NovelToon NovelToon
Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:940.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rosma Sri Dewi

Sering mendapat bully karena penampilannya yang terkesan biasa, Ayesha Candramaya, gadis berusia 17 tahun terpaksa memutuskan untuk pindah sekolah.

Karena ingin membuktikan kalau masih ada pria yang menerimanya apa adanya pada orang-orang yang suka membulinya, Ayesha memposting photo seorang pemuda tampan yang dia klaim pacarnya. Tanpa dia sadari photo pemuda tampan yang dia post itu adalah seorang siswa populer di sekolah barunya yang tidak lain Brian Athariz, seorang pemuda berprestasi baik di akademik maupun di Basket. Selain itu, ia juga putra dari seorang pengusaha yang memiliki perusahaan raksasa dan nomor satu di Indonesia.

Karena hal itu, Ayesha yang merasa tidak enak hati,menjadi sering berurusan dengan Brian yang super dingin. Mereka lambat laun jadi dekat dan tanpa sadar menimbulkan benih cinta di hati mereka berdua.Namun karena kesalahpahaman,mereka saling membenci dan terpisah jarak dan waktu. Akankah mereka bertemu lagi? dan apakah kesalahpahaman mereka akan selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku mau fokus belajar

Pagi kembali datang menyapa. Seperti biasa Ayesha yang memang selalu tidak pernah bosan dengan hobby bakerynya, hari ini kembali membawa kue hasil buatannya untuk Brian dan yang lainnya.

Saat hendak masuk ke dalam kelas, ia berpapasan dengan Vania.

"Kamu bawa apalagi itu?" Vania menunjuk ke arah bawaan Ayesha. Tatapan gadis itu terlihat sangat sinis.

"Emm, mau tahu aja atau mau tahu banget?" sahut Ayesha dengan nada meledek.

"Sialan!" batin Vania.

"Gak mau tahu juga sih. Cuma ya, saran aku, kamu jangan terlalu percaya diri kalau makanan yang selalu kamu bawa itu akan dimakan sama Brian. Asal kamu tahu, dia terima pemberian kamu, tapi dia tidak makan sama sekali," Vania lagi-lagi tersenyum dan kali ini senyuman gadis itu terlihat meledek.

"Jangan sok tahu kamu! aku sering lihat dia makan kok," Ayesha berucap dengan penuh keyakinan.

"Cih, aku bukan sok tahu. Yang aku katakan itu benar. Lagian, kamu lihat dari mana kalau dia makan apa yang kamu bawa?"

"Dia sendiri yang nunjukin ke aku lewat video call," sahut Ayesha yang tentu saja langsung membuat air muka Vania berubah.

"Apa? jadi mereka berdua suka berhubungan lewat video call? sialan!" umpat Vania, semakin geram dengan kenyataan yang baru saja dia tahu.

"Okelah, yang sebelum-sebelumnya, makanan yang kamu kasih dia makan, tapi apa kamu yakin Muffin yang kamu kasih kemarin dia makan juga?"

Ayesha sontak terdiam, karena dia juga tidak tahu apakah pria yang sedang mereka bicarakan itu memakan muffin buatannya atau tidak.Karena kemarin pemuda itu juga sama sekali tidak menghubunginya, bahkan tidak menegornya sama sekali.

"Kamu tidak bisa jawab kan? baiklah biar aku kasih tahu kamu. Muffin yang kamu kasih itu sama sekali tidak dia makan. Begitu dia sampai di rumah, dia langsung buang muffin kamu ke tong sampah," Vania tersenyum meledek seraya menatap Ayesha dengan sinis.

"Dan kamu pikir aku percaya?" Ayesha mencondongkan tubuhnya ke arah Vania.

"Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku tidak peduli! tapi, yang jelas aku tidak berbohong.Karena aku kemarin ke rumahnya, dan aku melihat sendiri dia membuangnya," senyuman di bibir Vania terlihat semakin sinis.

"Kamu ke rumahnya?" desis Ayesha, lirih

"Aduh, keceplosan, maaf ya! aku memang diajak Brian kemarin ke rumahnya. Aku bisa berkenalan dengan mamanya Brian. Dan yang paling membuat bahagia, mamanya sangat menyukaiku. Mamanya bilang, aku itu sangat cantik dengan wajah yang polos tanpa polesan bedak sedikitpun. Aku jadi terharu,". Vania mulai mengarang cerita. "Ups, kamu belum pernah diajak ke rumahnya ya? kasihan!" sambung gadis itu lagi.

