NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 : Jangan kabur

Tanggal 11, belakang Lapak Ayam, Pasar Depok.

Naya meremas nametag itu.

NAYA_KASIR

Sampe plastiknya bunyi

'KRETEK'

"Cukup... cukup... Aku harus lapor ke polisi." bisiknya. Suaranya pecah.

Kakinya lemas saat akan melangkah. Nametag itu dibanting ke tanah. Diinjek-injek oleh Naya sampai rusak. Nafasnya sampai ngos-ngosan.

Ibu-ibu yang memperhatikan Naya sedaritadi tentu saja kaget, seolah menganggap Naya wanita stres.

"Stres itu mah. Mungkin kabur dari laki." Bisik seorang Ibu ke Ibu lain.

"Iya, kasihan. Muka pucet gitu. Kayak nggak tidur seminggu."

"Udah, biarin. Nanti juga jadi pengemis." Bisik Ibu yang lain.

Naya mendengar semua bisikan-bisikan itu dan berteriak seolah mentalnya sudah kena, "Arghhh..!!"

Naya berlari. Nyelonong keluar dari kolong. Nabrak ember berisi air.

"WOII WANITA STRES!!" Teriak pedagang yang punya ember, tak terima.

Naya nggak nengok. Dia lari nyusurin lorong pasar. Nyaris ketabrak motor sayur, tubuhnya bersenggolan dengan pembeli yang sedang lewat di jalan.

"WOI! MATA LU DI MANA?!" Teriak yang lain tidak terima Naya menyenggolnya.

Naya tidak peduli dengan semua itu, dia harus melaporkan pesugihan Rumah Makan Dermawan ke Polisi.

Tiba-tiba kupingnya mendengar suara lonceng rumah makan di dalem kepalanya.

Dia lari terus sampe ujung pasar. Napas putus-putus terus melangkah.

Banyak yang memperhatikan tingkah aneh Naya seolah menganggapnya orang gila baru di pasar Depok.

Sama sekali tidak ada yang tau jika wanita yang mereka anggap stress itu sedang berlari dari kematian.

_

Di pinggir Jalan Margonda.

Naya berhenti. Membungkuk. Muntah. Yang keluar cuma air liur. Asam lambungnya terasa begitu menyiksa.

Dia ngeliat ke kanan. Tidak jauh.

POLSEK BEJI.

Gerbang biru. Polisi jaga. Hukum.

Kakinya kembali melangkah. Selangkah demi selangkah. Terlalu berat. Kayak ada rante beton ngiket mata kakinya.

Dua langkah.

TENG!

Lonceng bunyi. Siang bolong.

Tiga langkah.

"HUEKK!" Naya kembali muntah, nafasnya semakin ngos-ngosan.

Naya yang sudah tidak kuat jatuh. Depan gerbang polisi. 2 meter lagi.

Polisi jaga lari, " Mbak! Mbak kenapa?!"

Naya mau teriak. Kematian seolah akan menjemputnya sekarang, air matanya menetes melihat ke langit biru.

Polisi megang bahu Naya. Tatapan Naya tertuju pada mata polisi yang item sedetik, dan tiba-tiba berbicara dengan suara berat, "Mau laporin siapa, Na? Polisi nggak ngurus utang nyawa."

Naya membeku.

Tubuhnya menghantam tanah, dan dia baru sadar jika tidak ada polisi yang berlari ke arahnya. Hanya suara teriakan warga yang ramai-ramai mulai menghampirinya.

_

RUMAH MAKAN DERMAWAN, MARGONDA.

Rosa yang menjaga kasir. Suaranya manis, dan senyumnya lebar membuat siapa saja tentu saja merasa di sambut dengan hangat. Rosa memang terkenal sebagai kasir primadona di tiap cabang karna wajahnya yang menarik.

