NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

​Matahari pagi bersinar cerah menembus jendela kaca gedung Grup Nirvana yang menjulang tinggi.

​Deni melangkah masuk ke lobi utama dengan wajah segar dan senyum yang mengembang.

​Dia masih mengenakan jaket oranye kebanggaannya meskipun semalam baru saja menghajar belasan preman kampung.

​Tap tap tap.

​Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat ke arah Deni yang sedang menunggu di depan lift VIP.

​Siska muncul dengan pakaian kerja yang rapi dan membawa setumpuk dokumen di tangannya.

​"Pagi Deni, wajahmu kelihatan cerah sekali hari ini," sapa Siska sambil tersenyum ramah.

​"Pagi juga Siska, tentu saja cerah karena semalam aku dapat makan malam gratis yang sangat enak," jawab Deni tertawa kecil.

​Pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam kotak besi mewah tersebut.

​"Nona Clara sudah datang dari tadi pagi dan dia menunggumu di ruangannya," lapor Siska menekan tombol lantai paling atas.

​Deni mengangguk pelan dan merapikan kerah jaketnya agar terlihat sedikit lebih sopan.

​Ting.

​Pintu lift terbuka dan Deni langsung berjalan menuju ruangan bos cantiknya.

​Cklek.

​Deni membuka pintu kaca tanpa mengetuknya terlebih dahulu seperti kebiasaannya di gunung.

​Clara yang sedang merias wajahnya sedikit terkejut dan hampir mencoret lipstiknya sendiri.

​"Deni, bisakah kamu belajar mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan seorang wanita?" tegur Clara dengan nada kesal.

​"Maaf Nona Clara, di gunung pintu rumah kakekku tidak pernah ditutup jadi aku belum terbiasa," jawab Deni nyengir polos.

​Clara hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan kurir pribadinya yang ajaib ini.

​Dia memasukkan lipstiknya ke dalam tas kecil dan menatap Deni dengan tatapan serius.

​"Hari ini kita ada jadwal pertemuan penting dengan klien dari luar kota di Hotel Grand Mulia," jelas Clara berdiri dari kursinya.

​"Klien ini sangat penting untuk proyek ekspansi pabrik baru kita bulan depan."

​Deni mendengarkan penjelasan itu sambil mengangguk-angguk seolah mengerti masalah bisnis jutaan dolar.

​"Terus tugasku nanti apa Nona? Apa aku harus mengantar dokumen atau mengantar makanan buat klien itu?" tanya Deni bingung.

​"Tugasmu hanya satu yaitu tetap berada di dekatku dan pastikan tidak ada orang mencurigakan yang mendekat," jawab Clara tegas.

​"Siap laksanakan Nona, selama aku ada di sampingmu bahkan lalat pun tidak akan berani hinggap," balas Deni percaya diri.

​Clara tersenyum tipis mendengar ucapan pemuda itu yang entah kenapa selalu berhasil membuatnya merasa aman.

​Tiga puluh menit kemudian mobil sedan mewah berwarna hitam milik Clara tiba di lobi Hotel Grand Mulia.

​Deni turun lebih dulu dari kursi penumpang depan dan membukakan pintu belakang untuk Clara.

​Suasana hotel bintang lima itu sangat ramai oleh tamu-tamu asing dan pebisnis yang berlalu lalang.

​Clara berjalan masuk dengan anggun sementara Deni mengikuti dari belakang dengan tatapan mata yang terus menyapu sekitar.

​Mereka berdua berjalan menuju restoran mewah yang berada di lantai dua hotel tersebut.

​"Klien kita namanya Pak Budi, dia bilang sudah memesan meja VIP di sudut restoran," kata Clara sambil melihat layar ponselnya.

​Deni mencium aroma makanan enak dari arah dapur restoran namun hidungnya juga menangkap bau lain yang kurang sedap.

​"Nona Clara, apakah Pak Budi itu orangnya suka memakai parfum yang baunya menyengat seperti minyak angin?" tanya Deni tiba-tiba.

​Clara menoleh ke arah Deni dengan kening berkerut karena pertanyaan aneh tersebut.

​"Tentu saja tidak Deni, Pak Budi itu direktur perusahaan besar yang selalu tampil elegan," jawab Clara heran.

​Deni tidak membalas lagi namun matanya kini menatap tajam ke arah tiga orang pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja VIP.

​Ketiga pelayan itu menundukkan wajah mereka tapi postur tubuh mereka terlalu tegap untuk ukuran pelayan restoran biasa.

​"Selamat siang Nona Clara, silakan duduk, saya sudah menunggu dari tadi," sapa seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dari meja VIP.

​Clara tersenyum profesional dan membalas jabatan tangan pria bernama Budi tersebut.

