NovelToon NovelToon
Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkelahian di Celah Lembah Oasis

Brakkk!

Batu-batu raksasa berukuran sebesar rumah mendadak runtuh dari atas tebing tinggi, meluncur deras menutupi celah sempit Lembah Oasis.

Jalur utama menuju kota perbatasan itu kini tertutup total oleh tumpukan batu dan debu tebal yang membumbung tinggi ke udara.

Kuda-kuda pemarik kereta Karavan Kamelia meringkik histeris, memutar tubuh mereka ketakutan.

"Serangan musuh! Lindungi barang bawaan!" teriak Lilia panik sambil menarik tali busurnya dan berdiri sigap di depan gerobak Lin Mo.

Telinga kelincinya yang tegak berdiri bergerak-gerak liar menangkap suara langkah kaki berat dari balik tebing.

Dari balik kepulan debu dan bayangan batu tebal, bermunculan belasan sosok monster raksasa berkulit batu dengan sepasang kapak besar di kedua tangannya.

Mereka adalah Monster Pemotong Tebing—makhluk buas tingkat tinggi yang terkenal dengan pertahanan kulit batu yang sangat keras dan daya hancur yang luar biasa.

Di atas kepala salah satu monster terbesar, berdiri seorang pria tinggi kurus mengenakan jubah ungu bertabur simbol Bintang Gelap.

Mata pria itu berwarna merah darah, dan tangannya memegang sebuah rantai sihir hitam yang terikat langsung ke leher monster-monster tersebut.

"Hahaha! Selamat datang di Celah Lembah Oasis, pemuda pembawa Api Pemurni!" tawa pria bertengkorak ungu itu menggema penuh dengan nada ancaman.

"Nama saya adalah Komandan Vex, Petinggi Wilayah Selatan Sekte Bintang Gelap!" seru pria itu memperkenalkan diri dengan angkuh.

"Kalian tidak akan bisa melarikan diri dari tempat ini hidup-hidup!" tambah Vex mengayunkan rantai sihirnya.

Pedagang tua berbadan gemuk di dalam kereta karavan langsung terkencing-kencing ketakutan di balik tumpukan peti.

"K-Komandan Vex si Pembantai Rawa?! K-Kita selesai... Kita semua akan mati di sini!" jerit pedagang tua itu histeris.

Lilia mengetatkan pegangan busur panahnya, keringat dingin mengucur deras di dahi dan leher cantiknya.

"T-Tuan Lin Mo... pertahanan kulit Monster Pemotong Tebing itu sangat tebal! Senjata panah biasa tidak akan bisa menembus kulit batu mereka!" bisik Lilia bergetar ketakutan.

Namun Lin Mo yang berdiri di samping Lilia justru merogoh kantong kulkas es mistik di gerobaknya dengan raut wajah yang sangat santai.

Ia mengeluarkan sepotong paha daging *Sapi Kerak Bumi Mistik* yang baru saja didapatkannya secara gratis dari pedagang tua tadi.

"Wah, kebetulan sekali Paman Vex membawa monster ber armor tebal begini," kata Lin Mo berkomentar tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Daging paha sapi kerak bumi ini butuh api dengan tekanan suhu yang sangat tinggi supaya lemak gurihnya bisa meleleh sempurna," lanjut Lin Mo mengamati potongan daging segar di tangannya.

"Dan sepertinya... batu-batu panas di sekitar tempat ini cocok untuk jadi media pemanggang alami," tambah Lin Mo tersenyum lebar.

Komandan Vex yang berdiri di atas kepala monster langsung melotot murka mendengarkan perkataan Lin Mo.

"Bocah kurang ajar! Di saat seperti ini kamu malah memikirkan cara memasak daging?!" bentak Vex murka merasa dihina setengah mati.

"Monster Pemotong Tebing! Cincang gerobak sampah itu dan giling tubuh pemuda itu sampai hancur!" perintah Vex menghentakkan rantai sihirnya.

