NovelToon NovelToon
Salah Sambung, Don yang Tepat

Salah Sambung, Don yang Tepat

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Selingkuh / Dark Romance / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Lorrayna Viana

Tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, di ranjang mereka berdua.

Melisa tidak menangis lama. Ia mengambil pesangon, mengemasi koper tanpa pikir panjang, lalu naik pesawat pertama ke luar negeri. Tujuannya: Roma, Italia, dan satu janji pada diri sendiri, belajar hidup tanpa bergantung pada laki-laki mana pun.

Tapi malam pertamanya di Roma berakhir dengan telepon mabuk ke nomor yang salah.

Di seberang sambungan, bukan mantan tunangan yang mengangkatnya, melainkan Don Matteo Cassano, pemimpin keluarga mafia paling ditakuti di kota itu. Pria dingin yang tak pernah membiarkan perempuan mana pun masuk ke ruang pribadinya itu datang sendiri ke gang gelap tempat Melisa terpojok. Setelahnya, ada ciuman nekat, muntah di sepatu mahal, dan sebuah vila berlapis baja yang pintunya terkunci dari luar.

Paspor hilang. Uang hilang. Satu-satunya orang yang bisa menjamin keselamatannya adalah pria yang sorot matanya sanggup membuat satu ruangan membeku, dan yang menyebutnya milikku.

Melisa menolak menjadi tawanan. Matteo menolak membiarkannya pergi. Di antara tatapan menantang, perintah yang tak boleh dibantah, dan hasrat yang makin sulit disangkal, siapa yang sebenarnya sedang terperangkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorrayna Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Ujian dan Bayangan di Kota

POV Melisa

Pagi berikutnya diawali kesunyian berat di vila. Matteo pergi sebelum matahari terbit untuk mengurus urusan keluarga di pusat Roma, memberiku celah sempurna untuk melakukan apa yang harus kulakukan.

Aku memanfaatkan kunjungan singkat Lavinia ke vila, dengan alasan mengantar beberapa potong tambahan yang perlu dipermak setelah hari belanja, dan membisikkan permintaan di sudut lorong: tes kehamilan dari apotek. Lavinia tak bertanya, hanya menatapku dengan mata terbelalak syok, membawa bungkusan kecil itu tersembunyi di dasar tas kain.

Sekarang, terkunci di kamar mandi luas suite utama, kutatap tongkat plastik mungil di atas meja marmer.

Menit-menit terasa seperti berabad-abad. Jantungku berdentum memekakkan menabrak tulang rusuk. Kutatap cermin dan nyaris tak mengenali perempuan di sana: perempuan Indonesia yang lari dari pengkhianatan mantannya untuk mencoba membangun ulang hidup dan malah terperangkap dalam pusaran badai seorang Don mafia.

Kuturunkan pandangan ke tongkat itu.

Dua garis merah. Jelas dan tak mungkin salah.

Aku duduk di lantai marmer yang dingin, menutup mulut dengan kedua tangan untuk meredam simpul yang naik di tenggorokan. Aku hamil anak Matteo Cassano. Anak pria paling ditakuti di kota, pria yang dikelilingi senjata, perang klan, dan kepemilikan yang dahsyat.

Kalau Matteo tahu, dia tak akan pernah melepaskanku dari jangkauan pandangnya lagi. Bayi itu akan menjadi ikatan terakhir yang mengikatku padanya, tapi juga nyawa paling berharga yang harus kulindungi dengan cara apa pun.

Kuusap air mata yang jatuh cepat, menyembunyikan tes itu di dasar tas pribadiku, lalu mencoba menata sikap di depan cermin. Aku harus bertindak dingin dan memikirkan setiap langkah mulai sekarang.

POV Matteo

Hotel di pusat Roma itu sederhana, tapi pengawasan di sekelilingnya mutlak.

Dari kursi belakang Maserati yang diparkir di seberang jalan, kupandangi pintu masuk utamanya lewat kaca gelap. Marco menyerahkan map berisi pergerakan terbaru pria yang berani menginjak wilayahku.

"Dia membuat dua panggilan pagi ini, Don. Satu ke kedutaan Indonesia mencari informasi keberadaan Melisa dan satu lagi ke detektif swasta lokal. Dia kebingungan, kehabisan uang setelah rekening-rekeningnya di Indonesia dibatalkan, dan memakai sisa sumber dayanya untuk mencoba melacaknya di Roma."

"Dia mengira Italia tempat liburan di mana kebejatan masa lalu diselesaikan dengan permintaan maaf."

Pada saat itu pintu kaca hotel terbuka. Bagas keluar ke trotoar mengenakan pakaian santai, menengok sekeliling dengan kebingungan nyata dan mengecek ponsel setiap tiga langkah. Pria yang menipu Melisa dan membuatnya menyeberangi samudra tanpa membawa apa-apa itu berdiri di sana, beberapa meter dari pandanganku.

Gelombang marah dingin menyapu dadaku. Dorongan keluar mobil dan mengakhiri hidup si malang itu di tempat sangat kuat, tapi Don tak bertindak tanpa perhitungan.

"Jangan sentuh dia di jalan. Biarkan dia berputar-putar sehari lagi. Aku mau dia merasakan beratnya diawasi, mau dia sadar setiap langkahnya di Roma sudah ditandai. Begitu dia benar-benar terpojok, aku sendiri yang akan bicara terakhir."

"Dimengerti, Don. Kita kembali ke vila?"

"Ya."

Pikiran tentang perempuan Indonesia itu tak mau hilang dari kepalaku. Wajahnya yang pucat kemarin, kejauhan di matanya... Ada yang tidak beres pada Melisa, dan aku tak akan tenang sampai tahu apa yang disembunyikannya dariku.

Sesampainya di vila, aku naik ke suite. Kutemukan Melisa berdiri dekat balkon, membelakangiku, memandangi pemandangan properti.

Aku mendekat tanpa suara, melingkarkan lengan di pinggangnya dari belakang. Tubuhnya mengencang sepersekian detik sebelum bersandar rileks ke dadaku.

"Kau diam sekali hari ini, indonesiana."

"Aku cuma memikirkan hidupku, Matteo. Semua yang berubah sejak aku menginjak kota ini."

Kuputar dia menghadapku, memegang dagunya tegas dan memaksanya menatap mata kelabuku.

"Tak ada yang di dunia ini akan mengubah fakta bahwa kau berada di bawah perlindunganku. Tak ada dan tak seorang pun akan merenggutmu dariku. Mengerti?"

Ia menahan tatapanku, dan kulihat kilatan sesuatu yang baru di wajahnya, tekad dalam yang ia coba sembunyikan mati-matian.

"Aku tahu, Matteo. Aku tahu persis di mana aku berada."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!