"Aku pernah membaca sebuah deretan kata yang mengatakan bahwa Menikahi laki-laki cuek adalah setengah dari penderitaan hidup.
Aku sepenuhnya setuju pada pernyataan itu" - Adhara Cellia.
Kehadiran cinta masa SMA nya semakin memperkeruh hidup Dara. Ia ragu mampu menahan diri dari godaan pria di masa lalunya dan mempertahankan pernikahannya yang memang telah rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Belas
"Dion sakit apa Cell?" Dara dikejutkan dengan kedatangan Reynand. Karena terlalu sibuk menenangkan Dion yang terus menangis ia sampai tak menyadari kedatangan pria itu. Mungkin pak Hartono memberitahu Rey bahwa hari ini ia izin tak masuk kerja karena putranya sedang di rawat di rumah sakit. Reynand memang selalu cepat tanggap, terbukti pria itu langsung datang untuk memberi dukungan pada Dara
"Dokter bilang sakit tifus Rey"
Reynand iba melihat pancaran kekhawatiran yang bercampur dengan lelah di mata Dara. Begitu pahit menyadari wanita yang ia relakan pada pria lain tak kunjung mendapatkan kebahagiaan. Meski Dara kerap kali menutupi fakta darinya namun bukan berarti Reynand tak mengetahui bahwa Dara tak pernah bahagia bersama Fabian dan menyimpan kepahitan hidupnya di dalam hati sendirian.
"Sekarang keadaannya gimana?" Tanya Reynand, kali ini pria itu menatap pada Dion yang berada di dalam dekapan Dara. Dion sekarang sudah lebih tenang meski rintihan halus masih terdengar. Reynand mengulurkan tangannya mengusap rambut Dion. Sepintas jika orang lain tak mengenali mereka pasti akan menyangka mereka adalah keluarga kecil yang saling menyayangi.
"Dokter masih melakukan observasi untuk mengetahui sejauh mana bakterinya menyerang tubuh Dion. Anakku masih rewel, suhu tubuhnya juga naik turun" Keluh Dara.
"Dion pasti akan sembuh Cell percayalah. Aku yakin kamu, Fabian dan Dion akan melewati ini dengan baik. Dion pasti akan sembuh Cell" Reynand mencoba memberikan penghiburan pada Dara.
"Aku juga berharap begitu, aku nggak akan sanggup hidup lagi andai sesuatu yang buruk terjadi pada Dion Rey" suara Dara bergetar menahan tangis, menunjukkan betapa ia khawatir dan bersedih saat ini.
Reynand selalu tak berdaya menyaksikan kesedihan wanita yang teramat ia cintai itu. Hatinya begitu lemah melihat Dara menangis.
"Nggak akan terjadi apa-apa padanya Cell aku yakin Dion akan segera sembuh" Reynand mengusap lengan Dara.
"Aku takut banget Rey" Dara bisa mengutarakan segala keresahannya pada Reynand. Namun pada Fabian ia menyimpannya sendiri, mungkin karena terlalu sering Fabian abai pada segala keluh kesahnya membuat Dara merasa sia-sia mengadu pada Fabian, ia lelah tak bisa bersandar pada suaminya sendiri.
Reynand memeluk Dara yang begitu rapuh dari samping, mengecup puncak kepala Dara dengan penuh sayang. Ia sudah menahan diri sekuat tenaga untuk menyentuh Dara namun melihat Dara yang begitu terpuruk membuat Reynand menerobos batas yang sudah ia bangun.
"Semangat demi Dion sayang, kamu wanita yang kuat. Kamu pasti bisa melewati ini semua" Reynand masih menciumi puncak kepala Dara berulang kali.
Dara merasa sedikit lebih tenang, kehadiran Reynand mampu mengurangi sedikit keresahannya meski tak menghapus secara keseluruhan.
Ada untungnya Fabian ngotot pergi ke sekolah dengan alasan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan meski Dara sudah melarang suaminya untuk pergi. Setidaknya kehadiran Reynand saat ini tak akan mengganggu kenyamanan mereka jika Fabian ada.
🍁🍁🍁
Dara dan Fabian menunggu dengan khawatir saat dokter sedang menangani putra mereka.
Sebelumnya Dion tiba-tiba kejang hingga membuat Dara begitu panik.
"Mas aku takut" Dara tak bisa menahan ketakutan nya lebih lama lagi. Seluruh tubuhnya seolah kebas dan kehilangan rasa. Namun hatinya tak henti berdenyut sakit. Ia butuh pelukan, ia butuh ditenangkan namun Fabian hanya diam.
