Ini bukan hanya tentang cinta saja tapi ini tentang persahabatan. Dua orang yang tidak saling mengenal terikat dengan sebuah tali perjodohan dan harus menjalani pernikahan.
Kesalahan yang dia perbuat membuat William menyesali perbuatan yang dia lakukan pada istrinya, Citra.
Penyesalan yang dia rasakan membuatnya semakin menjadi bajingan, sedangkan Citra menyembunyikan diri dari suaminya ke tempat yang jauh.
Sahabat baik William, pernah bertemu dengan Citra dan jatuh hati padanya tanpa tahu jika wanita itu adalah istri sahabat baiknya. David mencari sosok wanita yang dia sukai begitu lama sampai suatu hari mereka bertemu kembali.
Hubungan David dan Citra semakin dekat tapi sayangnya, ketika di acara pernikahan sahabat baik Citra, dia harus bertemu dengan William lagi.
Ujian cinta dimulai dan tali persahabatan yang terjalin sejak lama antara David dan William di uji karena mereka mencintai wanita yang sama. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
Citra menepuk tepuk pantatnya untuk membersihkan debu dan setelah itu dia tersenyum sambil memandangi David. Dia sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang telah membantunya waktu itu dan ini benar-benar kebetulan.
"Hai, kita bertemu lagi," ucap David.
"Maafkan aku, Tuan David. Aku tidak sengaja," ucap Citra basa basi.
"Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan. Aku juga salah karena aku terburu-buru," jawab David.
Dia benar-benar senang karena dia bisa bertemu dengan wanita yang selalu membayang-bayangi pikirannya beberapa hari belakangan ini. Hari ini dia harus mencari tahu tentang wanita itu tapi yang membuatnya heran ketika melihat mata Citra yang sembab. Apa yang telah terjadi dengannya?
"Aku benar-benar minta maaf," ucap Citra lagi seraya mengambil paper bag yang dia ada di atas aspal jalan.
"Ada apa denganmu? Apa kau habis menangis?" tanya David.
"Tidak, mataku perih terkena debu," dusta Citra seraya mengusap matanya.
"Lalu, kenapa kau terburu-buru?" tanya David lagi karena dia benar-benar penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Tuan David," jawab Citra sambil tersenyum.
"Oh, ayo 'lah, jangan panggil aku Tuan, aku tidak suka!" ucap David.
"Tapi aku harus sopan," jawab Citra.
"Tidak perlu terlalu sopan denganku, oke?"
Citra mengangguk dan tersenyum, sedangkan David memikirkan sebuah cara agar dia bisa berbincang dengan Citra.
"Apa kau sudah makan?" tanya David.
"Sudah," jawab Citra singkat.
"Jika begitu ayo kita makan lagi," ajak David dan dia segera menarik tangan Citra.
"Tidak David, aku sudah makan," tolak Citra
"Makan lagi bersama denganku. Kau tidak lupa bukan jika kau punya hutang dan berjanji akan makan siang denganku?" David mengingat kan Citra bahwa dia sudah berjanji hendak mentraktirnya makan siang jika bertemu kembali.
"Baiklah," jawab Citra sambil tertawa.
David membawa Citra ke restoran yang tidak jauh dari sana. Restoran itu tampak mewah dan ketika melihatnya, Citra menahan tangan David sebelum mereka masuk ke dalam.
"David, uangku tidak cukup untuk membayar makanan yang ada di sini," ucap Citra sambil tersipu malu.
"Bagaimana jika kita ke restoran yang ada di seberang sana saja?" pinta Citra sambil menunjuk ke arah restoran lain yang ada di seberang restoran itu.
David tersenyum saat mendengar ucapan Citra. Dia tidak berharap Citra yang akan membayar makan siang hari ini tapi ini adalah kesempatan bagus agar mereka bisa bertemu kembali.
"Tidak apa-apa, makan siang hari ini aku yang akan membayar dan kau bisa mengajak aku makan siang lain waktu," ucapnya.
