Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Seperti Cinderella
Apa kalian tahu cerita Cinderella? Ya, kisah seorang gadis malang yang harus hidup jadi babu untuk ibu dan kakak tirinya.
Cerita Cinderella sama persis seperti nasib yang dialami Maya. Namun bedanya, dia punya kakak tiri yang lebih bejat dari kakak tirinya Cinderella.
Saat melihat kilatan ingatan Maya, Priska jadi teringat cerita Cinderella.
Dua tahun lalu, ayah kandung Maya baru meninggal dunia. Sehingga seluruh harta kekayaannya kini jatuh ke tangan ibu tirinya, Norma.
Norma punya anak bernama Jamie dan Ziva. Ketiganya sama-sama memperlakukan Maya dengan buruk di rumah. Bahkan tak jarang, Maya disuruh melakukan pekerjaan rumah. Padahal di rumah itu sudah ada pembantu. Menyiksa Maya membuat mereka merasa mendapatkan kepuasan tersendiri.
Jika ada yang bertanya kenapa Maya tak lapor semuanya ke polisi? Terutama mengenai pelecehan yang dilakukan Jamie. Ya jawabannya karena ancaman yang selalu mereka berikan. Mereka juga begitu manipulatif dan sangat pintar membuat Maya merasa dirinya tak berdaya.
Perlakuan kasar Norma dan dua anak tirinya sudah jadi makanan sehari-hari Maya. Neraka itu sebenarnya sudah dimulai saat ayahnya Maya menikahi Norma.
Kini Maya mengunyah makanan sambil mendelik ke arah Jamie yang tampak bingung.
Cuh!
Maya sengaja meludah tepat ke wajah Jamie sebagai awal pemberontakannya. Hal itu sontak membuat Jamie marah.
Dimana semua berakhir dengan ancaman Maya pada Jamie kalau dia akan melaporkan kejahatannya selama ini.
Dua perawat yang datang tampak kebingungan. Maya yang mengerti perlahan duduk dan menangis ke ranjang rumah sakit. Dia menunjuk ke arah Jamie dan berkata, "Semua ini gara-gara dia, Sus... Tolong saya... Tolong..."
Dua perawat itu lantas menatap Jamie yang masih menahan sakit di aset pribadinya. "Nggak! Dia bohong. Jangan percaya sama wanita ini. Dia punya gangguan mental," ujarnya membantah.
Maya menarik sudut bibirnya tajam. Merasa jijik dengan pembelaan kotor Jamie.
"Itu lihat! Dia tersenyum!" Jamie menunjuk ke arah Maya histeris.
Dua perawat yang ada segera menatap Maya. Maka dengan cepat pula Maya merubah ekspresinya jadi sedih lagi.
"Saya nggak bohong, Sus. Saya akan buktikan dengan menjalani visum. Saya akan buktikan kalau lelaki bejat ini melecehkan saya..." mohon Maya. "Kalian juga perempuan, saya yakin kalian mengerti," tambahnya sambil menggenggam erat tangan salah satu perawat.
"Baiklah, Dek. Kami akan bantu kamu. Ikut kami ya," ujar salah satu perawat.
Maya mengangguk. Dia dibawa oleh perawat itu untuk melakukan visum. Sementara Jamie hanya bisa terperangah. Ia panik dan bingung sampai tak mampu berkata-kata lagi.
Jamie gemetar saat pintu ruang perawatan tertutup di belakang Maya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Untuk pertama kalinya selama ini, dia benar-benar merasa takut.
Bukan takut karena tendangan Maya tadi. Tapi takut kalau semua kebusukannya terbongkar.
Tangannya buru-buru meraih ponsel dari saku celana. Jemarinya bahkan sampai salah menekan layar beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menghubungi ibunya. Nada sambung terdengar singkat.
“Halo?” suara Norma terdengar ketus dari seberang sana.
“Ma... Mama...” suara Jamie bergetar panik.
Norma langsung menyadari ada yang tidak beres. “Ada apa? Kenapa suara kamu kayak orang mau mati?”
Jamie menelan ludah susah payah. “Maya... Maya mau laporin aku ke polisi.”
“Apa?!”
Teriakan Norma terdengar begitu keras sampai membuat Jamie menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Dia bilang mau visum, Ma! Dia sekarang dibawa perawat. Gimana ini?” Jamie mulai mondar-mandir di lorong rumah sakit.
Norma terdiam beberapa detik. Namun bukannya panik, wanita itu justru mendengus kesal.
