes air hujan membuat Asyifa menggigil kedinginan.
Langkah kakinya yang berjalan tak tentu arah tujuan, mulai gemetar saking jauhnya perjalanan yang telah ia tempuh sedari tadi. Sambil memeluk tubuh Safina erat, Asyifa terus berjalan tertatih-tatih menuju sebuah pelataran toko untuk berteduh.
Ada sekumpulan pengamen yang juga duduk nongkrong disana ikut berteduh dari rintiknya hujan yang mulai mengucur deras. Awalnya mereka tak mempedulikan Asyifa yang berdiri tak jauh dari mereka. Namun, saat hujan hampir berhenti Asyifa tak kunjung pergi dari sana. Para pengamen itu jadi heran. Apalagi saat Safina kecil merengek dalam pelukan Asyifa, memancing mata mereka untuk memperhatikan Asyifa.
"Kak, anaknya nangis. Kenapa malam begini dibawa keluar sih?!" cetus salah seorang pengamen pemuda berpenampilan lumayan rapi dan bersih bertanya pada Asyifa.
"Oh..., kakak 'gak punya rumah dek, makanya kami ada diluar jam segini." Jawab Asyifa dengan polosnya sambil melemparkan senyuman getir bercampur malu.
Sejenak pemuda belia itu tertegun. Beberapa orang dari mereka saling berbisik dan memandangi Asyifa dengan pandangan penuh selidik.
"Emang suaminya kakak kemana?" tanya salah seorang pengamen muda yang lain.
Asyifa terdiam sejenak. Dia memandangi wajah para pengamen yang berkumpul itu satu-persatu. Semuanya masih muda belia, berumur belasan. Ada yang menatapnya curiga, ada yang tatapannya agak aneh, dan ada juga yang tampak prihatin.
"Suami saya...," Asyifa tampak ragu menjawab pertanyaan pengamen itu.
"Jangan-jangan si kakak, janda. Hahaha...," celetuk salah seorang pengamen yang tampangnya rada jelek dan berpenampilan urakan tertawa meledek Asyifa.
"Hush!" bentak si pengamen muda belia yang pertama kali menegur Asyifa menepuk bahu temannya yang meledek itu sedikit keras.
"Suami kakak 'gak pulang-pulang, kakak diusir dari rumah kontrakan sama pemiliknya karena belum bayar sewa dek." Ujar Asyifa terpaksa berbohong demi menjaga harkat dan martabatnya yang bisa saja jadi ganjalan dihati para anak muda belia yang ada dihadapannya sekarang.
Suasana hening sejenak melanda para pengamen muda belia itu. Mereka terdiam dan saling pandang satu sama lain. Raut wajah mereka seketika berubah jadi prihatin dan penuh belas kasihan.
"Kalau boleh tahu, nama kakak siapa?" tanya si pemuda pengamen yang sedari pertama sudah perhatian dengan kondisi Asyifa dari awal.
"Asyifa, panggil saja Kak Syifa." jawab Asyifa membalas keramahan yang diberikan pemuda pengamen itu dengan senyuman yang ramah.
"Aku Zaki kak. Kalau kakak mau, kakak bisa nginap di rumahku saja. Kebetulan, aku cuma tinggal berdua sama nenekku." Icap pemuda pengamen itu memperkenalkan diri sekaligus menawarkan bantuan pada Asyifa.
Kebimbangan tergambar jelas di wajah Asyifa saat ditawarkan bantuan oleh pemuda pengamen bernama Zaki itu. Bagaimana mungkin dia menerima tawaran dari anak muda asing yang belum dia kenal sama sekali.
"Iya kak, tinggal sama Zaki saja." Celetuk temannya sesama pengamen ikut mendukung.
"Zaki anak baik-baik kok kak, jangan takut." Timpal salah satu pengamen yang lain juga ikut antusias.
"Jangan khawatir kak, saya bukan orang jahat kok. Kasihan adek bayinya kalau kelamaan diluar. Mana hujannya gerimis begini, awet kayaknya." Tutur Zaki sembari mengulurkan tangannya sebentar menampung titik air hujan yang turun menetes dari atap toko kemudian bergidik dingin dan mendekap gitar yang ia pegang sedari tadi di dadanya.
"Rumahmu jauh 'gak?" tanya Asyifa dengan nada masih ragu dan bimbang.
Zaki menoleh kearah Asyifa dan tersenyum simpul.
"Enggak kak, palingan beberapa gang dari sini." Sahutnya cepat.
"Uwa...,uwa...,uwa...," suara tangis Safina terdengar nyaring memecah kesunyian malam.
Asyifa jadi gugup, dia mengayunkan kedua tangannya agar Safina berhenti menangis. Semua mata yang lewat didepan pertokoan sekaligus pengunjung toko dan pemilik toko tampak melihat kearahnya yang berdiri diluar dikerumuni beberapa pengamen jalanan.
