Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.
Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."
Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.
Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keesokan Harinya
Rana (narasi)
Keesokan harinya dokter datang memulangkanku. Waktu aku dan Dinda keluar dari puskesmas, Kerempeng sudah menunggu di luar dengan mobil. Dia mengantar kami ke rumah mereka, berhenti di depan, aku dan Dinda turun, lalu dia kembali ke lapak.
Begitu masuk rumah, kulihat Bu Lastri sedang menata meja sarapan.
"Pagi."
"Pagi, Sayang. Gimana perasaanmu?"
"Sudah lebih baik, terima kasih."
"Ayo, kita sarapan." Kami ke meja dan sarapan tanpa bicara.
"Saya mau mandi dulu." Aku membawa cangkirku ke bak cuci.
"Silakan, Sayang. Barang-barangmu sudah Ibu taruh di kamar Arga, itu perintah dia. Ibu ambil dari rumahmu apa yang Ibu rasa perlu, tapi kalau kurang apa-apa nanti kita ambilkan."
"Terima kasih." Aku jadi salah tingkah.
"Aku juga mau naik mandi. Gimana kalau sore ini kita belanja?" kata Dinda.
"Nggak ada semangat, lagian nggak ada uang."
"Ada amplop di atas kasurmu, Arga yang nyuruh Ibu kasih ke kamu. Nak, uang itu bukan masalah, anak Ibu punya banyak, dan kamu boleh beli apa saja," kata Bu Lastri.
"Kalau gitu ke mal sore ini, bagus buat menghibur kamu," kata Dinda, dan aku akhirnya setuju.
Aku naik ke kamar dan melihat amplop penuh uang di atas kasur. Kuhitung, isinya Rp 12,5 juta. Aku kaget, soalnya nggak pernah pegang uang sebanyak itu. Aku mandi lama, memakai kaus Arga, berbaring, menyalakan AC, dan ketiduran.
Aku terbangun karena bau masakan yang enak sekali. Aku bangun dan berganti baju, pakai jumpsuit pendek biru, rambut kuikat, sandal jepit, minum obat, lalu turun ke dapur.
"Ibu baru mau panggil kamu makan siang," kata Bu Lastri. Aku melihat Dinda dan Cantika duduk di meja.
"Dia ngapain di sini, Tante?" tanya Cantika.
"Dia calon menantu Ibu, Cantika. Sekarang dia pacar resmi Macan." Cantika menatapku dengan tatapan membunuh, kalau bisa pasti aku sudah dibunuhnya. Aku nggak bicara dan duduk di meja.
"Macan nggak pernah mengakui siapa pun."
"Ya, selalu ada yang pertama." Aku membalas tatapannya.
"Kakak iparku itu lagi jatuh cinta, dan dia bakal mengakui Rana begitu keluar dari penjara," kata Dinda, dan Cantika melotot padanya.
"Sudah, ayo makan, nanti dingin."
Kami makan siang tanpa bicara. Sesudahnya aku membantu Bu Lastri mencuci piring, sementara Cantika pergi ke kolam renang.
"Bu Lastri, boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu, tanya saja." Dia mengeringkan piring.
"Cantika sering ke sini ya? Saya tanya karena saya tahu dia dan Arga pernah ada apa-apa."
"Nggak, Rana. Dulu dia jarang ke sini, baru sering setelah Arga ditahan. Dia anak sahabat Ibu yang sangat Ibu sayangi, tapi tenang saja, Arga nggak pernah serius sama dia. Di rumah ini dia juga nggak pernah membawa perempuan mana pun, soalnya Ibu selalu bilang di rumah Ibu cuma perempuan pilihannya untuk menjalani hidup yang boleh masuk." Dia bicara serius dan aku mengangguk.
Selesai mencuci, aku ke ruang tamu, duduk di sofa, mengambil ponsel dan memutuskan menelepon Arga. Di dering kedua dia mengangkat.
📱"Hai, kamu bisa bicara?"
📱"Hai, cantik, bisa. Gimana keadaanmu?"
📱"Lebih baik. Aku mau bilang, Dinda ngajak aku ke mal. Boleh aku pakai uang di amplop itu?"
📱"Ya boleh lah, dan kalau kurang tinggal minta ke Kerempeng."
📱"Terima kasih."
📱"Rana, jadi lo ngerasain sesuatu nggak buat gue?" Aku terkejut.
📱"Aku suka sama kamu, tapi pelan-pelan ya."
📱"Nggak apa-apa. Gue juga suka banget sama lo, serius, gue udah kangen berat."
📱"Aku juga." Kudengar Dinda memanggilku. "Aku tutup ya, Dinda manggil."
📱"Oke, cantik, sampai nanti." Dia mematikan ponsel.
Dinda menyuruhku bersiap ke mal. Aku pergi begitu saja, cuma memakai sepatu kets putih, riasan tipis, dan parfum, lalu mengambil tas, memasukkan sejumlah uang, dan turun menunggu Dinda di ruang tamu. Aku duduk di sofa, dan Cantika mendekat.
"Kebahagiaan lo itu sebentar lagi habis, jadi nikmatin aja." Aku diam.
"Dia nggak cerita ya, hari Rabu gue jenguk dia?" Dia mengangkat alis.
"Kamu bohong."
"Tanya aja Lia, gue ada di belakangnya di antrean masuk." Dia pergi dari ruangan sambil menggoyang pinggul.