Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kulkas Sepuluh Ribu
Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aira merasakan nyeri yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya.
"Mas, bangun," rintih Aira dengan mata berkaca-kaca.
Azam yang masih tertidur pulas langsung terbangun. "Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanya Azam khawatir.
PLAK!
Aira memukul dada bidang Azam. "Dasar laki-laki enggak peka!" kesal Aira.
Ia lalu turun dari tempat tidur. Namun baru beberapa langkah, Aira terjatuh di lantai yang dilapisi kasur lantai yang tipis, tetapi halus dan lembut.
Azam bergegas berdiri, lalu menghampiri sang istri. "Sayang ...?" Kalimat Azam terhenti saat Aira tiba-tiba menyuruhnya berhenti di tempat, padahal jarak mereka sudah begitu dekat.
"Aku enggak apa-apa, Azam! Sana gih kamu mandi, terus kita salat malam bareng," kata Aira cepat. Meski masih terduduk di bawah, Aira mencoba untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang kelihatan.
"Terus kamu gimana, Sayang? Kamu, kan, enggak bisa jalan?" kata Azam polos.
Aira cemberut. "Aku enggak apa-apa, Zam! Sudah, sana kamu mandi. Oh ya, kamu mandi di kamar mandi depan ya, aku mau mandi juga soalnya," kata Aira cepat.
Azam terdiam sejenak. Tiba-tiba senyumnya terukir begitu indah di wajah tampannya. "Gimana kalau kita mand..."
"Azam!" kesal Aira.
Azam tertawa terbahak-bahak, lalu dengan gemas mengusap lembut rambut indah Aira.
***
Pagi ini Azam sengaja memanggil Bi Siti ke rumah mereka untuk memasak dan bersih-bersih. Setelah salat subuh tadi, Aira memilih rebahan di sofa kamar sambil membaca novel. Azam hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.
"Den Azam, mau Bibi panggilin Nyonya Aira?" tanya Bi Siti di ruang makan.
Azam yang sedang sibuk dengan laptopnya langsung menolak. "Biar saya saja, Bi, yang memanggil Aira," kata Azam tegas, lalu bergegas menaiki anak tangga.
Azam tersenyum melihat tingkah sang istri. "Sayang, sarapan yuk," ajak Azam sembari menghampiri sang istri.
"Gendong," pinta Aira manja.
Azam terkekeh geli, namun tetap menuruti apa yang Aira minta.
"Kamu masak sendiri, Mas?" tanya Aira santai.
Azam menggeleng. "Ada Bi Siti di bawah. Aku sengaja panggil Bi Siti ke sini buat masak sama bersih-bersih," jawab Azam lembut.
Aira mengangguk mengerti, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. "Turunin aku, Mas, nanti dilihat Bi Siti loh," pinta Aira yang masih menyembunyikan wajah imutnya di dada bidang Azam.
"Biarin, kan sama bini sendiri," goda Azam sembari menuruni anak tangga.
Aira menghirup dalam-dalam dada bidang Azam yang dilapisi dengan kaus putih itu. "Kamu kok wangi banget sih, Zam? Aku suka," kata Aira manja.
Azam tertawa kecil, lalu mendudukkan tubuh kecil Aira di kursi sebelah kanannya. "Sarapan dulu, nanti kita lanjutin yang semalam. Makan yang banyak ya biar..."
BUGH!
Dengan kesal Aira melempar Azam dengan tisu. "Plis deh, Mas, jangan mesum bisa enggak sih," omel Aira kesal.
***
Hari ini matahari bersinar begitu terik. Azam mengendarai mobil mewahnya, sedangkan Aira duduk manis di sebelahnya.
"Mas," panggil Aira lembut.
Azam menoleh. "Apa, Sayang?"
"Aku mau beli novel, boleh?" tanya Aira pelan.
Azam tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari sakunya. "Nih, pakai saja. Terserah kamu mau beli novel, rumah, hotel, apartemen, mal, atau apa pun itu yang mau kamu beli, beli saja ya. Kamu enggak akan bisa habisin uang di dalam kartu ini," kata Azam senang.
Aira menerimanya dengan sangat antusias. "Asyik! Akhirnya aku bisa habisin uang kamu, Azam jutek," kata Aira tanpa berpikir panjang lebar.
Azam mengernyit. "Jutek? Siapa yang jutek, Sayang?" kata Azam bingung.
Aira cemberut, namun tetap menerima kartu hitam pemberian Azam. "Kamu lah! Dulu saja pas kita masih sekolah, kamu tuh dingin banget kayak kulkas pintu sepuluh ribu," cetus Aira.
Azam terkekeh pelan. "Aku ini laki-laki normal, Aira. Menjaga jarak denganmu sebelum menikah itu wajib," kata Azam lembut.
"Iya sih, tapi kamu kelihatan banget tau kalau lagi cemburu," cengir Aira.
Azam terdiam. "Mana ada cemburu. Aku kan cuma enggak mau lihat kamu disakiti cowok lain, makanya aku gak..." Belum sempat Azam menyelesaikan kalimatnya, Aira langsung mencium sekilas pipi Azam.
CUP!
"Aku tahu kok, aku kan sudah gede, haha."
Azam merasakan jantungnya berdebar sangat kuat.
"Mas, kamu kenapa? Kamu malu? Mau aku cium lagi kayak tad..."
CUP!
Dengan gemas Azam mencium sekilas kening Aira hingga perempuan itu terdiam membeku di tempat.
"Ihh, Azam!" kata Aira kesal, namun pipi tembamnya merona karena malu.
"Biar adil, Sayang. Awas aja ya nanti malam aku bikin kamu..." Azam menghentikan ucapannya saat tiba-tiba suara ponsel Aira berdering.
"Siapa, Sayang?" tanya Azam yang masih menyetir.
"Hanum, Mas. Katanya Ayah sama Ibu sudah di perjalanan ke rumah kita," kata Aira syok.
Azam mengernyit bingung. "Sekarang? Kok tiba-tiba?" kata Azam heran.
"Yaudah yuk, Mas, kita putar balik saja ya. Kita jalan-jalannya nanti malam saja," kata Aira senang.
"Kamu enggak marah?" heran Azam.
Aira menggeleng pelan. "Enggak, Mas, aku enggak marah. Justru aku senang bisa ketemu sama Ibu sama si Hanum. Sudah lama loh aku enggak ketemu Hanum, hehe."
Azam tersenyum mendengarnya, lalu dengan lembut tangannya menggenggam erat tangan kanan Aira. "Aku bersyukur banget punya kamu, Aira Humaira," kata Azam tulus.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