Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
"Aku bukan ingin menghakimi, tetapi cinta sejati itu memang tidak ada. Cinta? Sama dengan omong kosong. Dan mencintaimu adalah hal yang paling kusesali dalam hidup."
Seorang gadis menggumamkan kalimat itu dengan getir penuh emosional, menuruti ketukan jemarinya yang bergerak lincah di atas papan ketik. Kalimat dialog fiksi yang baru saja ia ketik terasa begitu nyata, seolah sedang menyuarakan isi hatinya sendiri.
Seiring dengan berakhirnya ketikan itu, gadis dengan kacamata dan laptop di pangkuannya terlihat merenggangkan tangannya yang terasa kebas akibat mengetik setelah lepas subuh tadi.
“Akhhkkk, akhirnya ... chapter 150 selesai juga!” pekiknya pelan, masih merenggangkan tangan. Sejenak, ia menutup mata dan menghirup udara pagi yang terasa sangat sejuk. Sungguh pagi yang membahagiakan tanpa drama write block! Yang menghantuinya beberapa waktu ini.
“Kanaraaaa, kalau sudah selesai. Tolong bantu Ibu dulu di sini!” teriak seorang perempuan dari dalam rumah yang tak lain adalah ibunya.
“Iya, Bu. Bentar ... Nara beresih laptop dulu,” balasnya. Ia menyimpan tulisannya di folder terlebih dahulu sebelum laptopnya ia matikan. Gadis itu pun segera masuk untuk mengerjakan titah sang ibunda.
“Itu list belanjaan yang harus kamu beli, usahakan semuanya harus ada. Bila perlu kamu keliling, cari sampai ketemu! Jam delapan, semuanya harus sudah ada di hadapan Ibu,” titah perempuan yang telah melahirkannya itu.
Nara menghembuskan napas, melihat banyaknya belanjaan yang harus ia beli. “Mana bisa begitu, Bu. Belum lagi ini susah nyarinya,” protesnya. Ia teringat bagaimana terakhir kali saat pergi kemarin, ia dibuat kelimpungan mencari segala macam bahan yang ada di kertas list ibunya. Pasar banyak berubah sejak delapan tahun terakhir ia pergi merantau.
“Heh! Lebih susah nyari jodoh kamu itu. Bahan-bahan itu semua sudah ada di pasar, tinggal kamu cari yang teliti. Kalau ketemu, jangan lupa ditawar. Jangan kaya pas itu yang kamu langsung ambil terus bayar, apalagi tanpa lihat kualitasnya. Jangan hanya jodoh yang kamu pilih-pilih!”
Kanara memutar bola matanya. Jika ada kesempatan, ibunya selalu saja membahas perihal jodoh, apa-apa jodoh, sedikit-sedikit jodoh. Padahal, ia merasa tidak setua itu untuk mengkhawatirkan masalah pasangan hidup. Masih 27 ini loh, 27 tahun! Masih sangat mudah! Sekedarnya itu menurutnya.
“Ibu tuh, kadang jengkel terus ditanyai kenapa kamu belum nikah? Terus denger kamu yang dikatai belum laku lah, perawan tua lah. Hais, mau Ibu ulek mulut mereka dengan sambal terasi ini!” rutuk wanita paruh baya itu, meluapkan segala emosinya pada sambal yang tak berdosa.
Kan!!! Ibunya saja jengkel, apalagi Nara yang terus ditanyai ‘kapan nikah?’ ketika berpapasan dengan ibu-ibu rempong nan penasaran setinggi menara Eiffel itu.
Hari pertama setibanya di kampung halaman, setelah merantau beberapa tahun di Jakarta untuk menempuh pendidikan dan bekerja mencari pengalaman. Hal pertama yang ditanyai adalah perihal jodoh, kapan nikah dan sejenisnya. Bahkan, sampai sekarang. Seolah mereka tidak memiliki pertanyaan lain atau sekedarnya bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Ia seolah anomali untuk warga desa ini.
“Kalau begitu, Ibu ndak usah dengerin,” tanggap Nara seraya meraih paper bag kain untuk menampung belanjaannya nanti.
“Gimana Ibu ndak dengerin?! Mereka yang kumpul di warung makan kita. Beli kagak, hutang sih, iya!” dumbel ibunya lagi, Nara hanya bisa menggelengkan kepala. “Pokoknya kamu cari jodoh deh, kalau nggak dapat. Ibu jodohin kamu,” singkat ibunya yang membuat anak gadisnya itu ketar-ketir.
Nara segera berpamitan demi menghindari pembahasan tersebut. Ia berjalan cepat menuju halaman depan untuk segera menghampiri motor maticnya. Mulai menyalakan mesinnya yang ia biarkan beberapa saat untuk memanaskan sebelum menarik gasnya. Kendaraan roda dua itu membelah jalanan desa yang masih tampak asri dengan pepohonan rindang dan persawahan, walaupun sudah ada beberapa pabrik yang mengisi sudut desa.
