*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Suasana Canggung.
Suasana di meja makan terasa sangat canggung, karena kehadiran Bu Ratna.
Junee biasanya hanya menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Ben. Kali ini membuat porsi tambahan.
Wanita itu semakin gugup. Apakah sang mertua menyukai masakannya atau tidak?
“Bu, —
“Kalau masak itu, dicicipi dulu apa tidak sih, Neng? Kamu mau Ben terkena darah tinggi? Dengan memberikan makanan asin seperti ini?” Ketus Bu Ratna.
Junee menelan makanannya dengan susah payah.
Garamnya memang terasa. Tetapi, tidak terlalu asin seperti yang Bu Ratna katakan.
“Ini tidak begitu asin, Bu. Rasanya sudah pas.” Bela Ben. Ia tau, sang istri tidak akan menjawab ucapan sang ibu.
“Kamu terlalu dibutakan oleh cinta, Ben. Kalau setiap hari makan makanan seperti ini, lama - lama kamu akan penyakitan.” Imbuh wanita paruh baya itu.
“Bu. Sebaiknya makan saja. Jangan banyak bicara.” Ucap Ben kemudian.
Ia tidak mau meladeni sang ibu, agar tidak terjadi perdebatan yang akan semakin membuat Junee sakit hati.
Namun Bu Ratna sepertinya belum puas membuat Junee terpojok.
“Membuat makanan itu seperti bakso buatan ibu. Rasanya pas. Tidak hambar, dan tidak asin. Makanya sekarang ibu bisa membuat banyak cabang. Masih banyak pelanggan. Karena rasanya yang konsisten.”
“Bu —
“Ben. Semenjak bertemu dengan dia lagi, kamu jadi suka membantah sama ibu, ya. Ibu memberitahu untuk kebaikan kamu.” Wanita paruh baya itu mendorong piring kosong ke tengah meja.
“Ibu mengatakan makanannya asin. Tetapi ibu juga menghabiskannya.” Sindir Ben.
“Karena ibu tidak suka membuang makanan. Kita dulu hidup susah, Ben. Setelah mampu, kita tidak boleh besar kepala.” Tukas Bu Ratna.
“Lalu, apa yang ibu lakukan sama Junee sekarang? Bukannya ibu terlalu menyombongkan diri?” Tanya Ben.
“Ben.” Junee mengusap punggung tangan pria itu, kemudian menggelengkan kepalanya.
“Ibu lihat. Gadis yang ibu tolak, bahkan tidak membiarkan aku melawan ibu?” Ucap Ben lagi.
“Jelas dia ingin terlihat baik di mata kamu. Agar posisinya tetap aman sebagai istri kamu.” Ucap Bu Ratna.
“Aku akan menghubungi sopir untuk mengantar ibu pulang.” Ucap Ben yang sudah tidak tahan dengan sikap sang ibu.
“Kamu mengusir ibu? Ini sudah malam, Ben. Dan kamu menyuruh ibu pulang ke Cikarang malam begini? Tidak memikirkan keselamatan ibu?” Delik Bu Ratna.
“Cikarang tidak terlalu jauh, Bu. Daripada disini. Ibu hanya membuat istriku tidak nyaman.” Ucap Ben lagi.
Bu Ratna memicingkan matanya. Menatap tak suka ke arah Ben dan juga Junee.
“Ben. Sudah. Aku tidak apa - apa.” Bisik Junee.
“Ibu sudah keterlaluan, Junee.” Ucap Ben.
Junee kembali menggelengkan kepalanya.
Makan malam itu pun berakhir. Bu Ratna tidak mau pulang. Dan memilih kembali ke kamar tamu.
Sementara itu, Ben dan Junee juga masuk ke kamar utama. Namun mereka tak langsung tidur.
“Masih memikirkan ibu?” Tanya Ben saat melihat sang istri duduk bersandar pada kepala ranjang.
Pria itu pun duduk di samping Junee. Menarik tubuh wanita itu, agar bersandar pada bahunya.
“Ben, aku jahat sekali ya? Sampai ibu kamu membenci aku.” Ucap Junee pelan.
“Semuanya hanya salah paham, Junee. Kita saat itu masih labil. Harusnya aku menuntut penjelasan dari kamu. Bukannya menyimpulkan sendiri.” Ucap Ben.
“Tetapi, ibu tetap tidak akan menyukai aku.”
Ben mengusap kepala Junee. “Tidak apa - apa. Rumah tangga ini, kita yang menjalani. Cukup kamu percaya sama aku. Aku akan selalu berada di pihak kamu.”
Junee mendongak, dan Ben pun melabuhkan kecupan pada bibir wanita itu.
Malam ini, mereka hanya tidur dengan saling memeluk. Tidak ada hubungan ranjang. Karena suasana hati keduanya sedang tidak baik - baik saja.