"Kamu diajak, atau kamu sendiri yang datang ke sana?" celetuk seorang perempuan yang tidak lain adalah Retha.

"Aku diajak lah. Kamu pikir aku bohong?" suara Vania mulai terdengar gugup.

"Bukan hanya ada di pikiranku sih, tapi aku yakin kalau kamu itu bohong!" Retha menyeringai sinis ke arah Vania.

"Oh tunggu dulu ... kamu bilang apa tadi? mamanya Brian bilang kamu cantik dengan wajah polosmu? kamu kira mamanya Brian itu orang bodoh yang tidak bisa membendakan wanita yang memakai riasan atau tidak sama sekali? mamanya Brian itu pasti tahu, bego! aku aja tahu kalau sekarang aja kamu pakai alas bedak, walaupun, tipis. So paling natural kamu ah!"

"Oh ya? kamu lupa ya kalau kamu dekat dengan Brianna? kamu tidak takut kalau nanti kami bertanya dia tentang apa yang kamu katakan tadi?" senyum yang terselip di sudut bibir Retha, terlihat begitu sinis.

Raut wajah Vania sontak berubah pucat. Dia seketika takut kalau Ayesha dan Retha nantinya benar-benar bertanya ke Brianna.

"Apaan sih? aku memang ke sana sendiri, tapi Brian yang memintaku datang. Brianna mana tahu akan hal itu," Vania mulai berdalih.

"Udah ah, aku mau pergi dulu!" Vania menepis tubuh Ayesha dan Retha dari depannya, kemudian langsung beranjak pergi, melewati keduanya.

"Iihh, kalau bukan di sekolah, udah aku acak-acak tuh muka!" oceh Retha dengan tangan yang seperti sedang mencakar.

"Sudahlah, gak usah diladeni. Ayo, masuk!" suara Ayesha terdengar lirih. Sumpah, walaupun dia berusaha untuk tidak percaya kalau muffin buatannya dibuang oleh Brian, tapi ia tidak memungkiri kalau dirinya tetap kepikiran.

Baru saja dia duduk di kursinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk. Ayesha, merogoh tasnya dan meraih keluar ponselnya.

"Ini buktinya kalau muffin kamu dibuang. Jadi, jangan susah payah lagi buat apapun untuk Brian. Dia sama sekali tidak suka dan merasa risih!" demikian isi pesan yang baru saja dibaca Ayesha. Pesan itu juga disertai dengan photo kotak muffin, yang sudah berada di tempat sampah. Siapa lagi pengirim pesan itu kalau bukan Vania.

Ya, kemarin ketika ke rumah Brian, Vania sempat menyusul mamanya Brian ke dapur, dengan alasan untuk mengambil minum sendiri.

Ketika melihat kotak muffin yang berada di tempat sampah, Vania seketika memiliki ide untuk mengambil photonya. Padahal jelas-jelas itu adalah kotak muffin milik Briana yang sudah habis.

"Yesha, kamu kenapa? kenapa kamu wajahmu sedih seperti itu?" Retha mengrenyitkan keningnya, melihat perubahan wajah sahabatnya itu.

"Tha, apa dengan aku kasih makanan ke Brian setiap hari sudah buat dia risih ya?" desis Ayesha, dengan suara yang sangat lirih.

Retha tidak menjawab sama sekali. Sejujurnya dia juga tidak tahu dengan apa yang dirasakan Brian dengan perlakuan Ayesha selama ini. Karena, ia sangat sulit membaca sikap pemuda itu, yang memang selalu memasang wajah datar.

"Kenapa kamu diam, Tha? kamu juga pasti merasa kalau Brian risih kan?"

Retha tetap saja tidak menjawab, karena sumpah demi apapun, ia sangat bingung mau jawab apa.

"Berarti, aku saja yang terlalu percaya diri selama ini. Aku begitu naif, menganggap kalau seorang Brian dengan senang hati menerima makanan yang kuberikan. Padahal itu sama sekali tidak mungkin kan? selama ini, dia pasti sudah sangat risih. Seandainya dia bisa menghilang, dia pasti akan menghilang ketika aku muncul di depannya," ujar Ayesha dengan raut wajah sendu.

"Kamu kenapa sih? kenapa kamu jadi mellow seperti ini? apa pesan yang kamu baca tadi?" Retha merampas ponsel Ayesha untuk melihat isi pesan yang membuat sahabatnya itu bersedih.

