Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu debit
Rp 1.000.000.000.00,-
Mataku terbelalak sempurna melihat nominal dalam kartu debit ini. Beberapa kali kucoba hitung ulang jumlah nol nya dan tetap sama. Memang nilai yang tidak begitu fantastis untuk seorang pemilik beberapa Perusahaan bahkan benerapa hotel ternama yang bahkan dikenal sampai seluruh pelosok Indonesia seperti papa. Namun aku tak pernah berfikir papa akan memberikan nilai fantastis ini untukku. Sebagai modal awalku. Tabungan ini memang sudah ada sejak dulu, sejak aku masih SMP. Tepatnya saat kelulusanku dari SMP. Papa menghadiahi ini, tapi karena aku merasa belum membutuhkan, aku meminta papa menyimpankan untukku. Ternyata nilainya cukup besar.
Segera ku-touch tombol penarikan uang pada mesin ATM ini. Ternyata maksimal pengambilan hanya tiga juta saja. Aku melakukan penarikan empat kali, total uang cash ku sekarang ada duabelas juta-an. Setelah ini, aku berencana mencari counter membeli kartu perdana baru untuk iPhone ku.
“Adit!” Saat keliar dari box mesin ATM kudengar suara perempuan memanggilku. Kuedarkan pandangan mataku ke sekeliling. Suara panggilan tadi tidak dapat ku prediksi dari mana asalnya.
“Hei! Disini Adit!” Kembali kudengar suara itu dari samping kananku, kali ini dengan sedikit teriakan. Kulihat teh Ai melambaikan tangan kearahku dari salah satu pintu ruko yang terpampang jelas tulisan didepannya “LAPTOP SALISINDO” mungkin salah satu toko jual beli laptop. Oh iya, masih ingat mahasiswi yang turun dari elf bersamaku? Ya, dialah teh Ai. Anak kost yang masih ada jalur saudara dengan kang Iyus. Jika kami para penyewa kost tinggal pada bangunan petak di samping rumah kang Iyus, berbeda dengan teh Ai yang memang punya kamar tersendiri di dalam rumah kang Iyus.
“Teteh,, beli laptop kah teh?” Segera kuhampiri teh Ai yang masih berdiri di depan ruko itu.
“Bukan, teteh lagi service-in laptop teteh. Lemot banget dan beberapa tombol nggak berfungsi gitu.” Ucapnya sambil duduk di salah satu bangku yang tersedia di depan ruko tersebut dan menepuk-nepuk bangku disebelahnya untuk kududuki. Aku jadi ingat salah satu cita-citaku untuk menjadi programmer, bukan hal yang sulit sebenarnya untuk masalah laptop teh Ai. Mungkin aku bisa memperbaikinya, tapi sudahlah lain kali akan kucoba tawarkan bantuan ini, jika laptopnya bermasalah lagi.
“Disini jual laptop juga kah teh?” Tanyaku, tiba-tiba tertarik untuk membelinya. Mungkin laptop juga bisa masuk dalam daftar kebutuhanku.
“Iya, kenapa? Mau beli laptop ya?”
“Iya teh, kayaknya aku butuh deh.”
“Yuk masuk, pilih-pilih aja. Dijamin kalau sama teteh dikasih harga murah. Teteh udah kenal dan langganan disini.” Ucapnya bersemangat dan dengan segera masuk kedalam ruko tersebut. Akupun mengikutinya, mungkin aku butuh menarik uang kembali untuk membeli laptop ini. Biarlah nanti setelah melihat-lihat aku kembali ke box mesin ATM diseberang sana. Atau lebih baik lagi jika disini bisa pembayaran dengan debit.
“Oh iya, kamu ada persiapan uang berapa Dit? Biar kita nanya nya enak” Hampir saja aku menabrak teh Ai yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.
“Hmmm.. Aku lihat-lihat dulu aja teh.” Aku menjawab bingung pertanyaan teh Ai. Benar juga, aku belum menentukan akan membeli apa. Jika mengingat apple macbook ku sebelumnya, aku ingin mempunyai itu lagi. Semoga teh Ai tidak kaget nantinya, mengingat apple macbook cukup mewah untuk kelas laptop di zaman ini.
“Bang, ada macbook nya ga?” Tanyaku pada petugas dibelakang etalase yang ada didepanku.
“Heh! Kamu beneran mau beli macbook? Uangnya ada nggak? Disini mungkin kisaran dua puluh juta-an harganya.” Teh Ai berbisik mendekatiku.
“Katanya bisa dapat harga murah kalau sama teteh belinya?!” Jawabku dengan senyuman tipis, ingin tertawa sebenarnya, tapi kucoba untuk menahannya. Aku bisa melihat raut wajah khawatir pada perempun disampingku ini.
“Disini cuma tersedia satu A’. Apple macbook pro 14 inch, ini yang paling terbaru. Untuk spesifikasinya Aa bisa baca di brosur ini. Untuk harga kisaran tiga puluh juta, bisa kurang kalau Aa deal segera dengan cash.” Aku mengangguk mengerti.
