NovelToon NovelToon
Menikahi Tunangan Kakakku

Menikahi Tunangan Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Asmara / Penikahan Kontrak / Percintaan Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bella

Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Suite pengantin baru itu dihias seolah bunga bisa memperbaiki segalanya.

Seprai warna gading. Mawar putih. Lilin yang wanginya seperti hotel mahal. Dua gelas sampanye masih utuh di atas meja. Dan aku, duduk di tengah ranjang raksasa itu, memakai piyama sesopan mungkin sampai rasanya seperti dipilihkan tante yang sangat religius.

Dari kamar mandi terdengar suara pancuran.

Di dalam sana ada suamiku.

Damar Mahendra.

Sampai kemarin, pria itu tunangan kakakku. Pria yang selama lima tahun kupanggil kakak ipar, murni karena kebiasaan keluarga.

Sekarang dia suamiku.

Astaga.

Semuanya bermula semalam, ketika seseorang mengirim video Laras bersama mantannya kepada Damar. Bukan video yang masih bisa disangkal. Bukan percakapan aneh. Video jenis yang tidak menyisakan banyak ruang untuk penjelasan.

Damar datang ke rumah keluarga Wijaya dengan ponsel di tangan. Papa berusaha menyelamatkan pertunangan. Mama menangis. Laras bersumpah, berteriak, pura-pura hampir pingsan, bergelayut kepadanya seolah drama bisa menghapus apa yang sudah terjadi.

Tidak ada gunanya.

Damar ingin membatalkan pernikahan.

Dan, jujur saja, siapa yang bisa menyalahkannya? Tidak ada orang yang mau berdiri di pelaminan dengan tanduk yang masih hangat dipasang.

Tapi keluarga Mahendra adalah puncak gunung yang sudah bertahun-tahun coba didaki Papa. Undangan sudah dikirim, kesepakatan keluarga sudah ditandatangani, gedung sudah dibayar, tamu sudah dikonfirmasi. Kalau pernikahan dibatalkan, keluarga Wijaya akan menjadi bahan gosip paling lezat di seluruh kawasan elite itu.

Jadi mereka tidak membatalkannya.

Mereka mendorongku maju.

Aku hanya ingin menonton kekacauan itu dari pojok ruangan, diam-diam, seperti orang yang menonton serial milik orang lain. Tapi tiba-tiba semua mata berbalik ke arahku.

"Kirana bisa menikah dengannya."

Kupikir Damar akan tertawa. Atau berdiri. Atau mengatakan ini bukan lelucon.

Karena aku adik Laras.

Karena dia kakak iparku.

Karena tidak ada pria normal yang mau menikahi adik tunangannya sehari setelah mengetahui dirinya dikhianati.

Tapi Damar menatapku.

Hanya sekali.

Lalu dia setuju.

Bukan seperti pria kebingungan. Dia melakukannya seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan untuk semua orang di ruangan itu.

Aku terpaku pada tangannya di atas map. Jari-jari panjang, kuku rapi, jam hitam mengintip dari bawah manset kemeja. Dia tidak bicara keras. Tidak perlu.

Begitulah aku berakhir memakai gaun putih, berjalan menuju pria yang seumur hidupnya nyaris tidak pernah menatapku lebih dari dua detik.

Suara pancuran berhenti.

Telapak tanganku berkeringat.

Apa yang seharusnya terjadi pada malam pertama ketika pengantin bahkan hampir tidak saling mengenal? Apa dia benar-benar berharap aku bersikap seperti istri dari novel murahan?

Pintu kamar mandi terbuka.

Napas terhenti di tenggorokanku.

Damar keluar berselimut uap, memakai jubah mandi abu-abu yang terbuka di bagian dada. Aku selalu melihatnya dalam setelan jas, serius, sempurna, dingin. Jenis pria dewasa yang tampak seperti menandatangani kontrak bahkan saat bernapas.

Tapi begini, dengan rambut basah, tulang selangka tegas, dan dada bidang mengintip di balik kain, dia tidak terlihat seperti kontrak.

Dia terlihat seperti masalah.

Masalah berusia tiga puluh tahun, bersuara berat, dengan tangan yang terlalu tenang.

Aromanya bersih seperti sabun dan sesuatu yang berkayu, seperti pinus dingin.

Jari-jariku mencengkeram seprai.

Dia berjalan ke arah ranjang.

Setiap langkah membuat dadaku makin sesak.

Ketika dia berdiri di depanku, begitu tinggi, begitu serius, begitu keterlaluan tampannya, hal terburuk justru keluar dari mulutku.

"Kakak ipar..."

Damar berhenti.

Alisnya hanya bergerak sedikit, tapi aku melihatnya.

"Apa yang kamu panggil aku tadi?"

Aku menelan ludah.

Tentu. Hebat sekali. Malam pertama sebagai istri dan aku memanggilnya kakak ipar.

"Maaf. Kebiasaan."

"Sekarang kita suami istri," katanya tenang. "Kamu harus mengubah itu."

Mengubahnya.

Menjadi apa?

Suami? Sayang? Damar?