"Hei! Bubar, bubar! Pergi sana! Kalian pikir ini tempat apa hah?! Kalau mau ngamen dan ngemis jangan kumpul disini! Toko saya bukan tempat penampungan pengamen dan pengemis!" teriak pemilik toko jengkel.
Hampir satu jam lebih dia bersabar melihat para pengamen dan Asyifa berteduh, berkumpul di depan tokonya. Dari awal dia sudah gerah melihat mereka, namun karena hujan deras, dia masih membiarkan karena melihat Asyifa yang menggendong anak. Tapi setelah sekian lama mereka tidak pergi, kesabarannya habis. Mau tidak mau, pemilik toko itu mengusir mereka agar cepat pergi dari depan tokonya.
Suara teriakan pemilik toko yang mengusir mereka membuat para pengamen itu jengkel. Sedangkan Asyifa, jadi panik karena para pengamen itu malah bubar satu persatu.
"Gue balik dulu Zak, besok kumpul tempat biasa ya." Teriak salah satu pengamen pada Zaki melambaikan tangannya meninggalkan Zaki sendirian.
Zaki hanya menganggukkan kepala sambil mengacungkan jempol dan melambaikan tangan membalas perkataan temannya.
"Gimana kak, kak Syifa mau ikut saya atau mungkin kakak punya saudara disini?" tanya Zaki lagi seraya melirik si bapak pemilik toko yang masih berdiri didepan tokonya menatap mereka berdua dengan tajam.
"Kakak 'gak punya saudara disini dek. Apa dek Zaki tidak keberatan menampung kakak sama anak kakak ini?" jawab Asyifa dengan nada sedih sekaligus mempertanyakan kesediaan Zaki menampung dirinya dan Safina yang pastinya akan menjadi beban bagi Zaki dan neneknya.
"Saya tidak keberatan kak, justru saya khawatir, kalau kakak risih tinggal sama orang miskin kayak kami." Ujar Zaki menunduk malu.
Hati Asyifa pun tersentuh mendengar ucapan Zaki yang terdengar tulus ingin membantunya. Baru kali ini, Asyifa bertemu anak muda yang sopan dan baik hati seperti Zaki. Padahal, kalau dilihat dari profesinya, orang lain akan beranggapan mereka adalah kumpulan anak badung.
"Ayo kak, mumpung hujannya mulai teduh. Takutnya hujan turun lagi, si dedek bisa kehujanan." Ajak Zaki menimbang keadaan cuaca yang sulit diprediksi. Dia cukup sadar diri, dirinya bukan ahli peramal cuaca layaknya BMKG.
"Iya dek, maaf kalau merepotkan." Asyifa ikut tergesa-gesa menjawab saat Zaki mulai melangkah terlebih dahulu meninggalkannya pergi dari pelataran pertokoan.
Langkah kaki Asyifa pun terayun cepat mengikuti Zaki yang berjalan sedikit bergegas menyusuri jalanan menuju rumahnya.
Kadang kala Zaki berhenti sejenak, menunggu Asyifa yang tampak kesulitan mengiringi langkahnya yang panjang.
Setelah melewati beberapa gang, mereka sampai didepan sebuah perumahan susun sederhana yang berjejeran banyak disekelilingnya.
Asyifa sejenak tercenung melihat tempat tinggal Zaki. Walau dirinya selalu dicap miskin oleh Randa, namun kedua orang tuanya di kampung masih punya rumah sendiri yang lebih besar dari rumah susun itu. Meski tidak terlalu bagus dan mewah, setidaknya rumah orang tua Asyifa lebih baik dari rumah yang dihuni Zaki.
"Terimakasih ya Allah, engkau telah membukakan mataku. Kemiskinanku belum seberapa di banding orang-orang yang lain. Masih banyak yang lebih miskin dariku, tapi mereka masih tetap hidup dengan penuh semangat." puji dan syukur penuh rasa haru terucap dalam hati Asyifa.
"Ini rumahku kak, maaf kalau kecil dan kumuh begini." Ucap Zaki penuh rendah diri.
Asyifa menatap rumah petak yang sudah mengelupas catnya dengan lantai semen serta cahaya lampu yang temaram itu sambil tersenyum hangat pada Zaki.
"Tidak apa-apa dek, justru kakak berterimakasih padamu karena mau menolong kakak dan anak kakak untuk bisa menginap disini." Tutur Asyifa dengan air mata yang nyaris jatuh di pelupuk matanya.
Zaki tersenyum senang mendengar jawaban Asyifa. Dia pun mengetuk pintu rumah mungil itu dengan pelan.
Tok tok tok!
.
.
.
BERSAMBUNG