​"Selamat siang Pak Budi, maaf membuat Anda menunggu lama," balas Clara duduk di kursi yang berhadapan dengan kliennya.

​Deni tidak ikut duduk dan memilih berdiri di belakang kursi Clara dengan kedua tangan bersedekap.

​Pak Budi melirik ke arah Deni dengan tatapan yang sedikit meremehkan penampilan jaket oranye tersebut.

​"Nona Clara, apakah perusahaan Anda sedang krisis keuangan sampai membawa kurir makanan ke pertemuan bisnis?" sindir Pak Budi sambil tertawa pelan.

​Clara merasa sedikit tersinggung namun berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan.

​"Dia bukan sekadar kurir Pak, dia adalah asisten pribadi sekaligus pengawal kepercayaan saya," jawab Clara membela Deni.

​"Ah begitu rupanya, baiklah mari kita langsung bahas saja kontrak kerja sama kita," kata Pak Budi mengeluarkan map merah dari tasnya.

​Sementara Clara dan Pak Budi sibuk mengobrol tentang angka-angka dan proyeksi keuntungan, Deni terus memperhatikan sekeliling.

​Telinga Deni menangkap suara gesekan kain yang sangat pelan dari balik tirai pembatas di dekat meja mereka.

​Sret.

​Seorang pelayan pria tiba-tiba berjalan mendekat membawa nampan berisi dua gelas minuman berwarna merah.

​"Silakan minumannya Tuan dan Nyonya," ucap pelayan itu dengan suara yang serak.

​Pelayan itu meletakkan gelas pertama di depan Pak Budi dan saat akan meletakkan gelas kedua di depan Clara tangannya terlihat sedikit gemetar.

​Mata Deni menyipit melihat ada tato naga kecil yang mengintip dari balik kerah kemeja pelayan tersebut.

​Trang.

​Deni dengan cepat menahan tangan pelayan itu sebelum gelasnya menyentuh meja.

​"Maaf Paman pelayan, Nona Clara sedang flu jadi dia tidak bisa minum es sirup murahan ini," ucap Deni dengan nada mengejek.

​Pelayan itu terkejut dan berusaha menarik tangannya tapi cengkeraman jari Deni terasa seperti tang besi.

​"Lepaskan tanganku bocah sialan!" umpat pelayan itu dengan suara rendah yang penuh ancaman.

​Clara dan Pak Budi langsung menghentikan obrolan mereka karena terkejut melihat keributan kecil itu.

​"Deni, apa yang kamu lakukan? Lepaskan pelayan itu sekarang juga!" perintah Clara panik.

​"Nona jangan minum air ini, baunya aneh dan warnanya terlalu pekat untuk ukuran sirup biasa," jelas Deni tenang.

​Deni lalu melepaskan cengkeramannya namun dengan sengaja menyenggol nampan itu hingga gelasnya tumpah ke karpet.

​Pyar.

​Cairan merah itu meresap ke karpet tebal dan mengeluarkan desisan kecil serta asap tipis yang berbau asam.

​Mata Clara terbelalak kaget menyadari bahwa minuman itu ternyata dicampur dengan cairan kimia berbahaya.

​Pak Budi yang melihat hal itu bukannya panik tapi malah tersenyum sinis dan berdiri dari kursinya.

​"Sayang sekali ketahuan ya, padahal kalau kau minum itu urusannya akan lebih cepat selesai Clara," kata Pak Budi dengan nada dingin.

​Clara mundur selangkah dan menatap klien bisnisnya itu dengan perasaan tidak percaya.

​"Pak Budi, apa maksud dari semua ini? Anda berniat meracuni saya?" tanya Clara dengan suara bergetar.

​"Bukan aku yang mau meracunimu, tapi pamanmu sendiri yang membayar kami dengan harga sangat mahal untuk melenyapkanmu," jawab Pak Budi tertawa keras.

​Tiga pelayan lain yang sejak tadi diam langsung merobek kemeja seragam mereka dan mengeluarkan pisau lipat dari saku celana.

​Mereka berempat kini mengepung Clara dan Deni dari berbagai sudut sehingga tidak ada jalan keluar.

​Beberapa tamu restoran yang menyadari ada bahaya langsung berteriak histeris dan berlarian keluar ruangan.

​Keadaan restoran yang tadinya tenang berubah menjadi sangat kacau balau dalam hitungan detik.

​"Bocah kurir, karena kau ikut campur urusan kami maka kau juga harus mati di sini," ancam pelayan bertato naga tadi sambil memutar pisaunya.

​Deni menguap lebar seolah baru saja bangun tidur dan merenggangkan otot-otot lehernya.

​"Kalian ini banyak bicara sekali, kalau mau berkelahi cepat maju saja karena aku belum sarapan," tantang Deni mengaitkan jarinya memanggil mereka.