Grrrrraaaarrrrghhh!

Tiga Monster Pemotong Tebing berukuran lima meter melangkah maju, mengayunkan kapak batu raksasa mereka menerjang ke arah Lin Mo dan gerobak terbangnya.

Angin bertekanan tinggi akibat tebasan kapak batu itu sanggup membelah batu-batu jalanan menjadi dua bagian.

"Tuan Lin Mo! Awas!" jerit Lilia hendak melompat pasang badan.

Namun Lin Mo mengibaskan tangan kirinya, mendorong tubuh Lilia pelan ke belakang secara lembut.

settt!

Lin Mo memutar kipas bambu tua miliknya dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran angin keemasan di depan panggangan otomatisnya.

"Jurus Angkringan: Pemotongan Dapur Ilahi!" bisik Lin Mo datar.

Sleeessshhh!

Kilatan cahaya keemasan dari kipas bambu Lin Mo menyambar cepat potongan paha Daging Sapi Kerak Bumi di udara.

Dalam hitungan milidetik, potongan daging raksasa itu teriris rapi menjadi ratusan potong berbentuk dadu presisi dengan serat-serat yang mengilat indah.

Ratusan potong daging itu meluncur tepat masuk ke dalam tusukan-tusukan bambu yang sudah siap di atas gerobak melayang.

PING!

[Mempersiapkan Resep Mistik Baru: Sate Maranggi Kerak Bumi Mistik]

[Menambahkan Bahan Khusus: Bumbu Bintang Ilusi Mistik + Rempah Kecap Karamel Mistik]

Lin Mo menyiramkan racikan kecap pekat berwarna karamel keemasan serta taburan rempah bintang ilusi ke atas ratusan tusukan sate sapi tersebut.

Aroma rempah aromatik yang hangat, gurih, pedas manis, bercampur dengan keharuman lemak sapi murni langsung meledak hebat memenuhi seluruh celah lembah!

Keharuman luar biasa itu begitu kuat hingga tiga Monster Pemotong Tebing yang sedang mengayunkan kapak batu mendadak menghentikan pukulan mereka di udara.

Hidung-hidung batu raksasa milik para monster itu kembang kempis secara Liar menghirup aroma sate maranggi buatan Lin Mo.

Gerrr... Kruuukkk~

Suara perut raksasa dari para monster batu itu berbunyi sangat nyaring menggetarkan tanah di bawah kaki mereka.

"A-apa yang terjadi?! Kenapa serangan kalian berhenti?!" jerit Komandan Vex kaget setengah mati dari atas kepala monster.

Monster raksasa yang ditungganginya mendadak tidak memedulikan perintah rantai sihir Vex lagi.

Mata merah buas milik para monster batu itu berubah menjadi bulat polos bercahaya gembira, menatap lurus ke arah panggangan arang keemasan Lin Mo.

"Nah, ini baru namanya penikmat kuliner sejati," gurau Lin Mo sambil menyunggingkan senyum tipis.

Fwoooshhh!

Lin Mo mengibaskan kipas bambunya dengan dorongan *Api Murni Pemanggang Arang* tingkat tinggi.

Lautan api keemasan membumbung tinggi menyelimuti ratusan tusuk Sate Maranggi Kerak Bumi Mistik tersebut.

Lemak sapi murni meleleh secara sempurna, menyatu dengan bumbu karamel kecap yang meresap hingga ke serat daging terdalam.

Ting!

[Sate Maranggi Kerak Bumi Mistik Matang Sempurna!]

[Buff Khusus: Penghancur Pertahanan Fisik & Pemurni Jiwa Monster +300%]

Lin Mo menyambar sepuluh tusuk sate maranggi yang baru matang dan memancarkan pendaran cahaya keemasan itu.

"Siapa yang mau coba sate maranggi rasa baru ini?" tawar Lin Mo melambaikan tusukan sate itu di udara.

