NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Putra yang Kusangkal

Damon

Aku masih belum bisa mengumpulkan bukti cukup untuk memastikan Felipa Bianchi pelaku kebocoran informasi itu, dan tanpa bukti konkret, perkaranya mandek. Ketiadaan jawaban ini menjengkelkanku lebih dari yang mau kuakui, terutama karena aku terbiasa menemukan solusi untuk segala hal yang sampai ke tanganku. Seumur hidup aku menganalisis fakta, mengidentifikasi kontradiksi, dan memisahkan kebenaran dari kebohongan, tapi jika menyangkut perempuan itu, bahkan keyakinanku pun kehilangan kekokohannya.

Beberapa hari terakhir, aku menghabiskan lebih banyak waktu di Mahkamah Agung daripada di apartemenku sendiri. Setidaknya di sini ada cukup pekerjaan untuk menyibukkan pikiran, sidang yang harus kupimpin, dokumen yang harus kupelajari, dan putusan yang menuntut perhatianku. Di rumah, sebaliknya, kesunyian jadi tak tertahankan. Setiap ruangan menyimpan kenangan tentang Felipa, dari sofa tempat kami biasa duduk sampai kamar tempat dia tertidur di pelukanku, sama sekali tak sadar akan kerusakan yang sanggup dia timbulkan dalam hidupku. Sekeras apa pun aku mencoba menyingkirkan ingatan itu, begitu aku melewati pintu apartemen, semuanya kembali dengan ketepatan yang menjengkelkan, membawa rindu yang kutolak akui dan amarah yang tak bisa kukendalikan.

Aku sedang menutup sebuah sidang yang sangat menguras tenaga ketika ponselku bergetar di atas meja. Panggilan pertama kuabaikan, terpaku pada dokumen di depanku, tapi benda itu berbunyi lagi sebelum aku selesai membaca. Kulirik layarnya dengan tak sabar, dan jari-jariku mengatup di sekeliling pena begitu mengenali nama yang muncul di sana.

Felipa.

Ini pertama kalinya dia mencoba menghubungiku sejak pertemuan terakhir kami, dan aku sama sekali tak tahu apa yang bisa dia katakan setelah semua yang terjadi. Beberapa detik aku mengamati layar yang menyala, merasakan campuran tak enak antara rasa ingin tahu dan dendam, sampai kejengkelan menang. Kutolak panggilan itu dan kublokir nomornya, menutup segala kemungkinan dia kembali mengusik rutinitasku dengan kehadirannya.

Kusimpan ponsel di saku dalam jas dan berdiri, menutup sidang dengan arahan terakhir kepada hadirin. Begitu keluar ruangan, kurapikan toga di bahu dan menyusuri koridor utama, hendak kembali ke ruang kerjaku, ketika kudapati Dominic berdiri beberapa meter di depan. Rekanku itu juga mengenakan toga, tetapi raut seriusnya dan caranya berdiri menghadangku jelas menunjukkan dia tak di sana untuk membicarakan pekerjaan.

"Kamu harus ikut aku, Damon."

Keningku berkerut, kuperiksa dia dengan tak sabar.

"Sejak kapan kamu yang menentukan apa yang harus kulakukan?"

"Sejak aku memutuskan mencegahmu melakukan kebodohan yang lebih besar dari yang sudah kamu lakukan akhir-akhir ini."

Jawaban itu menarik tatapan penuh celaan dariku, tapi Dominic sama sekali tak berniat mundur. Aku sudah cukup lama mengenal pria itu untuk tahu kapan berdebat hanya sia-sia, jadi aku hanya mengembuskan napas berat dan mulai mengikutinya, meski sudah menyesal menurut.

Kami menyusuri koridor utara, menjauhi ruang-ruang sidang dan kantor-kantor yang lebih ramai. Aku mengenali jalannya, tapi tak paham kenapa kami menuju ke sana, sebab sayap itu sudah ditutup berminggu-minggu karena renovasi yang bahkan belum dimulai. Sunyi makin pekat seiring langkah kami, dan aku mulai curiga Dominic sengaja membawaku ke tempat yang tak akan ada saksinya.