Motor matic Nara berhenti di area parkir pasar, abang-abang tukan parkir segera mengerubungi untuk menawarkan jasa mereka. Yang dekat dengan Nara segera membantu gadis itu untuk memarkirkan motornya ke jalur yang sesuai, lalu menutupnya dengan kardus. Padahal matahari belum terlalu terik, entah apa fungsi kardus tersebut.
Nara, membiarkan saja. Meraih secangkir kertas yang terlipat dan memanjang—list belanjaan pemberian ibunya. Membacanya ulang satu persatu, lalu menyusuri pasar untuk memenuhi tas belanjaannya.
“Eh, Neng Nara. Datang lagi ke pasar hari ini? Disuruh Ibu?” sapa seorang penjual kenalan ibunya. Basa-basi, tentu saja. Karena jelas, ia melihat Nara di hadapannya.
“Iya, Nek.” Nara mengangguk dengan sopan. “Tolong jengkolnya dua kilo sama petenya lima ikat,” ujarnya sesekali membaca instruksi dari kertas list ibunya.
“Siap, Neng. Tunggu sebentar,” riang penjual itu, sumringah. Ia segera menyiapkan pesanan anak dari pelanggan tetapnya.
“Datang belanja juga, kasian kamu. Nanti pulangnya sendiri juga, nggak ada yang bawai motornya?” sapa seorang ibu yang merupakan tetangga depan rumah Nara. Salah satu yang masuk kedalam kategori ibu-ibu rempong nan kepoan menurut versinya.
"Makanya kamu cepat nikah, cari suami biar ada yang bantuin. Biar apa-apa nggak sendiri, kayak saya ini, lho. Tuh ....” Ibu itu menunjuk ke arah parkiran. “Suami saya nungguin di sana.”
Nara nyengir. “Iya, Bu. Justru itu. Karena saya masih bisa sendiri, jadi belum butuh suami. Apalagi suami yang cuma nunggui di motor, nggak bantuin istrinya bawa belanjaan yang berat.” Ia melirik sekilas ke arah tunjuk ibu itu yang mengarah pada suaminya yang tengah menunggu di atas motor sambil merokok.
“Kamu ya, dikasih tahu malah ngeyel. Nanti jadi perawan tua baru tahu rasa! Anak saya aja yang bungsu umur dua puluh tahun sudah punya satu anak. Lha, kamu ini loh ... sudah cukup umur, pacar nggak punya, apalagi calon. Perawan tua betul nanti!” jelasnya ngegas dengan alis menaut sempurna.
Mulut Nara hampir saja menganga dengan perkataan tajam nan menusuk itu. Berulang kali ia beristigfar dalam hati. Ingin sekali membalas, Setidaknya saya tidak hamil di luar nikah seperti anak Ibu! tetapi kata-kata tersebut hanya tertahan di tenggorokannya saja.
“Iya, Bu. Terima kasih atas nasehatnya, akan saya ingat. Kalau begitu, mari ... belanjaan saya telah disiapkan.” Nara kembali berhadapan dengan penjual untuk membayar belanjaannya, mengabaikan wanita paru bayah itu yang merasa tidak puas atas respon Nara.
“Datang lagi ya, Neng. Jangan bosan belanja di sini, saya selalu ramahhh.” Senyum penjual itu lebar, dibalas Nara dengan senyum pula yang kemudian mengangguk singkat dan berlalu.
“Apa maksudnya ‘saya selalu ramah’?!” tanya ibu yang tadi mengobrol dengan Nara kepada si nenek penjual dengan nada sinis. Ia merasa tersindir.
“Ndak ada maksud apa-apa? Jadi kamu mau beli apa?” tanya Nenek baik-baik.
Ibu itu mengeram, “Siapa yang mau beli belanjaan situ,” ujarnya, kemudian berlalu begitu saja.
“Lah, kenapa lu berdiri di mari dari tadi kalau ndak beli. Dasar aneh, penggosip, cari masalah. Kurang belalaian lu pasti, makanya cari mangsa buat pelampiasan!” teriak Nenek dengan suaranya yang khas melengking.
Nara menggeleng pelan karena masih mendengar perdebatan di belakangnya. Ia pun melanjutkan langkah untuk menyelesaikan titah ibunya. Waktu terus bergulir. Tanpa terasa, jarum jam hampir menunjuk pukul delapan. Ia harus segera bergegas.
Gadis itu sama sekali tidak menyangka, jawaban spontan yang ia lontarkan kepada tetangganya pagi itu akan menyebar dari satu mulut ke mulut lainnya. Dan tanpa ia sadari, ucapan itu menjadi awal dari masalah yang tak pernah ia bayangkan.
***
Bersambung ...