Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesan Daley
Daley terus memberontak, ia melarang mbok Arsih membantunya. Daley langsung memutar rodanya sendiri dan saat melewati para tamu, ia langsung menatap mereka dengan tajam satu per satu. Lalu saat matanya bertemu dengan Lania, Daley pun langsung mengumpat.
"Dasar serakah," celetuk Daley pada Lania.
Aston menghela nafasnya, pria tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Daley meninggalkan mereka.
"Sekali lagi maaf atas sikap Daley yang tidak sopan," ucap Aston, "Amel... tahan emosimu, Ley masih remaja masih tidak memahami keadaannya," imbuhnya.
Amel berpura-pura kesal, "baiklah, kali ini aku kembali berusaha memahaminya."
"Soal syarat keduamu, aku akan menyetujuinya. Pernikahan mereka tidak perlu dipublikasikan sampai keduanya siap. Setidaknya kalian tidak mundur dalam pernikahan ini. Aku sebelumnya sempat khawatir karena keadaan Daley."
"Kakek Jamiko, apapun yang terjadi, kami akan tetap menyetujui pernikahan ini. Karena ini permintaan terakhir ayah kami juga. Tapi soal syarat yang diajukan istriku, sebenarnya..."
"Tak perlu menjelaskannya lagi Juan," sergah Aston, "aku tahu kau dan Lisa tak tahu apa-apa tentang masalah ini, tapi aku juga tidak menyalahkan Amel. Karena aku yakin ia sudah memikirkan masalah ini selama beberapa hari. Harta Jamiko tidak akan habis walaupun memberikan 25% saham pada Lisa. Dan pernikahan tertutup juga baik untuk Daley, karena kita tak tahu apakah Ley bisa disembuhkan atau tidak. Aku akan membawa Ley ke Amerika minggu ini, aku tak tahu sampai berapa lama Ley akan berada di sana untuk pengobatannya. Tapi apapun hasilnya, saat Ley kembali kesini, aku harap Lisa juga sudah siap menikahinya dengan keadaan apapun," imbuhnya.
"Setelah perjanjian itu ada, kami tidak akan pernah lari. Lisa tentu saja akan menikahi Ley," jawab Amel.
"Kau tak perlu khawatir, secepatnya aku akan meminta pengacara untuk mengantarkan dokumennya. Lisa... kemari nak," pinta Aston.
Seketika Lania mendekati pria tua itu.
"Kek... La... maksudku... Lisa tidak akan mundur apapun yang terjadi. Lisa janji akan merawat Ley sampai kapanpun. Walaupun Ley nanti tidak bisa berjalan selamanya, Lisa tidak akan pernah meninggalkannya."
"Ucapanmu membuatku begitu tenang nak. Berjanjilah pada kakek, jika sikap Ley terus kasar padamu, kau harus tetap sabar dengannya. Ley bukanlah anak yang kasar, ia seperti ini karena keadaannya yang tiba-tiba berubah dalam sekejap. Kakek benar-benar minta pengertianmu, apa yang sedang dialami Ley sekarang benar-benar sangat mengejutkannya."
"Aku tahu kek. Bolehkah aku menemui Ley sebentar," pinta Lania.
"Untuk apa? Apa kau tidak melihatnya tadi? Ia sedang marah, jika kau menemuinya maka itu akan membuatnya semakin marah," celetuk Amel.
"Apakah Lania ingin memberitahu Daley siapa ia sebenarnya. Gadis ini, apakah ia berniat untuk menghancurkan keluarga Furhet secepat ini. Tidak akan aku biarkan ia melakukannya," pikir Amel.
"Biarkan saja Lisa berusaha membujuk Ley. Mungkin Lisa bisa menenangkannya Mel," kata Aston.
"Untuk saat ini, membiarkan Ley sendiri lebih baik kek," jawab Amel.
"Kali ini aku setuju dengan istriku kek, Ley butuh waktu untuk tenang," sahut Juanda.
"Baiklah, aku mengerti kekhawatiran kalian. Lisa, kau bisa datang ke rumah ini jika Ley sudah tenang. Tapi kesempatan itu mungkin hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum Ley berangkat ke Amerika."
Lania menganggukkan kepalanya.
"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kami harus pulang sekarang kek," ucap Amel.
Aston menganggukkan kepalanya, "pembicaraan kita kali ini sudah cukup jelas. Aku harap kalian tidak berubah pikiran lagi. Ley membutuhkan pendamping seperti Lisa."
"Kakek tenang saja, kami tidak akan mengingkari janji ini," jawab Juanda.
Mereka pun mulai berpamitan. Aston kembali memeluk Lania. Pria tua itu menepuk punggung Lania dengan lembut.
"Tetaplah bersikap manis seperti ini Lis, kakek sangat menyukainya," bisik Aston.
Lania tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Mereka pun akhirnya meninggalkan rumah besar Jamiko.
...****************...
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah Furhet, Juanda dan Amel mulai berdebat.
"Apa kau sudah gila? Kau bilang tidak perduli seberapa besar pun saham yang diberikan oleh keluarga Jamiko untuk Lisa. Tapi kenapa kau justru meminta lebih mah. 25% bukanlah saham yang sedikit. Entah kenapa kakek Aston menyetujui permintaan gilamu itu," celetuk Juanda.