Dia harus menemukan cara agar mereka bisa bertemu lagi dan lagi. Dia harap Citra setuju dan tidak menolak. Ketika dia melihat Citra mengangguk, David sangat senang dan dia merasa seperti ratusan kembali kembang api meledak di atas kepalanya.
karena dia ingin berbicara dengan Citra tanpa gangguan, David memesan sebuah ruangan exclusive yang ada di restoran itu. David benar-benar senang dan menarik sebuah kursi untuk Citra dan mempersilakan Citra untuk duduk. Dia bahkan mengambil paper bag yang Citra bawa sedari tadi.
"Apa ini?" tanya David ketika meletakkan paper bag yang dia ambil dari Citra dan meletakkan benda itu ke atas meja.
Citra menunduk karena dia kembali teringat ketika dia melihat suaminya sedang bersama dengan kekasihnya. Tidak seharusnya dia seperti ini karena mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain.
"Bukan apa-apa," jawab Citra sambil tersenyum.
David tidak ingin bertanya lebih jauh lagi dan segera duduk di depan Citra, dia akan mendekati Citra dengan perlahan dan tentunya dengan caranya sendiri.
"Baiklah Nona manis, apa yang ingin kau makan? Kau boleh memesan makanan apa saja yang kau sukai sesuka hatimu," ucap David sambil tersenyum.
"Terima kasih tapi jangan memanggil aku seperti itu," pinta Citra.
"Kenapa? Aku mau memanggil kamu seperti itu jadi aku harap kau tidak keberatan."
"Sebaiknya tidak karena aku merasa tidak cocok," ucap Citra.
Pada saat itu, seorang pelayan restoran menghampiri mereka dan meletakkan buku menu di depan mereka berdua. Citra membuka buku menu dan melihat setiap menu yang ada di sana. Seperti yang dia duga, harga setiap menu yang ada di restoran itu begitu mahal dan dia tidak sanggup membayar dengan uangnya yang hanya sedikit.
"Aku pesan minuman saja karena aku sudah makan," ucap Citra seraya meletakkan buku menu ke atas meja.
"Kenapa? Pesan saja makanan apa yang kau mau," David melihatnya dengan heran.
"Terima kasih, David. Tapi aku sudah makan," tolak Citra dengan sopan.
"Dessert?" tanya David tapi Citra menggeleng sambil tersenyum.
"Ayo 'lah, pesan sesuatu dan temani kau makan," pinta David.
Karena tidak enak hati, Citra memesan Dessert yang ada di restoran itu dan memesan segelas minuman. David tahu Citra tidak enak hati tapi dia tidak mau memaksa Citra melakukan apa yang tidak dia suka.
"Apa kau selalu makan di sini?" tanya Citra.
"Yeah ... aku sering makan di sini bersama dengan sahabat baikku," jelas David.
Citra mengangguk dan merasa canggung. Dia tidak tahu harus membicarakan apa lagi dan dia merasa sangat canggung,
"Boleh aku tahu nomor ponselmu?" David bertanya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan memberikannya kepada Citra.
"Untuk apa?" tanya Citra sambil memandangi David curiga.
"Apakah kita tidak boleh menjadi teman?" tanya David.
"Tentu saja boleh."
"Jika begitu berikan nomor ponselmu. Jangan lupa, kau masih berhutang traktiran padaku."
Citra terkekeh dan mengambil ponsel David. Dia segera menulis nomor ponselnya di sana. Hanya berteman saja bukan? Dia rasa tidak ada salahnya.
David benar-benar senang. Dia sangat ingin tahu lebih banyak tentang Citra dan ini adalah awal yang baik untuknya dekat dengan Citra. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan dia harap mereka bisa bertemu lagi. Mata David bahkan tidak lepas dari wajah cantik Citra dan rasanya dia ingin memandangi kecantikan Citra setiap hari.
