Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Sarapan di Kamar
Helena duduk di tepi kasur, matanya menatap Arthur yang masih berbaring di sisi ranjang. Wajahnya masih memerah karena malu, tapi dia berusaha untuk bersikap tegas. Dia merapikan gaun putihnya yang sedikit kusut, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Arthur, aku sudah bilang. Aku mau pulang. Dan aku tidak mau kamu antar," kata Helena, suaranya berusaha tegas meskipun masih ada getaran di dalamnya.
Arthur bangkit perlahan, duduk di sisi kasur dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur. Dia menatap Helena dengan tatapan yang sulit dibaca. "Hel, kamu yakin? Surabaya jauh. Kamu tidak punya kendaraan. Aku bisa mengantarmu."
"Aku bisa naik taksi, Arthur," potong Helena cepat. "Aku sudah dewasa. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku tidak butuh kamu mengantarku."
Arthur menghela napas. Dia tahu Helena. Wanita ini selalu keras kepala. Dulu, saat mereka masih menikah, Helena pernah menolak menggunakan sopir pribadi selama berminggu-minggu hanya karena dia merasa tidak nyaman. Arthur mengenal betul sifat Helena.
"Baiklah," Arthur akhirnya berkata dengan nada pasrah. "Aku tidak akan memaksa. Tapi setidaknya, izinkan Mbok Jum memanggilkan taksi untukmu."
Helena menggeleng. "Aku bisa memanggilnya sendiri. Aku punya ponsel."
Arthur tersenyum tipis. Dia tidak membantah lagi. Dia hanya mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju lemari. "Sesukamu. Tapi sarapan dulu, Hel. Kamu tidak boleh pergi dengan perut kosong."
Helena menatap Arthur, merasa sedikit jengkel dengan sikap Arthur yang selalu ingin mengurusnya. "Arthur, aku tidak perlu sarapan. Aku sudah cukup makan tadi malam."
"Aku tidak peduli. Kamu harus sarapan. Jika kamu tidak mau, aku akan menyuruh Mbok Jum membawakan makanan ke sini, dan kamu harus memakannya sebelum kamu pergi."
Helena mengepalkan tangannya. Dia ingin membantah, tapi dia tahu Arthur tidak akan mengalah. "Baik. Tapi aku mau sarapan sendirian. Jangan kamu temani."
Arthur mengangkat bahu. "Terserah. Tapi aku akan tetap di sini."
Helena menggerutu, lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia membanting pintu kamar mandi, menguncinya dari dalam. "Dasar Arthur! Masih saja suka memerintah," gumamnya sambil menyalakan keran air.
Di luar kamar mandi, Arthur yang mendengar suara Helena menggerutu hanya bisa tersenyum kecil. Dia menggeleng-geleng kepala, masih dengan senyuman yang sulit dihilangkan. Kamu masih sama, Hel. Keras kepala dan suka marah-marah. Tapi aku suka itu.
Arthur berjalan keluar kamar, dan bertemu Mbok Jum yang sedang mengetuk pintu dengan nampan sarapan.
"Tuan, saya sudah menyiapkan sarapan. Tapi saya mendengar Nona Helena sepertinya sedang tidak mood," ucap Mbok Jum hati-hati.
Arthur tersenyum. "Iya, Mbok Jum. Dia lagi kesal karena aku mau mengantarnya pulang dan dia menolak. Tapi dia harus makan. Bawalah nampan itu ke dalam. Kita sarapan berdua di kamar saja."
Mbok Jum mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar dan meletakkan nampan di atas meja kecil dekat jendela. Ada bubur ayam, roti panggang, dua butir telur rebus, segelas jus jeruk, dan secangkir teh hangat.
"Mbok Jum, Nona Helena mungkin akan keluar dengan wajah masam. Tapi tolong jangan bilang apa-apa. Biarkan dia merasa dia yang menang," bisik Arthur.
Mbok Jum tersenyum. "Tuan masih sangat sayang sama Nona, ya."