"Kalau ini upaya konyol membujukku mengambil cuti, lupakan saja," kataku, mengikuti langkahnya.

"Kamu akan tahu sebentar lagi."

Jawaban itu tak menyenangkanku, dan aku baru hendak menuntut penjelasan ketika dia berbelok di koridor dan berhenti di depan salah satu ruangan kosong. Dua langkah kemudian, barulah aku mengerti maksud sandiwara itu.

Felipa ada di sana.

Dia berdiri dekat dinding, kedua tangannya saling meremas di depan tubuh, sementara seorang perempuan berambut gelap di sisinya memandangku dengan permusuhan begitu nyata, seolah siap menyeberangi jarak di antara kami hanya untuk mencabut kepalaku dengan tangannya sendiri. Segera kukenali ketegangan di bahu Felipa dan cara dia mengangkat wajah saat melihatku, seakan sepanjang menit-menit tadi dia mengumpulkan keberanian untuk pertemuan ini.

Rahangku mengencang.

"Apa-apaan ini, Dominic?" tanyaku sambil berbalik padanya. "Sudah kubilang aku tak mau melihat perempuan ini."

"Aku tahu persis apa yang kamu bilang," jawabnya, tak gentar. "Tapi kali ini, kurasa kamu harus mendengarkannya sebelum mengambil keputusan lain."

"Aku tak minta pendapatmu."

Sebelum aku sempat bicara lagi, Dominic menjauh, meninggalkanku sendirian dengan Felipa, dan temannya mengikuti Dominic. Perempuan berambut gelap itu melewatiku sambil menatapku seolah akulah penyebab semua malapetaka dunia, tapi aku tak membuang waktu untuknya. Perhatianku tertuju pada perempuan yang, belum lama berselang, begitu berarti bagiku.

Felipa maju selangkah ke arahku.

"Damon, tolong, dengarkan aku. Aku cuma butuh lima menit. Aku janji akan pergi sesudahnya."

Suaranya gemetar, nyaris berbisik, dan itu mengusikku dengan cara yang tak bisa kujelaskan. Kuamati dia lebih saksama, menangkap hal-hal yang tadi tak sempat kulihat karena kejengkelanku. Dia tampak lebih kurus, wajahnya cekung dan lingkar gelap di bawah matanya mengabarkan malam-malam kurang tidur. Matanya, yang dulu berbinar bahkan ketika dia hendak membantahku, kehilangan sebagian semangat yang dulu begitu memikatku. Ada kerapuhan dalam sikapnya yang tak cocok dengan gadis lancang yang dulu menghadapi sindiranku tanpa ragu.

Sesaat aku ingin bertanya apa yang terjadi, apakah dia sakit atau ada yang menyakitinya. Kekhawatiran itu muncul sebelum sempat kucegah, dan itu membuatku murka pada diriku sendiri. Aku tak berhak terus peduli pada perempuan yang tak lagi kupercaya, apalagi setelah semua yang kucurigai telah dia lakukan.

Kupasang raut dingin yang biasa kupakai untuk menegaskan bahwa suatu pembicaraan tak menarik bagiku.

"Lima menit, Felipa. Tidak sedetik pun lebih."

Dia memejamkan mata sekejap, seakan menata pikiran, dan menarik napas dalam sebelum kembali menatapku. Tangannya gemetar saat dia melepaskannya, dan kusadari dia berusaha keras untuk tetap berdiri di hadapanku.

"Aku hamil."

Beberapa detik aku terpaku, menatapnya tanpa mengerti mengapa tiga kata itu seolah mengubah udara di sekitar kami. Lalu tawa keras lolos dari tenggorokanku, tanpa humor sedikit pun, sementara aku menggeleng pada apa yang kuanggap usaha paling putus asa yang bisa dia pilih untuk menyerangku.

"Masa," sindirku sambil memiringkan kepala sedikit. "Biar kutebak: anak itu anakku?"

Sarkasmenya jelas, tapi Felipa tak bereaksi seperti yang kuduga. Alih-alih malu atau mencoba membela diri, dia menatapku dengan kebingungan yang tulus, seakan tak mengerti mengapa aku menanggapi kabar itu begini.