Citra berusaha tersenyum, dia jadi salah tingkah karena David memandanginya seperti itu tapi senyuman Citra benar-benar membuat David terpana. Seperti inikah ketika sedang jatuh cinta?
David terus memandangi Citra dan rasanya dunia milik mereka berdua, dia bahkan tidak mempedulikan beberapa wanita yang melihat ke arahnya tadi ketika mereka memasuki restoran. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, sungguh. Walau banyak wanita yang menyukainya tapi tidak satupun dari mereka bisa membuatnya seperti ini tapi Wanita yang sedang duduk di depannya ini? Benar-benar sangat berbeda dan entah kenapa David begitu penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang Citra.
Setelah mengembalikan ponsel David, makanan yang mereka pesan datang. Sambil menikmati makanan, mereka berbincang dan terkadang bercanda. Citra memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya dan pada saat itu, ponselnya berbunyi.
Garpu diletakkan dan Citra segera mengambil ponselnya tapi ketika melihat nama William yang tertera di layar, Cita memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tanpa mau menjawabnya. Ponsel kembali berbunyi tapi Citra langsung mematikannya sampai membuat David heran.
"Kenapa tidak dijawab?" tanya David.
"Tidak penting, jawab Citra sambil tersenyum.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Citra dan Citra segera mengambil ponselnya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh William.
"Kau di mana?" tanya William.
Citra kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sebaiknya dia pulang saja karena moodnya jadi hilang.
"Maaf David, aku harus pulang."
"Bagaimana jika aku antar?"
"Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa naik taksi dan terima kasih karena sudah mengajak aku makan," ucap Citra dengan sopan seraya bangkit berdiri.
Citra segera mengambil kotak makanan yang ada di atas meja tapi sebelum pergi, David menahannya sebentar.
"Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya David.
"Maksudku kapan kamu mau mentraktir aku makan?"
"Aku akan mengabarimu jika aku punya waktu tapi aku tidak bisa mengajakmu makan di restoran mahal seperti ini."
"Tidak apa-apa, aku tidak perduli yang penting aku bisa bertemu denganmu lagi."
Citra tersenyum, entah apa maksud David. Dia telah berjanji maka dia akan menepatinya dan mengajak David makan bersama.
Mereka keluar dari ruangan itu bersama-sama dan setelah membayar makanan mereka, David mencari taksi untuk Citra. Dia bahkan membukakan pintu mobil untuk Citra. Walaupun pertemuan mereka tidak lama tapi dia sangat senang.
"Terima kasih, David," ucap Citra.
"Tidak perlu sungkan," jawab David sambil tersenyum.
"Sampai jumpa lagi," ucap Citra dan dia segera masuk ke dalam mobil taksi.
Mobil yang ditumpangi Citra mulai bergerak pergi tapi David masih berdiri di sana memperhatikan mobil taksi yang di tumpangi oleh Citra. Dia harap mereka bisa bertemu lagi secepatnya dan tentunya, dia akan mencoba menghubungi Citra nanti karena dia sudah mendapatkan nomor ponselnya.
Setelah mobil yang ditumpangi Citra tidak terlihat lagi, David segera melangkah pergi menuju kantor William. Dia akan menceritakan pada sahabatnya jika hari ini dia bertemu dengan wanita yang telah membuatnya penasaran dan yang telah mencuri hatinya.
mereka akan lebih memandang bagus lelaki lain dari pada pemeran utama pria
lelaki lain akan diceritakan sebagai lelaki yang sempurna, cinta tulus, lelaki sejati, pahlawan, pokok akan dicerita sesepurnah mungkin
sedangkan pemeran utama prianakan dibuat jadi sosok yang bilang salah, cerita salah terus
ini adalah ciri2 pemikiran wanita2 yang kurang puas dengan pasanganya, lelaki lain dia pandang sempurna tapi suaminya dia pandang salah terus
Ending yg memuaskan pemirsah.
mkasih author..
Lanjut thor...