Gebi baru saja mengetahui kalau sang Papa mengidap kanker otak, dan sebagai permintaan terakhirnya. Gebi harus menikah dengan pria yang tidak ia kenal.
Jadi meskipun keberatan Gebi tetap menyetujui permintaan Papanya, namun ia tak menyangka bahwa keputusan nya adalah hal yang ia sesali, ketika mengetahui suaminya sudah memiliki kekasih.
Terperangkap dalam pusaran kebohongan, N@fsu dan pengkhianatan. Akankah Gebi mempertahankan pernikahan nya ??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14~Kedatangan Sofi
"Sial, kamu baru saja dicium di depan semua orang," ucap Elda saat ia dan Gebi masuk ke restoran.
Sementara Kean memarkir mobil, jadi dia membiarkan mereka berdua masuk.
"Pasti enak kan ?" Elda tertawa membuat Gebi semakin merasa malu.
Seorang pelayan mendekat dan mengantar mereka ke meja yang masih kosong.
"Kurasa ada yang tidak beres," ucap Elda dengan serius sambil duduk di kursinya
Gebi memutar matanya. "Memangnya apa yang kamu pikirkan"
"Kau bilang Kean akan mengajukan perceraian ?"
"Memang kenyataan nya begitu" balas Gebi, dan tiba-tiba rasa sesak itu ia rasakan.
"Jika memang itu rencananya, mengapa Kean bersikap seperti ini ?"
"Berhenti membayangkan hal lain El ! Aku tahu Kean terpaksa melakukan pernikahan ini"
"Apa Kean pernah mengatakan kalau ia terpaksa ?"
Gebi tertegun sejenak. "Tidak pernah sih, tapi aku yakin dia terpaksa menikah dengan ku, memangnya siapa yang akan setuju untuk menikah jika sudah menjalin hubungan dengan orang lain ?, Bahkan kamu sendiri tidak mau kan ?"
Elda langsung mengangguk setuju. "Hmmm, kalau begitu pasti ada sesuatu yang salah. Jika Kean memiliki niat untuk pergi, seharusnya dia bersikap dingin padamu, tapi kenyataan nya sikapnya terlalu manis."
Gebi tak lagi menjawab, karena ia setuju dengan ucapan Elda.
"Kalau kamu berani, menurutku bicaralah dengannya untuk memperjelas hubungan kalian!"
Gebi tersenyum ke arah Elda, memang sebaiknya ia harus bicara pada Kean, tapi mungkin Kean tidak akan memberi tahunya tentang perceraian itu.
Tidak berapa lama Kean datang bersama seorang pria.
"Maaf menunggu lama" ucap Kean meminta maaf.
"Tidak apa- apa" jawab Gebi
"Mungkin kamu sudah mengenal temanku, tapi izinkan aku memperkenalkan dia lagi. Devan ini istriku Gebi dan temannya Elda."
Devan segera menjulurkan tangannya ke arah Gebi, namun saat Gebi hendak menjabat tangan Devan, dengan cepat Kean menarik tangannya.
Gebi melihat Devan menyeringai sebelum ia beralih menatap Elda. "Senang bertemu denganmu lagi nona" ucapnya sambil tersenyum.
Gebi melihat wajah Elda mendadak menjadi pucat, membuat Gebi memiliki pikiran negatif.
Aneh !!
“Ayo makan,” Kean kemudian duduk di kursi di sebelah Gebi, sementara Devan duduk di sebelah Elda.
Gebi kembali memperhatikan Elda yang merasa tidak nyaman di sebelah Devan. Hingga Gebi beralih menatap Devan, tetapi ia tidak melihat sesuatu yang aneh.
Gebi terkejut ketika Kean tiba- tiba mendekatkan wajahnya ke telinga Gebi.
"Berhentilah menatapnya sayang ! Atau Aku akan membunuhnya" bisik Kean kemudian.
Gebi hanya memejamkan mata karena malu. Kean benar- benar sangat posesif.
Mereka mulai makan ketika pesanan tiba, sesekali Gebi melirik kearah Elda yang sejak tadi diam terus. Padahal tak biasanya wanita itu seperti itu.
"Apakah Anda baik- baik saja Nona Elda" tanya Devan.
Elda tersedak, membuat Devan memberikan segelas air. Dengan segera Elda mengambilnya dan meminumnya.
"Maaf," ucap Elda
"Kamu agak pendiam hari ini, apa kamu sakit?" Gebi tidak bisa menahan diri lagi untuk bertanya.
Elda diam- diam memelototi Gebi.
"Tidak apa- apa. Mungkin mulutku sedang tidak mood untuk berbicara sekarang," jawab Elda tersenyum kaku.
Devan menyeringai lalu menatapnya. "Apakah kamu ingin aku mengembalikan moodmu? Aku tahu caranya," jawabnya sambil tersenyum lucu yang terpampang di wajahnya.
Wajah Elda langsung merah sekarang. Gebi tidak tahu apakah itu karena malu atau marah.