"Anakmu, Damon. Aku hanya pernah berhubungan denganmu."

Keyakinan dalam suaranya membuat sesuatu di dalam diriku patah. Aku maju selangkah ke arahnya, merasakan amarah naik ke dadaku dengan kekerasan yang nyaris tak bisa kutahan. Felipa mundur spontan sampai punggungnya menyentuh dinding, dan gerakan itu membuatku menyadari rasa takut mulai menguasai wajahnya. Kulitnya memucat, bibirnya sedikit terbuka, dan jari-jarinya saling mencengkeram, usaha sia-sia menyembunyikan betapa terguncangnya dia.

Meski begitu, aku tak berhenti.

"Kamu sungguh berharap aku percaya itu?" tanyaku, mendekat sampai dia terpaksa mengangkat wajahnya.

"Tipuan ini sudah tua, Felipa. Begitu tuanya sampai menghina karena kamu mengira aku cukup bodoh untuk termakan."

"Aku tidak mencoba menipumu..."

"Diam."

Felipa spontan mengangkat tangan untuk melindungi diri. Gerakan itu seharusnya membuatku berpikir, tapi aku terlalu dibutakan curiga untuk melihat apa pun selain yang sudah kuputuskan untuk kupercaya.

"Aku sudah vasektomi," ucapku, mengucapkan tiap kata dengan dingin yang terukur.

"Kamu tidak tahu itu sebelum tidur denganku, jadi jangan coba meyakinkanku bahwa kamu hamil olehku. Tak ada kemungkinan sedikit pun anak itu milikku."

Felipa menatapku seakan baru kupukul. Matanya dipenuhi air mata yang dia coba tahan dengan berkedip berulang-ulang, dan bibirnya gemetar mencari sesuatu untuk dikatakan. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, tak kulihat sedikit pun niat melawan darinya. Hanya ada nyeri yang begitu jelas di wajahnya sampai sesaat aku merasakan dorongan konyol untuk merengkuhnya dan menghapus kata-kata yang baru kuucapkan.

Tapi ingatan akan pengkhianatannya masih menggema di dalamku.

Aku tak boleh lupa apa yang terjadi hanya karena dia tampak sedih. Kalau Felipa mampu mendekatiku demi uang, dia juga mampu memakai kehamilan untuk mengikatku padanya. Aku tak akan membiarkan dia mengubah perasaanku, kalau masih ada yang tersisa di dalam diriku, menjadi satu alat lagi untuk mencapai tujuannya.

"Cari pria bodoh lain untuk mengakui anak itu," kataku, akhirnya mundur. "Aku tak ada hubungannya dengan cerita ini."

Air mata mengalir di wajah Felipa, tapi dia tak mencoba menahanku maupun mendekat lagi. Dia hanya tetap bersandar di dinding, menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kuartikan tanpa merasakan sesuatu mencengkeram dadaku.

Aku sudah mengatakan semua yang perlu kukatakan.

"Jangan cari aku lagi, Felipa."

Aku membalikkan badan sebelum dia sempat menyebut namaku lagi dan berjalan menyusuri koridor, menjaga wajah tak terbaca meski ada tekanan mengganggu di dadaku. Langkahku bergema di lantai marmer, makin jauh dari ruangan tempat kutinggalkan dia, tapi sunyi yang menemaniku tak membawa kelegaan yang kuharapkan.

Aku terus berjalan, menolak menoleh ke belakang, sementara kata-katanya berulang di kepalaku dengan kegigihan yang menjengkelkan. Aku hamil.

Kukepalkan tangan di dalam saku dan mempercepat langkah, seakan bisa meninggalkan kabar itu bersama perempuan yang baru saja kutinggalkan. Lagi pula, aku pria yang percaya pada fakta, bukan air mata, dan aku tak akan membiarkan Felipa Bianchi menghancurkan sisa kecil ketenanganku.

Setidaknya itulah yang kucoba yakinkan pada diriku sambil kembali ke ruang kerjaku, membawa kegelisahan yang tak akan dibungkam perkara mana pun, sidang mana pun, atau putusan mana pun dalam waktu dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!