Grrrrraaaarrrrghhh!

Tiga Monster Pemotong Tebing itu langsung membuang kapak batu raksasa mereka ke tanah begitu saja!

Mereka berebut maju berlutut di depan gerobak Lin Mo sambil menjulurkan lidah batu mereka dengan raut wajah sangat memohon bagaikan anjing kelaparan.

" Monster bodoh! Apa yang kalian lakukan?! Hancurkan gerobak itu!" teriak Komandan Vex histeris sambil menarik rantai sihirnya keras-keras.

Namun monster batu raksasa itu mengibaskan kepalanya, menghempaskan Vex hingga terlempar jatuh ke atas tanah kotor.

Monster raksasa itu menerima sepuluh tusuk sate maranggi dari tangan Lin Mo dengan sangat hati-hati menggunakan jari-jari batu mereka yang besar.

Mereka melahap sate maranggi itu dalam sekali suap.

Nyuttt! Krikkk!

Sensasi daging sapi kenyal yang sangat lembut bercampur bumbu pedas manis gurih meledak di dalam mulut batu mereka.

Kehangatan energi pemurni dari [Api Murni Pemanggang Arang] mengalir deras ke seluruh pembuluh darah batu milik para monster.

Cairan hitam sihir racun yang selama ini digunakan Vex untuk mengendalikan pikiran mereka mendadak terdorong keluar dari pori-pori kulit batu mereka dan menguap menjadi asap putih murni.

Mata merah mengamuk para monster berubah menjadi warna biru jernih yang penuh dengan kedamaian dan kesadaran penuh.

"R-Rantai sihir pengendaliku... hancur total?!" jerit Komandan Vex terbelalak tidak percaya sambil memegangi rantai sihirnya yang telah putus menjadi abu.

Tiga monster raksasa itu menatap Lin Mo dengan mata berbinar-binar penuh rasa terima kasih dan pemujaan.

Mereka tunduk merapatkan dahi batu mereka ke tanah di depan gerobak Lin Mo, menganggap Lin Mo sebagai Tuan dan Penyelamat Jiwa mereka dari kegelapan.

Lilia yang menyaksikan kejadian ajaib itu sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangan, telinga kelincinya bergetar-getar hebat.

"Luar biasa... Tuan Lin Mo menyembuhkan kesadaran monster buas hanya dengan menyuapi mereka sate maranggi?!" bisik Lilia terpana luar biasa.

Pedagang tua di dalam kereta karavan langsung melompat keluar dengan wajah gembira gila-gilaan.

"Pahlawan Lin Mo! Anda benar-benar penjinak monster tingkat dewa!" teriak pedagang tua itu bersorak gembira.

Lin Mo mengelus-elus kepala batu monster raksasa di depannya sambil terkekeh pelan.

"Nah, anak pintar. Sekarang bantu Paman bersihkan rantangan batu yang menutupi jalan ini ya," kata Lin Mo menunjuk tumpukan batu tebing.

Grrr!

Tiga Monster Pemotong Tebing itu langsung berdiri tegak dan mengangkat batu-batu raksasa yang menutupi jalan dengan sangat mudah, membuka kembali akses jalur menuju Kota Perbatasan Oasis.

Sementara itu, Komandan Vex yang terduduk di tanah merayap mundur dengan tubuh gemetaran penuh ketakutan.

"S-Setan! Pemuda ini bukan manusia biasa! Dia adalah penyihir pemurni tingkat suci!" jerit Vex dalam hati panik.

Vex merogoh sebuah kristal sihir hitam dari saku jubahnya dan mencoba mengaktifkan sihir teleportasi darurat untuk melarikan diri.

"Aku harus melaporkan hal ini kepada Ketua Agung Sekte Bintang Gelap!" bisik Vex menggertakkan giginya.

Namun sebelum sihir teleportasinya aktif, sebuah kipas bambu melayang pelan dan menepuk bahu Vex dari belakang.

Plak!