“Saya ambilkan barangnya dulu untuk dilihat-lihat A’.” Ucap petugas tersebut setelah terdiam sejenak melihat tanggapan dariku.
Tidak terlalu lama, petugas tersebut datang kembali dengan membawa macbook yang kutanya. Sedikit berbeda spesifikasinya dengan punyaku dulu. Tapi untuk warna dasar silver gelap ini memang sama persis dengan punyaku.
“Oke bang, saya ambil. Langsung bungkus aja bang. Nanti saya aktivasi sendiri di rumah” Ucapku mantap, ya aku membutuhkan ini.
“Dit, ga usah bercanda deh." Teh Ai kembali mengajukan protes.
“Teteh,, aku ada uang ko. Tenang..." Kukeluarkan kartu debit hitam itu untuk meyakinkan nya.
“Oke, intinya teteh nggak mau tanggungjawab kalau kamu cuma bercanda.”
“Siap teh, Alhamdulillah aku punya tabungan lumayan dari orangtuaku. In syaa Allah cukup untuk beli macbook itu."
"Oh iya bang, bisa debit?” Tanyaku kemudian setelah petugas itu datang lagi.
"Bisa A', nggak dilihat dulu ini macbook nya?"
"Sudah ko bang." Aku memberikan kartu debit hitam itu pada petugas. Selanjutnya petugas menggesek nya pada mesin EDC dan memintaku memasukkan PIN.
"Baik, pembayaran sukses. Kami ada diskon khusus untuk kakak. Boleh pilih beberapa barang pendukung. Ada speaker, mouse, headset, webcam juga. Aa boleh pilih." Ucap petugas itu kembali.
“Bang, kalau diskonnya buat menggratiskan service laptop kakak ini bisa nggak?” Tanyaku saat si petugas terlihat sibuk mengambil beberapa barang yang dimaksud.
“Bisa A’, service nya sebentar lagi juga selesai. Ini kami berikan bonus untuk kakak tas laptop khusus macbook ini” Ucap salah satu petugas lain yang telah selesai melayani pelanggan lain sambil menyodorkan tas jinjing berwarna silver kepadaku.
“Kalau saya request tas laptop yang model ransel aja, bisa nggak bang?”
“Bisa A’, ini ada beberapa pilihan warna. Aa bisa bebas pilih warnanya.” Aku memilih waterproof ransel berwarna gelap yang tidak terlalu besar. Tidak membutuhkan waktu lama, kami menerima laptop masing-masing. Teh Ai menyimpan laptop ASUS nya dalam daypack yang dipakainya.
"Dit, tabungan kamu ada berapa?" Teh Ai bertanya saat kami sama-sama keluar dari ruko tersebut.
"Ada berapa ya, banyak teh. Kenapa? Teteh mau pinjem?" Aku sengaja menjawab dengan sedikit bercanda. Aku tidak ingin apapun tentang Aditya Putra Mahardhika di ketahui orang-orang disini. Cukuplah mereka nanti mengenalku sebagai Aditya Putra.
"Nggak lah, ngapain pinjem. Nggak nyangka aja, sukses melewati mesin EDC dengan pembayaran tigapuluh juta." Ucapnya kemudian.
“Tabungan orangtua dari aku SMP teh, jadi wajar nilainya nggak terlalu sedikit. Oh iya Teh, aku pinjem motor kang Iyus tadi. Teteh bareng aku aja pulangnya. Atau teteh mau kemana biar aku anter aja.” Aku sengaja mengalihkan pembahasan ini.
“Boleh, tapi nanti teteh tempatin tas teteh ditengah ya. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Teteh nggak pernah bonceng laki-laki soalnya.
“Siap, boleh teh. Senyaman nya teteh aja. Jadi kita mau kemana?” Jawabku dengan semangat setelah sampai di depan motor yang kuparkirkan tidak jauh dari halaman box mesin ATM tadi.
“Pertama, kita ke masjid agung dulu. Shalat dzuhur, terus nanti teteh ajak kamu makan di deket sana. Banyak yang jualan di taman samping masjidnya, banyak pilihan. Nanti kamu bebas mau makan apa saja. Setelah itu, teteh minta anterin ke kampus. Lumayan jauh si, nggak apa-apa?”
“Aman teh, nggak apa-apa. Aku free kok. Dan mungkin sebelum pulang nanti aku mau minta tolong ke teteh juga. Banyak barang yang mau aku beli, tapi belum tau tempat belinya dimana.”
“Oke, teteh siap jadi guide kamu. Asal jangan kamu minta teteh buat bawa-bawa ya.”
“Hehe.. Oke teteh..”
Aku merasa sangat beruntung, meski baru segelintir orang yang kukenal disini. Namun semuanya adalah orang-orang baik yang begitu terlihat tulus membantu. Ya, aku yakin Adit yang baru akan segera lahir di kota ini. Kota yang akan mempunyai tempat tersendiri di hati ini.
semangatt juga kak 💪