Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 19- Tetangga rese
Ep. 19- Tetangga rese
Keesokan harinya...
Pagi itu, udara segar menyapu halaman depan rumah berarsitektur modern milik keluarga Kirana.
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos di antara celah-celah dedaunan pohon mangga yang rindang, membiaskan pendar keemasan di atas rerumputan hijau yang terawat rapi.
Setelah malam-malam panjang yang melelahkan dan dipenuhi gejolak emosi, Kirana mencoba mencari sedikit ketenangan.
Mengenakan gaun santai berwarna krem berbahan katun ringan dengan kacamata hitam yang bertengger kaku di atas kepalanya, ia duduk di kursi taman kayu jati di bawah naungan kanopi.
Di sampingnya, Keisya tampak sangat ceria. Gadis kecil itu sibuk mewarnai buku gambar bertema hewan laut dengan krayon warna-warni dan sesekali tertawa gembira saat Kirana memuji kombinasi warna yang ia pilih.
Momen kebersamaan itu tampak begitu harmonis, hangat, dan sempurna, layaknya potret ideal kasih sayang antara seorang ibu dan putri tunggalnya.
Namun, beberapa meter di sudut halaman dekat teras samping, pemandangan berbeda terlihat. Aura duduk di atas tikar plastik bersama Mbok Darmi dan Mbak Yem.
Balita kecil itu tampak mengenakan pakaian serba merah muda. Wajahnya masih agak pucat dan matanya sedikit sembap sisa menangis semalaman.
Aura sempat anteng selama beberapa menit memainkan blok plastik warna-warni. Namun, pandangan mata bulatnya terus-menerus teralih ke arah Kirana dan Keisya yang sedang bersenda gurau.
Setiap kali mendengar gelak tawa Keisya, Aura akan melepaskan mainannya. Ia berdiri menggerak-gerakkan kakinya yang gempal, lalu merengek halus seraya mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Kirana.
"Ma... ma... ikuuut..." cicit Aura dengan suara cadelnya yang serak.
Aura mengambil beberapa langkah dan mencoba mendekati area kursi taman, namun Mbok Darmi dengan sigap dan lembut memegang pinggang balita itu, lalu menariknya kembali ke atas tikar seraya menyodorkan biskuit bayi.
"Ssst... dek Aura sama Mbok dulu ya, Nak. Ibu sama Kak Keisya lagi sibuk."
"Uuu..."
Aura merengek lagi, tubuhnya memulas ketidakpuasan. Kepolosannya seolah menuntut hak yang sama untuk berada di dalam dekapan hangat sang ibu dan kakaknya, yang tak mengerti sekat dingin yang sengaja diciptakan Kirana sejak kemarin sore.
Beberapa tetangga komplek yang sedang berolahraga pagi atau berjalan-jalan santai sempat melintas di depan pagar.
Kebanyakan dari mereka hanya melempar senyum ramah, menyapa Kirana dengan sekedar basa-basi formal dari balik pagar rendah, lalu melanjutkan langkah mereka dengan sopan. Kirana pun membalas sapaan-sapaan itu dengan anggukan kepala dan senyuman tipis.
Namun, kedamaian pagi itu tidak berlangsung lama.
Dari ujung jalan paving, terlihat sosok wanita paruh baya bermotif daster batik cerah dilapisi kardigan rajut kuning melangkah dengan gaya yang dibuat-buat.
Itu adalah Bu Siska, salah satu tetangga yang terkenal di seluruh blok sebagai pusat gosip, sosok yang selalu ingin tau urusan orang lain, dan tak memiliki rasa segan atau kemaluan jika menyangkut rasa penasaran pribadinya.
Melihat pintu gerbang besi yang kebetulan sedikit renggang karena Mbok Darmi baru saja mengambil koran pagi, mata Bu Siska langsung berbinar cerah.
Tanpa mengetuk, tanpa menunggu diundang, dan tanpa rasa canggung sedikit pun, wanita itu langsung mendorong gerbang hingga terbuka lebar dan melangkah masuk ke halaman privat rumah Kirana.
