**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Nasi Lauk untuk "Orang Kampung"
Bagas menepuk saku yang menyimpan gelang bayi itu, lalu kembali memasang wajah dingin.
"Makan dulu."
Ia mengambil gagang koper Kirana sebelum perempuan itu sempat menolak. Koper tersebut diangkat ke sudut aman ruang tamu, kemudian Bagas memberi instruksi singkat kepada petugas agar tidak ada orang lain menyentuhnya.
"Barangku bisa kujaga sendiri," kata Kirana.
"Kalau mau menyeretnya ke kantin, silakan."
Kirana melirik koper besar, lalu memilih diam.
Mereka keluar menuju jalan setapak di dalam kompleks. Lampu-lampu mulai menyala. Beberapa prajurit yang berpapasan memberi hormat kepada Bagas, kemudian diam-diam menoleh pada Kirana.
Kerudung kusut, tunik pudar, sandal berdebu. Penampilannya sama sekali tidak cocok dengan perempuan kaya dari Surabaya yang pernah menjadi bahan pengaduan.
"Itu siapa?"
"Katanya orang kampung."
"Bawa koper segala."
Bagas memperlambat langkah sampai berjalan sedikit di belakang Kirana. Setiap kali ada orang mendekat dari arah berlawanan, tubuhnya bergeser ke sisi luar, memotong tatapan dan ruang sempit di jalan.
Kirana menyadarinya setelah ketiga kali.
"Aku tidak akan pecah hanya karena dilihat orang."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu berjalan seperti pengawal?"
"Jalannya sempit."
Kirana hampir membalas, tetapi melihat lebar jalan yang cukup untuk dua mobil. Ia menahan senyum yang terasa tidak pantas muncul malam ini.
Di depan kantin, Bagas berhenti.
"Sebelum masuk, dengarkan."
Nada perintah itu membuat Kirana otomatis menoleh.
"Besok kita ke dokter. Kalau usia kehamilan sesuai dan dokter memastikan kondisimu, aku akan bertanggung jawab. Kalau tidak sesuai, kamu pulang."
"Sesuai."
"Aku tidak minta keyakinanmu. Aku minta hasil pemeriksaan."
"Baik. Aku setuju."
"Selama belum jelas, jangan mengatakan hubungan kita kepada siapa pun di sini."
Kirana mengerutkan kening. "Kamu malu?"
"Aku melindungi namamu dan pekerjaanku dari gosip berikutnya. Di luar, kamu kerabat dari kampung yang sedang punya urusan keluarga."
"Orang kampung?"
Bagas menatap tuniknya. "Kamu sendiri yang memilih pakaian itu."
"Untuk menghindari pencuri, bukan untuk menyamar sebagai kerabatmu."
"Bagus. Berarti ceritanya cocok."
Kirana ingin kesal, tetapi perutnya kembali berbunyi. Kali ini Bagas pura-pura tidak mendengar. Ia membuka pintu kantin dan mempersilahkannya masuk lebih dulu.
Aroma nasi hangat, ayam berbumbu, dan tumisan sayur langsung membuat lambung Kirana berkontraksi. Ia menelan ludah sambil berusaha tidak menatap piring orang lain.
Bagas berdiri di depan etalase. "Nasi setengah, sayur bening, tempe."
Pesanan paling sederhana.
Kirana tidak memprotes. Ia memang datang meminta pertanggungjawaban, bukan menuntut dijamu.
Namun ketika pelayan hendak menutup piring, tatapan Bagas menangkap mata Kirana yang tertahan pada ayam bakar milik prajurit di sebelah. Wajahnya tetap datar.
"Tambah ayam. Telur juga."
"Mas Bagas, telurnya tinggal balado," kata pelayan.
"Jangan pakai sambal. Dia sedang sakit perut."
Kirana menatapnya. "Aku tidak sakit perut."
"Kamu muntah dan belum makan seharian. Itu cukup."
Bagas menambahkan sup bening, dua potong tahu, dan susu kotak. Piring Kirana akhirnya jauh lebih penuh daripada miliknya sendiri.
Ia mengeluarkan dompet cokelat yang pinggirnya sudah terkelupas. Tidak ada kartu eksklusif atau gulungan uang seperti milik lelaki di lingkungan lama Kirana. Bagas menghitung lembaran dengan teliti, membayar dua porsi, lalu menyimpan struk di sela dompet.
Kirana teringat hinaannya tentang lelaki desa yang mencari jalan pintas menuju kekayaan. Di hadapannya justru berdiri seorang perwira yang bahkan tidak membeli dompet baru meski benda itu sudah lama pantas diganti.
"Nanti aku ganti uang makan ini," katanya.
"Tidak perlu."
"Aku punya uang."
"Simpan untuk pemeriksaan besok."
"Katanya kalau anak itu bukan anakmu, aku harus pulang. Berarti seharusnya kita berbagi biaya sampai hasilnya jelas."