​Keempat pria bersenjata itu merasa sangat dihina dan langsung menerjang maju secara bersamaan.

​Wush wush wush.

​Empat bilah pisau berayun dari arah depan dan belakang mengincar titik vital di tubuh Deni.

​Clara menutup kedua matanya karena tidak sanggup melihat pengawalnya ditusuk benda tajam.

​Namun Deni bergerak jauh lebih cepat dari yang bisa ditangkap oleh mata orang biasa.

​Dia merunduk rendah menghindari sabetan pisau pertama lalu menendang lutut penyerangnya dengan keras.

​Krak.

​"Argh kakiku!" jerit pelayan bertato itu ambruk ke lantai sambil memegangi lututnya yang bergeser.

​Deni kemudian menggunakan tubuh pelayan yang jatuh itu sebagai pijakan untuk melompat ke udara.

​Sambil melayang Deni melepaskan pukulan beruntun ke wajah dua penyerang lainnya dalam waktu kurang dari sedetik.

​Bugh bugh.

​Kedua pria itu langsung terpental ke belakang dan menabrak pilar beton restoran hingga pingsan seketika.

​Kini tersisa satu orang pelayan dan Pak Budi yang wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi.

​Pelayan terakhir yang ketakutan mencoba berbalik untuk melarikan diri ke arah dapur.

​Deni dengan santai mengambil sebuah garpu dari atas meja dan melemparnya seperti melempar pisau terbang.

​Syut.

​Jleb.

​Garpu itu menancap tepat di ujung sepatu pelayan tersebut hingga tembus ke lantai kayu.

​"Aduh!" pelayan itu tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur dengan hidung menghantam lantai terlebih dahulu.

​Deni bertepuk tangan membersihkan debu imaginer di telapak tangannya sambil berjalan pelan mendekati Pak Budi.

​Pak Budi mundur perlahan sampai punggungnya menabrak dinding kaca restoran yang tebal.

​"Tolong jangan sakiti saya, saya cuma disuruh oleh Direktur Hendra," mohon Pak Budi dengan suara gemetar ketakutan.

​"Aku tidak peduli siapa yang menyuruhmu Paman gendut, yang jelas kau sudah merusak jadwal makanku," ucap Deni sambil mencengkeram kerah kemeja mahal Pak Budi.

​Deni mengangkat tubuh pria gemuk itu dengan satu tangan seolah sedang mengangkat sebuah bantal ringan.

​"Katakan pada bosmu itu, kalau dia berani mengganggu Nona Clara lagi aku akan merobohkan rumahnya," ancam Deni menatap tajam langsung ke mata Pak Budi.

​Brugh.

​Deni melempar tubuh Pak Budi ke arah tumpukan kursi rusak hingga pria itu merintih kesakitan dan tidak berani bangun lagi.

​Suasana restoran kembali hening hanya terdengar suara rintihan tertahan dari para penjahat bayaran tersebut.

​Clara membuka matanya perlahan dan melihat semua musuhnya sudah tumbang berantakan di lantai.

​Dia menatap punggung tegap pemuda berjaket oranye itu dengan perasaan campur aduk antara takut lega dan kagum yang luar biasa.

​"Deni, kamu tidak terluka kan?" tanya Clara berlari kecil menghampiri pemuda itu.

​"Tentu saja tidak Nona, pisau mainan mereka tidak akan bisa menembus kulitku," jawab Deni berbalik sambil tersenyum lebar.

​"Syukurlah kalau begitu, ayo kita segera pergi dari sini sebelum polisi datang dan membuat semuanya jadi rumit," ajak Clara menarik tangan Deni.

​Deni membiarkan tangannya ditarik oleh bos cantiknya itu sambil sesekali melirik jam di ponsel barunya.

​"Nona Clara, karena aku baru saja menyelamatkan nyawa Nona dari racun dan pisau, apakah aku dapat ulasan bintang lima dari Nona?" tanya Deni dengan polosnya di tengah situasi genting.

​Clara menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Deni dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Iya Deni, aku akan memberikanmu ulasan yang sangat bagus nanti," jawab Clara sambil mendengus kesal namun ada senyum kecil di sudut bibirnya.

​Ting.

​Suara notifikasi sistem kembali bergema di kepala Deni saat mereka masuk ke dalam lift untuk turun ke lobi.

​[Sistem Raja Kurir Merespon Nona Clara memberikan ulasan bintang lima spesial atas perlindungan luar biasa]

​[Progres Tuan bertambah menjadi enam dari seribu ulasan bintang lima]

​Deni bersorak dalam hati kegirangan karena misinya terus berjalan lancar berkat musuh-musuh bodoh yang terus berdatangan mengirimkan kesempatan emas padanya.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!