Arthur tidak menjawab, tapi senyumnya sudah menjadi jawaban.
---
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Helena keluar dengan wajah yang sudah dicuci bersih. Rambutnya sedikit basah, dia sudah merapikannya dengan jari-jarinya. Gaun putihnya masih sama, tapi dia terlihat lebih segar. Tidak ada lagi bekas air mata di wajahnya.
Arthur sudah duduk di kursi dekat meja, menatap Helena. "Sarapannya sudah siap. Aku juga ikut makan. Aku janji, ini hanya sarapan. Tidak ada pertanyaan berat."
Helena menatap Arthur, lalu menatap nampan itu. Perutnya memang sudah keroncongan. Dia menghela napas, lalu berjalan mendekat, dan duduk di kursi di seberang Arthur.
Mereka mulai makan dalam keheningan. Helena menyendok bubur ayam, merasakan hangatnya makanan di lidahnya. Arthur memakan roti panggang dan sesekali menyesap tehnya. Suasana kali ini terasa lebih ringan. Tidak ada tatapan tajam, tidak ada pertanyaan yang menusuk.
Helena mengunyah perlahan, lalu menatap Arthur. "Arthur, kenapa kamu tidak pernah menikah lagi?"
Arthur mengangkat alis, terkejut dengan pertanyaan itu. Dia tersenyum tipis. "Karena aku belum menemukan yang tepat. Dan karena..." dia menatap Helena, "...aku masih mencintai kamu."
Helena menunduk, merona. Dia tidak bisa memungkiri bahwa kata-kata Arthur membuat jantungnya berdegup kencang. "Arthur, kita sudah bercerai. Kamu harusnya move on."
Arthur tetap tersenyum. "Move on? Hel, lima belas tahun sudah berlalu. Tapi bayanganmu masih ada di setiap sudut mansion ini. Aku sudah mencoba move on, tapi tidak berhasil. Jadi, aku memilih untuk menunggu. Dan ternyata, kamu kembali."
Helena tidak bisa menjawab. Dia hanya melanjutkan makannya, berusaha menenangkan dirinya.
Mereka selesai sarapan dalam suasana yang hangat. Arthur tidak menanyakan tentang masa lalu, tidak menanyakan tentang James. Dia hanya duduk di sana, menikmati kehadiran Helena.
Saat Helena selesai, dia meletakkan sendoknya. "Arthur, aku sudah selesai. Aku akan memanggil taksi sekarang."
Arthur mengangguk. "Baik, Hel. Tapi sebelum kamu pergi, aku minta satu hal."
Helena menatapnya. "Apa?"
Arthur berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Helena. "Janji, kamu tidak akan menghilang lagi. Jika kamu punya masalah, hubungi aku. Jika kamu butuh sesuatu, hubungi aku. Jangan menghilang tanpa kabar."
Helena menatap Arthur. Matanya sedikit berkaca-kaca. Dia mengangguk pelan. "Aku janji, Arthur. Aku tidak akan menghilang lagi."
Arthur tersenyum, dan tanpa diduga, dia mencium kening Helena dengan lembut. "Pergilah dengan selamat, Hel. Aku akan mencari kamu jika kamu tidak menghubungiku dalam tiga hari."
Helena merona, tapi dia mengangguk. "Baik. Tiga hari."
Helena berjalan keluar kamar, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di tempatnya. Arthur menatap punggung Helena yang menghilang di balik pintu, dan dia tersenyum lebar.
Kembalilah padaku, Hel. Aku akan menunggu.
Di luar mansion, Helena naik ke taksi yang sudah dipanggil Mbok Jum. Dia menatap mansion megah itu untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya taksi melaju meninggalkan kawasan itu.
Di dalam taksi, Helena menekan ponselnya, mengirim pesan pada Rina. "Mama pulang. Jaga James. Mama sudah makan."
Helena menatap layar ponselnya, lalu dia tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, dia merasa tidak lagi sendirian. Dan dia tidak tahu apakah perasaan itu adalah kebahagiaan atau justru kekhawatiran.