(Perhatian! Cerita ini mengandung beberapa adegan kekerasan dan dewasa! Mohon bijak untuk membaca)
Alexander Wijaya, seorang pria berdarah dingin dan kejam. Tidak pernah tertarik dengan wanita manapun bahkan yang cantik dan sexy sekalipun. Yang ada di dalam pikirannya hanya ada balas dendam..
Namun siapa yang mengira, saat dirinya menculik seorang gadis bernama Anna Elizabeth Pratama, anak dari musuh besarnya. Gairah di dalam tubuhnya tiba-tiba muncul saat berada di dekat gadis itu. Padahal selama ini wanita manapun tidak pernah bisa membuatnya bergairah.
Lalu bagaimanakah dengan balas dendamnya??
Apakah dia akan menyerah dan bertekuk lutut pada gadis itu??
Atau dia akan tetap bersikeras membalaskan dendamnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Maria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After Punishment
-
-
Langkahnya tertatih sambil memegang pergelangan tangannya yang sakit. Nafasnya terengah menahan sakit di sekujur tubuhnya. Tubuhnya terasa sakit luar biasa namun tak berdarah..
Lidya memasuki kamarnya pelan, lalu duduk di tepi kasur.
Sudah lama dia tidak merasakan hukuman kejam dari Tuan nya itu. Terakhir kali dia di hukum saat masih baru di rumah ini. Saat itu dia tidak sengaja menjatuhkan barang milik Alex sampai pecah.
Jika tidak salah, barang itu adalah sebuah foto anak perempuan yang Alex simpan di atas meja kerjanya. Karena kecerobohannya Alex marah besar dan menghukumnya hampir seharian seperti tadi.
Memang orang yang sudah di terima bekerja dengan Alex, sebelumnya orang itu akan di pasangkan sebuah chip kecil di pergelangan tangannya.
Awalnya Lidya tidak tau kegunaan chip itu untuk apa. Namun setelah dia menerima hukuman, dia akhirnya tau kegunaan chip itu. Dan pada saat itu dia berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi agar tidak mendapat hukuman kejam Tuan nya. Namun sialnya hari ini dia merasakan lagi hukuman menyakitkan itu.
'Ini semua karena gadis sialan itu..' geramnya dalam hati. Mengapa gadis itu masih bisa hidup? Lidya berfikir gadis itu pasti akan mati di makan oleh hewan buas. Namun sayangnya Tuhan masih melindunginya..
Bahkan Tuan Alex yang menemukannya dan membawanya kembali..
'Apakah gadis itu mengatakan bahwa aku yang membantunya keluar dari rumah ini?' pikirnya gusar.
Tapi sepertinya gadis itu tidak mengatakan apa-apa..
Jika dia mengatakan yang sebenarnya pada Alex mungkin Alex sudah membunuhnya tadi.
Setidaknya sekarang Lidya masih bisa bernafas lega..
Setelah mematikan semua cctv dan menjebak Mark, tidak ada bukti yang mengarah padanya. Kecuali jika gadis itu mengatakan yang sesungguhnya..
Tapi sepertinya gadis itu tidak akan mengatakannya. Dan Alex juga tidak akan mudah mempercayai gadis itu.
Lidya harus membuat gadis itu benar-benar mempercayainya. Lalu menjebaknya kembali agar Alex bisa segera menghabisi gadis itu. Dengan begitu hanya ada dia wanita satu-satunya di dalam rumah ini, di samping Alexander Wijaya..
-
-
Alex memasuki ruangan nya di dalam kantor. Hari ini dia berangkat lebih awal. Semalam dia tidak bisa tidur. Bukan hal yang aneh bagi Alex karena hampir setiap hari dia sulit untuk tidur. Dan jika tidur pun, hanya ada mimpi buruk yang sering dialaminya.
Jika ingin tidur cukup lama maka dia harus meminum obat tidurnya..
Seseorang mengetuk pintu ruangannya,
"Masuk" ujarnya.
Sekertaris Alex masuk dan membungkukkan badannya,
"Tuan Alex, Tuan Roy ada di luar ingin bertemu, katanya ada hal penting yang ingin di bicarakan" ujar sekertaris nya yang bernama Harry.
Alex memicingkan matanya,
"Biarkan dia masuk" perintahnya.
Harry kembali membungkuk dan keluar.
Tidak lama Roy pun masuk ke dalam ruangan Alex.
"Good morning brother.." sapa Roy.
"Jika tidak ada hal yang penting maka kau boleh segera pergi" ujar Alex dingin sambil membuka berkas-berkasnya.
"Ya ampun Alex.. Aku baru saja tiba kau sudah mengusirku?" tanyanya heran.
Alex tidak menghiraukannya dan memilih sibuk dengan berkas-berkasnya.
Roy menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat temannya yang terlampau acuh dan dingin.
"Aku hanya khawatir.. Semalam aku melihatmu terburu-buru meninggalkan pesta. Apa ada masalah?" tanya Roy.
"Tidak ada" jawab Alex acuh.
Roy menghela nafasnya mendengar jawaban Alex.
"Alex.. Aku ini temanmu, jika ada suatu masalah, kau berbagi lah padaku.. Aku juga ingin membantumu" ujar Roy tulus.