Warung mendadak jadi lebih rame, ojol menunggu pesanan, bapak-bapak antri ingin pesan makan sekalian berbasa-basi, mahasiswa tertawa di meja makan sekalian ngobrol.

Asap dapur sampai ngebul, aroma masakan memenuhi ruangan rumah makan bahkan sampai di luar rumah makan membuat siapa saja tentu penasaran dan ingin mencoba menu dari rumah makan Dermawan yang memang terkenal tak pernah sepi.

Teng... Teng... Teng..

Lonceng rumah makan yang tempatnya berada di gudang berbunyi 3 kali namun sama sekali tidak ada yang peduli.

Di dapur, Nesya menyiapkan pesanan di atas piring, dan Rifki yang mengantarkan karna Agus masih sakit. Zuan masih sibuk memanaskan masakan agar tetap hangat di atas kompor karna lagi ramai-ramainya.

Nesya menghampiri dengan kedua alis yang hampir menyatu, "Zuan, lu liat enggak Rosa yang jaga kasir sekarang."

Zuan noleh, "Iya, enggak tau Naya kemana."

"Abel udah lama nggak masuk, Naya tumben gak dateng, Agus juga masih sakit... Apa jangan-jangan."

"Sebenarnya Mbak, Rifki cerita ke aku kalo Abel di kunci di gudang belakang buat jadi tumbal sementara Naya kabur." Jelas Zuan dengan sangat pelan takut-takut ada yang dengar.

Kedua bola mata Nesya membelalak. Sudah pasti akan ada kejadian itu lagi.

"Abel padahal chat gue katanya Naya yang bakal jadi tumbal." Bisik Zuan lagi.

Pintu dapur tiba-tiba terbuka, membuat mereka berdua kaget, dan langsung menjaga jarak satu sama lain.

"Zuan! Es teh 3, nasi rendang ayam 2, cepetan! Ojol udah nunggu!" Seru Rosa.

"Siap, Mbak!" Jawab Zuan. Tangannya gemetar pas ngaduk lagi.

Pintu kembali tertutup.

Nesya nyenggol sikut Zuan, "Zuan... Sejak kapan lu manggil Rosa, Mbak?"

Zuan nelan ludah, "Sejak... Sejak tau dari Abel kalo Rosa itu tukang... Tukang ngasih tumbal."

Dua-duanya diem. Cuma suara kuah yang sudah sudah mendidih.

Dan dari kolong meja, bau kemenyan nyelip. Tipis. Tapi ada.

Rifki yang baru mengambil potongan ayam beku dari ruang cs di atas dengan wajah pucat, "Cs makin busuk baunya... makin bau. Kayak... Kayak bau bangke."

Zuan nggak jawab.

"Yang aneh. Gak ada yang mencium aroma bangke dari daging ayam ini." Balas Nesya yang membuat pandangan mereka bertiga tertuju ke jendela dimana mereka bisa melihat secara langsung jika banyak yang menikmati masakan rumah makan Dermawan.

Di kasir, Rosa cetak bon. Senyum. Nggak nengok ke dapur. Dia dengar semua obrolan di dapur.

"Nasi goreng biasa 1, kwetiaw goreng 1, es jeruk 2. Ini tagihannya." Jelas Rosa memberikan bon kepada yang beli.

"Qris Kak."

"Boleh disini." Jelas Rosa menunjukkan barcodenya.

_

Jam 13.40. Waktunya Rifki sedang beristirahat di mess Lantai 3, Rumah Makan Dermawan. Namun waktu itu tak di gunakan oleh Rifki untuk beristirahat namun untuk packing barangnya.

Kamar pengap. Kipas angin mati. Di lantai, Rifki jongkok. Depannya tas ransel item gede. Sobek dikit.

Baju, celana, kaos dilempar ke dalem tas. Nggak dilipet. Asal masuk. Tangannya gemetar, tapi cepet. Kayak dikejar setan.

Agus yang masih sakit terbangun dari tidurnya, "Ki... lu mau kemana?"

