NovelToon NovelToon
My Bestfriend Prince

My Bestfriend Prince

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:96.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yourdream

Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya

Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita

Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

**Hayoo, siapa yang sampai sekarang belom pernah like? wkwk.

Di like ya, karena satu like dari kalian itu sangat berharga untuk saya.

Dan terima kasih atas partisipasinya!

Happy Reading😄**

[[]]

Irine sudah sampai dirumahnya dengan Yuan yang menghantarkannya pulang. Jessy sangat senang anaknya sudah sampai dirumah.

"Ya ampun, sayang. Kenapa kamu bisa diganggu sama preman-preman itu?" tanya khawatir dari Jessy.

"Bisa lah, Bun. Orang Irine lagi sendirian nungguin bus."

"Kok bisa sendirian? Emangnya kamu gak ada temen yang bareng sama kamu?"

Irine menggeleng. "Gak."

"Terus, Yuan?"

Jangan sampe bunda marah sama Yuan gara-gara kesalahan yang gak Yuan lakuin.

"Yuan sempet nawarin Irine. Tapi Irine-nya yang gak mau."

Jessy menabok lengan Irine dengan kesal.

"Kenapa juga kamu gak mau bareng sama Yuan? Hah? Gini kan jadinya. Yuan juga yang susah."

"Iya-iya, maaf deh. Lain kali Irine gak gitu lagi."

"Yaudah, kamu mandi sana. Habis itu makan malam."

"Hm."

"Oh ya, Irine. Habis makan kamu langsung siap-siap ya."

Irine menoleh dengan mengernyit. "Mau kemana?"

"Kerumahnya Om Yasa."

"Ngapain?"

"Tante Rena resmi buka cabang baru di klinik kecantikannya. Jadi ntar malem, mereka ngadain acara syukuran sekalian silaturahmi."

Irine menghela nafas. Berarti, kalau gitu gue ketemu sama Yuan lagi dong?

"Udah cepet. Nanti keburu kemaleman."

"Iya-iya, Irine mandi habis itu langsung makan."

"Eh, kayaknya kamu gak usah makan aja deh. Kalau misalkan kamu makan dulu, bakal tambah kemaleman nantinya. Kamu makan di rumahnya Yuan aja."

"Hah? Gak ah, malu-maluin amat."

"Halah, biasanya juga kamu emang malu-maluin bunda sama ayah," ucap Jessy. Irine mendecak dan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.

[[]]

Ah, bosannya. Ia terduduk sendirian di sofa sementara yang lainnya sibuk. Kedua orangtuanya pun sangat sibuk mengobrol dengan kedua orangtuanya Yuan. Sementara Yuan? Tidak kelihatan sama sekali dari tadi.

Irine pun sempat melihat Ersa ada disini. Wajar sih dia juga turut diundang, karena Tante Rena dan Tante Jiya, ibunya Ersa, bekerja sama.

Hanya secangkir milkshake chocolate yang menemani kesendiriannya. Ia ingin pulang, namun dengan siapa?

Tiba-tiba dari sudut ekor matanya, ia melihat seseorang turun dari lantai atas.

"Akhirnya kamu turun juga," ucap Rena. Irine menebak pasti orang itu adalah Yuan.

Dari arah berlawanan, Ersa datang menghampiri semua orang disana itu. Ia lihat, bahwa busana antara Yuan dan Ersa terlihat senada. Berbanding terbalik dengan dirinya yang menggunakan dress berwarna biru lautnya.

Ersa pun tampak sangat cantik pada malam ini. Ah, jika kemarin dirinya yang senada dengan Yuan, tapi saat ini justru Ersa lah yang senada dengannya. Ada perasaan cemburu melihat keduanya.

"Wah, baju kalian samaan ya. Kalian janjian?" tanya Rena. Ersa tersenyum dan menggeleng.

"Ah, gak kok, Tante. Kita berdua gak janjian."

Jessy langsung melihat ke arah anaknya. Justru ia melihat jika Irine justru tengah melihat ke arah lain. Kadang Jessy greget sendiri sama anaknya itu.

"Ren, saya ke Irine dulu ya. Kasihan dia sendirian," pamit Jessy pada Rena.

"Oh, Irine juga ikut ya? Kenapa gak suruh kumpul sini aja? Kan seru tuh jadinya," ucap Rena.

Yuan hanya terdiam saja ketika nama Irine disebut. Jujur, ia juga kangen bertemu dengan Irine. Karena sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu semenjak kejadian di toilet lalu.

"Kenapa gak kamu aja, Yuan?" tanya Yasa.

"Yuan ke dapur dulu, Yah," ucap Yuan.

