Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Dominic Salvatore
Aku sedang mandi, memikirkan Ane Smith sialan itu. Dia, dari semua orang? Apa-apaan ini? Tak pernah kukira aku akan tertarik pada perempuan jelek seperti dia, tapi persis itulah yang terjadi. Sikap polosnya membuatku gila. Kusandarkan dahi di dinding dan mendesah, membiarkan seluruh frustrasi dan kebencian menguap. Cepat atau lambat aku akan kehilangan akal. Sungguh, aku tak ingin menyakiti makhluk sepolos itu, tapi kupikir itu akan jadi satu-satunya kesempatan dia mengenal pria sejati. Dia beruntung aku menginginkannya sebesar ini.
Tubuh mungilnya bergoyang, melompat-lompat di ranjang. Payudara kecilnya yang bergerak saat dia melompat membuatku ditemani tanganku sendiri dua hari berturut-turut. Hal yang belum pernah terjadi padaku. Aku merasa seperti remaja sialan yang baru puber.
Sudah beberapa waktu aku tak melihatnya, dan aku tahu dia menghindariku. Aku tak tahu apakah dia merasakan hal yang sama sepertiku atau hanya malu, tapi itu tak penting. Akan kupaksa dia makan bersama aku dan kakaknya seperti dulu. Dia harus paham aku menguasai negeri sialan ini, dan di rumahku dia tidak akan berhasil menghindariku.
Kuakhiri "mandi"-ku dan turun untuk sarapan. Kuperhatikan sekali lagi dia tidak turun di jam yang sama denganku.
"Di mana adikmu?" Kugigit roti panggang.
"Entahlah. Dia belum turun. Akhir-akhir ini dia bangun terlalu siang."
"Panggil dia sekarang!"
"Kenapa? Kamu tidak mau makan sebagai pasangan?" Dia menyentuh lenganku. "Dia selalu mengganggu kita."
Kuhantam meja dengan tinju hingga garpu melompat di piring. "Kalau dia mau jadi bagian Famiglia, dia harus memenuhi kewajiban rumah ini. Dan hadir di meja makan saat waktunya makan adalah salah satunya."
"Baik. Tapi kamu tahu dia punya gangguan makan. Mungkin dia menghindari makan di jam yang sama denganmu supaya tak perlu muntah sesudahnya."
Kutatap dia dengan pandangan penuh kebencian dan dia langsung menciut. Aku muak dan bisa menghajarnya sekarang juga.
"Kalau dia tidak turun, aku sendiri yang naik ke atas dan menghabisi kalian berdua!"
Dia bangkit, bertumpu dengan kedua tangan di meja. Dengan sikap kalah, dia naik memanggil adiknya. Sial. Aku belum memikirkan kemungkinan dia harus mengakhiri gangguan sialan itu, bahkan kalau perlu dengan paksa.
Kutatap puncak tangga sambil memegang cangkir kopi. Isabela turun sambil menggandeng lengan Ane, memaksanya menuruni tangga. Dia duduk di sebelah adiknya begitu sampai di meja. Dan perhatian itu terasa agak dibuat-buat bagiku.
Aku tak bisa menyembunyikan caraku menatap lekat, sementara Ane menunduk sepanjang waktu makan. Isabela bahkan tak sadar. Seperti biasa, dia menghabiskan waktu membaca majalah gosip.
"Oh ya, Dominic. Hari ini aku pergi kontrol ke dokter kandungan, boleh? Sudah lima belas hari sejak dokter menyuruhku kembali."
"Oke." Aku terus menatap Ane, yang tampak tegang saat kakaknya menyebut konsultasi itu. Sekarang aku sangat penasaran. Kenapa dia setegang itu? Takut kalau kakaknya punya bayi, dia akan ditinggalkan? Itu bisa jadi masalah...
Ane akhirnya membuka mulut. "Boleh saya bertanya, Tuan Salvatore?"
"Satu lagi?" Dia menunduk lagi. Aku tertawa. "Boleh!"
"Apa Tuan sudah mendapat sekolah untuk saya?"
