Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Black Card
Langkah kaki Fattah terasa berat saat ia kembali menyusuri lorong kabin Business Class dan tiba di kursi tempat duduknya. Di sana, Elena tampak duduk tenang sambil menyantap hidangan makan siangnya yang sempat tertunda.
Melihat kedatangan Fattah, gadis itu tidak melontarkan interogasi, tidak pula menunjukkan tatapan mengintimidasi atau menuntut penjelasan.
Elena hanya menyambutnya dengan senyuman tipis yang menenangkan, seolah memahami bahwa pria di sampingnya itu baru saja membereskan beban emosional yang teramat berat.
Fattah membalas senyuman itu dengan tatapan penuh terima kasih, lalu perlahan kembali duduk dan mulai menikmati sisa makan siangnya dalam keheningan yang sarat makna.
Tidak lama setelah makan siang selesai, para awak kabin kembali bergerak teratur untuk membersihkan sisa makanan dan merapikan meja kecil di hadapan para penumpang.
Suasana kabin berangsur-angsur menjadi lebih temaram dan tenang, menghantar sebagian besar penumpang ke dalam istirahat siang.
Kelelahan fisik serta rentetan beban pikiran yang menghantam sejak malam tadi akhirnya meruntuhkan pertahanan Elena. Perlahan-lahan, kelopak mata gadis itu terasa semakin berat. Tanpa disadarinya, seiring goyangan halus pesawat di udara, kepala Elena terantuk pelan ke samping, lalu bersandar nyaman di atas bidang pundak Fattah.
Fattah yang merasakan sentuhan lembut itu tidak bergerak sedikit pun. Ia membiarkan bahunya menjadi tempat bersandar bagi wanita di sisinya, memberikan rasa aman di tengah badai pikiran yang masih berkecamuk di kepalanya.
Di sela-sela tugas penerbangannya, Savana beberapa kali terlihat berlalu-lalang di lorong kabin untuk melayani kebutuhan penumpang yang lain. Setiap kali langkah kakinya melewati deretan kursi Business Class tersebut, tatapannya tak sengaja beradu dengan pemandangan di depannya: Fattah, pria yang dulu ia cintai, kini duduk berdampingan dengan wanita lain, sementara bahunya menjadi sandaran yang menenangkan bagi Elena.
Savana hanya bisa menelan ludah kelat, meredam gejolak perih dan sesak di dadanya—sebuah konsekuensi pahit dari keputusan dan ego yang telah ia pilih sendiri. Di sisi lain, Fattah menatap pilu kepergian mantan kekasih ibu dari anaknya itu, merasakan sisa-sisa iba dan rasa bersalah yang takkan pernah mudah untuk dihapuskan.
Suara merdu dari pengeras suara kabin akhirnya mengumumkan bahwa pesawat Garuda Indonesia yang mereka tumpangi akan segera bersiap melakukan pendaratan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman kembali menyala terang.
Di lorong kabin, Savana bergerak cekatan bersama rekan sesama awak kabin, memeriksa kembali keamanan laci penyimpanan dan memastikan seluruh penumpang telah duduk dengan posisi aman. Namun, saat langkah kakinya terpaksa melintas tepat di sisi kursi Business Class tempat Fattah berada, sebuah gerakan cepat terjadi.
Grep.
Lengan berseragam pramugari milik Savana tertahan sesap oleh genggaman tangan Fattah. Gerakan itu begitu cepat namun terukur, tidak menyakiti, namun cukup kuat untuk menghentikannya seketika.
Sebelum Savana sempat melayangkan protes atau menarik tangannya, Fattah dengan sigap menyelipkan sebuah benda tipis berwarna hitam pekat ke dalam genggaman telapak tangan wanita itu—sebuah black card eksklusif dengan limit tak terbatas yang memuat dana bernilai miliaran rupiah untuk jaminan hidup masa depan anak mereka, Aurora.
Napas Savana tercekat. Sontak, ia hendak menarik tangannya dan melemparkan kartu tersebut kembali ke pangkuan Fattah. Namun, tepat sebelum emosinya meledak, manik mata Savana beradu dengan tatapan tajam yang memancarkan dominasi mutlak seorang pria yang tidak akan menerima penolakan.
Di saat yang bersamaan, profesionalismenya sebagai seorang awak kabin senior mengambil alih. Savana melirik sekilas ke samping; Elena masih terlelap tenang, kepalanya bersandar nyaman di bidang bahu Fattah, sama sekali tidak boleh terusik oleh drama apa pun di detik-detik pendaratan ini.