"Om, Ersa pamit sebentar ke dapur juga," pamit Ersa juga.

Yasa menghela nafas.

"Kayaknya mereka berdua lagi berantem," ucap Yasa.

"Udahlah, hal biasa juga. Biasanya juga mereka sering berantem, kan? Entar juga baikan lagi," ucap Kean.

Jessy menoleh ke Irine lagi. Kini, Irine menatap kearahnya. Tak terlalu kentara jelas, karena memang penglihatannya yang semakin lama sudah semakin rendah. Irine ... menangis?

Apa yang udah terjadi?

[[]]

Pukul sebelas tepat, keluarga Irine memutuskan untuk pamit pulang. Kini, mereka bertiga sedang dalam perjalanan. Di kursi belakang, Irine hanya terus menatap jalan raya saja.

"Irine, ada apa? Cerita sama kita berdua."

Irine menoleh dan menggeleng.

"Gak ada apa-apa, Bun."

"Kenapa kamu diam aja disana? Biasanya ngerecokin Yuan terus? Hm?" Kini Kean bertanya.

"Lagi males aja, Yah." Irine mengalihkan pandangannya lagi ke arah jalan raya. Mungkin jalan raya menarik perhatiannya.

"Kamu lagi berantem ya sama Yuan?"

"Gak, kita gak lagi berantem." Entahlah, Irine juga gak tahu, Bun. Biasanya, kalau kita berantem, gak selama ini. Apa Yuan memang bener-bener gak mau perduli sama gue lagi? Lanjutnya dalam hati.

[[]]

Hari-hari masih seperti biasa. Irine berangkat ke sekolah, tapi bedanya, akhir-akhir ini ia selalu berangkat seorang diri.

Entah kenapa, Irine merasa kehilangan. Saat ia tiba di sekolahannya, seperti biasa ketika mobil Yuan tiba, semua perempuan langsung mengerubunginya.

Tapi justru yang lebih tidak enaknya, saat Yuan berlari ke pintu sebelahnya. Dan membukakan pintu untuk orang yang berada didalam mobilnya.

Ersa baru saja turun dari mobilnya. Sementara Irine hanya terdiam di tempatnya sambil terus menyaksikan bagaimana mereka berdua berusaha menghindar dari cewek-cewek di sekeliling mereka.

Biasanya, Irine lah yang selalu melindungi Yuan dari cewek-cewek alay itu. Irine tersenyum miris. Segitu cepatnya kah, posisinya diganti dengan Ersa?

"Hay, Rin!" Secil datang dari arah belakangnya sambil merangkul Irine.

Irine menghela nafas dan tersenyum pada Secil.

"Tumben pagi," sindir Irine.

"Lagi pengen aja. Oh ya, kemarin si Sastra ngajak lo kemana?"

"Kerumahnya."

"Cieee, berarti udah ketemu sama camer dong?" goda Secil.

"Dibalik kata cie pertanda cemburu. Bilang aja kalau lo lagi cemburu sama gue," ucap Irine dan langsung berjalan terlebih dahulu.

Sementara Secil terdiam karena ucapan Irine. Irine yang sadar jika Secil masih ditempatnya pun menoleh.

"Cil, ayo. Lo mau nemenin pak satpam jaga gerbang?" Canda Irine. Secil tersenyum dan menghampiri Irine. Mereka masuk ke kelas dengan bersama-sama.

Ketika mereka sampai dikelas. Mereka melihat ketika Vinkan sibuk dengan buku-buku di mejanya.

"Vin, lagi ngerjain apaan? Biasanya Lo udah selesai duluan dari kita berdua?" tanya irine dan langsung duduk ditempatnya.

Vinkan segera menutup bukunya dan menyembunyikannya di bawah laci mejanya.

"Ah, kata siapa gue belom selesai? Gue udah selesai di hari dimana Bu Cinta kasih PR," ucap Vinkan. Secil duduk di sebelah Vinkan. Irine duduk dengan Luta, sekretaris kelasnya.

"Ooh, kirain belom."

"Kalian berdua udah pada makan belom?" tanya Secil pada Vinkan dan Irine.

"Belom."

"Udah."

Sahut mereka bersamaan. Dan tentu yang menjawab belom sudah pasti Irine. Ah, cewek itu memang kebiasaan tidak pernah sarapan pagi. Apalagi semenjak hubungan dirinya dan Yuan merenggang.

Secil mendecak.

"Kantin yuk! Mumpung belom bel."

"Gak ah. Males."

"Siapa tau aja dapet makanan dari Sastra? Ya gak?" goda Secil.

"Lo masih belum baikan sama Yuan juga, Rin?" tanya Vinkan. Irine hanya diam menunduk.