“Dasar anak nggak tahu diri!” makinya penuh amarah. “Berani-beraninya dia melawan keluarga sendiri.”
Jamie meremas rambutnya frustrasi. “Ma, ini serius! Kalau dia ngomong macam-macam ke polisi gimana?”
“Tenang!” potong Norma tajam. “Kamu pulang sekarang.”
“Hah?”
“Mama bilang pulang!”
Jamie mengerut bingung. “Terus Maya?”
Norma tersenyum sinis di balik telepon. “Kalau dia pikir bisa mengancam keluarga kita, berarti dia salah besar.”
Tatapan Jamie perlahan berubah lega. “Mama mau ngapain?”
“Mengusir dia dari rumah.”
Jamie langsung terdiam.
Norma melanjutkan dengan nada dingin, “Mama yakin Maya cuma cari perhatian. Dia nggak bakal berani macam-macam kalau sudah nggak punya tempat tinggal.”
“Tapi kalau dia tetap lapor polisi?”
“Kita bikin dia takut dulu.” Suara Norma terdengar penuh racun. “Perempuan lemah seperti dia paling gampang dihancurkan mentalnya.”
Jamie akhirnya menghembuskan napas lega. “Oke, Ma. Aku pulang sekarang.”
Telepon ditutup. Jamie menoleh ke arah koridor rumah sakit tempat Maya tadi dibawa. Sorot matanya berubah tajam penuh kebencian.
“Berani banget kamu lawan aku,” gumamnya.
Di waktu yang sama, tepatnya di rumah mewah keluarga mereka, Norma sudah berdiri di depan kamar Maya dengan wajah murka.
Brak!
Pintu kamar dibuka kasar. Ziva yang sedang duduk di ruang keluarga sampai terkejut melihat ibunya mengamuk.
“Mama kenapa?” tanyanya heran.
Norma tak menjawab. Tatapannya menyapu isi kamar Maya dengan jijik. Kamar itu sederhana dibanding kamar penghuni rumah lain. Namun terlihat sangat rapi.
Ada rak kecil penuh buku. Boneka jahit tua di atas kasur. Sebuah pigura foto Maya bersama ayah kandungnya di meja. Melihat foto itu, wajah Norma langsung berubah makin gelap.
“Anak sialan itu benar-benar mau menghancurkan keluarga kita,” geramnya.
Ziva langsung berdiri. “Hah? Maya ngapain lagi?”
Norma mendengus marah. “Dia mau laporin Jamie.”
“Apa?!” mata Ziva membelalak.
Norma berjalan mendekati meja belajar Maya lalu menyapu semua barang di atasnya sampai jatuh berantakan ke lantai.
Prang!
Pigura foto pecah.
Ziva ikut kesal setelah mendengar semuanya. “Kurang ajar banget dia!”
Norma menatap isi kamar itu penuh kebencian. “Kalau dia mau jadi musuh kita, jangan harap dia bisa hidup tenang.”
Wanita itu lalu membuka lemari Maya kasar-kasar. Dia mengeluarkan pakaian satu per satu lalu melemparkannya ke lantai.
“Ma, buat apa?” tanya Ziva.
“Biar dia tahu akibatnya melawan Mama.”
Tatapan Norma lalu jatuh pada sebuah kotak kayu kecil di sudut lemari. Dia mengenali benda itu.
“Itu kan kotak peninggalan ayahnya,” ujar Ziva pelan.
Norma langsung mengambil kotak itu lalu membukanya. Di dalamnya ada beberapa surat lama, kalung kecil, dan foto masa kecil Maya.
“Hah, ini sampah,” ejek Norma. Dia berjalan keluar kamar menuju halaman belakang rumah.
“Ma?” Ziva mulai ragu melihat ekspresi ibunya.
Namun Norma sudah terlanjur dikuasai amarah. Dia mengambil korek api dari dapur lalu melemparkannya ke atas tumpukan barang Maya yang sudah dia bawa keluar.
Clek.
Api kecil langsung menyala. Dalam hitungan detik, kobaran itu mulai melahap pakaian, buku, hingga boneka tua milik Maya.
Ziva membelalak. “Ma, nanti ketahuan—”
“Biarlah!” bentak Norma. “Sekalian saja dia enyah dari hidup kita!”
Api terus membesar. Asap hitam membumbung ke udara malam. Norma menatap kobaran itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Justru ada kepuasan di wajahnya.
“Awas saja kalau nanti dia pulang,” ucapnya dingin.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