Dara tau Fabian juga merasakan apa yang ia rasakan saat ini, tapi bukankah mereka bisa saling menyembuhkan? Bukan malah sibuk menenangkan diri sendiri, mungkin Fabian bisa tapi Dara butuh pegangan.
"Mas bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Dion. Aku nggak sanggup mas" Ucap Dara dengan terisak.
"Dion akan baik-baik saja Dara" Hanya sederet kalimat tanpa pelukan dan usapan yang Dara dapatkan.
Setelah melewati menit-menit menegangkan akhirnya suster ke luar dari ruang rawat Dion dan memanggil sepasang suami istri tersebut untuk masuk.
Dara bergegas cepat masuk ke dalam, tak sabar untuk melihat buah hatinya juga ingin mengetahui keadaan putra tercintanya.
Dion tampak terbaring lemah, wajah dan tatapannya begitu sayu membuat hati Dara tercabik.
"Sayang, ini mama nak" Bisik Dara sambil mengusap dan menciumi rambut Dion. Air matanya berhamburan, fikiran buruk memenuhi benaknya melihat kondisi Dion yang begitu mengkhawatirkan.
"Bagaimana keadaan putra kami dok?" Terdengar suara Fabian bertanya pada dokter yang hanya menatap ke arah Dara dan dion.
"Maaf, bakteri nya sudah menyebar menginfeksi seluruh organ tubuh Dion, kejang barusan terjadi karena bakteri juga sudah menyerang sistem saraf pada Dion" ucap sang dokter. Dokter menyampaikan nya dengan begitu tenang namun berhasil mengguncang jiwa Dara dan meluluh lantakkan perasaan nya.
"Sembuhkan putra saya dokter" Dara tak ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari dokter tersebut. Ia hanya inginkan kesembuhan Dion apapun caranya.
"Ikhlaskan, hanya itu yang bisa membantu Dion agar terlepas dari segala kesakitan yang menyiksanya" Ucapan dokter tersebut bagaikan kilatan petir yang menyambar tubuh Dara.
Dara ternganga, kehilangan kata untuk menimpali ucapan dokter. Namun amarahnya terasa meluap.
"Tidak dokter, lakukan apapun untuk menyelematkan putra kami" Tegas Fabian.
"Bisa-bisanya anda mengatakan untuk mengikhlaskan dok? berempati lah sedikit, orang tua mana yang akan mengikhlaskan buah hatinya. Berusahalah semaksimal mungkin dokter, bukan kan sudah tugas mu untuk menyembuhkan orang yang sakit sampai titik darah penghabisan? kenapa anda malah menyerah begitu cepat? anda belum berusaha secara maksimal dokter" Ucap Dara dengan kemarahan dan kesedihan yang memuncak.
"Kami sudah melakukan yang terbaik ibu tapi bakterinya sudah menyebar dan kami sudah berusaha semampu yang kami bisa" ucap sang dokter dengan sangat menyesal.
"Sayang mama, Dion akan sembuh kan nak? Dion nggak akan ninggalin mama kan sayang? buktikan pada dokter itu kalau ucapannya salah, mama nggak boleh menyerah dan mengikhlaskan Dion begitu saja. Ayo sayang buktikan pada dokter itu kalau cintanya mama akan sembuh" ucap Dara, air matanya tak bisa berhenti keluar. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, mengikhlaskan Dion sama sekali tak sanggup ia lakukan.
Dara menciumi wajah putranya, menggenggam erat tangan mungil yang terasa begitu lemah tanpa Daya.
"Dion harus kuat demi mama dan papa, kami tak bisa mengikhlaskan kamu nak. Berjuanglah" Bisik Fabian di telinga Dion. Pria itu tampak begitu terpukul, sama hancurnya dengan kondisi sang istri. "Maafin papa Dion" Bisik Fabian lagi, rasa bersalah tak bisa ia tepis. Salahnya yang tak langsung membawa Dion ke rumah sakit.
"Putraku sebelumnya sangat sehat dokter dia aktif dan jarang sakit, dia pasti masih bisa disembuhkan dokter. " Lirih Dara penuh harap.
"Ikhlaskan bu, putra anda sangat menderita. Jangan menyiksa putra anda dengan menahan nya lebih lama" Ucapan dokter semakin menyulut amarah Dara, namun melihat mata sayu Dion yang tak berdaya membuat Dara ingin segera mengakhiri hidupnya sendiri.
🍁🍁🍁
ahhh mumet