"Paman Vex, mau pergi ke mana?" tanya Lin Mo yang mendadak sudah berdiri di belakang Vex bersama gerobak melayang miliknya.

"A-Aku..." suara Vex tertahan di tenggorokan, hawa dingin mencekam menyapu seluruh tubuhnya.

Lin Mo menyodorkan satu tusuk Sate Maranggi Kerak Bumi Mistik yang masih membara panas ke depan wajah Vex.

"Masa Komandan Sekte datang jauh-jauh cuma untuk lempar batu dan tidak mau mencicipi sate buatan saya dulu?" tawar Lin Mo dengan senyuman paling manis namun mematikan.

"I-Ini..." Vex menelan ludahnya secara kasar, aroma gurih menyengat dari sate maranggi itu menusuk hidungnya tanpa ampun.

Meskipun dalam hati Vex sangat takut, rasa lapar dan godaan aroma bumbu ilusi yang tak tertahankan membuat tangannya bergerak sendiri mengambil tusukan sate tersebut.

Vex menggigit potongan daging sapi kerak bumi pertama.

Nyuttt!

Rasa lezat tiada tara meledak memenuhi rongga mulut Vex.

Sensasi pedas manis yang meresap hingga ke tulang langsung melumpuhkan seluruh jaringan syaraf sihir hitam di tubuhnya.

Cahaya hitam sihir racun di mata Vex mendadak padam dan berganti menjadi tangisan air mata penyesalan yang mengucur deras.

"E-Enak sekali... Kenapa masakan ini rasanya sangat menyentuh jiwaku yang penuh dosa ini?!" jerit Vex menangis sesenggukan di atas tanah.

Seluruh energi sihir hitam jahat di dalam tubuh Vex tersapu bersih oleh energi murni sate maranggi Lin Mo dalam hitungan detik!

"Senior... Hamba mengaku salah! Hamba tidak akan pernah menjadi anggota Sekte Bintang Gelap lagi!" seru Vex bersujud di kaki Lin Mo.

"Mulai hari ini, hamba bersedia menjadi pemotong kayu arang untuk angkringan Senior!" tambah Vex pasrah sepenuhnya.

Lin Mo tertawa terkekeh-kekeh melihat perubahan sikap petinggi sekte jahat itu.

"Baguslah kalau Paman sudah bertobat. Tapi ingat ya, kayu arangnya harus dari kayu pilihan yang kering!" pesan Lin Mo.

PING!

[Misi Sampingan Selesai: Mengamankan Celah Lembah Oasis]

[Hadiah Diterima: 1.500 Poin Arang & Reputasi Kota Perbatasan Oasis: 'Master Penjinak Kuliner']

[Total Poin Arang Saat Ini: 3.450 Poin]

Setelah celah lembah bersih total dari batu dan bahaya, rombongan Karavan Dagang Kamelia kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Komandan Vex yang kini telah bertobat berjalan paling depan bersama tiga Monster Pemotong Tebing, menjadi pengawal kehormatan karavan.

Setelah menyusuri celah Lembah Oasis selama setengah jam, pemandangan kota perbatasan yang sangat megah akhirnya terhampar luas di depan mata mereka.

Kota Perbatasan Oasis berdiri di tengah padang rumput hijau yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan batu pasir bergaya timur yang megah.

Pasar Raksasa Oasis tampak sangat ramai oleh ribuan orang dari berbagai ras—manusia, Demi-Human bertelinga hewan, Elf berpakaian sutra, hingga Kurcaci berjanggut tebal.

Aroma berbagai macam rempah masakan, kebingungan suara tawar-menawar, serta pendaran lampu sihir malam mewarnai sudut-sudut kota tersebut.

"Wah... luar biasa ramai sekali!" seru Lin Mo dengan mata berbinar-binar berdiri di atas gerobak terbangnya.

Lilia yang duduk di samping Lin Mo tersenyum manis melihat kegembiraan Lin Mo.