Baru membayangkan memanggilnya sayang saja wajahku sudah panas.

"Kalau begitu... Pak Mahendra?"

Tatapannya terasa lebih berat.

"Kamu pernah melihat istri memanggil suaminya Pak?"

"Pak Damar?"

Dia diam.

Lebih buruk.

"Kedengarannya aku berumur lima puluh tahun," katanya.

Aku menggigit bibir.

"Damar?"

Kali ini dia mengangguk.

"Itu."

Ibu jarinya mengusap tepi handuk yang ia bawa. Aku langsung menurunkan pandangan.

Aku menarik napas, tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.

"Kamu akan tetap di sini?" tanyaku.

Dia melihat ranjang.

"Ini suite kita."

Ya. Tentu. Pertanyaan yang sangat cerdas, Kirana.

Dia mendekat lagi. Aku mundur di atas ranjang, menyeret selimut bersamaku.

"Apa yang akan kamu lakukan?"

"Tidur."

"Bagaimana?"

Rasanya aku ingin menggigit lidah sendiri.

Damar menatapku dengan ketenangan yang justru membuatku makin kacau.

"Kamu ingin tidur bagaimana?"

"Aku... di sisi kiri. Kamu di kanan."

"Malam ini malam pertama kita."

Wajahku menyala.

Dia mengamatiku sesaat.

"Kamu pernah bersama pria?"

Udara tersangkut di dadaku.

Wajahku panas. Aku paham betul maksudnya.

Aku menggeleng.

"Belum."

Sesuatu berubah di matanya.

Damar menunduk ke arahku, kedua tangannya bertumpu di sisi tubuhku. Aku terperangkap di antara lengannya dan ranjang. Napasnya menyapu napasku.

Kami begitu dekat sampai aku bisa melihat bulu matanya.

Lalu, dengan suara yang terlalu tenang untuk pertanyaan seperti itu, dia bertanya, "Kamu mau melakukannya?"

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Dia terlalu dekat dan aku bisa mencium aroma kemejanya.

Mataku melebar seperti baru disiram air dingin.

Melakukannya?

Seperti ini? Secepat ini?

"Sekarang?" kata itu lolos begitu saja.

Damar tidak menjauh.

"Malam ini malam pertama kita."

Ya, terima kasih. Aku cukup sadar soal itu. Ranjang besar, bunga putih, dan jantungku yang menghantam tulang rusuk sudah mengulanginya setiap tiga detik.

Tapi mengetahui sesuatu berbeda dengan menerima bahwa pria ini, yang dua hari lalu masih menjadi tunangan kakakku, ingin menyempurnakan pernikahan denganku.

Aku belum siap.

Sedikit pun belum.

Pandangannya turun ke mulutku.

Aku melihatnya.

Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada kepalaku. Ketika dia menunduk, aku memalingkan wajah.

Bibirnya tidak sempat menyentuhku.

Damar diam. Lalu dia memegang daguku dengan dua jari dan mengembalikan wajahku pelan-pelan. Aku memejamkan mata karena gugup, menekan bibir rapat-rapat seolah itu bisa menyelamatkanku.

Tidak terjadi apa-apa.

Ketika aku membuka sebelah mata, dia masih menatapku.

"Maaf," gumamku. "Aku belum terbiasa dengan... ini. Menjadi istrimu."

Kata istri terasa sangat asing di lidahku.

"Beri aku sedikit waktu, ya?"

"Sedikit itu berapa lama?"

"Aku tidak tahu."

Diamnya membuatku merasa kecil.

Bukan karena takut. Karena jaraknya. Aroma bersih dari kemejanya, lengannya yang bertumpu di samping pinggangku, tatapan diam di mulutku. Aku menelan ludah dan membenci jari-jariku yang gemetar.

"Tapi tidak terlalu lama," tambahku cepat. "Kurasa."

Damar menatapku beberapa detik. Aku sudah membayangkan kemungkinan terburuk, tapi dia menegakkan tubuh, mengitari ranjang, lalu berbaring di sisi lain.

"Tidur."

Hanya satu kata.

Aku masuk ke bawah selimut sebelum sempat memikirkan apakah memang ingin melakukannya.

Aku mengembuskan napas.

Dia tidak memaksaku.

Dan meski tidak ingin mengakuinya, sesuatu di dalam diriku mengendur.

Aku ikut berbaring, menyisakan jarak sangat lebar di antara kami. Dua orang lagi bisa muat di sana. Tiga, kalau posisinya rapi.

"Selamat malam," kataku kaku.

"Selamat malam."

Kami mematikan lampu.

Kupikir aku tidak akan bisa memejamkan mata. Tapi tubuhku memutuskan berkhianat dan aku tertidur nyaris seketika.

Saat fajar, sebuah tangan menyentuh bahuku.

"Jangan..." gerutuku setengah tidur, menepisnya.

Detik berikutnya mataku terbuka.

Damar duduk di samping ranjang, sudah mengenakan setelan hitam dan kemeja abu-abu. Tanpa dasi. Dua kancing di leher terbuka. Dingin, rapi sempurna, dan terlalu menarik untuk jam sepagi itu.