"Selamat pagi, Bu Kirana...!" sapa Bu Siska dengan suara nyaring melengking yang sengaja dipanjangkan, sedangkan matanya liar menyapu seluruh sudut halaman rumah.
Kirana agak tersentak. Alisnya bertaut erat di balik rasa terkejutnya. Namun, demi menjaga etika tetangga, Kirana memaksakan sudut bibirnya terangkat meskipun kaku. "Selamat pagi, Bu Siska."
Tanpa dipersilakan duduk, Bu Siska melangkah semakin dekat ke arah kursi taman. Tatapannya terpaku ke arah sudut halaman tempat Aura sedang merengek di pangkuan Mbok Darmi.
"Duh, Bu Kirana... itu anaknya nangis terus dari semalam ya?" ujar Bu Siska tanpa basa-basi, sambil memasang raut wajah yang berpura-pura prihatin namun sarat akan nada yang menghakimi. "Saya semalam hampir tidak bisa tidur lho, Bu! Suara tangisannya melengking banget, kedengaran sampai ke rumah saya di sebrang jalan. Ck ck ck..."
Kirana mulai tak nyaman dan mengepalkan jemarinya di bawah meja taman. Wajahnya meredup, namun ia memilih menyembunyikan kekesalannya di balik topeng ketenangannya.
Kemudian, Bu Siska mengambil satu langkah lagi dengan lebih mendekat ke arah tikar Mbok Darmi, sambil meneliti sosok Aura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang amat tidak sopan.
"Memang ayahnya anak ini belum ada datang jemput ya, Bu Kirana?" lanjut Bu Siska dengan nada suara yang sengaja dipelankan, seolah sedang membocorkan rahasia besar.
"Kok anak kecil begini dibiarkan tinggal berlama-lama di rumah Ibu? Padahal kan... bapaknya atau keluarga kandungnya yang lain pasti ada, 'kan? Kasihan lho Bu kalau ditelantarkan di rumah orang begini."
Kirana tidak langsung menjawab. Ia menjilat bibirnya yang mendadak kering karena menahan gejolak amarah yang mulai membakar tenggorokannya.
Kirana hanya melempar senyuman dingin yang sangat tipis, berharap Bu Siska menyadari batas dan segera angkat kaki dari halamannya.
Namun, rasa tau malu Bu Siska tampaknya sudah tumpul oleh besarnya rasa penasaran. Melihat Kirana hanya diam, Bu Siska justru memajukan tubuhnya dan memasang wajah yang sangat menyebalkan.
"Eh, Bu Kirana... tapi maaf banget nih ya sebelumnya," goda Bu Siska dengan cengiran tanpa dosa. "Ini bukan saya yang ngomong lho, Bu... Ini kata ibu-ibu arisan di blok sebelah waktu kumpul kemarin sore. Katanya... si Aura ini wajahnya mirip sekali sama almarhum Pak Rendra! Hidungnya, bentuk matanya... mirip banget!"
DEG.
Darah Kirana serasa mendidih seketika. Rasanya seperti lukanya yang baru saja ditutupi kassa mendadak dikoyak paksa di depan umum.
Bu Siska malah terkekeh dan memasang raut wajah yang pura-pura polos. "Bukan maksud menuduh atau apa ya, Bu Kirana... Tapi memang benar kan, si Aura ini mirip banget sama Pak Rendra? Apa jangan-jangan..."
Kirana menatap Aura sejenak dari kejauhan. Balita itu masih menangis pelan di pangkuan Mbok Darmi dan sepenuhnya tak sadar bahwa kehadirannya sedang dijadikan bahan gunjingan hina oleh tetangga tak tau diri itu.
Kirana lalu beralih pandangan ke sembarang arah dan menatap pucuk-pucuk daun mangga, mencoba menguasai emosinya agar tidak meledak di depan Keisya yang kini mulai menghentikan kegiatan mewarnainya dan menatap bingung pada Bu Siska.