"Yesha, kamu jangan mudah percaya! nanti kalau Brian masuk kamu tanya saja dia!"

"Tidak perlu! dia pasti tidak akan mau ngaku. Biarin ajalah! oh ya ini aku bawakan kue untukmu!" Yesha memberikan satu kotak bawaannya ke pada Retha. Kemudian dia berdiri dan membagikan kepada teman-temannya yang lain.

Di saat bersamaan, Brian bersama tiga sahabatnya masuk ke dalam kelas, di saat Ayesha selesai membangikan kue yang dia bawa.

Mata keduanya, saling beradu untuk beberapa saat, dan Ayesha langsung menyudahi lebih dulu.

"Yesha, untuk kami mana?" tanya Arga.

"Eh, maaf, sudah habis, Ga." sahut Ayesha, berpura-pura memasang wajah menyesal.

"Hah, kok tumben, kamu bagikan ke mereka semua?" Radit buka suara.

"Ya, aku pikir mereka juga temanku sama seperti kalian. Jadi tidak masalah kalau kali ini aku bagi-bagi ke mereka," sahut Ayesha, asal.

Mendengar ucapan Ayesha, membuat raut wajah Brian berubah tegang. Tanpa bicara,pemuda itu langsung duduk di kursinya.

Sementara itu, Arga mengalihkan tatapannya ke arah Retha, untuk bertanya melalui matanya. Namun, Arga tidak menemukan jawaban, karena Retha hanya mengangkat bahunya.

"Ya udah deh tidak apa-apa. Lain kali kalau kamu buat kue lagi, ingat kasih kami ya!" Arga mulai bercanda, untuk mencairkan suasana tegang yang sempat tercipta.

"Aku pikir tidak ada lagi lain kali, Ga. Aku sepertinya sudah capek dan ingin fokus memikirkan ujian," sahut Ayesha, membuat Arga terdiam.

"Oh, seperti itu. Baiklah tidak masalah," pungkas Arga. "Emm, tapi besok, kamu bisa kan datang memberikan dukungan untuk pertandingan final kamu besok? datang ya!" sambung Arga lagi.

"Emm, sepertinya tidak bisa, Ga. Maaf sekali! karena balik lagi dengan yang kukatakan tadi. Aku mau fokus belajar," tolak Ayesha.

"Radit, aku duduk di kursimu, kamu duduk di sini dengan Arga!" untuk pertama kalinya Brian buka suara, sembari berdiri dari kursinya dan pindah ke kursi Radit.

Semua yang ada di tempat itu seketika merasakan atmosphere yang menakutkan, melihat raut wajah tidak bersahabat dari Brian. Tidak ada lagi yang berani bicara, dan mereka duduk di kursi masing-masing, menunggu bel berbunyi dan guru masuk.

tbc

1
Kartika Miranti30
seru
endang nastusil
Luar biasa
lizulfa anjani
setau aku kalo no di blok kalo pun di buka pesan sebelumnya gak mungkin masuk
eva murjani
Selalu Suka dgn Author satu ini.
cerita nya seru...berasa kembali ke Jaman remaja baca kisah"nya
dan special nya cerita novel yg di suguhkan selalu ringkas padat tdk bertele".
sehat dan Sukses buatmu Author 🥰🌹🌹
eva murjani
Baru engeh ini cerita Anak Kembar Bima dan Ayunda rupanya 😘🙏
Felycia Fernandez
😆😆😆😆
Iis Kurniasih
Karya yg bagus....tidak terlalu berbelit² jalan ceritanya..... semangat terus ya author
Iis Kurniasih
Jangan biarkan kendor ttp semangat.... oke author
Rianti Dumai
tinggal pergi menjauh az sudah Brian,,,ngapain kbanyaan drama,,,!!!
Rianti Dumai
Brian az yg kurang tegas sama vania
Nuraini Nuraini
Luar biasa
Sumringah Jelita
keren
Anonim
Keras kepala + gak punya malu and harga diri 😁😁😁🙏🙏
nnk pw
ini bab diambil dr cerita emak bapaknya?
nnk pw
pdhl tinggal beberin semuanya terus vania di rantai di rsj. masa semu nglah demi demit kyk di
nnk pw
vania halal digorok
nnk pw
fix obsesi. maksa banget
nnk pw
vania cew pick me
Bonny Patriadi
emang boleh ya adiknya papa nikah sama anak Kakanya,/Shy/
Gadis Puspa Kartika
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!