- - -
Pagi ini, Junee bangun lebih dulu daripada Ben. Wanita itu tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Selalu teringat dengan keberadaan sang mertua di kamar tamu.
Junee bergegas mencuci wajahnya. Kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Jangan sampai Bu Ratna semakin membencinya karena ia lalai menjalankan tugas.
Junee membuat roti panggang isi telur mata sapi dan juga menyiapkan potongan buah segar.
“Pagi.”
Junee tersentak mendengar suara sang suami. Ben keluar dari kamar, juga masih menggunakan piyama tidur.
“Kenapa belum bersiap?” Tanya Junee.
“Nanti saja setelah ibu pergi.” Ucap Ben sembari mengambil alih piring berisi roti, dan membawanya ke meja makan.
Junee menghangatkan 3 gelas susu. Kemudian menyusul Ben ke meja makan.
Saat sarapan telah siap, Bu Ratna keluar dari kamar tamu, dan telah berpenampilan lebih segar.
“Kalian bukan pengangguran ‘kan?” Tanya Bu Ratna sembari memindai penampilan Ben dan Junee.
Keduanya masih menggunakan baju tidur.
“Junee ke panti jam 8.” Jawab Ben.
“Lalu kamu? Bukannya kamu selalu berangkat pagi?” Tanya sang ibu lagi.
“Aku bisa ke kantor kapan saja. Lagi pula, kantorku masih di gedung ini.” Tukas Ben.
Bu Ratna mencebik pelan. Ia kemudian duduk di atas kursi meja makan.
“Kamu sarapan seperti ini setiap pagi, Ben? Mana cukup, Ben? Kamu memerlukan banyak energi untuk berpikir. Mana cukup hanya dengan sarapan roti saja.” Ucap Bu Ratna.
“Kamu ini bisa menjadi istri yang baik, atau tidak, neng? Suami kamu itu seorang pimpinan. Dia bekerja seharian. Seharusnya kamu menyiapkan sarapan yang lebih bernutrisi.” Wanita paruh baya itu beralih pada sang menantu.
“Bu. Aku sudah biasa sarapan seperti ini sebelum ada Junee di rumah ini.” Ucap Ben.
“Itu karena sebelumnya kamu tinggal sendiri, Ben. Sekarang sudah ada yang mengurus, harusnya bisa lebih baik.” Tukas Bu Ratna.
Junee hanya mampu menghela nafas kasar. Bu Ratna selalu mencari cela kesalahannya.
“Maafkan saya, Bu. Mulai besok, saya akan menyiapkan sarapan yang lebih baik untuk Ben.” Ucap Junee kemudian.
Ia memilih mengalah. Daripada berdebat tak ada ujungnya.
“Seharusnya sudah dari awal. Kamu sudah sebulan disini ‘kan? Apa saja yang kamu pelajari sebagai seorang istri?” Tanya Bu Ratna.
Junee tak menjawab. Karena lebih sering Ben yang menyiapkan sarapan untuk mereka.
Kalau di jawab seperti itu, maka Bu Ratna akan semakin marah.
“Belajar menjadi istri yang baik. Meski kamu hanya istri kontrak —
“Junee bukan istri kontrak, Bu. Kami sudah menghapus kontrak itu. Dan pernikahan kami saat ini telah normal.” Potong Ben.
Bu Ratna tercengang. “Ben. Kamu serius menjadikan dia istri sungguhan kamu? Dia pernah menyakiti kamu, Ben.”
Ben menghela nafas kasar. “Bu, ibu tau aku melakukan semua ini karena dan untuk Junee. Dia memiliki peran penting dalam keberhasilanku saat ini. Jadi, jika tidak ada Junee, mungkin kita masih hidup dalam kesusahan.”
“Aku tidak meminta ibu untuk menyukai Junee. Cukup jangan ikut campur urusan rumah tangga kami. Aku sekarang sudah bahagia bersama Junee.” Imbuh Ben lagi.
Junee merasa terharu mendengar ucapan sang suami.
Kini giliran Bu Ratna yang menghela nafas.
“Baiklah. Jika Junee memang menjadi pilihan kamu. Ibu tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tetapi, jika suatu saat dia menyakiti kamu lagi, ibu yang akan menyeret dia pergi dari hidup kamu.” Ucap Bu Ratna kemudian.
Wanita paruh baya itu pun bangkit dari tempat duduknya.
“Bu. Apa itu artinya, ibu merestui hubungan kami?” Tanya Junee saat Bu Ratna melangkah menuju pintu.
“Kita lihat bagaimana kedepannya.” Ucap wanita paruh baya itu. Ia pun meninggalkan tempat tinggal sang putra.
“Ben. Aku tidak mengerti maksud ibu.” Ucap Junee pada sang suami.
Ben memeluk wanita itu.
“Ibu sudah merestui kita.”