"Selamat datang di Kota Perbatasan Oasis, Tuan Lin Mo!" kata Lilia gembira.

"Di sini adalah pusat perdagangan bebas terbesar di wilayah selatan. Tuan bisa menyewa lahan dagang di mana saja selama punya izin resmi!" jelas Lilia.

Pedagang tua berbadan gemuk menghampiri gerobak Lin Mo sambil membawa sebuah kunci emas dan surat kepemilikan lahan.

"Pahlawan Lin Mo, sebagai rasa terima kasih atas penyelamatan nyawa kami tadi, Karavan Kamelia ingin memberikan ini!" kata pedagang tua itu menyerahkan kunci emas tersebut.

"Ini adalah Surat Izin Sewa Lahan Permanen di Blok A Pasar Utama Oasis!" tambah pedagang tua itu penuh kebanggaan.

Lin Mo menerima kunci emas dan surat tersebut dengan mata melotot tidak percaya.

Lahan dagang di Blok A Pasar Utama Oasis adalah lokasi paling strategis yang menjadi rebutan para pengusaha besar dan koki bintang lima dari seluruh benua!

"Paman Pedagang... ini beneran untuk saya?!" tanya Lin Mo memastikan.

"Tentu saja Pahlawan! Lapak itu milik Anda sekarang!" jawab pedagang tua itu mantap.

"Asyik! Akhirnya aku punya lahan dagang permanen pertama di kota perbatasan!" seru Lin Mo gembira mengibaskan kipas bambunya ke udara.

Sreeeeeshhh!

Gerobak kayu terbang milik Lin Mo meluncur perlahan menuju ke area Blok A Pasar Utama Oasis.

Namun saat Lin Mo mulai memarkirkan gerobak melayang miliknya di lahan permanen barunya, sebuah rombongan pedagang besar ber jubah merah megah sudah berdiri di sekitar lahan tersebut dengan wajah sangat tidak bersahabat.

Di tengah rombongan itu, berdiri seorang pria kurcaci berjanggut emas tebal yang memegang tongkat perhiasan mahal—ia adalah Master Kurcaci Balthazar, Ketua Serikat Kuliner Utama Kota Oasis.

Master Balthazar menatap gerobak kayu tua Lin Mo dengan pandangan penuh rasa hina dan cemoohan.

"Siapa pedagang jalanan yang berani memarkirkan gerobak kayu busuknya di lahan khusus Blok A milik Serikat Kuliner Oasis?!" gertak Master Balthazar dengan suara nyaring yang memancing perhatian seluruh pengunjung pasar.

Lin Mo melompat turun dari gerobak terbangnya dengan santai sambil membawa kipas bambunya.

"Aduh Paman Kurcaci Berjanggut Emas, lahan ini sudah jadi milik saya kok," jawab Lin Mo ramah menyodorkan surat izin emasnya.

Master Balthazar menyambar surat itu lalu meremasnya kasar tanpa membacanya.

"Surat dagang biasa tidak berlaku di sini!" bentak Balthazar angkuh.

"Di Kota Perbatasan Oasis, hanya koki berlisensi Serikat Kuliner yang boleh jualan di Blok A!" tambah Balthazar membuang remasan kertas itu ke tanah.

"Kalau mau jualan di sini, kamu harus mengalahkan koki terbaikku dalam Duel Kuliner Pasar Oasis malam ini!" tantang Balthazar menunjuk sebuah panggung kompetisi besar di tengah pasar.

Lin Mo menatap remasan kertas izinnya yang dibuang ke tanah, lalu menatap Master Balthazar dengan sudut mata yang menyipit tipis.

"Duel Kuliner ya?" kata Lin Mo menyunggingkan senyuman santai.

"Boleh saja Paman Kurcaci, tapi kalau kokimu kalah, panggung besar itu bakal kujadikan tempat cabang Angkringan Dewa Mo ya!" tantang Lin Mo balik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!