Bagas menatapnya, seperti tidak menyangka Kirana masih sempat menghitung keadilan dalam perkara sepiring nasi. "Kalau begitu catat sebagai utang. Bayar setelah kamu tidak pucat lagi."
"Aku akan mengingatnya."
"Aku yakin. Kamu kelihatan seperti orang yang mengingat semua kesalahan orang lain."
"Termasuk kesalahanku sendiri," jawab Kirana pelan.
Bagas tidak menanggapi, tetapi jemarinya yang memegang baki berhenti sesaat.
"Katanya cuma makan dulu," gumam Kirana.
"Itu makanan, bukan rumah baru. Jangan berlebihan."
Mereka memilih meja di sudut. Percakapan di sekitar melambat saat Bagas menarik kursi untuk perempuan yang disebut sebagai kerabat kampung itu.
Kirana terlalu lapar untuk memedulikan tatapan. Ia membaca doa singkat, lalu mulai makan. Meski setiap suapan kecil dan gerakannya tetap rapi, nasi di piring berkurang dengan cepat.
Dua prajurit di meja belakang berbisik.
"Orang kampung tapi cara makannya kayak orang kota."
"Saputangannya juga bukan barang pasar."
Bagas menoleh satu kali.
Bisikan itu langsung berhenti.
"Kamu sering membuat orang diam hanya dengan melihat?" tanya Kirana.
"Lebih hemat tenaga."
"Sayang sekali cara itu tidak berhasil kepadaku."
"Aku sudah menyadarinya sejak Surabaya."
Ada sesuatu yang hampir menyerupai humor di mata Bagas. Hanya sekejap, lalu menghilang ketika Gunawan datang membawa map.
"Mas Bagas, laporan latihan." Gunawan berhenti setelah melihat meja. "Saya kira tamunya sudah diminta pulang."
"Besok dia ada urusan medis."
"Medis?"
Bagas memberi tatapan peringatan.
Gunawan mengangkat kedua tangan. "Baik. Saya tidak tanya. Tapi Bu Yanti sudah cerita ke dua orang bahwa ada perempuan dari kampung mencari Mas Bagas sambil membawa koper."
"Hentikan sebelum menyebar. Bilang urusan keluarga."
"Siap."
Gunawan pergi, tetapi sempat melirik Kirana dengan rasa ingin tahu yang makin besar.
"Istri dia?" tanya Kirana.
"Siapa?"
"Bu Yanti."
"Ya."
Kirana meletakkan sendok. "Pantas dia bebas keluar masuk."
"Jangan cari masalah dengannya."
"Aku tidak mencari. Masalah itu yang dua kali datang menghampiriku."
Bagas menyandarkan punggung, lalu menghela napas. "Malam ini kamu akan ditempatkan di wisma tamu perempuan. Aku sudah menghubungi pengelola. Jangan keluar sendirian."
"Aku bisa menyewa penginapan."
"Di luar gerbang, malam-malam, dalam keadaanmu? Tidak."
Satu kata terakhir jatuh seperti keputusan final. Anehnya, Kirana tidak merasa dikendalikan. Untuk pertama kalinya sejak rumahnya disita, ada seseorang yang memikirkan di mana ia akan tidur sebelum menanyakan berapa uang yang dimilikinya.
"Telepon Bu Ratna setelah sampai wisma," lanjut Bagas. "Bilang kamu sudah bertemu denganku."
"Mama tidak memintamu melapor."
"Aku yang meminta. Dia membiarkan anaknya bepergian sendiri karena percaya aku akan menerima kedatanganmu. Setidaknya dia berhak tahu kamu tidak tidur di terminal."
Kirana menunduk pada susu kotaknya. "Mama bilang kamu tidak terlihat seperti laki-laki yang lari dari tanggung jawab."
"Penilaian ibumu terlalu cepat."
"Penilaianku dulu juga terlalu cepat."
Bagas menatapnya. Kali ini Kirana tidak menghindar.
"Itu permintaan maaf?" tanyanya.
"Belum. Aku akan meminta maaf setelah kamu berhenti menanyakan apakah anak ini anakmu."
"Berarti kita sama-sama keras kepala."
"Aku menempuh perjalanan sehari untuk datang ke sini. Tentu saja aku keras kepala."
Sudut bibir Bagas bergerak tipis. "Makan. Besok kita berangkat pagi. Jangan minum obat atau jamu apa pun sebelum dokter memeriksa."
"Aku tidak minum apa-apa."
"Vitamin?"
Kirana menggeleng.
"Kita beli setelah dokter memberi resep."
Ia mengucapkannya begitu saja, bukan sebagai kemungkinan, melainkan rencana yang sudah memasukkan Kirana ke dalam jadwal esok hari.
Ia kembali makan sampai ayam, telur, dan sup habis. Hanya sedikit nasi tersisa di sisi piring.
Bagas yang sejak tadi makan lebih lambat menatap piringnya.
"Masih lapar?" tanyanya pelan.
Kirana sempat ingin menjaga harga diri.
Lalu ia mengangguk jujur.