"Maaf, Bu Siska..." pangkas Kirana. Ia lalu berdiri dari kursi tamannya sambil memegang pundak Keisya. "...saya masuk ke dalam dulu ya. Ada pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan."
Kirana merangkul Keisya dan berniat melangkah pergi meninggalkan area taman.
Namun, Bu Siska yang merasa pertanyaannya belum terjawab dan dahaganya akan gosip belum terpuaskan, justru bergeser mengambil satu langkah ke samping, seolah sengaja menghalangi jalur jalan Kirana menuju teras utama.
"Lho, Bu Kirana kok terburu-buru begitu?" cerocos Bu Siska tanpa segan. "Saya kan cuma nanya baik-baik, Bu. Kalau memang itu anak saudara Pak Rendra kan tinggal diomongin jujur saja... Daripada jadi fitnah di kompleks, ya kan? Lagian kasihan Pak Rendra yang sudah tiada kalau sampai ada kabar yang nggak-nggak soal..."
Cukup sudah.
Kesabaran Kirana yang selama ini dipaksakan runtuh sepenuhnya.
Kirana menghentikan langkahnya tepat di depan Bu Siska. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke mata Bu Siska, memancarkan aura ketegasan dan amarah yang begitu menakutkan hingga membuat Bu Siska seketika bungkam dan melangkah mundur setengah jalan.
Kirana tidak sudi membuang kata-kata atau merendahkan dirinya untuk meladeni omong kosong tetangga pencari sensasi tersebut. Ia lalu memalingkan wajahnya dari Bu Siska, lalu menoleh ke arah Mbok Darmi yang berdiri tegang di sudut tikar.
"Mbok Darmi!" panggil Kirana dengan suara yang keras dan tegas.
"I-iya, Bu Kirana?" sahut Mbok Darmi terperanjat.
"Lain kali..." ucap Kirana dengan penekanan kata demi kata yang sangat jelas dan sengaja diucapkan agar terdengar tepat di telinga Bu Siska yang berdiri di sampingnya, "...pintu gerbang depan selalu dikunci rapat! Supaya tidak ada orang asing atau orang tidak berkepentingan yang sembarangan masuk ke dalam rumah saya!"
Wajah Bu Siska seketika berubah merah padam. Rasa malu dan tamparan sosial secara tidak langsung itu menghantam telak harga dirinya.
Mulut Bu Siska menganga, karena tak menyangka jika Kirana akan memberi tanggapan menohok yang begitu terbuka di hadapannya.
Tanpa sudi menatap Bu Siska lagi, Kirana menuntun jemari Keisya dengan erat. "Ayo masuk, Keisya."
"Iya, Mama..." sahut Keisya penurut, lalu mengekor di samping ibunya saat mereka melangkah menaiki undakan teras dan masuk ke dalam rumah.
BAM!
Pintu kayu jati utama ditutup dengan dentuman keras dari dalam, menandakan batas mutlak yang tak boleh ditembus oleh siapa pun dari luar.
Sementara itu, di halaman depan yang mendadak hening, Mbok Darmi dan Mpok Yem dengan cepat bergerak.
Mbok Darmi menggendong Aura yang masih merengek, sementara Mpok Yem berjalan kaku mendekati Bu Siska yang masih berdiri mematung dengan wajah merah yang menahan malu.
"Mari, Bu Siska... Ibu Kirana mau istirahat di dalam," ujar Mpok Yem dengan nada dingin, yang mengisyaratkan wanita itu untuk segera angkat kaki dari halaman rumah majikannya.
"Huh!."
Bu Siska mengibaskan kardigannya dengan sengit sambil menggerutu tak jelas di bawah napasnya, seraya berbalik dan berjalan cepat keluar dari gerbang dengan langkah hentakan kaki yang penuh kekesalan.
"Huh! Dasar! Sombong banget jadi orang!!"
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