Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menentukan Rencana
Gavino tidak mau gegabah dalam memutuskan sesuatu, yang berhubungan dengan Bianca kali ini. Karena dia tahu, jika Alano juga mempunyai hubungan dengan beberapa geng, yang menguasai beberapa tempat sebagai lahan kekuasaan mereka.
Ada beberapa kegiatan mereka yang tidak diketahui oleh orang lain. Yaitu tentang transaksi beberapa obat dan pengunaan senjata api ilegal. Karena mereka masih ada di bawah umur. Untuk ijin kepemilikan senjata api tersebut, tentunya tidak diperbolehkan.
Ada aturan ketat yang harus dilewati oleh seorang, dari warga sipil. Untuk perijinan mendapatkan hak atas kepemilikan senjata api tersebut.
Dan anak-anak yang belum dewasa, di usia sekolah, dipastikan jika mereka dilarang untuk memiliki senjata api sendiri. Dan jika ketahuan, bisa dipastikan akan dikenakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku.
Gavino juga tahu dari beberapa informasi yang dia terima dari beberapa informan, yang kebetulan datang dengan sendirinya. Karena sistem informasi yang dia miliki, menarik seseorang yang bergabung bersama dengannya tanpa diketahui bagaimana cara dan asal usulnya.
Pada saat Gavino berusaha untuk menghubungi Alano lagi, dari nomor handphone yang tadi menghubungi dirinya. Tenyata nomor tersebut sudah tidak diaktifkan.
"Dammm!"
"Sialll!"
"Tidak bisa!"
Dante berwajah pias. Dia merasa takut, jika terjadi sesuatu pada sepupunya. Yang saat ini ada dalam keadaan dijadikan sebagai sandra oleh Alano.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Cardi bingung.
"Mereka menginginkan Aku."
Gavino mengatakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Alano bersama kawan-kawannya itu. Karena memang dialah, yang diinginkan oleh mereka. Untuk dihabisi. Bianca hanya digunakan sebagai alat untuk menekan Gavino saja.
"Kita lapor polisi!"
"Kasih tau mama atau papa Bianca!"
"Tidak perlu. Aku akan datang sendiri untuk menyelamatkan Bianca."
Dante, Jeffrie dan Lorenzo saling pandang bergantian. Mereka bertiga tentu merasa khawatir dengan keadaan Gavino, seandainya nekad datang sendiri. Untuk menyelamatkan Bianca dari kawanan Alano.
"Aku ikut!"
"Aku juga!"
"Iya. Aku juga ikut!"
Mereka kompak untuk ikut bersama Gavino. Mereka semua, akan bekerja sama untuk menghadapi geng Alano yang mereka kenal sebagai biang onar.
Apalagi, Dante dan Jeffrie juga pernah ikut bergabung bersama dengan geng tersebut.
"Kita ajak Cardi. Dia yang biasanya tahu, bagaimana cara mengatur segala urusan Alano selama ini." Jeffrie memberikan usulan.
Tentu saja usulan tersebut disetujui oleh Dante dan Lorenzo. Begitu juga dengan Gavino.
Dia pikir, temen-temennya yang ini akan banyak memberikan bantuan untuk penyelamatan Bianca. Karena mereka bertiga, Dante, Jeffrie dan Cardi, pernah menjadi satu kesatuan dari geng Alano sebelumnya.
Dengan segera, Dante menghubungi Cardi lagi. Untuk diajaknya bergabung bersama. Untuk misi mereka malam ini.
*****
Tenyata selama ini Alano sudah banyak melakukan kerja sama dengan beberapa geng yang tidak jelas dengan pekerjaan dan tujuannya.
Tapi yang pasti, mereka adalah orang-orang yang suka membuat onar dibeberapa tempat. Dan memiliki kegiatan bisnis yang ilegal di negara manapun.
Karena perdagangan narkoba dan senjata api, tanpa adanya ijin, alias ilegal. Tetap tidak dibenarkan oleh negara manapun.
Apalagi usia mereka, juga masih belum bisa dikatakan sebagai orang dewasa. Mereka hanya remaja di bawah umur. Yang seharusnya mereka kerjakan adalah belajar dengan tekun dan rajin di sekolah.
Tapi ternyata tidak semua aturan itu dipatuhi. Contohnya adalah Alano dan kawan-kawannya ini.
Dan untuk kejahatannya kali ini, menculik Bianca. Mereka sudah menghubungi beberapa ketua geng untuk diajak kerja sama dengannya.