Aku bangun sambil memeluk selimut.

"Selamat pagi."

"Bangun. Keluargaku ingin menyapamu sebelum sarapan. Kakek dan Nenek biasanya memberi restu dan hadiah setelah pernikahan."

Aku mengangguk seperti sedang wawancara kerja.

"Setelah itu kita sarapan dengan mereka, lalu pergi ke rumah yang kubeli sebelum pernikahan. Kita akan tinggal di sana."

"Baik."

Aku masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Air dingin membuatku benar-benar sadar.

Ini bukan mimpi.

Aku sudah menikah.

Dengan Damar Mahendra.

Aku keluar masih memakai piyama putih pinjaman dari salah satu sepupunya. Aku tidak mungkin turun seperti ini.

Damar masih berada di kamar.

"Aku tidak punya baju."

Dia menatapku, mengeluarkan ponsel, lalu menelepon. Beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu. Dia menerima sebuah tas dan menyerahkannya kepadaku.

"Ganti."

Di dalamnya ada gaun merah muda baru. Juga pakaian dalam. Ukuranku persis.

Aku menatap labelnya.

Bagaimana dia tahu ukuranku?

Aku tidak bertanya.

Gaun itu bertali tipis dengan hiasan mawar di satu bahu. Ketika aku keluar, Damar mengangkat wajah.

Tatapannya berhenti padaku.

"Kelihatan bagus?" tanyaku gugup.

"Bagus."

Bagus? Itu bagus sungguhan atau sekadar komentar sopan?

Dia berdiri dan mengulurkan tangan.

"Ayo."

Aku menatap tangannya. Besar, berjari panjang, dengan keanggunan yang aneh. Aku meletakkan tanganku di atasnya.

Telapak tangannya hangat. Tanganku dingin.

"Tanganmu berkeringat," katanya.

Wajahku memerah.

"Aku... gugup."

Dia tidak mengejek. Hanya menggenggam sedikit lebih erat.

Hangat telapak tangannya merambat ke pergelangan tanganku. Aku menunduk agar tidak terus memandangi jari-jarinya di atas jariku.

Ruang tamu mansion itu penuh. Kakek-nenek, orang tua, paman, bibi, sepupu. Keluarga Mahendra seperti tidak ada habisnya.

Damar memperkenalkanku satu per satu.

Aku menyapa kakek-neneknya, menerima pelukan terukur, doa restu, amplop-amplop elegan, dan hadiah. Ibunya menggenggam tanganku dengan senyum tenang.

"Bangunlah hidup yang baik bersama."

Ia memasangkan gelang zamrud di pergelangan tanganku. Berat. Sangat berat.

Aku melihat Damar, tidak tahu apakah boleh menerimanya.

Dia mengangguk.

Jadi aku menerimanya.

Saat sarapan, aku duduk di sampingnya, kaku. Aku tidak berani mengambil makanan dari piring saji di tengah meja.

Tiba-tiba Damar menaruh daging di piringku.

Aku menatapnya.

Dia terus makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Lalu dia menaruh sayur. Setelah itu makanan lain. Dan satu lagi.

Dia tidak bertanya apakah boleh. Dia hanya memutuskan aku harus makan dengan baik.

Dan, entah karena alasan konyol apa, itu membuatku lebih malu daripada gaun tadi.

"Terima kasih," bisikku. "Jangan ambilkan lagi."

Mungkin dia tidak mendengar. Atau pura-pura tidak mendengar.

Aku menghabiskan semuanya.

Ketika kami pergi, kakek-nenek dan orang tuanya memintanya menjagaku. Dia hanya menjawab ya.

Di mobil, sambil memandangi gelang itu, aku bertanya, "Apa aku harus mengembalikan ini kepadamu?"

"Ibuku memberikannya kepadamu."

"Ini mahal sekali. Bagaimana kalau hilang?"

"Kalau begitu hilang."

Aku menatapnya, bingung.

"Kamu tidak marah?"

"Itu bukan milikku. Itu milikmu."

Aku juga bertanya soal amplop hadiah.

"Aku yang mengurusnya?"

"Atau kamu mau memberikannya kepadaku?"

Aku langsung menggeleng.

Damar hanya melirikku.

"Kalau begitu simpan."

Aku tidak bisa menahan senyum.

Rasanya ingin sekali membuka semua amplop itu dan menghitungnya.

"Pakai sabuk pengaman," katanya. "Kita pergi."

Aku patuh.

Dia menatapku lagi.

Tidak mengatakan apa-apa, tapi aku merasakan tatapan itu di kulitku.

1
Zalmah Adiwi
saat bertunangan dg Laras mngkn damar sdh menyukai kirana..
Zalmah Adiwi
konflikx kurang kuat..alur ceritax jg trll lamban bergerak.. 🤭
Zalmah Adiwi
knp mesti minum pil KB.. 🤦‍♀️🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
ibu kirana GILA..pikirx pernikahan ini macam beli bajukah.. 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!