"Kapan Lo mau baikannya?"

Perbincangan mereka harus terhenti dan niatan Secil yang ingin ke kantin pun pupus setelah Pak Bima masuk ke kelas mereka.

[[]]

Irine pergi ke perpustakaan karena ia sangat malas ke kantin. Padahal, cewek itu belum mengisi perutnya sama sekali. Dan juga, ia mempunyai magh di lambungnya yang memang belum parah.

Tanpa Irine tahu, di sebrang tempat ia duduk ternyata Yuan tengah duduk disana. Mengerjakan soal-soal dengan serius.

kruwek kruwek (suara perut irine )

Suara itu sangat terdengar cukup keras. Irine langsung menunduk malu. Tapi saat ia melihat ke sekitar, tidak ada yang menatapnya dengan aneh. Mereka pada sibuk dengan dunianya masing-masing. Tapi beda dengan Yuan. Ia menjadi menoleh ketika mendengar suara itu.

Mungkin dari arah sebrangnya.

"Aduuh, laper. Coba aja ada Yuan. Dia pasti bawain gue makanan," gumamnya.

Tentu saja Yuan mampu mendengar meskipun itu hanya gumaman. Yuan tersenyum kecil ketika mendengarnya.

Yuan berdiri dan benar saja suara itu berasal dari Irine. Irine meletakkan kepalanya di meja dengan bertumpuan tangannya. Sekali lagi, Yuan tersenyum melihatnya.

Yuan mengetukkan pulpennya ke kepala Irine. Kepala Irine pun mendongak ketika kepalanya terkena pukulan kecil.

Irine langsung terkejut. "Yuan?"

Duh, Yuan denger gak ya omongan gue? Bisa malu gue kalau dia denger.

"Bangun."

"Hah?"

"Bangun."

"Ngapain?"

"Gue tunggu luar." Yuan sudah merapihkan buku-bukunya dan meletakkannya kembali di rak buku dimana ia mengambil bukunya. Kemudian berjalan keluar dan membuat Irine bingung. Meskipun bingung, Irine tetap mengekornya dari belakang.

"Ngapain, sih?"

Yuan berdiri ketika sudah memasang sepatunya. "Ikut gue."

"Kemana?" tanya Irine dengan bingung.

"Cepetan kalau Lo gak mau kelaparan lagi."

Ting. Otak Irine langsung paham.

Irine langsung berdiri.

"Lo mau traktir gue?"

Yuan tak menjawab namun pergi terlebih dahulu. Meskipun tidak menjawab, tapi Irine tahu jika Yuan akan mentraktirnya. Bodolah dengan dirinya yang menelan ucapannya, yang penting ia bisa bareng dengan Yuan lagi.

Ah, senangnya.

Ada yang punya *******?

Bisalah kalian mampir ke workku yang disana. Judulnya Alvano.

Baca, like, dan jangan lupa kritik serta sarannya ya. Ditunggu.

See you :v

1
Tri Utami
akuq gk suka adal nya penghiantan. coba cukup cewek luar aja yg coba rebut yuan. bukan sahabat ikt2n jd pengahianat .
Favelly: terima kasih atas komentarnya. Mohon dishare agar ikutan komentar juga ya ;)
total 1 replies
Tri Utami
sastra merusak persahabatan. pi setidaknya lambat laun mereka akan sadar akan perasaab mereka sebenarnya
Sari Istiqomah
Assalamualaikum semangat berkarya thor

Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku

Dia Untukku. Terimah Kasih
Hilda Sakira Ajahra
Mampir yuk di cerita ku


Mencintaimu kaka
Ilan Irliana
kgn m yuan..huhu
Akira ✨
like 🤩
Soesan
Semangat KK ceritanya semakin keren

Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
Esw_Gee
lanjut
Rayna Syaqif
thor kapan up,,,,
finn 🐣
nama asli nya sastra siapa si? ganteng bangett 😣😣
Kania
ihhhhhh kesel banget sa si yuann!!😠 gregetan bacanya thor.. 😬
Rayna Syaqif
lanjuttt thorrr
Try AngeLs
akhirnya ketemu jg
Ilan Irliana
yeeaahhhhhhh
writer in box
salam dari kisah cinta suci seorang lelaki yang hidupnya sempurna tetapi, menikahi wanita penderita ganguan jiwa/skizofrenia
Siska
mampir ya thor, udah ninggalin jejak juga
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung
Kini Wulandari
bagus kak ceritanya
@ luisa @
lanjuttttt
wike maliya: haaai kak,, yuuuk kita nongkrong di rumahnya IT'S HARD TO LOVE YOU...
total 1 replies
@ luisa @
irin egois thur
@ luisa @
👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!