"Tunggu. Maaf menyela, tapi bisakah aku menanyakan sesuatu?" Gebi tidak bisa lagi menahan diri.
"Apakah kamu mengenalnya secara pribadi?" Sambung Gebi lagi.
Devan tersenyum ke arah Gebi "Dia tunanganku"
"APA?" Teriak Gebi sambil menatap Elda dengan tajam.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Ucap Gebi dengan wajah cemberut.
Elda menutup matanya sejenak, lalu memelototi Devan "Sudah kubilang untuk merahasiakan ini brengsek"
"Maaf Geb ! Aku tidak langsung memberitahumu karena aku akan berbicara dengan ayahku dulu"
"Nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu"
********
Selesai makan siang Elda dan Gebi kembali keperusahaan. Gebi tak menanyakan lagi tentang hubungan Devan dengan Elda karena ia yakin suatu hari nanti wanita itu akan menjelaskan semuanya.
Tiba-tiba keduanya terkejut saat pintu ruangan tiba- tiba terbuka di susul dengan kehadiran Sofi dengan wajah penuh amarah.
Sekretaris Gebi berusaha menghentikan wanita itu, namun Sofi melawan.
"Lepaskan aku !" Teriak Sofi saat tangannya masih di pegang oleh sekretaris Gebi.
"Maaf Bu, saya sudah berusaha menghentikan nona ini, tapi dia tetap ngotot ingin keruangan Ibu "
"Tidak apa-apa biarkan di !Terima kasih" balas Gebi.
Sekretaris itu langsung melepaskan tangan Sofi, dan sebelum pergi ia membungkukkan badannya ke arah Gebi.
"Dasar pel@cur" teriak Sofi lalu mendekati Gebi.
Elda dengan cepat menghadang wanita itu agar tak mendekati Gebi.
"Sialan ! Apa masalahmu?" Elda berteriak, lalu mendorong tubuh Sofi
"Minggir kamu !, Jangan ikut campur urusanku !" Sofi balas berteriak.
"Kalau begitu kamu juga!" Seru Elda lagi.
Gebi bangkit dari kursinya dan mendekati Elda, ia tahu kesabaran Elda begitu kecil jadi, Gebi tidak ingin sahabatnya itu melalukan sesuatu pada Sofi.
"Apa yang kamu inginkan ?" Tanya Gebi berusaha selembut mungkin, meskipun sebenarnya ia sangat merasa jijik melihat Sofi.
"Sudah ku bilang,jangan sentuh Kean karena dia hanya milikku!" Jawab Sofi sambil meludah.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu pacarmu untuk melakukan itu, dari pada mencari masalah disini" balas Gebi dengan nada marah.
Sofi tertawa sejenak, lalu menatap Gebi lagi. "Tunggu saja ! Kean pasti akan meninggalkan kamu apalagi sekarang kami akan punya bayi"
Gebi tidak mengatakan apapun lagi.
"Apa- apaan ini?" Ucap Elda.
Tiba-tiba Gebi merasa mual, tubuhnya mendadak menjadi lemah. Ia berpegangan pada meja lalu menatap Sofi lagi.
"Pergi !, Kau sudah mengatakan apa yang ingin kau katakan, jadi sekarang pergilah. Dan jangan biasakan selalu mengunjungi tempat kerjaku tanpa izin, karena lain kali aku akan menemuimu dengan sebuah pisau." Kata Gebi serius sambil menatapnya.
Sofi menyeringai, lalu perlahan berjalan ke arah Gebi, Elda terus berdiri di depan Gebi, namun Sofi segera mendorongnya, membuat Elda terjatuh.
"Apa kamu belum selesai ?" Gebi berteriak dengan marah, dan kemudian membantu Elda untuk berdiri , tetapi Elda juga mendorong tubuh Gebi hingga terjatuh.
"Belajarlah untuk memahami, Kamu memang sudah menikah dengan Kean, tapi dia tetap milikku!"
"Dasar wanita sialan" ucap Elda lalu segera berdiri untuk mendekati Sofi.
Elda langsung menarik rambut Sofi dan di balas oleh wanita itu.
"E...el...Elda" bisik Gebi pelan, sehingga Elda berhenti dan menoleh ke arah Gebi.
"Ya Allah Geb" teriak Elda dengan keras, kemudian langsung mendekati Gebi.
Air mata Gebi mulai mengalir saat ia melihat pahanya yang berlumuran darah.
"Tolong-tolong" teriak Elda dengan kencang.
"El....da." ucap Gebi berkali- kali, meski pandangan nya mulai lemah dan kabur.
"Semuanya akan baik- baik saja," ucap Elda sambil menyeka air mata Gebi.
"Apa yang terjadi di sini ?" sebuah suara yang sangat Gebi kenal berteriak dengan suara keras, sebelum akhirnya Gebi benar-benar kehilangan kesadarannya.
kalu gebi udah tanda tangan surat dari sofie
jujur aja k kean gebi
mungkin gebi kira kean yg suruh..
up lg kk
waktu sofi datang?