Menyadari bahwa membuat keributan di kabin hanya akan mempermalukan dirinya sendiri dan mengganggu kenyamanan penumpang lain, Savana menggigit bibir bawahnya keras-keras.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengepalkan jemarinya, menyembunyikan kartu tersebut ke dalam saku rok seragamnya, lalu membuang muka dan melangkah pergi meninggalkan Fattah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Roda pesawat Garuda Indonesia berdecit pelan saat menyentuh landasan Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Setelah proses debarkasi yang cukup padat, Elena dan Fattah langsung keluar terminal dan memesan taksi eksekutif menuju jantung kota.
Tujuan pertama mereka bukan langsung ke tempat Gavin, melainkan sebuah hotel mewah bintang lima di pusat kota Surabaya, JW Marriott, untuk meletakkan barang bawaan dan menenangkan sejenak kepala mereka yang sama-sama penat.
Begitu tiba di lobi megah berbalut marmer dingin itu, proses check-in berjalan cepat. Sesuai batasan profesional yang tak diucapkan, mereka memesan dua kamar terpisah. Fattah menyerahkan kunci kamar kepada Elena di depan pintu kamar masing-masing sebelum akhirnya berpamitan untuk masuk ke kamar sebelah.
"Istirahatlah sebentar, Elena. Nanti kita atur langkah berikutnya untuk Gavin," ucap Fattah dengan suara berat namun menenangkan, sebelum ia memutar gagang pintu kamarnya sendiri.
Elena mengangguk pelan. Di dalam kamarnya yang bernuansa elegan dengan pemandangan lanskap kota Surabaya dari balik kaca jendela tinggi, Elena meletakkan tasnya. Ia berniat merebahkan diri sejenak untuk meredakan denyut di pelipisnya.
Namun, baru saja ia melepas sepatu dan ponsel di genggamannya bergetar pelan. Sebuahnotifikasi pesan masuk terpampang di layar.
Nama pengirimnya: Julian.
“El... Kamu di mana? Aku merindukanmu, El.”
Elena menatap layar ponselnya dengan sorot mata datar. Tidak ada secercah kehangatan pun yang terbit di dadanya yang ada hanyalah rasa lelah dan kehampaan yang semakin pekat setiap kali pria itu mencoba mendekat.
Dengan jemari yang bergerak dingin tanpa keraguan, Elena mengetik balasan singkat yang menusuk.
“Aku sedang diluar kota Julian.”
Elena langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur king-size, enggan membiarkan pesan pria masa lalunya itu merusak sisa kewarasannya hari ini. Ia lantas memilih memejamkan mata, membiarkan keheningan kamar hotel merengkuhnya.
Di sisi lain dinding pembatas, di dalam kamarnya yang mewah, Fattah justru mendapati dirinya jauh dari kata tenang.
Pria itu berdiri di dekat kaca jendela besar, menatap lalu-lalang kendaraan di jalanan Surabaya yang tampak kecil dari lantai belasan. Jas kerjanya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka dan lengan yang digulung sebatas siku. Namun, gelisah di dadanya jauh lebih menyesakkan daripada beban pekerjaan apa pun yang pernah ia tangani.
Pikiran Fattah terusik hebat. Pertemuannya dengan Savana di galai pesawat tadi seolah membuka kembali kotak Pandora yang selama ini terkunci rapat.
Bayangan air mata Savana, kebohongan keji yang ditebar oleh ibu tirinya, hingga nama kecil yang baru saja ia ketahui Aurora Odelyn Nakesya berputar tanpa henti di kepalanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Fattah yang dikenal selalu tenang, rasional, dan memegang kendali penuh atas segala situasi, merasa begitu gundah. Hatinya terbelah. Di satu sisi, ia menyadari ada benih-benih ketertarikan yang tulus pada Elena wanita di kamar sebelah yang kini tengah berjuang dengan beban hidupnya sendiri.
Namun di sisi lain, ikatan darah yang tak terbantahkan dengan Aurora dan rasa bersalah yang menggunung pada Savana membuatnya merasa tersiksa.
Fattah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas berat yang sarat akan beban. Badai besar baru saja dimulai, dan ia tahu, ketenangan semu ini tidak akan bertahan lama.
ayo tor lanjutin update nya