"Tidak ada masalah apapun, aku bisa mengatasinya sendiri" jawab Alex acuh.
Roy menghela nafas menyerah,
"Kau memang tidak pernah berubah" ujar Roy menyerah.
"Oh ya.. Semalam Tuan Wong meminta bantuan padaku.. Coba tebak apa yang dia katakan.." tanya Roy dengan wajah menggoda.
Alex hanya acuh dan masih berkutat dengan berkas-berkasnya.
Roy terlihat kesal dengan ke acuhan temannya itu.
"Huh kau ini!! Aku sedang berbicara denganmu!!" teriaknya kesal.
Alex menatap Roy acuh, lalu berkutat kembali dengan berkasnya.
"Huh... Sabar Roy.. Sabar.." ujarnya pada diri sendiri.
"Ehem.. Tuan Wong meminta bantuan ku untuk mendekatkan mu dengan anaknya Gracia.." ujar Roy.
"Lalu?" ujar Alex acuh.
"Ya tentu saja aku setuju!! Menurutku Gracia itu gadis yang cukup cantik, mandiri dan juga pintar, cocok denganmu.. Tidak ada salahnya mencoba kan?" ujar Roy semangat.
Alex hanya merespon acuh perkataan Roy.
"Oh ayolah Alex!! Kali ini saja.. tidak ada salahnya mencoba, Kau tau gosip-gosip yang beredar? 'Seorang Alexander Wijaya pengusaha sukses dan tampan tidak pernah terlihat berkencan sekalipun, apakah dia seorang gay?' Apa kau tidak keberatan dengan gosip-gosip itu?" tanya Roy frustasi.
"Bahkan sekertaris mu saja seorang pria, kau tau para pengusaha kebanyakan mempunyai sekertaris wanita muda cantik dan sexy.. setidaknya itu bisa menjadi penyegar matamu saat kau sibuk bekerja" gerutunya.
"Itu kau, bukan aku" jawab Alex acuh.
"Ya Tuhan.. aku lelah menasehati mu!!" geram Roy.
"Oh ya.. Bukankah sebentar lagi akan ada pesta di perusahaan Tuan Holland? Pesta itu bertema romantis, di sarankan untuk membawa pasangan. Tuan Wong ingin Gracia pergi bersamamu.. Bagaimana? Bukankah kau mengincar Tuan Holland untuk berinvestasi dan bekerja sama? maka dari itu kau harus datang ke pestanya.. dan kau juga bisa menepis segala berita-berita miring tentangmu" ujar Roy semangat.
Alex terlihat berfikir sejenak. Dia memang sedang mengincar Tuan Holland, pengusaha asal Australia itu untuk bekerja sama, itu artinya dia harus datang ke pestanya beberapa hari lagi..
"Aku akan datang" ujar Alex.
"Benarkah??? Sungguh?? Wah.. pilihan yang tepat Alex hahaha" ujar Roy senang.
"Aku akan mengatakan pada Tuan Wong dan mengabari Gracia untuk datang bersamamu" ucap Roy senang.
"Aku akan membawa pasanganku sendiri" ujar Alex.
"Apa?? Kau akan membawa pasangan sendiri? Siapa? Apa kau akan membayar seorang wanita bayaran untuk berpura-pura menjadi pasanganmu?" tanya Roy cemas.
"Oh ayolah Alex!! Disana akan hadir orang-orang berkelas. Banyak wartawan.. Mereka pasti akan mencari tau latar belakang pasanganmu. Maka bawalah wanita dari keluarga terpandang atau anak dari pengusaha.. Gracia adalah orang yang tepat untuk itu" gerutu Roy.
"Kenapa kau begitu semangat menyuruhku datang dengannya?" tanya Alex dingin.
"Ya.. Karena apalagi.. Dia gadis yang cocok denganmu menurutku" tegas Roy.
Alex menatap Roy acuh dan kembali berkutat dengan berkasnya.
"Jadi... bagaimana??" tanya Roy penasaran.
Alex menyimpan semua berkas yang sudah dia periksa, lalu menatap Roy acuh.
"Aku akan hadir ke pesta itu" ujar Alex
Roy tersenyum senang mendengar ucapan Alex,
"Tapi bukan dengan Gracia!" tegas Alex.
Roy membelalakkan matanya kaget dan penasaran dengan ucapan Alex..
"Jika tidak ada hal penting lagi yang ingin kau bicarakan, kau bisa keluar dari ruangan ku sekarang" ujarnya pada Roy.
"Tu..tunggu kau akan datang dengan siapa?" tanya Roy penasaran.
"Jika kau tidak keluar sekarang, aku akan menyuruh penjaga untuk menyeret mu keluar!" tegas Alex.
"Baiklah.. baiklah.." gerutu Roy lalu keluar dan menutup pintu dengan wajah kesalnya.
"Sial.. Dia membuatku penasaran, gadis mana yang akan dia bawa ke pesta?" gerutu Roy penasaran.
Bersambung...
Keep support this story, jangan lupa like dan komen 🤗
sudah mulai ada tanda2 bahaya
betul2 menjijikkan 😡😡😡
💪💪💪