NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GODA YANG MENEMBUS DINDING HATI

Alana tertegun mendengar kalimat penutup dari Samudera. Tenggorokannya terasa tercekat, tak mampu membalas untaian kata yang begitu blak-blakan dari pria itu. Detik berikutnya, sebelum Alana sempat menguasai diri, suara cempreng Arkana tiba-tiba menginterupsi panggilan video tersebut.

​"Ibuuu! Lihat Arka! Mobil Arka menang lawan punya Kakek!" pekik Arkana yang tiba-tiba sudah ikut melongok ke arah layar ponsel Samudera. Bocah itu memamerkan mobil balap plastik berwarna merah ke arah kamera dengan wajah memerah karena terlalu bersemangat.

​Alana refleks memaksakan senyum terbaiknya, menyembunyikan gurat kesepian yang sempat menggelayuti wajahnya. "Wah, jagoan Ibu hebat sekali! Tapi ingat ya, tidak boleh nakal dan harus dengar kata Kakek, oke?"

​"Oke, Ibu! Ibu cepat ke sini, ya? Kamar baru Arka besar sekali, kasurnya empuk seperti awan! Nanti kita tidur bertiga sama Papa!" sahut Arkana dengan kepolosan yang luar biasa.

​Kalimat terakhir Arkana seketika membuat atmosfer panggilan video itu mendadak canggung. Alana melirik sekilas ke arah Samudera yang kini kembali memegang kendali ponselnya. Pria itu tampak menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan sekaligus menawan di mata Alana. Samudera jelas menikmati kepolosan putranya yang secara tidak langsung ikut membantunya melancarkan strategi.

​"Arka, ayo lanjut mainnya. Papa mau bicara sebentar sama Ibu," ujar Samudera lembut, mengalihkan perhatian sang putra agar kembali pada kakek dan neneknya.

​Setelah memastikan Arkana menjauh, Samudera kembali menatap Alana yang kini sudah melipat bibirnya rapat-rapat.

​"Dengar sendiri, kan? Anakmu bahkan sudah mengatur posisi tidur kita," goda Samudera, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan yang terdengar begitu seksi di telinga Alana.

​"Samudera, jangan mulai," potong Alana cepat dengan pipi yang mendadak terasa panas. "Jangan mengajari Arka bicara yang aneh-aneh."

​"Aku tidak mengajarinya, Alana. Itu murni keinginan anak kita," balas Samudera, tatapannya beralih menjadi sangat serius. "Istirahatlah. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela. Ingat, uang dan kartu di meja rias itu diisi untuk digunakan, bukan untuk dipajang. Aku akan menghubungimu lagi nanti malam."

​Tanpa menunggu balasan dari Alana, Samudera langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Layar ponsel Alana menggelap, mengembalikan keheningan kamar sewa itu seperti semula.

Alana menurunkan ponselnya dengan lemas. Ia menatap ke arah luar jendela kamar yang mulai temaram karena matahari mulai tenggelam. Hatinya kini benar-benar goyah. Kamar megah sewarna awan yang diceritakan Arkana terus terngiang-ngiang di kepalanya, berbanding terbalik dengan kamar sewa sempit yang kini sedang ditempatinya sendirian. Taktik halus Samudera perlahan tapi pasti mulai mengikis pertahanan hatinya.

Alana segera bangkit dari ranjang, membasuh wajahnya di kamar mandi untuk menghilangkan sisa-sisa sembap di matanya, lalu merapikan penampilannya. Ia menata beberapa meja kecil lipat di atas karpet ruang tengah, menyiapkan buku-buku latihan, pensil warna, dan papan tulis putih berukuran sedang.

​Tepat pukul 14.15, terdengar suara ketukan di pintu depan, disusul oleh suara riuh anak-anak yang memanggil namanya.

​"Selamat siang, Ibu Alana!"

​Tiga orang anak sekolah dasar masuk dengan tertib setelah Alana membuka pintu. Ruang tengah yang tadinya mati suri dan sunyi senyap, seketika kembali hidup oleh celotehan polos anak-anak tersebut.

​"Ibu Alana, Kak Arka ke mana? Biasanya jam segini sudah bersiap pakai robotnya di depan pintu," tanya salah satu murid perempuan bernama tya sambil menaruh tasnya.

​Mendengar nama anaknya disebut, dada Alana kembali berdenyut agak perih. Namun, ia buru-buru memasang senyum profesionalnya sebagai seorang pengajar.

​"Kak Arka sedang menginap di rumah Papa dan Kakek-Neneknya, Tya. Jadi hari ini kita belajar berempat saja, ya?" jawab Alana lembut sambil mengusap kepala muridnya itu.

​"Wah, Kak Arka punya Papa baru ya, Bu? Rumah Papanya besar tidak?" sahut Arsa, murid laki-laki lainnya dengan rasa ingin tahu khas anak-anak.

​Alana hanya tersenyum simpul tanpa berniat menjelaskan lebih jauh tentang sosok Samudera. "Ayo, sekarang buka buku matematika kalian halaman dua puluh. Hari ini kita akan belajar tentang pecahan dasar."

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!