Rifki kaget. Nengok, "A-anu... Mang..."

"Lu masukin semua baju ke tas. Kayak mau minggat." Agus berdiri dari baringnya di tempat tidur.

Rifki diem. Terus lanjut masukin baju, " Gue... gue capek, Mang. Gue mau pulang."

Agus ketawa. Pahit.

"Pulang?"

Rifki berhenti. Matanya menahan tangis, "Gue liat, Mang. Tadi subuh. Gue dan liat semuanya. Mereka tumbalin Abel."

Agus kaget bukan main, "Yang bener lu kalo ngomong."

"Gian ngurung Abel di gudang mau di jadiin tumbal." Jelas Rifki lagi.

"Bukannya Naya?" Tanya Agus yang ternyata awalnya juga tau jika Naya yang seharusnya menjadi tumbal.

Air mata Rifki menetes, "Abel."

Detak jantung Agus berhenti sejenak.

"Gue denger suaranya Gian berubah, Mang." Rifki makin cepet ngomong, "Suaranya dari dalem tanah! Basah! Aneh! Itu bukan Gian! Tapi Iblis."

Agus ngejambak rambutnya sendiri.

Rifki ketawa. Gila. "Denger! Naya aja bisa kabur dari tempat ini! Naya cewek, Mant! Dia bisa lolos dari Rosa, dari Gian, dari Pak Dermawan, dari Eyang Dhahar! Masa gue laki nggak bisa juga?!"

Agus pun jongkok. Megang bahu Rifki. Matanya capek, "Ki... dengerin gue. Gue di sini udah 4 tahun. 4 tahun."

"Terus?"

"Gue udah liat semua kejadian, banyak juga yang mikir kayak lu, kayak Naya. Tapi gak ada satu pun dari mereka yang selamat." Bisik Agus dengan serius.

Rifki pucat. Tangannya berhenti masukin baju.

"Di sini nggak ada yang kabur, Ki. Yang ada cuma 'dipindah'. Dari kasir jadi kuah. Dari budak jadi tumbal. Lu liat laci Pak Dermawan? Isinya nametag semua. Yang retak, yang darah kering, yang item. Itu kuburan, Ki. Bukan laci kalo liat semua nametag korban itu." Jelas Agus lagi yang memang sudah melihat secara langsung isi laci Pak Dermawan.

Rifki gemeter. Tapi kancing tasnya, "Gue nggak peduli, Mang. Daripada gue nunggu giliran kayak Abel, mending gue mati di jalan. Di luar. Bebas. Seenggaknya gue punya tekad, dan niat. Keberanian gue, keberanian Naya lebih besar daripada pengecut kayak lu yang tetep memilih disini padahal udah tau ini bukan rezeki halal, ini musyrik."

"Lu udah tanda tangan kontrak, Ki. Lu cabut dari Margonda, Eyang nyabut nyawa lu di jalan. Kecelakaan. Sakit jantung. Ketabrak. Macem-macem. Yang penting mati, dan rahasia tentang pesugihan rumah makan ini gak bocor." Tegas Agus lagi kepada Rifki.

"Biarin. Setidaknya gue nyoba. Naya aja bisa. Dia gak banyak mikir kayak lu, Mang." Ujar Rifki lagi.

Agus menggeleng, dia tahu betul, "Naya belum lolos, Ki. Lu liat aja nanti, dia bakal mati juga di jalanan karna dia udah tau sesuatu soal rumah makan ini."

"Kayak Naya, gue juga sama." Tegas Rifki yang sudah membulatkan tekad.

"Karna lu suka dia?" Tanya Agus tiba-tiba.

"Dia cinta pertama gue, Mang." Balas Rifki tertawa miris, "Dan bodohnya takdir mempertemukan kami di rumah makan keramat ini."

1
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Mia AR-F: lebih ke jawa sih kk
total 1 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!