Itulah sebabnya, strategi dan taktik mereka tidak bisa diremehkan begitu saja.
"Kita akan habisi Gavino yang sombong itu secepatnya!"
"Ya-ya. Aku sudah muak melihat wajah songong nya itu!"
"Kita ambil miliknya. Kalau bisa, ilmu sihir yang dia miliki juga."
"Tapi Aku ingin Gavino bukanlah pengeran yang akan menenangkan hati putri sepertiku. Bagaimana ini? Kenapa harus dia yang memiliki sihir itu?"
Ternyata, mereka masih berpikir bahwa Gavino memiliki kekuatan sihir. Sama seperti dalam cerita-cerita.
Apalagi, Madalena begitu berambisi dengan sebuah dongeng. Dia tidak bisa membedakan, mana nyata dan mana yang hanya sebuah impian.
"Dasar putri gadungan. Ambil itu pangeran kodok!"
"Ngoek dong!"
"Hahaha..."
Teman-temannya, justru mengolok-olok apa yang dikatakan oleh Madalena. Dan ini justru membuat Madalena tertawa terbahak-bahak. Karena keinginannya yang memang tidak bisa disebut dengan hal yang biasa.
"Kamu bisa ambil salah satu dari kami sebagai pangeran Madalena. Apa kurangnya kami ini?"
"Hahaha... tentu saja kurang. Karena kalian bukan pangeran. Apalagi punya kekuatan," cibir Madalena mencemooh teman-temannya sendiri.
"Eghhh...."
Bianca mulai tersadar dari pingsannya. Dia mengaduh, karena merasakan sakit pada beberapa bagian tubuhnya. Karena ada beberapa luka dan memar yang dia alami, saat kecelakaan tadi.
Tapi pada saat dia ingin memegang dan memeriksa luka-lukanya, tangannya tidak bisa digerakkan. Bahkan dia juga tidak bisa bergeser dari tempatnya duduk saat ini.
Sedetik kemudian, Bianca tersadar dengan keadaan yang ada pada dirinya saat ini.
'*Apa-apaan ini? Kenapa Aku diikat seperti ini?'
'Tadi Aku kecelakaan. Jadi ini bukan rumah sakit? Seharusnya mereka membawa Aku ke rumah sakit. Bukannya di ikat seperti ini*.'
Batin Bianca bertanya-tanya. Dan dia juga melakukan pergerakan, yang membuatnya mengaduh.
"Auwwwhhhh!"
"Hai! Dia sudah sadar."
Bianca mendongakkan kepalanya, melihat ke arah orang yang datang mendekat ke arahnya.
"Siapa Kamu?"
Tadi, orang tersebut hanya ingin memeriksa keadaannya. Karena memang dia ditempatkan di ruangan yang lain. Tak jauh dari tempat mereka-mereka tadi berbicara.
Jadi, Bianca juga tidak tahu. Siapa dan apa yang mereka bicarakan tadi.
"Hahaha... tenang cantik! Aku tidak akan menyakitimu. Tapi memberimu sesuatu yang pastinya sangat nikmat. Hahaha..."
Bianca menyipitkan matanya, untuk memperhatikan kondisi sekitarnya. Karena di ruangan tersebut minim dengan pencahayaan.
Hanya sinar lampu dari luar, yang menerobos masuk, untuk penerangan di ruangan tersebut.
Jadi, dia tidak tahu. Siapa dan bagaimana bentuk wajah orang yang saat ini sedang berada di depannya. Karena dia memang m tidak mengenalnya.
Orang tersebut, bukan Alano. Jadi, Bianca berpikir bahwa, orang-orang yang sudah membawanya ke tempat ini bukanlah Alano ataupun temannya sendiri.
'Apa maksud mereka menculik ku? Aku tidak punya informasi apa-apa, yang mungkin mereka butuhkan. Lalu, motif spa yang sebenarnya terjadi, di balik peristiwa ini?'
Batin Bianca kembali bertanya-tanya. Tapi tentu saja, dia juga tidak menemukan jawabannya.
Sementara di luar bangunan.
Gavino dan teman-temannya yang lain, sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan sebelum berangkatnya tadi.
Dante dan Lorenzo ada di bagian kanan. Jeffrie, ke kiri bersama dengan Cardi, yang tadi ikut bergabung bersama mereka.
Sementara Gavino sendiri, ada di depan pintu bangunan tersebut. Dia bersiap untuk masuk dan melihat bagaimana keadaan yang ada di dalam sana.