Kuamati dia dengan jari-jari bertaut. "Kau buru-buru ingin pergi dari sini?" Kukatakan dengan sedemikian galak hingga dia tidak nyaman. Istriku sedang menatapku sekarang. Seolah aku peduli. Aku akan memiliki wanita yang kuinginkan, dan dia harus menerimanya. "Ya... Sudah kudapat. Kau berangkat beberapa hari lagi, kalau kuizinkan."
Dia tidak tampak seantusias seharusnya. Mungkin karena dia tahu aku tidak terlalu rela membiarkannya pergi.
Isabela berdiri. "Permisi. Aku mau bersiap untuk konsultasi. Ane? Kau tidak ikut? Kau tahu obat-obat itu membuatku pusing, dan kau juga perlu memeriksakan gangguanmu."
Kuberi isyarat tangan mengizinkannya pergi. Dan dia berdiri dengan patuh seperti yang kusuka. Apa yang terjadi kalau kusuruh dia duduk di pangkuanku? Kuketukkan jariku di meja.
Aku hendak bicara pada Ane, tapi dia pamit dan pergi tanpa menunggu jawabanku. Kuusap wajahku. Aku harus menghentikan omong kosong ini sebelum terlambat.
Ponselku berdering. "Halo?"
"Bos? Fabrizio di sini. Kami butuh Anda datang. Salah satu laboratorium kita di Meksiko diserang, mungkin oleh kartel Sinaloa."
"Bajingan! Aku segera ke sana."
* Beberapa waktu kemudian *
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya aku tiba di laboratorium di perbatasan San Diego dan Tijuana, Meksiko. Kulihat sekeliling dan mayat berserakan di mana-mana. Tempat itu hancur total.
"Bagaimana bahan bakunya?"
"Mereka membawa semua yang bisa dipakai untuk membuat narkoba."
"Oke. Ini aneh. Kita punya kesepakatan dengan Sinaloa. Kita menyediakan jalur, mereka menyediakan kokain murni dan ganja. Jadi kenapa mereka mengambil semua ini?" Sial. Mengambil alih mafia sialan ini terasa jauh lebih mudah saat orang tua itu masih hidup.
"Itu juga yang kupikirkan, Bos. Masalahnya, ada tanda tangan cacing-cacing itu."
"Hubungi pemimpin mereka. Aku mau meluruskan omong kosong ini. Aku tidak mau menyeret kita ke perang tanpa tahu apa yang terjadi."
"Baik." Dia berbalik seperti anjing kampung yang patuh.
Aku menunggu Fabrizio meneleponku. Akan terlihat putus asa kalau bos sendiri yang menelepon untuk memastikan. Kutunggu dengan sabar sementara dia bercakap dalam bahasa Spanyol dengan orang-orang Meksiko itu. Dan ya, aku mengerti setiap kata yang diucapkan. Aku bisa empat bahasa. Tapi itu bukan sesuatu yang kubagi dengan siapa pun. Aku suka tahu persis apa yang dipikirkan setiap orang saat mereka mengira aku tidak mendengar atau tidak mengerti ucapan mereka.
"Bueno, cuándo será? Hablaré con el Don y le haré saber la decisión." (Baik, kapan? Aku akan bicara dengan sang Don dan menyampaikan keputusannya.)
"Apa kata mereka?"
"Bahwa beberapa anak buah kita melanggar kesepakatan, bahwa capo Bruno Rinaldi berhenti menyetor uang untuk bahan-bahan pembuat narkoba campuran, heroin, dan crack, jadi mereka mengambilnya kembali."
"Sial! Bajingan itu akan membayar. Dia bisa memicu perang sialan."
"Masih ada lagi. Dia ingin bertemu beberapa bulan lagi. Tampaknya dia berencana membentuk aliansi yang lebih kuat, seperti pernikahan dengan Famiglia."
"Aku harus membereskan omong kosong ini gara-gara bajingan itu. Akan kupikirkan baik-baik siapa yang kuserahkan untuk dinikahi si keparat itu."
"Lalu Bruno Rinaldi bagaimana?"
"Kita akan berkunjung sebentar sebagai bentuk kesopanan hari ini juga." Aku tersenyum jahat.