"Awalnya aku memang tidak perduli tentang saham itu. Tapi setelah aku pikirkan lagi, kita bukan hanya mengorbankan satu anak kita pah, tapi ada dua orang. Lania dan Lisa akan sama sama menjadi korban. Hanya saham sebesar itu yang bisa menjadi jaminan kesejahteraan hidup mereka kelak."
"Heh... kau lupa... ide gila siapa ini? Kau lah yang membuat anak anak kita menjadi korban. Jika Lisa setuju, seharusnya Lania tidak terseret ke dalam masalah ini. Perbuatan kita ini bisa menghancurkan keluarga Furhet."
"Untuk itulah Lania harus tetap menjaga rahasia ini sampai mati. Lania... apa yang ingin kau bicarakan dengan Daley? Kenapa kau ingin menemuinya tadi? Apa kau ingin mengatakan siapa sebenarnya dirimu?"
Lania terkejut, sontak ia menggelengkan kepalanya.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak mah, Lania adalah gadis yang baik. Ia tak mungkin akan melakukan hal itu," ujar Juanda.
"Benar mah, Lania tidak bermaksud untuk membongkar rahasia ini. Lania hanya ingin menghibur Daley."
"Apa kau sudah gila? Ia bahkan menatapmu tajam sambil berkata serakah. Mungkinkah ia mau berbicara denganmu. Jangan bersikap bodoh Lania. Daley bukan orang yang mudah dihadapi. Dan jangan pernah kau jatuh cinta padanya, ini hanya pernikahan palsu saja. Kau tidak boleh merusak reputasi kakakmu."
"Ya Tuhan mah... kenapa kau terus menyalahkan Lania. Sikapmu ini sangat kasar pada Lania, apa selama ini kau memang bersikap seperti ini di belakangku?" tanya Juanda.
Amel terbelalak, seketika ia menangis palsu.
"Bagaimana papa bisa berkata seperti itu? Aku juga menyayangi Lania seperti menyayangi putriku sendiri," ucap Amel sambil terisak.
"Pah... mama Amel tidak berbohong. Mama selalu memperlakukan Lania dengan baik kok," sahut Lania berbohong.
"Terima kasih nak, kau membela mama."
"Sudahlah... berhenti menangis mah. Aku hanya sedang emosi saja. Aku minta maaf karena menuduhmu yang tidak tidak," ucap Juanda.
Amel menghapus air mata palsunya, ia pun menyunggingkan senyumnya.
"Tetaplah bodoh seperti ini Lania, maka kau akan hidup dengan baik," pikir Amel.
Satu jam kemudian...
Mereka pun sampai di rumah keluarga Furhet, Amel dan Lania turun dari mobilnya. Sedangkan Juanda hanya membuka kaca mobilnya.
"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di perusahaan. Aku akan kembali sebelum makan malam," ucap Juanda.
"Tapi papa belum makan siang," kata Amel.
"Aku akan makan di perusahaan saja, sudah tidak ada waktu lagi. Kalian masuklah..."
Amel menghela nafas panjang seraya menganggukkan kepalanya. Ia dan Lania pun masuk ke dalam rumah hanya berdua saja.
Di dalam rumah, Lisa sudah menunggu kedatangan mereka. Gadis itu seketika menghampiri mereka.
"Kalian lama sekali, aku harus mengubah jadwalku begitu banyak," gerutu Lisa.
"Maaf sayang, banyak sekali yang dibicarakan tadi," jawab Amel.
"Bagaimana hasilnya? Mereka tidak curiga kan kalau Lania bukanlah Lisa."
"Kau tenang saja, semuanya aman."
"Dimana papa?"
"Papa langsung ke perusahaan."
Lania melangkahkan kakinya untuk meninggalkan mereka.
"Berhenti kau..." teriak Lisa.
Lisa mendekati Lania, gadis itu menatapnya dengan tajam.
"Kau tidak melakukan hal bodoh kan, misalnya membuatnya terkesan. Aku tidak mau Ley jatuh cinta pada Lisa atau sebaliknya."
Lania bergeming, ia tak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini.
"Ck... gadis bodoh ini sepertinya justru dibenci olehnya," celetuk Amel.
"Dibenci? Bagaimana bisa? Tapi baguslah..." kata Lisa.
Amel melepaskan tawanya, "tentu saja ia dibenci, aku meminta dua syarat pernikahan yang membuat Daley merasa Lisa sangat serakah."
Amel pun mulai menceritakannya pada Lisa, sontak Lisa pun tertawa dengan keras.
"Mama memang hebat. Saat pernikahan itu terjadi, kau pikir bisa lepas dari penderitaan. Jika kami tidak bisa menyiksamu, maka Ley yang sudah membencimu itu akan menggantikannya. Semua itu tidak akan pernah cukup atas apa yang kau lakukan pada keluarga ini. Kehadiranmu dalam keluarga Furhet, sangat membuat kami menderita. Jadi terimalah nasib burukmu itu," bentak Lisa seraya mendorong Lania.
Lania pun terjatuh ke lantai, kepalanya membentur anak tangga hingga berdarah.
"Haisssss... aku mendorongmu tidak terlalu kuat, kenapa kau sampai jatuh. Pergilah... aku muak melihat wajahmu," teriak Lisa.
Lania pun bangun dari lantai sambil memegang dahinya yang berdarah.
"Obati lukamu, jangan sampai papa melihatnya," ucap Amel.
Lania hanya menganggukkan kepalanya seraya menuju ke kamarnya.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